Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Maafkan Aku Ivanka
Pasca tragedi CPR di kolam renang Villa tadi membuat Leon seperti dihantui bayang-bayang wajah Vanka. Bagaimana tidak, lembutnya bibir Vanka dan harumnya napas gadis remaja itu sangat sulit dilupakan oleh Leon. Untuk ukuran lelaki penikmat One Night Stand, momen seperti itu sangat sayang untuk dilewatkan.
"Kenapa tidak ku lu*mat saja bibir merah jambu itu? Kenapa tidak ku remas saja bukit kembar yang menantang itu?" pikiran mesum Leon menari-nari di benaknya yang nakal. Dia menampar-nampar pipinya untuk membuyarkan lamunan mesumnya itu.
"Kak, kakak kenapa? Giginya sakit ya?" Lamunan Leon seketika buyar saat tangan lentik Vanka menyentuh bahunya.
"Ah, gak kok Vanka. Siapa yang sakit gigi? Kakak kan rutin cek kesehatan gigi sebulan sekali." Jawab Leon dengan nada sewot.
"Nah terus kenapa kakak tadi tampar-tampar pipinya?" tanya Ivanka.
"Gak ada kok, lupain aja Vanka." Leon merapikan duduknya dan menampilkan gaya Cool nya. Ia tak ingin gadis itu tau pikiran bejadnya, bisa-bisa Ivanka ilfeel nantinya.
"Hmm, iya deh kalau begitu." Vanka tak lagi bertanya dan fokus melihat ke arah depan. Sekarang mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju kediaman Leon. Leon memegang kemudi dan gadis cantik itu duduk di sebelahnya, mereka menaiki mobil Alphard Leon yang mewah dan nyaman.
Saat mobil mereka sampai di pelataran rumah, ponsel Leon berdering. Tertera di layar handphone ada nama Adam, Adam adalah teman dugem Leon. Leon mengangkat telepon dan terlibat percakapan singkat.
"Halo, ada apa bro?" tanya Leon.
"Cepetan kesini, gue udah di TKP. Gue tunggu ya sekarang, banyak barang baru nih." jawab Adam dari seberang telepon.
Sambungan telepon adam langsung terputus. Hanya dengan obrolan singkat itu Leon langsung bersemangat untuk mencicipi ja*lang baru yang di katakan sahabatnya. Kebetulan sekali pikir Leon, ia bisa menumpahkan hasrat terpendamnya yang dari tadi di tahannya ke wanita ja*lang yang ada disana.
"Vanka kamu langsung istirahat ya, kakak ada kerjaan malam ini."
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Leon. Setelah Vanka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, mobil Alphard Leon langsung tancap gas menuju Black Devil.
Sesampainya di Black Devil, Leon segera bergabung dengan Adam dan teman-temannya yang lain. Terlihat mereka semua sudah berpasang-pasangan. Ada yang menarik pandangan dari leon, seorang gadis cantik mengenakan dress pendek berwarna merah muda sedang duduk sendirian. Gadis itu duduk dengan menyilangkan kakinya yang panjang, belahan dadanya yang putih juga menarik minat Leon untuk mendekat.
Tak menunggu waktu, leon sudah duduk disamping gadis itu. Mereka sudah hanyut dengan suasana malam di Club malam Hight Class itu. Tak terhitung sudah berapa tegukan minuman yang di minum oleh Leon. Nampaknya Leon sudah semakin "tinggi" duduk disamping gadis itu. Gadis cantik itu bernama Clara, dia pendatang baru disana. Clara pintar membangkitkan gelora yang ada di diri Leon, tangan Clara dari tadi meremas-remas batang kejantanan miliknya dan menempelkan bukit indahnya ke lengan kekar Leon.
Leon lalu menarik tangan Clara menuju ke kamar atas, ia sudah tak tahan lagi.
Juniornya meronta-ronta tak karuan, seperti gunung merapi yang memendam jutaan cairan lava di dalam perutnya. Mereka berpagut mesra sambil membuka pintu kamar. Saat masuk kedalam kamar, mereka masih dalam posisi saling melu*mat. Bibir leon dengan ganas mengeksplore mulut Clara, lidahnya bermain-main didalam rongga mulut Clara. Tak puas sampai disitu, Leon lalu menji*lati leher jenjang milik gadis ja*lang itu lalu turun ke bukit kembarnya. Ia mencucup pu*tingnya yang berwarna merah jambu. Clara mendesah dan membalas menjilati cuping telinga Leon.
Leon menyandarkan tubuh Clara yang setengah telan*jang itu ke dinding. Ia melucuti dalaman gadis itu dan melingkarkan kaki Clara ke pinggangnya. Dengan tergesa-gesa Leon mengeluarkan senjata laras panjangnya dan mengarahkannya ke milik Clara yang sudah basah oleh cairan. Tiba-tiba aksi Leon terhenti, ia melepaskan pelukannya dari ja*lang itu.
Leon terduduk di pinggir ranjang, kepalanya terasa berat sekali. Wajah Vanka terlintas dalam fikiran Leon, nafsunya seakan-akan langsung buyar.
Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Leon berlalu pergi setelah menghamburkan lembaran uang ke ranjang. Ia tak peduli lagi dengan Clara dan Adam sahabatnya. Ia bergegas ingin pulang kerumah. Didalam perjalanan pulang fikiran Leon melayang-layang "Ada apa sebenarnya denganku?" Leon kemudian tertidur didalam mobil dan tak sadarkan diri setelah itu.
Sebelum pergi ke club malam Leon meminta assisten pribadinya untuk mengantarkan dirinya, karena ia memperkirakan kalau ia bakalan pulang dalam keadaan mabuk seperti yang biasa ia lakukan.
"Tuan, sudah sampai." Leon tersadar saat terasa ada tangan yang mengguncang tubuhnya. Ternyata itu dari Tama, Asisten merangkap supir pribadinya. Dengan langkah gontai tak beraturan, leon menyeret kakinya menuju kamarnya. Ia lalu menghempaskan tubuhnya diranjang empuknya. Saat badannya berbalik ke samping, ia mendapati sesosok tubuh yang ia kenal. Ternyata itu Vanka! Ternyata Leon salah masuk kamar!
Kepala Leon berat sekali, ia masih dalam pengaruh alkohol. Ia mencoba untuk bangkit hendak pergi dari kamar Vanka. Namun tiba-tiba matanya tertuju ke paha mulus Vanka yang tersingkap. Jakunnya naik turun, ia berulang kali menelah air ludahnya sendiri. Refleks tangan Leon membelai pangkal paha Vanka namun anehnya tidak ada respon sama sekali dari gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu. Mungkin Vanka lelah sekali setelah pulang dari Villa.
Leon melanjutkan membelai gundukan yang ada dibawah pusar Vanka, ia melucuti dalaman Vanka dan langsung menjilati lipatannya. Indah sekali miliknya! Masih sedikit rambut yang tumbuh disana. Leon sudah kalap, ia lupa dengan status Vanka yang telah dianggapnya sebagai adik. Ia buru-buru mengeluarkan juniornya yang sudah mengeras sedari tadi lalu mengarahkannya ke milik Vanka yang terbuka lebar.
Pelan-pelan ia coba memasukkan tapi selalu gagal. Kelihatan sekali kalau Vanka masih perawan dan belum pernah melakukan hubungan intim dengan laki-laki lain. Dengan sekali hentakan keras, senjata Leon sudah masuk setengahnya kedalam milik Vanka, Vanka tiba-tiba terbangun akibat hentakan keras itu. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok tubuh Leon yang polos menindih tubuhnya. Namun ia tak bisa berkata-kata karena mulutnya kini sudah berpagutan dengan Leon. Leon terus memaju mundurkan gerakannya didalam milik Vanka.
Vanka coba memberontak dan mendorong tubuh kekar Leon, tapi tenaganya tak cukup kuat jika dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil itu. Vanka hanya bisa pasrah, terlihat bulir-bulir air matanya menetes di pipi. Leon sudah kalap, ia semakin mempercepat gerakannya, ada sesuatu yang ingin meledak dari dirinya. Ia kemudian memuntahkan cairan putih kentalnya didalam rongga milik Vanka. Leon mengerang panjang dan seketika ia ambruk menimpa tubuh Vanka. Leon benar-benar puas menikmati barang yang masih bersegel itu.
Terdengar tangisan dari bibir Vanka, ia menangis tersedu-sedu akibat perbuatan Leon. Vanka memukul-mukul bahu Leon dan mendorongnya, ia merasa sudah ternoda akibat perbuatan Leon.
"Kak, kenapa kamu lakukan ini kepadaku? Aku memang sangat menyayangi kakak, tapi bukan begini caranya!" ucap Ivanka dalam isak tangisnya.
Vanka bangkit untuk merapikan baju dan memasang kembali celananya, ia spontan berlari keluar dari kamarnya. Ia tak menghiraukan rasa perih yang ada di pangkal pahanya. Yang ia tahu, ia harus pergi dari sini. Tak tahu kemana, Vanka tetap berlari menjauh dari rumah yang besar dan mewah itu.
Leon tak bisa berkata-kata, ia benar-benar menyesali perbuatannya. Alkohol sudah membutakan mata hatinya. Vanka yang seharusnya ia jaga malah ia renggut kehormatannya. Leon sangat menyesal, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia mengutuk dirinya sendiri. Dibawah cahaya yang redup, terlihat jelas ada noda darah diatas sprei kasur. "Vanka, Maafkan Aku". Sesal Leon dalam hati.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa buat vote, like, dan komen setelah membaca ... Happy reading.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭