Finn kembali untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Dengan bantuan ayah angkatnya, Finn meminta dijodohkan dengan putri dari pembunuh kedua orang tuanya, yaitu Selena.
Ditengah rencana perjodohan, seorang gadis bernama Giselle muncul dan mulai mengganggu hidup Finn.
"Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi keturunan keluarga Milano. Aku ingin melihat dunia luar, Finn... Merasakan hidup layaknya manusia pada umumnya," ~ Giselle.
"Aku akan membawamu keluar dan melihat dunia. Jika aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?" ~ Finn.
Cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya akankah mampu meluluhkan dendam yang sudah mendarah daging?
100% fiksi, bagi yang tidak suka boleh langsung skip tanpa meninggalkan rating atau komentar jelek. Selamat membaca dan salam dunia perhaluan, Terimakasih 🙏 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : TDCDD
"Memangnya kenapa kalau aku mau ngapa-ngapain kamu? Bukankah tadi kamu yang berinisiatif menciumku lebih dulu. Kamu sudah biasa bukan melakukan hal seperti itu pada banyak laki-laki?"
Giselle memegangi bibirnya, sebenarnya tadi itu adalah ciuman pertamanya, tapi terpaksa harus dia berikan pada Finn. Tapi kenapa Finn bicara seperti itu? Mungkinkah Finn mengira jika dirinya adalah seorang wanita malam?
"Apa maksud ucapanmu? Apa kamu pikir aku ini kupu-kupu malam?"
"Terus apa kalau bukan wanita malam? Kemarin kamu dikejar-kejar penjahat, dan tadi kamu hampir mati ditembak. Hanya wanita-wanita seperti itu yang bisa berurusan dengan orang-orang jahat!"
Giselle merasa sangat terkejut, jadi yang dia dengar tadi benar suara tembakan. Tapi siapa yang mencoba membunuhnya? Tidak mungkinkan jika itu adalah anak buah suruhan papanya? Meskipun papanya sering menyiksanya, tapi tidak mungkin papanya itu tega sampai membunuhnya.
"Ja-jadi tadi itu benar adalah suara tembakan?" tanyanya dengan suara lirih, Giselle masih sedikit syok saat Finn bilang jika tembakan tadi adalah untuk menembaknya.
Finn membungkukkan sedikit badannya dan mengunci tubuh Giselle, wajahnya kini sejajar dengan wajah gadis itu.
"Memangnya kamu pikir suara apa, hemm? Suara petasan?"
Entah mengapa Finn merasakan seperti ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya saat menatap wajah Giselle dengan sedekat ini. Tatapan gadis itu seperti menyiratkan sesuatu, seperti ada duka yang mendalam.
Finn kembali berdiri dengan tegak, dia tidak boleh sampai jatuh cinta pada gadis yang ada dihadapannya ini, saat ini tujuannya adalah Selena. Memanfaatkan gadis itu untuk membalas dendam pada Tuan Andreas Milano.
"Kali ini aku akan berbaik hati meminjamkan kamarku untuk kamu. Tidurlah, besok aku akan mengantarmu pulang,"
"Tunggu!" Giselle segera berdiri, menatap punggung Finn yang baru saja berbalik memunggunginya. "Kenapa kita tidak tidur berdua saja? Aku bukan wanita malam seperti yang kamu pikirkan. Tapi aku tidak akan berbohong dalam hal ini, jika aku... menyukai kamu,"
Gugup, tentu saja Giselle merasa sangat gugup. Mungkin besok-besok dia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Finn lagi. Giselle harus berpura-pura menunjukkan kalau dia menyukai Finn, supaya hati lelaki itu tergerak dan jatuh cinta padanya. Dengan begitu Giselle bisa memanfaatkan Finn dengan mudah.
Giselle merasa sudah sangat lelah, dia ingin pergi sejauh mungkin dari keluarga Milano. Giselle rela jika malam ini dia harus berakhir satu ranjang dengan Finn, asalkan dia bisa memanfaatkan pria itu. Hanya Finn satu-satunya harapannya sekarang.
Finn membalikkan tubuhnya dan menatap Giselle, "Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan? Bukankah kamu lihat sendiri tadi, jika aku sudah memiliki calon tunangan?"
Giselle melangkahkan kakinya mendekat, tangannya menyentuh dada Finn yang tidak ditutupi dengan kain. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini, tentu saja Giselle merasa sangat gugup sekaligus tegang.
"Baru calon kan? Semuanya bisa berubah setelah malam ini," Giselle menatap tangannya yang sedang bermain di dada Finn, sebisa mungkin dia menahan air matanya yang sudah menggenang supaya tidak menetes.
Finn segera menahan tangan Giselle saat tangan gadis itu mulai turun ke bawah dan hendak menyentuh sesuatu dibawah sana yang sudah mulai mengeras. Finn adalah pria normal, tentu saja dia langsung terangsang saat mendapatkan sentuhan dari lawan jenis.
"Sepertinya kamu memang sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti ini. Tapi maaf, aku tidak tertarik padamu!"
Finn berjalan menuju ke arah lemari dan mengambil sepasang pakaian dari dalam sana. Harus Finn akui gadis itu memang cantik, tapi Finn tidak boleh sampai tertarik. Dia tidak boleh merusak rencana yang sudah dia susun hanya demi seorang gadis yang tiba-tiba mengakui perasaan padanya.
Malam ini Finn memilih tidur di kamar lain, setelah memakai pakaiannya dengan lengkap, Finn merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa kali Finn mencoba memejamkan matanya, namun dia tidak bisa tidur sama sekali. Padahal beberapa jam lagi matahari sudah akan terbit, tapi Finn sama sekali tidak mengantuk.
Finn merubah posisi tidurnya beberapa kali, namun matanya tak kunjung terlelap. Rasanya tidak mungkin jika dia mulai tertarik pada gadis yang bahkan belum dia ketahui namanya itu. Memikirkan tentang gadis itu, Finn jadi penasaran dengan apa yang sedang dilakukan gadis itu didalam kamarnya sekarang, mungkinkah gadis itu sudah tidur?
Sementara itu dikamar yang berbeda, Giselle juga masih terjaga, gadis itu masih duduk termenung di tepian ranjang besar milik Finn. Jika malam ini dia gagal merebut hati Finn, maka dia tidak akan memiliki kesempatan lain lagi.
Mungkinkah Finn sudah langsung tertarik pada Selena di pertemuan pertama mereka tadi?
Giselle jadi penasaran, bagaimana tanggapan Finn tentang Selena. Selena adalah gadis yang sangat cantik dan anggun, jadi wajar saja jika Finn sudah jatuh cinta sejak pertemuan pertama.
"Sebaiknya aku pulang sekarang. Sebelum matahari terbit, aku sudah harus sampai dirumah. Jika tidak, dua bodyguard itu akan sadar jika aku kabur lagi, mereka pasti akan langsung melapor sama papa,"
Giselle segera bangun dan mengambil tas selempangnya yang ada diatas nakas, namun dia terkejut saat tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh seseorang. Finn berjalan cepat ke arah Giselle dan langsung meraup bibir gadis itu dengan brutal. Kedua mata Giselle terbuka lebar, dia menjatuhkan tas selempang miliknya ke atas lantai.
Tanpa melepaskan ciumannya, Finn menjatuhkan tubuh Giselle diatas ranjang dan mengungkungnya. Malam ini dia benar-benar dibuat tidak waras gara-gara ulah gadis itu.
Finn melepaskan ciumannya dan menatap Giselle, nafas keduanya saling berkejaran.
"Ini yang kamu inginkan bukan? Bisa tidur berdua denganku. Wanita sepertimu pasti sudah sering terjamah oleh banyak laki-laki, dan malam ini aku yang akan membayarmu sebagai pemuas!"
...✨✨✨...