Bacaan Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Hari Pertama Sudah Basah
Suasana haru nan bahagia semakin terasa di kediaman Aryanaka semenjak kembalinya sang Nyonya rumah. Terlihat disana Bagas Aryanaka yang masih menempel pada sang Bunda sembari bercengkrama diatas sofa.
"Bunda, jadi gimana ceritanya bunda diculik bun," tanya Bagas penasaran.
Sang Bunda terdiam sejenak, tersenyum kecil sambil didalam otaknya terus mengingat alasan yang telah ia siapkan.
"Emm, bunda gak inget pasti sih Bagas. Waktu bunda keluar toilet, ada yang bekap mulut bunda pakai sapu tangan, terus bunda pingsan dan bangun-bangun bunda udah di pinggir sungai dalam keadaan basah semua. Ternyata bunda hampir tenggelam dan ditolong sama Thalia. Setelah itu, Thalia rawat bunda di kost'an nya deh."
Mendengar penuturan sang bunda, Bagas menghela napas kasar. Untung saja Bundanya terselamatkan. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menolong ibunya sendiri. Bahkan di hari penculikan tersebut bukannya fokus untuk mencari sang bunda, tetapi ia malah dengan bodohnya terperangkap akan godaan seorang wanita dan akhirnya sibuk memuaskan hasrat biadabnya. "Sial-" begitu pikirnya.
"Bagas minta maaf ya bunda. Harusnya Bagas yang tolong bunda. Bagas gak bisa bayangin bunda sampe kenapa-kenapa," ucap Bagas sambil menunduk dan menggenggam erat tangan ibunya.
Melihat sang anak yang tampak sedih dan merasa bersalah, Suratih pun berujar menenangkan sembari mengusap pundaknya pelan, "Nak, gak papa kok, yang penting Bunda selamat kan? Bukan salah kamu Bagas, jadi kamu gak usah minta maaf gitu ya. Alhamdulillah Bunda baik-baik aja."
"Iya bunda, tapi Bagas janji bakal usut kasus ini sampai tuntas. Bagas bakal bikin perhitungan sama orang yang udah nyelakain bunda," ujar Bagas penuh amarah.
Mendengar anaknya yang tidak menyerah untuk menangkap pelaku penculikannya, membuat Suratih merasa gelisah. Bukannya ia tak senang ketika putranya sangat peduli kepadanya, namun ia sudah terlanjur bekerjasama dengan penculiknya sendiri. Jika Bagas berhasil mengusut kasus penculikannya, maka rahasianya pun akan terbongkar. Ia tidak mau perbuatan hina yang selama ini ia lakukan, diketahui oleh anaknya bahkan tersebar luas. TIDAK. Mau ditaruh mana muka-nya nanti.
"Bagas, it's oke. Menurut bunda kita gak usah perpanjang masalah ini ya. Lupain aja, toh bunda udah selamat dan gak apa-apa. Bunda gak mau malah nanti kamu yang kenapa-kenapa Bagas, bunda khawatir."
"Tapi Bun, orang jahat itu masih berkeliaran. Aku sebagai penuntut hukum gak bisa kalau diam aja. Apalagi ini bunda korbannya. Maaf bunda aku bakal tetep berusaha nemuin pelakunya dan jeblosin dia ke penjara," ucap Bagas membantah perkataan sang bunda sebelumnya.
Ya, Suratih harusnya ingat jikalau Bagas sama keras kepala seperti dirinya. Penuh keteguhan dan ambisi yang membara, sosok Bagas Aryana pastinya tidak akan goyah hanya karena satu permintaannya. Suratih hanya berharap Sarah dan Rania benar-benar bisa bermain cerdik agar Bagas tidak bisa mengetahui yang sebenarnya.
"Ya sudah terserah kamu saja nak. Bunda capek nih, bunda pengin istirahat dulu kayaknya rebahan di kamar ya."
"Iya bunda, nanti biar aku suruh pembantu bawain makanan untuk bunda ya. Bunda harus istirahat yang cukup," sahut Bagas kemudian mengantarkan ibunya menuju lantai dua hingga sampai di kamar sang bunda.
Setelah mengantarkan Suratih, Bagas kemudian turun menuju lantai 1. Tepat pada anak tangga terakhir ia berpapasan dengan Raska yang langsung menunduk hormat. Raska kira bosnya itu seperti biasa hanya akan melewatinya begitu saja. Namun, ketika tepat berada disampingnya, tuannya itu dengan suara datar berkata, "Cari tahu tentang dia."
Belum sempat Raska merespon, Bagas sudah melaju pergi meninggalkannya yang langsung terdiam kaku. "Baru aja diancam sama bininya buat diam aja, eh sekarang malah suaminya nyuruh buat nyari tahu. Ini gimana sih konsepnya? Nasib nasib," gumam Raska meringis dalam hati.
...****************...
Setelah mendengar ketukan pintu dari arah luar kamarnya, Sarah yang kini menyamar sebagai Thalia---langsung saja berpamitan pada Rania untuk menutup telepon. Kemudian ia berjalan dan bergegas membuka pintu kamarnya. Alangkah terkejutnya ia ketika dihadapannya kini terpampang seorang pria bertelanjang dada yang menatapnya datar tanpa ekspresi.
Beberapa saat keduanya terdiam. Sarah tampak sedikit salah fokus dengan dada sang pria yang terlihat semakin kuat dan saat ini terlihat mengkilap karena dipenuhi oleh keringat, "Sebenarnya apa yang habis dilakukannya sampai berkeringat kayak gitu? Mana sexy banget lagi," rutuk Sarah dalam hati.
Tak ingin berlama-lama dengan pikiran liarnya, Sarah pun segera menyudahi keheningan diantara mereka dengan bertanya, "Emm, maaf tuan. Ada apa ya? Apa ada yang bisa saya bantu?"
Tak langsung menjawab. Bagas Aryanaka terdiam sebentar, kemudian ia hela napas dengan kasar sambil menyugar rambutnya yang basah. "Tugas pertama kamu, tolong siapkan dan antarkan makan siang untuk bunda saya. Buatkan juga saya perasan lemon dan antarkan ke ruang olahraga."
Ah, ternyata Bagas hendak menyuruhnya. Mungkinkah Bagas ingin mengetes kemampuan Sarah sebagai pembantu rumah tangga yang baru? Tapi mengapa repot-repot Bagas menghampirinya? Sewaktu ia tinggal disini dulu, ia tahu bahwa Bagas tidak mau repot-repot memanggil pembantu sendiri disaat sudah ada bel yang terhubung pada setiap kamar pembantu yang ada.
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan. Saya izin ganti baju terlebih dahulu ya tuan."
Setelahnya, tentu Sarah ingin bergegas mengganti baju dan menutup pintu kamarnya kembali. Namun, yang aneh, sang tuan Aryanaka itu masih setia berdiri sambil menatap lekat wajahnya. Sarah bingung harus bagaimana, hingga ia pun mencoba berbicara kembali. "Permisi tuan saya mau ganti baju dulu sebentar, tuan ada yang dibutuhkan lagi?"
Sarah mengira Bagas masih berada disini karena ada yang diperlukannya lagi. Namun, ternyata tanpa menjawab pertanyaannya, pria itu hanya terdiam sejenak dan langsung melengos pergi.
"Dasar aneh," pikir Sarah acuh.
...****************...
Sarah telah berganti pakaian yang lebih nyaman. Langsung saja ia pergi menuju dapur untuk melaksanakan perintah sang tuan yang juga merupakan mantan suaminya itu. Sesampainya di dapur ternyata disana ada beberapa pembantu yang tengah menyiapkan makanan.
"Permisi Bu, saya pembantu baru disini. Saya tadi ditugaskan oleh tuan Bagas mengantarkan makan siang untuk Nyonya Suratih dan perasan lemon untuk tuan Bagas," jelas Sarah kepada seorang pembantu yang tampak senior disana.
Dengan ramah, pembantu yang akhirnya ia ketahui bernama Bik Umi itu menyahuti Sarah, "Oh ya, makanan masih dimasak. Kamu bisa buat perasan lemon dulu."
Langsung saja Sarah membuka nakas sebelah kirinya dan mengambil gelas. Dengan cekatan ia membuat minuman kesukaan Bagas, dimana tanpa sadar ada yang memperhatikannya. Tak berselang lama, perasan lemon yang dipinta oleh sang tuan telah siap. Saat ia sedang mengambil nampan di laci bawah, terdengar suara salah seorang pembantu yang menegurnya, "Heh anak baru! Kamu tahu darimana resep perasan lemon kesukaannya Tuan?"
Deg...
Jantung Sarah seketika berdegup kencang. Sembari meremas kencang nampan yang berada ditangannya, ia membatin, "Sial, aku gak sadar malah nglakuin kebiasaan lama yang pastinya bikin mereka curiga."
Suara dari wanita yang menegur pembantu baru bernama Thalia itu terdengar cukup keras hingga semua mata menoleh ke arah mereka. Bik Umi yang merasa penasaran kemudian menghampiri keduanya. Tampak si pembantu baru telah berdiri dengan kepala menunduk, dan Marni tengah menatap sinis ke arah Thalia.
"Ada apa ini Marni?" tanya Bik Umi.
Dengan semangat Marni menjawab sekaligus menjelaskan, "Ini loh Bik Umi, dia anak baru kan? Tapi tadi aku lihat dia bikin sendiri perasan lemon kesukaan tuan sesuai resep. Niatnya aku mau bantu, eh tapi dia malah udah bisa, bahkan kayak udah terbiasa sampai hapal tempat-tempat penyimpanan bahan dan barang di dapur."
Bik Umi yang mendengar penuturan Marni pun merasa bingung. Bagaimana bisa seorang pembantu baru sudah mengetahui tentang hal-hal di dapur ini? Apalagi resep minuman kesukaan sang tuan yang hanya diketahui oleh pembantu - pembantu senior disana.
"Thalia? Kamu tahu darimana semua itu? Gak mungkin asal nebak kan?" tanya Bik Umi dengan lembut sambil mengusap pundak Thalia.
Dengan berhati-hati, Sarah pun menjawab, "Anu, anu saya tahu dari Nyonya Suratih Bik. Nyonya sering bercerita sama saya waktu nyonya ada di kost'an saya. Iya begitu."
"Oh begitu, ya sudah gak papa. Tapi alangkah baiknya kamu bertanya dulu sama kami ya. Itu perasan lemon bisa kamu antar dulu ya ke ruang olahraga, ada di samping taman belakang."
Untung saja Bik Umi langsung percaya. Walaupun disana Marni masih menatap skeptis tampak curiga, tapi Sarah setidaknya dapat bernapas lega.
Sesuai arahan Bik Umi, ia pun bergegas menuju ke ruang olahraga yang sebenarnya sudah sangat ia hapal diluar kepala. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuknya perlahan sambil satu tangannya memegang erat nampan.
Tak lama pintu terbuka. Menampilkan pemandangan yang sangat menggoda hingga membuat nampan yang dipegangnya sedikit bergetar. Bagaimana tidak? Dihadapannya saat ini sosok mantan suaminya itu tampak lebih basah.
Masih bertelanjang dada, namun celana pendek yang semula terpasang rapi kini sedikit melorot menampilkan V-line yang membuatnya semakin panas. Otot-otot dada dan tangan tampak keras seakan mampu meremukkan benda apa saja termasuk dirinya.
Bagaimana rasanya berada di pelukan tubuh sexy nan basah itu ya? Sarah menjadi penasaran, hingga tanpa sadar ia merasa bagian bawah tubuhnya turut menjadi basah.
Gawat! Hari pertama saja sudah basah. Sungguh Sarah hanya bisa pasrah.