Benar kata orang, tidak ada hal yang lebih menyakitkan kecuali tumbuh tanpa sosok ibu. Risa Ayunina atau kerap disapa Risa tumbuh tanpa sosok ibu membuatnya menjadi pribadi yang keras.
Awalnya hidup Risa baik baik saja meskipun tidak ada sosok ibu di sampingnya. Karena Wijaya—bapak Risa mampu memberikan kasih sayang penuh terhadapnya. Namun, di usianya yang menginjak 5 tahun sikap bapak berubah drastis. Bapak yang awalnya selalu berbicara lembut kini berubah menjadi sosok yang keras, berbicara kasar pada Risa dan bahkan melakukan kekerasan fisik.
“Bapak benci sama kamu, Risa.”
Risa yang belum terlalu mengerti kenapa bapaknya tiba tiba berubah, hanya bisa berdiam diri dan bersabar. Berharap, bapak akan kembali seperti dulu.
“Risa sayang bapak.”
Apakah Bapak akan berubah? Apa yang menyebabkan bapak menjadi seperti itu pada Risa? Ikuti terus kisah Risa dan jangan lupa untuk memberikan feedback positif jika kalian membaca cerita ini. Thank you, all💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hyeon', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 8
Sepertinya hari ini hujan akan turun karena sedari tadi matahari tak menunjukkan kehadirannya. Langit terus diselimuti oleh awan hitam. Risa memandang keluar jendela, matanya menerawang jauh. Tiba tiba lamunannya buyar kala pulpen yang ia mainkan jatuh ke lantai.
Dengan segera ia mengambil pulpen itu. Namun, matanya melihat sepatu yang dengan sengaja menginjak tangannya. Risa pun mengeram kesakitan.
“Arghh.”
“Eh, sorry, gue ga sengaja.” Risa menatap tajam orang di hadapannya sekarang. Ia lihat dengan jelas bahwa Lala dengan sengaja menginjak tangannya. Entah apa maksudnya.
Lala pergi menghampiri bangku teman barunya itu. Tak lupa ia memberikan senyum remeh pada Risa. Selesai Aldi, sekarang Lala yang selalu mengganggunya.
Hujan turun dengan tiba tiba yang membuat semuanya kompak menoleh ke arah luar. Risa segera mencari headphonenya lalu menyalakan musik favoritnya. Dalam hatinya ia mengumpat berulang kali.
Risa mencoba menenangkan dirinya yang bergetar hebat. Menangkup tangannya yang sedari tadi tremor. Mengatur napasnya yang memburu. Lala yang melihat gelagat aneh Risa tersenyum licik.
Dengan lancang ia mengambil headphone Risa yang terpasang di telinganya. Risa pun terkejut, ia segera bangkit dari duduknya dan mencoba meraih barangnya. Namun, tiba tiba kakinya tersandung yang membuat dirinya terhuyung jatuh.
Lala tertawa puas dengan temannya yang lain. Sebagian orang menyuruh Lala untuk berhenti mengganggu Risa. Lala geram dan tak menggubris ocehan mereka. Dengan sisa tenaganya yang ada Risa mencoba bangkit namun berulang kali ia mencoba bangkit, kakinya seakan tidak ada tenaga.
Di saat seperti ini seluruh tenaga Risa seakan hilang. Ia akan kehilangan seluruh tenaganya. Dari luar Jeff melihat kegaduhan di dalam kelas Risa. Ia pun berniat untuk mengintip, dan betapa terkejutnya ia melihat Risa yang tengah di bully. Tanpa pikir panjang Jeff berlari menghampiri Risa.
“Ris, Risa…?” Jeff menepuk pelan pipi Risa berharap ia menyadari keberadaannya. Samar samar Risa mendengar suara yang sangat familiar itu. Setelahnya ia tidak mengingat apapun karena kini ia hilang kesadaran.
Jeff mengangkat Risa ala bridal style. Semua orang yang ada di kelas menatap tak percaya. Orang orang yang berada di luar pun sama tercengangnya. Sesampainya di UKS, Jeff mencoba menghangatkan tubuh Risa.
“Ibu, Risa takut…” Mendengar Risa yang terus meracau, dengan sigap Jeff menenangkan Risa.
“Shsst, tenang ya, lo aman sekarang.” Dan benar saja, tak lama Risa berhenti meracau. Jeff menatap Risa penuh sendu. Apakah Risa mengalami panik attack?
Jeff menitipkan Risa pada guru yang berjaga di UKS. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Risa . Tetapi, Jeff juga tidak mungkin meninggalkan pelajarannya. Mengingat sebentar lagi ia akan menghadapi ujian akhir.
Bell pulang pun berbunyi, semuanya berbondong bondong untuk pulang. Jeff keluar dari kelasnya dan berjalan menuju kelas Risa guna mengambil barang Risa yang tertinggal.
Di sana, ia masih melihat beberapa orang. Namun, ia tak melihat keberadaan orang yang tadi tengah membully Risa. Jeff pun mengucapkan permisi lalu masuk ke dalam.
“Kak, gimana keadaan Risa?” Tanya salah satu dari mereka pada Jeff.
“Dia udah tenang, mungkin sekarang udah sadar.” Setelah selesai memberesi barang Risa, Jeff berjalan keluar. Sebelumnya, ia sempat memberi pesan pada mereka untuk menyampaikan pada orang yang membully Risa siang tadi.
“Oh ya, sampein pesan gue ke orang yang udah ngebully Risa tadi. Sekali lagi dia ganggu Risa, bakal berurusan sama gue.”
Setelahnya, Jeff segera keluar dari sana dan menghampiri Risa. Ia sungguh mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Sesampainya, ia melihat Risa yang sudah sadar dan sekarang tengah melamun.
“Ngelamun aja, kesambet ntar.” Risa beralih menatap Jeff yang datang dengan tiba tiba.
“Makasih.” Jeff menghela napasnya panjang. Hanya satu kata yang keluar dari mulut Risa?
“Masih cuek aja sih, Neng.” Goda Jeff mencairkan suasana. Namun, apa yang kalian harapkan dari Risa? Tetap saja ia bersikap cuek dan mulai berjalan keluar.
Jeff menunduk lesu dan mengekori Risa. Seperti pagi tadi, sore ini Jeff membonceng Risa kembali menggunakan sepedanya. Sesampainya mereka, Risa turun dan memasukan sepedanya. Ia memandang Jeff yang terus berdiri di luar pagar.
“Gue pulang dulu. Bye, gadis cuek.” Risa ragu untuk masuk terlebih dahulu. Ia masih senantiasa memandang Jeff yang mulai melangkahkan kakinya.
“Jeff.” Kaki Jeff seketika berhenti di tempat. Kepalanya menoleh ke arah Risa. Senyuman yang hampir luntur itu kembali merekah. Apa dia tidak salah dengar? Risa memanggil namanya?
“Lo manggil gue? Ini serius? Lo? manggil nama gue? AAAAA, RISAA MANGGIL NAMA GUE.” Risa menyadari kebodohannya sendiri. Ia bergidik ngeri melihat tingkah Jeff yang jauh di luar prediksinya.
Tak mau menahan malu lebih lama, Risa segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Jeff masih senantiasa senyum senyum sendiri seperti orang gila.
“WOHHH, AKHIRNYA RISA MANGGIL NA—”
“BERISIK!!!” Jeff lantas menghentikan aksinya. Ia langsung lari terbirit-birit karena tetangga Risa yang sudah mengamuk. Akhirnya setelah penantiannya, Risa memanggil namanya. Meskipun Risa masih sangat canggung. Senang kau Jeff, Jeff.
*****
“Iya, nggak papa, Ris. Kamu cepat sembuh ya.” Ucap mbak Laras di seberang melalui telepon. Risa pun tersenyum lega karena ia diizinkan untuk libur sehari saja. Sebenarnya ia ingin tetap kerja, tapi tangannya masih saja sakit. Terlebih tadi Lala menginjaknya dengan keras.
Risa mendengar ketukan pintu dari luar. Terdengar suara bapak yang terus memanggilnya. Risa pun turun dari kasurnya dan menghampiri bapak.
“Ada apa, Pak?”
“Apa benar kamu habis di bully sama teman sekelas mu?” Risa hanya mematung mendengar pertanyaan bapak. Darimana bapak tahu jika ia di-bully Lala?
“Nggak, bapak kata siapa?” Ujar Risa bohong. Tentu bapak tidak percaya begitu saja. Sedari dulu Risa memang tak pandai bohong terhadap bapak. Hanya melihat matanya saja, bapak bisa tahu Risa sedang berbohong atau tidak.
“Teman mu sendiri yang cerita.” Bom! Risa terkejut mendengar penuturan bapak. Temannya? Siapa? Apa jangan jangan Jeff? “Sialan anak itu.” Runtuk Risa dalam batinnya.
“Sudahlah, lawan jika ada yang membully mu. Jangan jadi lemah.” Risa tak habis pikir dengan bapak. Ia bisa saja melawan Lala. Tapi, keadaannya tidak tepat. Ia sedang mengalami panik attack dan itu membuat tubuhnya melemah.
“Gimana mau lawan, orang kena panik attack gara gara hujan. Hujan memang sialan.” Gumam Risa seraya membalikkan badannya memasuki kamarnya kembali.
Tanpa Risa sadari, bapak mendengar gumamannya. Ada secercah penyesalan muncul dalam benak bapak. Apa putrinya kembali membenci hujan? Buliran bening mulai jatuh tanpa izin. Selama ini, tanpa Risa tahu. Bapak selalu menyesali semua sikapnya. Namun, bapak masih enggan untuk kembali seperti dulu. Egois! Bapak adalah orang paling egois.
Bapak sadar semua sikapnya melukai putri satu-satunya. Tapi apa? Bapak masih saja berperilaku seperti itu seakan tak peduli dengan luka yang ia torehkan pada putrinya. Orang paling brengsek.
“Bapak minta maaf…”
*****
HAPPY READING👀✨