Kisah cinta rumit terjalin di antara empat bersaudara, seorang wanita hadir menjadi rebutan.
Dialah Art Tara Biancasandra, seorang wanita cantik yang memiliki nasib buruk semenjak memiliki ibu tiri. Nasibnya berubah setelah mengenal seorang pria kaya yang memanfaatkan dirinya. Dari sanalah ia mendapatkan kisah asmaranya yang rumit, segala keluh kesah kehidupan di dapatinya mulai dari hal baik hingga hal buruk.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah ia mampu menghadapi asmara jajar genjang itu?
Tidak ada permasalahan yang tidak mendapatkan jalan keluarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rha Setia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AJG 07
Mengejutkan! Kelopak mata Jackson membelalak nyalang, mengingat dirinya telah menodai wanita di hadapannya dua belas tahun silam. Pikiran buruk mulai berkumandang dari dalam ingatannya. Namun, sebisa mungkin ia memastikan tanpa harus menyahut pikiran buruk tanpa bukti itu. "Anak remaja? Dia masih umur 3 taun, Art Tara," balasnya sambil menunjuk anaknya dengan dagunya.
Kali ini, kelopak mata Tara yang terbuka lebar tatkala menyadari ucapan yang ia lontarkan sebelumnya hampir saja mencelakainya. Kelopak matanya kian melebar saat ia melihat sang anak semata wayangnya, kini sedang berdiri di belakang pria itu, pria yang kini mengalihkan arah wajahnya mengikuti arah pandangnya.
Jackson mengarahkan pandangannya pada asal arah tatapan yang membuat terkejut wanita itu, beruntung bagi Tara, namun nahas bagi Jackson karena Alev segera memutar tubuhnya hingga ayahnya tidak melihat wajahnya barang sedikitpun.
Jika saja terjadi, maka Tara akan melampiaskan amarahnya dengan luapan umpatan emosinya pada anak semata wayangnya --yang sesungguhnya dirinyalah yang bersalah--.
Tara menghela napas lega, ia mengusap dadanya disela embusan napas yang sudah tercabik di dalam, tepat pada kerongkongannya. Tidak dapat terbayangkan olehnya jika lelaki --yang telah menatapnya penuh janggal-- itu melihat siapa objek yang menjadi kejutan untuknya beberapa saat lalu.
Picingan mata Jackson terlihat tegas menatap wajah wanita itu. Tidak ada hal yang janggal di belakangnya, namun kejanggalannya kini dari wajah yang telah membendung keringat kecil di atas permukaan kulit dahinya.
"Art, kamu lihat mantan kamu?" tanya Jackson dengan nada menerka, seperti sedia kala yang sudah diketahuinya jika wanita pujaannya bertemu dengan pria konglomerat itu, maka raut wajahnya akan menjadi berantakan dan tak jelas.
"Ah, hmm …." Tara seketika gelagapan sendiri, tidak mampu membalas ucapan itu. "Kalian udah 'kan makannya?" Tara coba mengesampingkan topik, ia bersilat lidah tatkala sebuah alasan tidak di dapatinya sedikitpun.
Jackson mengangguk keras membuat sang wanita lega nyaring saat ia tidak memperpanjang kecurigaannya. "Kamu mau aku anter pulang?" tawarnya ragu-ragu, pasalnya setiap kali ia memberikan tumpangannya, wanita itu selalu menolaknya.
Namun, kali ini berbeda, sama sekali di luar perkiraannya.
"Ah iya, maaf ngerepotin." Tara menyahut menerima tawaran itu dengan pikiran yang masih semrawut, hingga tanpa dia sadari, ia menerima tawaran dari lawan bicaranya, sesuatu yang membuat pria itu menyeringai penuh kemenangan, lantas segera bangkit dari duduknya, enggan membuat wanita itu menarik kembali persetujuannya.
Akhirnya Jackson mendapat kesempatan emasnya setelah menunggu dua tahun lamanya, kesempatan dia dapat restu wanita itu untuk memasuki kediaman sewaannya. Tanpa kata, hanya senyuman kemenangan yang tersirat dari wajahnya, ia segera beranjak dari sana.
Kini mereka berjalan beriringan menyusuri lantai marmer yang membalut ruang pusat perbelanjaan itu. Pusat perbelanjaan yang saat ini dipenuhi banyak pengunjung, berbagai sisi dipenuhi orang yang memilah produk setiap laba di sana, suasana yang normal dan lumrah.
Jackson menggodanya saat melewati sebuah toko gaun pengantin, ia menghentikan langkahnya di sana, menatap lekat ke arah dalam toko itu.
"Jack, lagi ngapain?" tanya Tara dengan raut muka yang heran tergambar jelas di wajahnya, ia menatap bergantian ke arah ruang serta arah pandang pria yang masih berpusat pandangan ke hadapannya.
"Aku lagi ngebayangin gimana cantiknya kamu pake baju itu," sahut Jackson penuh rayuan, dagunya yang bergerak menunjuk ke arah gaun pengantin, gaun yang saat ini tengah dikenakan oleh manequin di balik kaca itu.
"Haiss." Tara mendengus keras, ia menyembunyikan debaran jantungnya yang sudah berdegup kencang di sana. Tidak dapat dimungkirinya, ia pun ingin merasakan memakai gaun itu, apalagi pasangannya seorang Jackson Jordan Charington. Hanya saja, ia masih belum mendapat cara untuk menghadapi kedua ibu iblisnya, sosok yang membuat rasa takut selalu menghantui hari-harinya jika pria itu terseret ke dalamnya.
Terbukti sudah, dahulu kala saat kejadian naas yang panas itu, ia yakin semua ulahnya disebabkan oleh sang ibu tiri yang ingin menukarkan dirinya dengan sebuah bisnis kepada pria disampingnya --pria yang masih setia menatap gaun pengantin-- itu.
Seandainya ia berpikir menggunakan logikanya, ia mengetahui siapa Jackson yang sesungguhnya. Dengan itu, ia bisa dengan mudah meminta bantuan kepada pria pemimpin perusahaan itu untuk merubuhkan kedua ibunya.
Benar! Karena ia berpikir dengan logika, ia mencegah sang hati terperosok menjadi milik lelaki itu. Seandainya ia menjadi istri dari seorang pengusaha nomor wahid dalam negeri itu, yang akan mendapat keuntungan besar adalah ayah serta kedua ibunya.
Tidak! Ia menyangkal itu semua akan terjadi. Seteguh hati ia menginginkan kedua ibunya menikmati surganya di muka bumi ini sebelum maut membawa mereka menuju pintu neraka.
Rasa dendam yang menyeruak itu berakhir sudah saat ia menatap wajah tampan yang menyamping itu, dalam asmanya yang berseru permintaan maaf kepada pria itu --yang selalu mendapat penolakan kerasnya--
"Jack, mau pulang sekarang ga?" tanya Tara memecah bayangannya sendiri. "Aku harus kerja bentar lagi," imbuhnya, itu membuat sang pria melenguh pasrah tatkala sang rayuan tidak berhasil menggugah hati wanita itu.
Ia begitu kesulitan menghadapinya, sekalipun dengan harta kekayaan yang sempat ditawarkannya pada wanita --yang telah menatapnya penuh kejanggalan-- di sampingnya. Bahkan kebahagiaan yang dijanjikannya pun terbengkalai oleh sebuah penolakan keras dari wanita itu.
Sejenak terpikirkan olehnya, dia ingin sekali mengungkap jati dirinya agar sang musuh dari wanita itu enyah dari kehidupannya. Namun,
Tidak! Ia menolak keras, semua yang dilakukannya sudah benar adanya, untuk menempuh kedamaian hidup seluruh keluarganya, ia terpaksa mengabaikan hatinya.
*****
Ruang tidur yang begitu rapi, aroma rose tercium pekat menusuk hidung Jackson yang sudah merebahkan diri di atas ranjang milik sang pujaan hati, itu terletak di dalam kamar kostnya.
Rupanya setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya, Jackson baru menepi di dalam kediaman wanita buruan hatinya, tentu saja setelah mengantar sang buah hati menyerahkan kepada ibu tirinya.
“Jack, kamu ga mau kerja hari ini?” tanya Tara yang mengusir secara halus, namun tatapan tegas tersirat pada wajahnya menatap pria yang masih meresapi rebahan tubuhnya.
“Kamu jahat sayang, ga nawarin minum dulu?” sahut Jackson tak acuh, ia mengabaikan dengusan keras dari wanita yang berdiri di samping tempat tidur itu.
“Ambil sendiri ah, aku mau siap-siap dulu," balas Tara, ia memutar tubuh saat matanya sudah tidak mampu menolak pesona dari senyuman pria itu.
“Aku ga tau sayang kamu narohnya di mana,” ujar Jackson dalam gurauannya, namun itu membuat wanita yang telah duduk di hadapan cermin mendelik sebal.
“Kamu ga lihat kulkas di sana?” tunjuk Tara sambil melentingkan telunjuknya ke arah sudut ruang, di mana tempat penyimpanan minuman dingin berada. “Tempat cuma segede gini masa kamu ga bisa nyari sih?” imbuhnya yang segera terabaikan saat sang pria telah berhasil berdiri di hadapan tempat penyimpanan minuman dingin itu.
“Kamu masih mau nolak ga, kalo aku tawarin tinggal di rumah aku?” tanya Jackson memastikan akan tawarannya --yang beberapa bulan lalu yang sempat terucap-- pada wanita yang telah bersibuk ria merias dirinya.
“Masih!” balas Tara tegas, namun ucapannya malah disambut tawa gemas oleh pria yang sudah duduk di sampingnya.
“Kamu terlalu baik, atau ga mau aku tau rahasia kamu, sampe ratusan kali nolak aku gitu?!” seru Jackson, kalimat itu berhasil membuat wanita yang berada di sampingnya menghentikan kegiatannya.
Tara terentak dalam kejutannya saat mendengar ucapan isyarat itu. Ia menerka jika pria yang kini telah merecok kegiatannya --dengan cara meraih alat rias dari tangannya-- telah mengetahui sesuatu tentang anaknya. “Ka … kamu ngomong apa sih?” tanyanya terbata-bata, jelas membuat pria itu ingin menggodanya tanpa menghiraukan wajah kejut itu, sang pria mengelus pipinya.
“Beneran kamu punya sesuatu yang di rahasiain ya?” tukas Jackson memancing, namun kini terbengkalai saat wanita --di sampingnya-- itu telah merebut minuman instant yang berada di sampingnya. “Kamu gugup banget, sayang," imbuhnya di sertai tawa gemasnya, hal yang membuat sang wanita tersedak oleh minuman yang telah berhasil mengalir di dalam tenggorokannya.
“Jack," sahut Tara tersenggal oleh sisa sedakannya, membuat sang pria mengulurkan tangannya untuk mengelus pundaknya dengan telapak tangan. “Aku gugup karena kamu terus ngerayu aku tau ga?” ucapnya setelah sedakannya mereda.
“Kalo kamu ga punya perasaan sama aku ga mungkin kamu gugup kalo aku rayu,” balas Jackson kian menggodanya, membuat wanita di sampingnya menatapnya penuh amarah.
Tara sudah tidak mampu mengendalikan situasi --yang membuat batinnya merancu-- itu. Ia segera bangkit berdiri setelah usai merias wajahnya dengan hiasan tipisnya saja.
Terpaksa! Jackson berpasrah diri menimbun pancingannya, ia berhasil membuntuti langkah pendek wanita itu yang mulai menuju pintu keluarnya.
•
•
•
•
Tbc
hmm...apakah jackson tahu bahwasanya dia telah jadi seorang ayah??
semoga segera dipertemukan oleh takdir.
dan perasaan mendalam antara kasihan sesal dan tumbuhnya cinta ...
mengapa pula sikap nya sungguh terlihat kejam ke tara,mungkinkah tara anak yg tdk di inginkan kelahirannya??
selamat berjuang tara,menata masa depan dengan peluh halalmu.
ujian terberat tara akan segera dimulai,kenapa kebablasan?kenapa tdk dengerin sahabat kamu tara
saya langsung cus ngingip visualnya mom😁