Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Baru
Rutinitas di ruang IGD di Rumah Sakit Umum Daerah tersebut berjalan seperti biasanya.
Dokter, suster dan bruder terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing, ada yang sedang mencatat, ada yang sedang memeriksa pasien, ada pula yang berlari-lari dengan membawa peralatan medis ataupun obat-obatan.
Di sudut ruangan ada juga yang menangis histeris, mungkin mereka baru saja kehilangan orang terkasihnya.
Terdengar juga suara pasien merintih kesakitan, menyatu dengan suara anak kecil yang menangis sangat kuat, mungkin sedang ketakutan karena mau di infus.
Ada juga kelompok kecil berseragam putih yang kebingungan, mereka saling menatap satu sama lain, salah satu dari mereka mondar-mandir kesana-kemari namun tidak melakukan apapun.
Ya betul mereka adalah siswa yang sedang magang di hari pertama.
Di depan ruang IGD Bapak terlihat sedang berbincang via telpon dengen seseorang.
Rupanya ia baru sadar kalau punya handphone.
"Dia masih hidup Bu, aku kasihan jadi aku tolong," kata Bapak.
"Ini beneran kan bukan akal-akalan kamu saja, atau jangan-jangan itu anak simpanan kamu yang sengaja di buang." Suara di dalam telpon.
"Ya ampuuun, mau sampai kapan kamu selalu curiga kalau aku punya wanita lain, kamu istri satu satunya. Cepat kesini!" Bapak menutup telpon secara sepihak.
Istri satu aja aku pusing, karena kamu sangat cerewet, cemburuan pula, padahal udah mau punya cucu, tapi masih saja belum berubah, dia masih saja merasa dirinya itu bunga desa, padahal itukan dulu berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hati Bapak.
Tapi kenapa ya aku tidak pernah bisa menolak keinginannya, biar bagaimanapun dia sudah mau bersusah payah menjadi istriku sampai saat ini. Hati Bapak lagi.
Rupanya si bapak belum menyadari kalau dia mengidap penyakit 'suami-suami takut istri.'
Seorang bruder (perawat pria) datang menghampiri Bapak "Maaf, apa benar bapak wali pasien nona tenggelam?" Bapak mengangguk.
"Pak ada yang harus kami jelaskan tentang kondisi pasien dan tindakan selanjutnya, Bapak juga harus segera ke bagian pendaftaran."
"Maaf sus, eh Pak perawat, apa boleh saya menunggu istri saya dulu? Sebentar lagi datang."
"Silahkan Pak!" kata bruder.
Ya pada saat masuk ke ruang IGD kondisi pasien saat itu memang termasuk pada kategori zona merah yaitu pasien prioritas pertama yang harus diresusitasi dan memerlukan pertolongan segera.
Dalam hal ini pihak Rumah Sakit memberikan pengecualian, pasien harus ditindak terlebih dahulu, masalah administrasi bisa menyusul.
Tidak lama kemudian istri bapak itu datang, mereka diperbolehkan untuk melihat kondisi pasien, dokter lalu menjelaskan jika pertolongan mereka berhasil, namun karena masih belum sadar, pasien memerlukan ruang ICU.
Dijelaskan juga oleh dokter tersebut mengenai administrasi yang harus segera di urus.
"Baik dok, saya dan suami setuju." Bapak di samping nampak terkejut dan heran, namun iya tetap mengangguk, sepakat ya Bapak itu 'suami-suami takut istri.'
"Baiklah, jika sudah mengerti silahkan Bapak tanda tangan di sini, di sini, dan di sini."
Setelah keluar dari ruang IGD pasangan suami istri itu masih bersitegang.
"Bagaimana kita bisa membayar biaya ICU, uang kita saja pas-pasan," kata bapak.
"Pak kapan kamu pinternya sih, kita kan bisa meminjam uang ke Bang Kojek."
"Jaminannya?" sahut Bapak.
"Jaminannya ya anak itu Pak, kamu tadi lihat kan anak itu sepertinya cantik dan lugu." Wanita itu menyeringai tersenyum licik.
"Terus, bisa saja kan kalau anak itu anak orang kaya, jika kita merawatnya suatu saat kita bisa meminta tebusan, dan kita akan raya, kaya di film-film gitu loh Pak," imbuhnya.
"Terus siapa nama anak itu, pihak rumah sakit pasti bertanya."
"Heem ... untuk sementara namanya Susi ajalah."
"Terus Bu kalau anak itu nanti sadar bagaimana?"
"Aduh Paaak ... untuk masalah itu nanti aku akan mikir lagi. Lagian kamu juga tadi dengar kan yang dijelasin dokter? Anak itu ada benturan di kepalanya, hasil si sitinya (mungkin maksud wanita itu CT scan) di otaknya ada pendarahan, jadi kalaupun dia nantinya sadar gak mungkin langsung sembuh total."
Bapak mengangguk namun masih mencoba mencerna semua ide istrinya.
Mereka lalu menuju ke bagian pendaftaran, mendaftarkan anak yang diakui sebagai anaknya yang hilang saat bermain di sungai, namanya Susi.
♡♡ Bersambung ....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah