Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Dikampus.
Universitas Teknik Delft (TU Delft) yang luasnya mencakup sebagian kota. Kampus ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga sebuah lanskap yang memukau.
Saat itu, Ninda mengayuh sepedanya melintasi taman botani yang luas, terdiri dari ribuan tanaman herbal dan bunga yang memanjakan mata.
Tak lama, tanda-tanda gedung arsitektur mulai tampak, dengan desain-desainnya yang unik dan memikat.
"Akh, akhirnya sampai juga," ucap Ninda dengan napas tersengal. Keringat membasahi dahinya, namun semangatnya tak surut.
Sebenarnya, ada banyak pilihan transportasi umum yang bisa Ninda gunakan.
Di setiap gedung fakultas terdapat halte bus, yang memungkinkan Ninda berhenti tepat di depan tujuan. Namun, harga transportasi di Belanda cukup mahal.
"Sepertinya akan sulit berteman dengan orang-orang Eropa," gumam Ninda pelan, merasa sedikit minder dengan perbedaan budaya yang begitu kentara.
Ini adalah hari pertama kuliahnya, dan rasa gugup tak bisa dihindari.
Tempat duduk di ruangan itu tersusun melingkar dan berundak-undak, memberikan pandangan yang baik dari segala sudut.
Tiba-tiba, Ninda dikejutkan oleh kedatangan dua orang mahasiswa yang duduk di sampingnya. Mereka tersenyum ramah, memancarkan aura positif yang menenangkan.
"Hai, kamu dari Asia?" tanya seorang dari mereka, membuat Ninda menoleh dengan sedikit terkejut.
"Ya, saya dari Indonesia," jawab Ninda sambil tersenyum, menatap mereka satu per satu dengan rasa ingin tahu.
"Aku Jessica dari Singapura, dan ini temanku, Sunak dari India," ungkap Jessica memperkenalkan diri dengan ceria.
"Kami juga baru bertemu," sambung Jessica, menoleh ke arah Sunak dengan senyum yang sama.
"Maaf, siapa namamu?" tanya Jessica, masih dengan senyuman manis di wajahnya.
"Ninda," jawab Ninda singkat, namun tatapannya menunjukkan ketertarikan yang besar pada kedua teman barunya.
"Senang sekali bisa bertemu dengan kalian, apalagi kita sama-sama dari Asia," ungkap Ninda tulus, merasa lega karena tidak sendirian di lingkungan yang baru ini.
"Tadi aku duduk di seberang sana," kata Sunak sambil menunjuk ke arah depan kelas. "Aku memberi tahu Jessica untuk mengajakmu bicara karena kulihat kau seorang diri."
"Dan akhirnya kita di sini," timpal Jessica, tertawa kecil.
"Ya, dan mungkin kita akan menemukan lebih banyak teman Asia di sini," ungkap Sunak, optimis.
Tak lama kemudian, semua mahasiswa duduk dengan tertib karena dosen baru saja tiba. Kuliah hari pertama setelah liburan musim panas pun dimulai.
"Kau tinggal di mana, Ninda?" tanya Jessica membuka percakapan.
"Aku tinggal di Apartemen XXX, hanya 20 menit naik sepeda," sahut Ninda sambil tersenyum.
"Oh, dekat dengan apartemenku!" ungkap Jessica antusias.
"Apa cuma aku yang tinggal di flat murah, dan jaraknya lumayan jauh?" ungkap Sunak dengan nada sedikit iri.
"Aku juga numpang di apartemen uncle-ku kok," sahut Ninda, menoleh ke arah Sunak.
"Baik banget uncle-mu," sahut Sunak, merasa Ninda sangat beruntung memiliki kerabat yang baik. "Aku pengen deh punya uncle," kata Sunak lagi, wajahnya sedikit sedih.
"Dan kamu, Jessica, itu apartemen milikmu sendiri, kau juga memakai mobil bagus, kau pasti crazy rich," ungkap Ninda, diikuti tawa Jessica dan Sunak.
"Kau kebanyakan nonton film," ungkap Jessica sambil tertawa.
"Ya, aku cukup kaya," kata Jessica bercanda.
"Tapi kau memang terlihat kaya, Jess," ucap Sunak.
"Oya, aku bisa minta nomor kalian?" celetuk Sunak sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya.
"Iya, tentu," sahut Jessica, diikuti senyum dari Ninda. Mereka bertiga saling bertukar nomor telepon, merasa semakin dekat satu sama lain.
Ras mereka terlihat sangat beragam. Jessica jelas terlihat Tionghoa, Ninda Asia Tenggara, dan Sunak dari India.
Setelah masuk beberapa kelas, Ninda memutuskan untuk langsung pulang karena merasa sangat lelah. Ia berputar-putar sejenak, mengambil jalan yang berbeda untuk menikmati suasana kota.
Dia mengayuh sepeda sekuat tenaga, meskipun merasa sangat lelah.
Berlahan, ia berjalan menuju lift untuk naik ke apartemennya di lantai 3. Saat pintu lift terbuka, ia tiba-tiba berpapasan dengan Noah.
"Uncle," Ninda memberanikan diri menyapa Noah sambil tersenyum.
"Ninda, sudah lama ya nggak ketemu," ungkap Noah, menatap Ninda dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa Noah sadari, ia menghalangi jalan Ninda.
Suara Ninda bergemuruh dalam hati, 'Kamu yang ghosting, nggak balas chat aku, ngilang berhari-hari.'
"Uncle, aku masuk yaah, lain kali kita bicara, aku lelah sekali," ungkap Ninda dingin, sedikit mendorong tubuh Noah yang menghalangi jalannya.
"Eh, Ninda, bisa temenin aku, aku mau belanja ke supermarket," ungkap Noah, berusaha mengajak Ninda untuk bicara.
"Uncle, aku minta maaf, aku benar-benar lelah," sahut Ninda menolak halus, sambil menekan kode pintu apartemennya.
"Baiklah, kalau begitu," ucap Noah pelan, namun Ninda tak menoleh sama sekali.
"Kalau butuh membeli sesuatu, hubungi aku," ucap Noah lagi sambil menyaksikan Ninda masuk ke dalam apartemennya.
"Akh, sial, kenapa aku merasa kesal," kata Noah pelan sambil masuk ke dalam lift. Tiba-tiba, moodnya berubah menjadi buruk.
Sedangkan di dalam apartemennya, Ninda yang sudah sangat kelelahan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bahkan, ia belum sempat makan siang karena tak punya tenaga.
Tiba-tiba, ia mendengar notifikasi masuk dari ponselnya. Ia meliriknya dan melihat pesan dari Noah,.
Sementara itu, Noah semakin merasa kesal karena chat-nya tidak dibalas oleh Ninda.
"Bukankah ini yang aku inginkan?" ucap Noah sambil melirik ponselnya berkali-kali, berharap mendapat balasan dari Ninda.
Saking gelisahnya, ia tidak mengingat barang apa saja yang akan ia beli di supermarket.
"Gadis ini tidak bisa mengacuhkan aku," ucap Noah kesal sambil melihat ponselnya lagi.
"Akh, kenapa aku sekesal ini?" ucapnya lagi.
Dia membeli makanan instan, buah-buahan, susu, dan berbagai jenis snack. 'Boleh juga kau, Noah,' katanya dalam hati.
Dalam waktu 30 menit saja, Noah sudah berada di depan pintu apartemen Ninda.
Ting... Tong...
Ninda terbangun ketika mendengar suara bel. Dengan susah payah, ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri pintu apartemennya.
"Kau tak membiarkan aku masuk?" ucap Noah sambil menerobos masuk, menabrak Ninda yang ada di hadapannya.
"Eh, Uncle," ucap Ninda panik. Namun, sudah terlambat. Noah sudah masuk ke dalam apartemennya.
"Aku membelikanmu buah-buahan, mie instan, makanan, susu, dan beberapa keperluanmu," ungkap Noah sambil tersenyum ke arah Ninda. Namun, Ninda tak tampak antusias mendengarnya.
"Simpan saja di situ, Uncle, aku mau tidur," kata Ninda sambil berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.
Entah apa yang merasukinya, dia juga rela repot-repot memasak untuk Ninda. Karena suara dapur yang gaduh, Ninda tak bisa tidur lagi.
"Ngapain sih orang ini," ucap Ninda kesal.
"Katanya mau tidur?" ungkap Noah menoleh sejenak ke arah Ninda sambil tersenyum.
"Gimana bisa tidur, Uncle heboh banget masaknya," ucap Ninda sedikit kesal.
"Makanlah, pasti kamu belum makan kan," ucapnya lagi.
Ninda membelalak ke arah Noah, bingung dengan sikap Noah yang tiba-tiba love bombing.
'Ni orang maunya apa sih, kemarin ngilang sekarang manis banget,' gerutunya dalam hati sambil menatap Noah.
"Spageti kalau dingin nggak enak lho," ucapnya sambil duduk di samping Ninda. Ninda hanya bengong melihat kelakuan Noah yang makin ajaib.
Noah menggulung spageti menggunakan garpu, lalu mengarahkan ke mulut Ninda.
"Aaa, buka mulutnya, Aaa," kata Noah memperlakukan Ninda seperti anak kecil.
"Aku bisa sendiri," katanya sambil meraih garpu itu. Tangannya menyentuh tangan Noah, Noah tersenyum ke arah Ninda. Ninda menepis tangan Noah.
'Sialan, kenapa dia ganteng banget,' kata Ninda dalam hati. Pada akhirnya, Noah menyuapi Ninda. Ninda hanya pasrah saja menerima suapan demi suapan.
"Kalau makan kenapa suka belepotan sih," ucap Noah sambil mengusap bibir Ninda dengan jarinya.
'Aaaa, apa ini, kenapa aku tak bisa bergerak,' ungkap Ninda dalam hati. Seketika, jantung Ninda berdebar kencang, wajahnya merona merah.
.
Uhuk... Uhuk...
"Kamu baik-baik saja?" tanya Noah seraya menghampiri Ninda. Ninda hanya mengangguk pelan.
Noah mendekat ke arah Ninda, jantung Ninda berdegup kencang. Noah Ninda terpojok, punggungnya menempel dengan lemari es, Ninda menutup matanya.
"Hey, apa yang sedang kau lakukan, aku mau ambil minum," ungkap Noah.
"Haah," Ninda merasa malu bukan main. Dia kemudian lari masuk ke dalam kamarnya.
Tok... Tok... Tok
Noah mengetuk pintu kamar Ninda perlahan, lalu berkata, "Habiskan pastamu, nanti dingin," ucap Noah.
"Iya, Uncle, nanti aku akan menghabiskannya," sahut Ninda tak berani keluar kamar.
"Aku pulang kalau begitu, sampai jumpa, Ninda," ucap Noah. Kemudian, Ninda segera mendekat ke arah pintu kamarnya dan menempelkan telinganya di pintu. Dia mendengar suara pintu dibuka kemudian ditutup.
"Haah, akhirnya dia pergi," ucap Ninda lega, lalu mengingat tingkah konyolnya tadi.
"Bodoh, bodoh, bodoh," ucapnya lagi.