Karya ini merupakan karya jalur kreatif.
Adiyasa, pria berusia 18 tahun itu di temukan tewas mengenaskan oleh warga, jazadnya mengapung di sungai kumuh bersamaan dengan sampah yang juga bau busuk.
Yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa sekarang ia bangun, apakah dia mati suri? Setelah itu, Adiyasa seolah mengalami transformasi dari korban bully menjadi pria tangguh tak terkalahkan, inilah kembalinya kesatria pedang hitam.
Seperti kata Noveltoon dan Mangatoon kalau berkarya tidaklah mudah, maka dari itu mari dukung karya author dengan like, komen, subscribe dan bintang lima. Selamat membaca. Yang nggak pelit dukungan hidupnya bahagia. 🥰
Cover by Mak R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengalahkan Preman Pasar
Di rumah, Mirah menatap barang dagangannya itu dan berpikir untuk membuat warung kecil di depan rumah. "Iya, aku bisa jualan di depan rumah," gumam Mirah seraya keluar untuk menyiapkan meja dan etalase kecil, ia memajangnya di bawah pohon depan rumahnya.
Selesai dengan itu, Mirah pun mulai merapikan dagangannya dan ia menunggu pembeli datang. Namun, bukannya pembeli yang datang, melainkan tetangga julid Mirah.
"Di deket sana udah ada yang jualan, kok, Sampean jualan juga di rumah? Emangnya udah nggak jualan di sekolah lagi?" tanyanya dengan tangan yang memilih aneka roti, roti yang terlihat lezat menggugah selera.
"Maaf, Jeng. Bu Diah itu, kan, jualannya sembako, bisa dibilang toko besar hampir mirip agen, kalau saya jualan jajanan anak-anak aja," jawab Mirah seraya tersenyum, tersenyum yang dipaksakan.
****
Sementara itu, di pasar, Adiyasa melemparkan sebuah pisang menggunakan gagang sapu yang ditertawakan oleh si preman dan seketika membuatnya terdiam.
"Kunyukk! Siapa lu, kenapa ganggu keamanan di sini!" geram si preman seraya melemparkan pisang dari mulutnya ke sembarang arah.
"Guru, mereka yang kejam, mereka suka malak pedagang di sini, hajar aja, guru!" kata Agus dan Adiyasa pun mulai melangkah.
Ia menunjuk dada preman itu menggunakan gagang sapunya. "Sekali main, kalau kamu kalah, kamu angkat kaki dari sini!" ucap Adiyasa dan preman itu mencoba menarik gagang sapu tersebut dari tangan Adiyasa.
Adiyasa, si pria kurus yang sempat ia remehkan, ternyata, untuk menggeser gagang sapu dari dadanya saja sangat sulit dilakukan.
Kemudian, si preman itu ingin mematahkan gagang sapu dan Adiyasa yang mengetahui itu segera menarik gagang sapunya, ia memukul tengkuk, punggung dan kaki bagian belakang si preman tersebut, membuatnya terpaksa harus berlutut di kaki Adiyasa.
Semua yang melihat itu pun bersorak, berharap, Adiyasa dapat mengalahkan preman-preman yang sok berkuasa.
Sekarang, si preman gondrong itu menarik kaki Adiyasa, ia memutar balikkan keadaan dengan sekarang berada di atas Adiyasa dan mulai meninju wajahnya.
Keadaan itu membuatnya teringat dengan kejadian malam naas yang membuatnya terapung bersama sampah di sungai.
Tapi, Adiyasa kesulitan untuk melihat siapa pelakunya dan sekarang, Adiyasa tersadar saat Agus menyingkirkan si preman itu dengan cara menyerudugnya.
Kemudian, murid yang lain membantu Adiyasa untuk bangun dan setelah berdiri, Adiyasa melepaskan tangannya dengan begitu kesal.
Sekarang, Adiyasa menarik rambut preman gondrong itu yang sedang meninju Agus. Kemudian, Adiyasa melemparkannya begitu saja dan pertarungan sesungguhnya yang belum sempat dimulai sudah harus berakhir karena ada polisi yang melerai.
"Tahan, Guru. Dia polisi," kata Agus seraya menahan Adiyasa supaya tidak gegabah.
Lalu, apa tujuan polisi itu? Apakah sedang menjalankan tugasnya untuk mengayomi?
Kemudian, polisi yang ditemani dua temannya itu berkacak pinggang. "Kalian, kalau mau tarung jangan di sini, ganggu kenyamanan yang lain!" ungkap polisi itu dan benar saja, ternyata sudah banyak orang berkerumun untuk menonton perkelahian tersebut.
Sekarang, polisi itu membawa Adiyasa dan preman tersebut ke lapangan, di sana lah mereka akan memperebutkan kekuasaan dan pertarungan ini tidak boleh ditonton oleh anak-anak sehingga hanya ada orang dewasa saja untuk menjadi saksi.
Sekarang, ketua preman yang mendengar kabar tersebut pun merasa tertantang, ia yang sedang menemani istrinya ke salon harus pamit untuk membantu wakilnya.
Tidak lama kemudian, ketua preman itu datang, dia berbadan tinggi tegap dengan otot yang menonjol dan berdenyut. Kepalanya plontos dan ada tato kalajengking di sana.
"Guru, habisi dia," kata murid-muridnya yang sedang menyemangatinya.
"Kalau aku menang bagaimana?" tanya Adiyasa dan Agus menjawab, "Guru akan menggantikan dia menjaga keamanan area pasar."
Mendengar jawaban itu membuat Adiyasa berpikir akan menghasilkan uang untuk Mirah dan itu semakin membuatnya bersemangat.
"Anak kecil itu yang mencoreng harga diri lu?" tanya ketua preman dan wakil pun mengangguk, ia merasa malu untuk menjawab dan sekarang, pria plontos itu melepaskan kaos polosnya.
Terlihat badan kekar yang seperti hulk lokal dan Adiyasa sama sekali tidak gentar. Adiyasa merenggangkan otot-ototnya dan sekarang, pria kurus itu maju ke tengah, ia memasang kuda-kuda dengan jari telunjuk dan tengahnya yang menantang.
Dengan langkah kaki yang sedikit cepat, si preman yang meremehkan Adiyasa itu mengayunkan tinjunya dan Adiyasa menghindar, ia melakukan itu sampai beberapa kali membuat si pria plontos itu geram.
"Lu bisa tarung nggak? Kenapa ngehindar terus, cecunguk!" serunya dan Adiyasa masih menatap tajam pria berotot itu.
Kemudian sebuah tendangan mendarat ke mulutnya yang belum sempat berhenti bicara sampai membuat gigi-giginya rontok.
Uuuggghh! Pria itu terjengkang dan dibantu berdiri oleh wakilnya. Sekarang, pria berotot itu mengibaskan tangan wakilnya, ia belum kalah dan dengan begitu yakinnya dapat melumpuhkan Adiyasa.
Sekarang, pria itu mengeluarkan pisau belatinya dan mengayunkannya pada Adiyasa. Adiyasa melawan, ia menendang tangan itu dan membuat pisau itu terlepas.
Kemudian, Adiyasa memelintir tangan pria itu dan membuatnya mencium tanah yang ditumbuhi rumput, Adiyasa menekan kepalanya plontos itu menggunakan lututnya.
"Bagaimana? Mengaku kalah?" tanya Adiyasa dan si preman yang gede gengsi itu pun menolak.
Ia berusaha memutar keadaan dan benar saja, pria bertato kalajengking itu sekarang sudah berada di atas Adiyasa, ia mencekiknya dan sekarang, Adiyasa menendang pusaka si preman.
Bugh! Dan si preman pun kesakitan, sekarang, Adiyasa kembali memegang kendali, ia menendang dagu si pria plontos itu menggunakan lututnya sampai darah menyembur dari mulut di preman.
"Akhh!" pekik si preman yang akhirnya tumbang dan Adiyasa yang sedang dikuasai oleh Elang itu meninju wajah itu tanpa ampun.
"Hentikan, dia sudah kalah!" kata hati Adiyasa dan ternyata itu tak membuatnya berhenti.
"Kalahkan dia, dia meremehkanmu! Habisi dia supaya tidak ada lagi yang meremehkanmu!" kata Elang yang sedang berbisik dan sekarang, para murid Adiyasa melerai, ia tidak mau gurunya menjadi seorang pembunuh.
"Cukup, guru. Dia udah keok, kita menang!" kata Agus dan Adiyasa menarik nafas dalam.
Kemudian, Adiyasa melepaskan tangan murid-muridnya yang sedang menahannya.
Tanpa diketahuinya kalau pertarungan itu direkam oleh seseorang yang kemudian menjadi viral di sosial media dan Kinanti yang sedang istirahat jam kedua itu pun menggeleng.
"Abang, kenapa Abang jadi beringas gini?" tanya Kinanti, sementara itu, sekarang semakin banyak gadis yang menggilai Adiyasa.
Para gadis itu menitipkan salamnya pada Kinanti dan ia hanya menatap datar pada gadis-gadis yang merepotkannya.
Dan pertarungan itu juga dilihat oleh Raja the geng. Kalian lihat?" tanya Raja pada teman-temannya.
"Lihatlah, kan kita baru aja nonton bareng!" jawab Diki dan Arland menoyor kepalanya, "Bukan itu maksudnya, dodol!" kesal Arland seraya melotot.
Sementara itu, Raja hanya diam, dia duduk di bangkunya dengan menatap layar ponselnya.
"Gila, beda banget sama Adiyasa yang dulu! Apa dia kesurupan?" tanya Raja dalam hati.
Karya ini merupakan karya jalur kreatif.