Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
Pagi masih dilapisi kabut tipis ketika suara gemercik air mendidih dari ketel tembaga mengudara di dapur Paviliun Barat. Aroma tajam daun teh mint dan jahe merayap perlahan, mencoba mengusir dingin yang menusuk dari dinding-dinding batu istana.
Alena duduk di meja kayu dapur dengan kedua tangan menggenggam cangkir tembikar hangat. Wajahnya pucat pasi, lingkaran hitam di bawah matanya kian menyolok. Setiap kali terdengar langkah kaki pelayan di luar koridor, tubuhnya refleks menegang kaku.
Mira melangkah cepat dari arah pintu depan, merapatkan selendang kainnya. Setelah mematuhi prosedur memeriksa engsel pintu dan memastikan para pelayan junior sedang sibuk di halaman luar, Mira bergegas duduk di samping Alena.
"Aku sudah memeriksa nampan makanan pagi ini, Alena," bisik Mira dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Semua roti dan selai diperiksa dua kali. Tapi tetap saja... kau harus menyuruh Elian makan hanya dari piring yang kita siapkan sendiri."
Alena mendongak, matanya yang berwarna hijau hazel memancarkan kelelahan psikologis yang amat berat. "Mira... kau tidak boleh percaya pada siapa pun lagi di tempat ini. Tidak pada pelayan Nadia, tidak pada pengawal depan, dan tidak pada pengurus rumah tangga yang dikirim oleh dewan."
Mira menatap sahabatnya dengan raut prihatin yang mendalam. Ia meraih tangan Alena yang teraba dingin bagai es. "Aku tahu kau takut, Alena. Tapi jika kau terus seperti ini, kau akan gila sebelum musuhmu bertindak. Apa yang sebenarnya terjadi semalam saat aku menemani Elian tidur?"
Alena menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia melirik ke arah pintu dapur yang tertutup rapat, lalu membungkuk sedikit mendekati Mira.
"Duke Rowan datang ke kamarku semalam," bisik Alena.
Darah di wajah Mira mendadak surut. Tangannya yang memegang tepi meja gemetar hebat. "Rowan?! Pria tua yang dikabarkan meninggal itu?!"
"Dia masih hidup," sahut Alena parau. "Ratu memalsukan kematiannya untuk menyelamatkannya dari belati keluarga Ardent. Tapi bukan itu hal terpentingnya, Mira..."
Alena mencengkeram jemari Mira lebih erat, matanya membelalak penuh intensitas ketakutan.
"Rowan memberi tahu satu hal sebelum dia pergi. Dia bilang... dia bukan orang pertama yang membocorkan kehamilanku tujuh tahun lalu. Dia bukan orang yang mencegah surat jujurku sampai ke tangan Adrian. Ada orang lain di dalam pusat kekuasaan istana ini yang merencanakan kepergianku... dan orang itu yang mengirimkan surat teror kemarin!"
Mira terpaku membisu. Wajahnya yang tadinya terkejut kini berubah menjadi campuran antara kebingungan dan ketakutan yang murni.
"Maksudmu... ada dalang lain di balik Rowan?" tanya Mira, suaranya bergetar.
"Ya!" bisik Alena cepat. "Seseorang yang memegang kekuasaan besar. Dan aku tidak tahu siapa dia!"
Mira terdiam cukup lama, matanya menerawang menatap asap tipis yang membubung dari cangkir teh. Raut wajahnya berubah kaku, seolah-olah kenangan kelam dari malam tujuh tahun lalu mendadak terurai kembali di dalam otaknya.
"Mira?" panggil Alena heran melihat perubahan sikap sahabatnya. "Kenapa?"
Mira menarik tangannya perlahan dari genggaman Alena, menyilangkan jemarinya di atas meja. "Jika apa yang dikatakan Rowan itu benar... maka ada satu hal yang selama ini tidak pernah kuceritakan padamu, Alena."
Dada Alena berdesir keras. "Apa maksudmu? Hal apa?"
Mira menghela napas panjang yang terdengar berat dan tertahan. "Malam itu... malam ketika kau berlari kembali ke kamar pelayan sambil menangis setelah dipanggil Rowan ke Menara Selatan..."
Mira memelankan suaranya hingga menjadi desisan halus di antara desir ketel air.
"Kau memintaku bersiap-siap untuk melarikan diri sebelum fajar. Kau bilang Rowan mengancam akan mengeksekusimu jika tidak pergi. Tapi waktu itu, kita tidak punya uang yang cukup untuk menyewa gerobak atau membeli izin melintas gerbang. Aku panik, Alena."
"Lalu?" desak Alena, jantungnya berdegup makin kencang.
"Saat kau sedang membungkus pakaian di kamar, aku berlari ke pintu belakang paviliun untuk mencari bantuan dari seorang kenalan lama di dapur," ulas Mira, matanya menatap Alena dengan kejujuran yang jujur sekaligus cemas. "Tapi sebelum aku sampai di dapur, seorang pria bertopeng jubah hitam menghentikanku di lorong belakang."
Alena menahan napasnya. "Pria bertopeng?"
"Pria itu tidak memperlihatkan wajahnya," lanjut Mira. "Tapi dia memberiku sekatong koin perak dan sebuah kantong kulit berisi surat izin melintas Gerbang Barat yang sudah distempel dengan segel khusus. Pria itu berbisik padaku: 'Bawa Alena keluar melalui pintu belakang dekat istal sekarang. Kereta kuda sudah menunggu di luar tembok.'"
Alena membelalak lebar, kedua tangannya memegang tepi meja kayu begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku mengira... aku selalu mengira pria bertopeng itu adalah utusan Rowan yang ditugaskan untuk memastikan kita benar-benar pergi!" seru Mira dengan nada menyesal yang amat sangat. "Aku tidak pernah mempertanyakannya lagi karena dalam kepanikan malam itu, aku hanya berpikir tentang bagaimana cara menyelamatkanmu dan bayimu!"
"Tuhan..." gumam Alena, dadanya naik turun seiring napasnya yang memburu liar.
Pikiran Alena berputar hebat. Teka-teki kelam dari masa lalunya mendadak makin rumit dan mengerikan.
Tujuh tahun lalu, Rowan mengancamnya secara terang-terangan di Menara Selatan, memaksanya menulis surat kejam untuk Adrian. Namun, bukannya Rowan yang menyediakan fasilitas pelarian... melainkan sosok misterius bertopeng yang mencegat Mira di lorong belakang dan memberikan koin serta dokumen izin melintas.
Pria bertopeng itu bukan orang Rowan. Pria itu adalah perpanjangan tangan dari dalang utama—sosok yang sama yang mencegat surat jujurnya kepada Adrian, sosok yang memastikan Alena melarikan diri dalam keadaan hamil, dan sosok yang mengawasi kehidupannya di Bellmare selama bertahun-tahun.
"Siapa orang itu, Alena...?" bisik Mira, air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mengapa orang itu membantu kita melarikan diri... tapi tidak pernah muncul lagi selama tujuh tahun?"
Alena berdiri perlahan dari kursinya. Rasa dingin di dadanya kian menyengat.
"Karena orang itu tidak sedang membantu kita, Mira," jawab Alena, suaranya kini terdengar begitu dingin dan pahit. "Orang itu sedang mengasingkanku. Dia ingin memisahkan Adrian dariku dan memastikan darah Valerian di dalam tubuh Elian tersimpan rapi sebagai senjata yang bisa dia gunakan sewaktu-waktu."
Alena melangkah menuju jendela dapur yang sedikit terbuka, menatap ke arah bangunan menara utama istana yang menjulang megah di balik kabut pagi.
Setiap orang di istana ini kini tampak bagai musuh yang tersembunyi. Apakah itu sang Raja yang dingin, sang Ratu yang anggun namun manipulatif, para dewan yang haus kekuasaan, atau bahkan orang-orang yang pura-pura bersikap manis di dekatnya.
"Jangan percaya siapa pun, Mira," bisik Alena tanpa membalikkan badan, suaranya berikrar dalam kegelapan yang kian pekat. "Bahkan jika seseorang datang membawa bantuan atau janji manis keselamatan... jangan pernah percayai siapa pun di tempat ini."
Di balik dinding-dinding batu Istana Valerian yang megah, bayangan perang dingin yang sesungguhnya baru saja dimulai. Alena tahu, ia tidak lagi sekadar bertahan hidup dari kemarahan Adrian atau kejaran keluarga Ardent; ia sedang berdiri di tengah sarang serigala yang siap menerkamnya dan putranya dari balik bayang-bayang kekuasaan.