Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
Ketegangan menjelang hari pelaksanaan Garuda Bangsa Art Festival 35 kian memuncak. Seluruh sudut sekolah disulap menjadi area pameran kreatif, tetapi area lorong panggung utama menjadi tempat yang paling sibuk sekaligus paling panas.
Pagi itu, masalah baru muncul di divisi dekorasi panggung luar. Pak Wahyu, guru pembina seni, berdiri di tengah lorong aula membawa papan daftar tugas bersama beberapa perwakilan siswa.
"Karena area gapura utama butuh pengerjaan cepat dan detail, Naya dan Reno Bapak tugaskan khusus memegang instalasi bambu dan kain spanduk di sana ya," instruksi Pak Wahyu mantap. "Kalian kan sudah makin kompak dari tugas kelompok kemarin."
"Siap, Pak! Beres itu mah!" jawab Reno penuh semangat, langsung melemparkan senyum ramah ke arah Naya.
Naya menyambutnya riang. "Oke, Pak! Tenang aja, kita jamin gapuranya bakal jadi tempat foto paling estetik!"
Namun, tak jauh dari sana, Arka yang sedang berdiri di dekat papan kontrol suara mendadak menghentikan ketukan pulpennya di papan jalan. Manik mata hitamnya berkilat tajam mendengar keputusan spontan tersebut.
Partner? Naya dan Reno lagi? batin Arka, menggeretukkan giginya tipis.
Sejak jam pelajaran pertama dimulai, Arka menunjukkan perilaku yang cukup tidak biasa. Sebagai Ketua OSIS, Arka terkenal amat efisien dan hanya memeriksa satu area pekerjaan maksimal dua kali sehari. Namun hari ini, dalam kurun waktu dua jam saja, Arka sudah lima kali lalu lalang di sekitar gapura utama.
"Tali pengikat bambu sebelah kiri kurang kencang lima milimeter. Nanti bis roboh kalau tertiup angin," ujar Arka datar saat kedatangannya yang ketiga, berdiri di belakang Naya dan Reno yang sedang memegang tali tambang.
"Perasaan ini udah kencang banget deh, Kak Arka," sahut Reno heran sambil menarik-narik tali tersebut.
"Saya bilang kurang kencang," tegas Arka tanpa kompromi, matanya menatap tajam ke arah tangan Reno yang tak sengaja bersentuhan dengan jari-jari Naya saat memegang tali yang sama. "Diulang dari simpul pertama."
Naya melotot kesal, menghentakkan kakinya di atas semen. "Arka Pradipta! Lo tuh dari tadi nyari-nyari kesalahan mulu deh! Ini udah kencang banget sampai tangan gue lecet!"
Arka sempat menegang melihat telapak tangan Naya yang memang agak memerah. Namun, sebelum raut cemasnya terlihat, Arka dengan cepat menguasai dirinya kembali. "Ini demi keselamatan pengunjung festival, Naya. Ikuti instruksi."
Di sudut lorong dekat stan minuman, Dito yang sedang bersandar di tiang menyunggingkan senyum jahil yang amat lebar. Ia memperhatikan gelagat sahabatnya sejak pagi dengan rasa geli yang tak tertahankan.
Begitu Arka berjalan menjauhi area gapura dengan raut muka ditekuk kaku, Dito melangkah mencegatnya di balik dinding perpustakaan.
"Cie... Pak Ketua sibuk banget ya hari ini," goda Dito berbisik, merangkul bahu Arka yang mendadak menegang. "Patroli gapura sampai lima kali. Padahal biasanya area situ kan udah diserahin penuh ke Pak Wahyu."
"Saya cuma memastikan standar keselamatan," tangkis Arka cepat tanpa menoleh, merapikan letak jas OSIS-nya.
"Alasan basi, Bro," kekeh Dito sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Lo cuma mau ngawasin Reno, kan? Muka lo tuh dari tadi kayak macan ketumpahan cuka tiap liat Reno ketawa-tawa bareng Naya."
Arka menghentikan langkahnya, menatap Dito dengan pandangan membunuh. "Dito. Jaga bisikanmu."
"Mengaku aja kenapa sih?" Dito menepuk-nepuk dada Arka santai. "Cemburu itu manusiawi, Arka Pradipta. Apalagi liat cewek yang—ehem—posisinya 'khusus' di hidup lo makin akrab sama cowok lain."
"Saya tidak cemburu," tegas Arka dingin, menekankan setiap kata. "Saya cuma menjalankan tugas."
"Oke, oke, terserah kata Ketua OSIS deh," sahut Dito tertawa geli seraya berjalan mundur. "Tapi jangan salahin gue ya kalau entar sore Naya pulang bareng Reno."
Kata-kata Dito terbukti bagaikan ramalan yang manjur.
Pukul lima sore, ketika pengerjaan gapura akhirnya rampung seratus persen, matahari sore memancarkan warna oranye yang teduh. Naya sedang membereskan sisa potongan kain di dekat tangga luar saat Reno menghampirinya sambil mengunci tas punggungnya.
"Nay, pengerjaan hari ini beres nih," ujar Reno ceria. "Gue bawa helm dua. Berhubung jalanan depan lagi macet parah, mau gue anter pulang sekalian nggak? Sekalian kita mampir beli es boba di depan kompres."
Naya menyapu keringat di dahinya, tersenyum lebar. "Wah, beneran nih, Ren? Boleh deh! Kaki gue emang udah gempor banget nih dari tadi naik turun—"
"Naya tidak bisa pulang sama kamu, Reno."
Suara bariton yang dingin, tegas, dan tak terbantahkan memotong kalimat Naya dengan tiba-tiba.
Arka berdiri di tangga atas, hanya berjarak tiga langkah dari mereka. Jas OSIS-nya sudah terlepas dan tersampir di tangan kirinya. Wajahnya begitu kaku, dan matanya memancarkan aura dominasi yang teramat kuat.
Reno tersentak kaget. "Lho? Kenapa, Kak Arka?"
Arka melangkah turun, berdiri tepat di antara Naya dan Reno. "Ada berkas laporan inventaris alat seni yang hilang, dan Naya sebagai penanggung jawab materi ruangan harus ikut saya ke sekretariat untuk rekap ulang."
Naya membelalakkan matanya, keningnya berkerut dalam. "Hah?! Berkas apaan yang hilang?! Perasaan tadi semua stempel udah lengkap di meja panitia!"
"Ada berkas tambahan dari Pak Danu yang belum kamu tanda tangani," dusta Arka tanpa mengedipkan mata sedikit pun. "Dan mobil saya sudah siap di luar. Saya yang akan mengantar Naya pulang setelah urusan selesai."
Reno menatap Arka dengan pandangan bingung, lalu melirik Naya yang wajahnya sudah merah padam menahan kesal pada sang Ketua OSIS.
"O—oh... gitu ya, Kak?" sahut Reno mengusap tengkuknya kaku. "Ya udah deh, Nay. Kalau gitu gue duluan ya. Jangan lupa istirahat!"
"I—iya, Ren... maaf ya," rintih Naya merasa tidak enak hati saat melihat Reno melambaikan tangan lalu berjalan menuju parkiran motor.
Begitu sosok Reno menghilang di belokan koridor, Naya memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menghadap Arka. Matanya berapi-api oleh luapan kekesalan.
"Arka Pradipta! Lo tuh maunya apa sih?!" sembur Naya dengan suara tertahan. "Seharian ini lo ngrecokin pengerjaan gue sama Reno! Sekarang pake bikin alasan bohong lagi soal berkas hilang! Maksud lo apa coba?!"
Arka tidak membalas bentakan Naya dengan omelan hukum seperti biasanya. Laki-laki itu justru diam, menatap Naya lurus-lurus dengan kedalaman manik mata hitam yang teramat pekat.
"Tidak ada berkas yang hilang," aku Arka pelan, nadanya jujur dan serak.
Naya melongo, menyilangkan tangan di dada. "Nah kan! Beneran bohong! Lo bikin Reno jalan duluan cuma buat bikin gue makin pusing kan?!"
"Saya melakukan itu supaya kamu tidak pulang sama dia," potong Arka cepat, melangkah satu jengkal lebih dekat.
Naya menahan napasnya. Senyum mengejek yang siap ia keluarkan mendadak luntur di udara. "M—maksud lo apa...?"
Arka menghembuskan napas panjang, tatapannya terkunci rapat pada mata bulat Naya yang menyiratkan kebingungan luar biasa.
"Saya sudah bilang kemarin, Naya," kata Arka dengan nada rendah yang bergetar tipis oleh gengsi dan emosi yang mulai sulit disembunyikan. "Saya tidak suka melihat kamu dibonceng laki-laki lain. Apalagi kalau kamu tersenyum gampang begitu ke dia."
Deg.
Jantung Naya melompat liar tak beraturan. Pengakuan jujur nan posesif yang meluncur dari bibir Arka membuat seluruh argumen marah yang sudah disusunnya runtuh seketika. Pipinya merona merah hangat dalam hitungan detik.
"A—Arka... lo... lo ngomong apa sih...?" bisik Naya gelagapan, matanya bergerak panik menghindari tatapan intens cowok itu.
Arka tidak memberikan kesempatan bagi Naya untuk mencerna lebih jauh. Ia meraih pergelangan tangan Naya dengan genggaman yang hangat dan kokoh.
"Ayo ke mobil," ujar Arka pendek, nadanya kembali datar meski rona merah tipis menempel di ujung telinganya. "Saya yang suami kamu. Jadi saya yang berhak mengantar kamu pulang."
Arka menarik lembut tangan Naya menuju pintu keluar sekolah, meninggalkan Naya yang berjalan mengekor di belakangnya dengan dada yang bergemuruh hebat—makin tidak mengerti dengan tingkah sang Ketua OSIS yang kian hari kian berbahaya bagi pertahanan hatinya.