Novel ke-enam
Kejadian satu malam dengan pria lain akhirnya merusak kepercayaan Louis terhadap Elena. Setelah bercerai dan terpaksa meninggalkan putranya yang masih berusia dua bulan, Elena memutuskan mendekati kembali putranya yang kini berusia delapan tahun.
Karena keadaan tersebut, Elena rela dipanggil bibi oleh putranya dan menjadi orang lain demi menghindari tatapan kebenciannya.
Dengan percaya diri ia membuat kesepakatan dengan mantan suami yang menyadari kehadirannya.
"Aku jal*ang yang mempesona, kan?" senyumnya tanpa beban. "Aku hanya minta waktu satu tahun dari seumur hidup yang kau punya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Asing yang Sama
Pagi harinya seperti perintah Louis sebelumnya, Elena datang lebih awal ke mansion utama daripada pekerja yang lainnya. Wanita itu sudah berdiri di depan kamar Noah sambil menguap beberapa kali. Ini masih terlalu pagi untuknya ditambah ia sulit tidur semalam akibat mimpi buruk yang biasa dialaminya.
Hari ini Noah akan memulai sekolah lagi setelah melewati akhir pekan yang artinya akan menjadi hari pertamanya membantu Noah bersiap. Elena menjadi sedikit tidak sabar. Sudah menjadi keinginannya sebagai seorang ibu untuk membantu anaknya pergi ke sekolah. Contohnya seperti membantu mandi, berpakaian atau menyuapinya makan. Elena jadi tersenyum membayangkan.
"Apa yang kau pikirkan?" Suara sinis itu membuyarkan khayalannya. "Aku tidak tahu ada hantu di mansion ini." Entah darimana kulkas berjalan ini datang.
"Pikirmu aku kerasukan?"
"Kau sendiri yang bilang," acuhnya melewati Elena menuju kamarnya di sebelah kamar Noah.
"Hari ini Noah ke sekolah. Biar aku yang mengantar dan menjemputnya juga," pinta Elena.
"Terserah kau saja."
"Kemarin masih akhir pekan. Seharusnya kau manfaatkan untuk beristirahat." Ternyata belum ada yang berubah dari Louis mengenai pekerjaan. Pria itu masih penggila kerja yang tidak tahu waktu.
Louis pasti begadang lagi semalaman dan baru selesai pagi ini tanpa tidur dan hanya berkutat pada tumpukan dokumen. Kebiasaan yang tidak berubah bahkan sejak masih menjadi suaminya.
Pria itu sempat menahan langkanya begitu Elena mengatakannya.
"Bukan urusanmu."
Melihat Louis sudah menghilang di balik pintu, Elena hanya menghela nafas pelan.
****
Ketukan pintu membuat Louis mengurungkan niatnya untuk tidur. Awalnya hanya di abaikan, tapi ketukan yang tidak berniat menyerah semakin mendesaknya bangun. Mau tidak mau Louis bangun dengan perasaan kesal.
"Apa?!"
Seharusnya sudah bisa ditebak siapa pelakunya. Hanya tiga orang yang berani melawannya disini yaitu ibu, Noah dan— Elena. Ibu dan Noah tidak mungkin mengganggunya sepagi ini. Sudah jelas siapa orangnya, kan?
"Ambil ini. Teh herbal, air putih dan roti panggang." Hanya ini yang bisa ia buat.
"Sedang apa kau?" datarnya. Wanita itu sedang sok perhatian, begitu?
"Aku tidak mencari perhatian. Setidaknya pikirkan kesehatanmu demi Noah juga. Kau harus sehat agar selalu bersama Noah."
Elene menerobos masuk begitu saja karena Louis tak kunjung meraih nampan di tangannya. Wanita itu berbalik menghadapnya lagi setelah meletakkannya di meja.
"Benci saja aku, tapi jangan benci makananku." Kemudian keluar meninggalkan Louis yang menatap ke arah nampan tanpa suara.
"Sial!" umpatnya. Ia benci perasaan asing ini lagi. Dirinya tidak boleh terpengaruh kali ini. Cukup satu kali saja ia terpedaya dengan tampang malaikat itu. Tidak ingin berlarut, Louis pun mengabaikan sarapan yang dibawa Elena.
Sedangkan Elena kini berdiri di depan kamar Noah sambil menghadap ke kamar Louis. Ia sendiri tidak percaya kenekatannya yang bergerak secara alami ini sehingga berani memasuki kamar itu lagi. Namun jujur saja ia jadi merindukan kamar yang pernah dipakainya sebagai istri Louis itu.
Lagi-lagi masih banyak yang tidak berubah, kecuali figura-figura kecil yang menghiasi meja dan dindingnya. Dulu hampir semua foto itu hanya dipenuhi wajah dirinya, juga Louis dan Noah. Sekarang hanya ada beberapa, itupun tanpa ada dirinya sama sekali.
Merasa sudah cukup lama berdiri disana, Elena akhirnya bergerak memasuki kamar Noah. Putra manisnya masih tertidur dengan lelap. Ia tak berniat membangunkannya sama sekali.
Ini kesempatannya. Duduk pelan di pinggir ranjang, kemudian merapikan rambut Noah yang menutupi keningnya dengan sangat hati-hati. Elena tersenyum lembut.
Satu-satunya alasan ia bertahan, Noah kesayangannya. Anak yang lahir dan tumbuh tanpa mengetahui ibu kandungnya. Terkadang ia merasa tidak adil dengan rencana Tuhan, namun ia tetap bersyukur karena masih bisa bersama putra kecilnya.
Ia akan mengikuti bagaimana waktu berjalan dan bagaimana alur terbentuk. Mungkin dengan sedikit campur tangan tidak masalah, bukan? Ya, dirinya tak keberatan melawan takdir sekalipun demi orang-orang yang dicintainya terutama untuk Noah.
Mommy disini, Noah. Andai kau tahu itu. Tapi jika kau tahu, kau tidak akan mau melihatku lagi. Jadi Mommy terpaksa berbuat curang begini. Aku mencintaimu, lebih banyak daripada kau membenciku.
Aku mencintai kalian berdua. Aku berharap kalian mengetahuinya suatu hari nanti bahwa perasaanku tidak pernah berubah, bahwa kepercayaanku selalu untuk kalian. Siapapun wanita selanjutnya nanti, aku akan berdoa agar dia dapat memberikan cinta yang tidak kalian dapat dariku.
-
-
-
"Biar aku memandikanmu."
"Tidak mau!"
"Aku saja yang pakaian seragamnya."
"Tidak perlu!"
"Kalau begitu apa yang ku lakukan?!" Elena frustasi.
Sejak Noah bangun tidur, tidak ada yang ia lakukan. Diluar bayangannya, putra tampannya ini ternyata sangat-sangatlah mandiri! Elena jadi kesal karena ekspektasinya pagi ini gagal total.
"Sudah kubilang, kan Bibi ... aku sudah besar dan bisa melakukannya sendiri. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"
"Kau memang masih kecil!"
"Usiaku sudah delapan tahun! Aku sudah besar!"
"Kalau begitu biarkan aku melakukannya. Hanya di depanku saja kau jadi anak kecil. Aku akan tutup mulut." Elena membuat gerakan mengunci mulut.
"Tidak!"
Elena jadi lesu.
"Jika begini Louis akan memecatku dan kita jadi sulit bertemu."
"Kenapa?" Bocah itu tertarik.
"Ayahmu tidak percaya padaku. Jadi aku menjadi pengasuhmu saja yang bekerja di rumahnya."
"Jadi begitu ..." Noah akhirnya mengerti. "Kenapa Bibi terlihat takut berpisah denganku?"
"Karena kau temanku. Aku akan kesepian lagi jika tidak ada Noah." Merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
"Cih! Bibi yang aneh. Bagaimana bisa kau berteman dengan anak-anak."
"Biarkan saja. Aku, kan, menyukai Noah," senyumnya.
Elena dapat menyadari bocah itu telah mengeluarkan semburat merah sejak tadi. Elena terlalu jujur jika berbicara sehingga Noah harus menyembunyikan wajah menggemaskannya setiap kali ia menggodanya.
"Sudah siap, Noah?" Rosemary muncul dari balik pintu.
"Grandma!"
Elena bangun di dari duduknya dan berdiri di belakang Noah yang di rapikan kembali pakaiannya oleh Rosemary.
"Pergilah sarapan dulu."
"Baik, Grandma. Ayo, Bibi." Noah berlari lebih dulu keluar kamar.
Elena tidak bergerak melihat Rosemary juga tetap di tempatnya.
"Anda ingin mengatakan sesuatu padaku, Mrs. Halbert? Aku akan mendengarkan." Ia sangat peka, tahu!
Sejak kemarin keduanya belum memiliki kesempatan untuk bicara. Tidak ada ekspresi lebih di wajah mereka kecuali keheningan sejenak.
"Kau yakin satu tahun cukup?"
"Ya?"
"Kalau aku jadi kau, meski lima puluh tahun lagi tetap tidak akan cukup," ucap Rosemary penuh arti.
Elena langsung tersenyum mendengarnya. "Jangankan lima puluh tahun, aku tidak yakin bisa mendapatkan satu tahun lagi."
Elena menundukkan kepalanya sebagai tanpa hormat, kemudian mulai melangkah keluar.
"Hanya sampai sini saja perjuanganmu?" Menghentikan langkah kaki Elena.
Sampai disini? Jika ada kesempatan, Rosemary mungkin akan menyesali perkataannya karena Elena bukan wanita yang mudah menyerah.
"Kalau begitu doakan saja aku bisa bertahan sampai setahun kedepan."
Rosemary menatap kepergian Elena dengan ekspresi tak terbaca. Elena si wanita angkuh. Begitukan sebutannya? Hal itu bukan sekedar rumor belaka karena Rosemary pun pernah menyaksikannya secara langsung bagaimana wanita itu membuat orang dibawahnya tak berkutik karena kekuasaan.
tapi jangan pernah menjadikan alesan untuk menyakiti orang lain apalagi terjadi yg namanya pembullyan
karena kita tidak tau seluka dan setrauma apa orang yg mengalami nya.
kau tau apa yg lebih kejam dr pembullyan itu sendiri
yaitu pengambian dan tidak melakukan apa apa .
korban satu akan membuat pelaku kejahatan yg lain.
nice ending
beautiful story
mulai saat ini pelajaran buat kita karena kesalahpahaman akan membuka kejahatan yg lain
lindungi dirimu sendiri dengan melindungi orang " sekitar mu
tapi yg utama.... lindungi dirimu sendiri
bullying bukan hanya sekedar kenakalan remaja saja
apalagi terlihat teman temannya tidak ada rasa menyesal.
karena perbuatannya memberikan trauma mendalam.
jangan menormalisasikan kenakalan remaja ini
ini adalah sebuah. kriminalitas.
karena kita ga akan pernah tau,sedalam apa efek nya pada tiap korban
dan ketika membalas apa yg dia rasakan ketika dulu,dia di cap sebagai penjahat.
double standar bukan?
segala sesuatu itu tergantung sudut pandang orang 🥹🥹
ga ada dan ga akan pernah ada yg bisa membandingkan seciah cinta seorang ibu buat anaknya.
apalagi melukiskan seberapa megah dan besarnya rasa cinta ibu.
akhhh
sakitnya Ampe kedalem Thor, karena aku juga seorang ibu 🥹