NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Suasana di dalam ruang kerja Direktur Utama yang semula tenang mendadak beruba total. Keheningan yang membeku menggantung di udara, diiringi hawa dingin dari AC yang seolah makin menusuk hingga ke tulang.

​Pak Kusuma perlahan menarik amplop cokelat di atas meja. Jemari tangannya yang kokoh dan terlatih membuka pita perekatnya tanpa tergesa-gesa. Tidak ada raut kemarahan yang meledak-ledak di wajah pimpinan senior itu; yang ada hanyalah ketenangan mematikan dari seorang penguasa yang siap menjatuhkan hukuman setimpal.

​Bagas yang duduk di hadapan meja kerja menyunggingkan senyuman tipis, egonya masih membubung tinggi. Ia masih membayangkan amplop itu berisi surat promosi jabatan sebagai Manajer Senior Pemasaran. Di sudut sofa, Bu Maya pun menyandarkan punggungnya dengan senyum manis yang tertuju pada Bagas

​Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai.

​Pak Kusuma merogoh isi amplop tersebut, lalu meletakkan sebuah perekam suara digital kecil tepat di tengah meja. Bersamaan dengan itu, ia menyodorkan sebendel berkas tebal bersampul merah darah ke hadapan Bagas dan Rendy.

​"Nyalakan, Rendy," perintah Pak Kusuma dingin.

​Rendy membelalakkan matanya, kaget karena namanya dipanggil dengan nada suara yang sangat berbeda. Sebelum Rendy sempat bergerak, Pak Kusuma sendiri yang menekan tombol play di atas alat perekam tersebut.

​Seketika, suara rekaman audio yang sangat jernih dan tanpa celah memantul keras di dinding ruang kerja bernuansa kayu mahoni itu.

​"...Gua tantang lu. Kalau lu bener-bener jago, dan pesona lu sebagai duda sukses itu bukan cuma omong kosong... bisa ndak lu taklukin Bu Maya? Bikin dia kepikat sama lu secara pribadi! Kalau lu bisa... mobil sedan sport Eropa gua kasih ke lu gratis!"

"Jangan pernah remehkan gua, Ren. Mobil lu itu... anggap aja sudah jadi milik gua dalam tiga bulan ke depan. Deal!"

​Seketika, senyum di wajah Bagas membeku total! Seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir. Keringat dingin membasahi dahi dan tengkuknya dalam hitungan detik.

​Belum sempat Bagas menguasai rasa syoknya, suara rekaman audio itu berlanjut memutarkan percakapan intim di dalam mobil sedan milik Bagas saat ia mengantarkan Bu Maya pulang tadi malam.

"...Seorang wanita seanggun dan sebaik Bu Maya tentu berhak mendapatkan perhatian serta kehangatan yang cukup... Kalau saya berada di posisi yang memiliki pendamping seistimewa Bu Maya, saya tidak akan membiarkan Ibu merasa sepi sedetik pun..."

​Klik.

​Pak Kusuma mematikan alat perekam tersebut. Suasana ruangan seketika menjadi seperti kuburan.

​Bu Maya yang tadinya tersenyum manis kini membelalakkan matanya dengan wajah pucat pasi. Bibirnya gemetar hebat, menyadari bahwa seluruh basa-basi manis Bagas tadi malam hanyalah bagian dari permainan taruhan gila bernilai sebuah mobil! Rasa malu dan murka membakar dadanya seketika.

​"Pak... Pak Kusuma! Ini... ini ada salah paham, Pak!" seru Bagas gagap, suaranya melengking panik. "Saya... saya cuma bercanda sama Rendy! Rendy yang memprovokasi saya duluan, Pak!"

​"Bercanda?" sahut Pak Kusuma dengan suara yang begitu tenang, namun sindiran pedasnya meluncur seperti sembilu yang menyayat dada.

​Pak Kusuma menatap Bagas dari atas ke bawah dengan pandangan jijik yang amat sangat.

​"Luar biasa sekali mentalitasmu, Bagas," sindir Pak Kusuma dengan nada sarkasme yang begitu tajam. "Kamu merasa dirimu pria paling sukses, paling tampan, dan paling hebat di kantor ini hanya karena baru saja memegang sedikit uang bonus? Kamu pikir pakaian bermerek dan jam tangan berkilau yang kamu pakai itu bisa menutupi jiwa picik dan murahannya caramu berpikir?"

​Pak Kusuma terkekeh sinis, menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu ini hanyalah pria berotak kerdil yang kebetulan beruntung dapat proyek bagus. Kamu menelanjangi harga dirimu sendiri demi sebuah taruhan mobil bekas! Kamu mengira istri saya adalah piala yang bisa kamu permainkan untuk memuaskan egomu yang kebelet ingin diakui?"

​Bagas menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar hebat. Seluruh keangkuhan dan rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping di depan kata-kata pedas sang pimpinan.

​Pak Kusuma kemudian memalingkan pandangannya yang setajam silet ke arah Rendy yang duduk membisu di samping Bagas.

​"Dan kamu, Rendy..." potong Pak Kusuma dengan nada yang tak kalah dingin. "Kamu pikir saya tidak tahu permainan ganda yang kamu mainkan di belakang saya? Kamu memanfaatkan posisi dan rahasia perusahaan untuk memanasi Bagas, membuat taruhan haram di lingkungan kantor dan berniat memeras keuntungan dari situasi ini?"

​Rendy yang tadinya merasa aman seketika terkulai lemas di kursinya. Wajahnya sama pucatnya dengan Bagas. "Pak Kusuma... tolong ampuni saya, Pak. Saya tidak ada maksud..."

​"Cukup!" bentak Pak Kusuma, memotong ucapan Rendy dengan ketukan meja yang keras hingga membuat semua orang di ruangan itu tersentak.

​Pak Kusuma mengetuk-ngetuk berkas bersampul merah di atas meja.

​"Dengar baik-baik, kalian berdua," tegas Pak Kusuma dengan keputusan tanpa ampun. "Mulai detik ini, Bagas dan Rendy, kalian berdua DIPECAT SECARA TIDAK HORMAT dari perusahaan ini!"

​Bagas menengadah dengan mata memerah, memohon kasihan. "Pak Kusuma, tolong... kasih saya kesempatan kedua! Saya punya cicilan, Pak! Saya baru dapat bonus mobil baru juga karena loyalitas saya!"

​"Mobil baru?" Pak Kusuma tersenyum miring penuh kemenangan yang dingin. "Justru itu poin berikutnya."

​Pak Kusuma memberi isyarat tangan. Pintu ruang kerja bergeser, dan dua orang tim hukum perusahaan beserta empat orang petugas keamanan (satpam) masuk ke dalam ruangan.

​"Seluruh bonus proyek kalian berdua dibekukan total dan disita oleh perusahaan untuk mengganti kerugian atas pelanggaran etika dan pencemaran nama baik pimpinan," lanjut Pak Kusuma tanpa ragu. "Selain itu, mobil sedan baru milik Bagas yang dibeli dengan fasilitas uang muka perusahaan, beserta mobil milik Rendy yang terparkir di bawah, HARI INI JUGA DISITA DAN DITARIK KEMBALI OLEH ASET PERUSAHAAN!"

​"Pak Kusuma! Jangan ditarik mobil saya, Pak! Saya pulang naik apa?!" jerit Bagas panik setengah mati. Mobil sedan barunya adalah simbol kebanggaannya yang paling tinggi. Jika mobil itu disita, ia benar-benar tidak punya apa-apa lagi!

​"Kamu bisa berjalan kaki keluar dari gedung ini, Bagas!" tembak Pak Kusuma menohok tajam. "Atau kamu bisa naik angkutan umum seperti masyarakat biasa. Jangan pernah berakting seolah-olah kamu raja di sini!"

​Pak Kusuma tidak berhenti di situ. Pria paruh baya itu menarik selembar dokumen resmi yang sudah ditandatanganinya bersama tim hukum.

​"Dan untuk memastikan kalian berdua tidak akan pernah bisa memamerkan kesombongan kalian lagi di dunia profesional..." Pak Kusuma menatap Bagas dan Rendy bergantian. "Nama BAGAS dan RENDY resmi saya masukkan ke dalam BLACKLIST NASIONAL di seluruh asosiasi korporasi dan jaringan bisnis di Indonesia! Saya pastikan, tidak akan ada satu pun perusahaan berkelas di negeri ini yang mau menerima atau mempekerjakan pria beretika sampah seperti kalian berdua!"

​Deg!

​Pernyataan itu seperti petir di siang bolong yang menghancurkan seluruh masa depan Bagas dan Rendy! Di-blacklist di seluruh perusahaan di Indonesia berarti karir mereka telah mati total. Mereka tidak akan pernah bisa mendapat pekerjaan yang layak lagi di mana pun!

​"Pak Kusuma... mohon jangan blacklist kami, Pak! Ampuni kami!" ratap Rendy dan Bagas bersahut-sahutan, bahkan Bagas sampai hendak berlutut memegang kaki Pak Kusuma.

​"Seret mereka berdua keluar!" perintah Pak Kusuma tegas kepada petugas keamanan.

​Dua satpam bertubuh tegap langsung mencengkeram kedua lengan Bagas, sementara dua lainnya memegangi Rendy. Kunci mobil Bagas dan Rendy ditarik paksa dari saku jas mereka oleh tim hukum.

​Bagas dan Rendy diseret keluar dari ruang kerja direksi bagaikan sampah yang tak berguna. Di sepanjang koridor dan area open space lantai bawah, seluruh rekan kerja dan staf menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana bintang utama divisi pemasaran itu diseret dalam keadaan pucat, menangis ratapan, dan kehilangan seluruh harta serta jabatan menterengnya.

​Di dalam ruang kerja yang kini menyisakan keheningan mencekam, Bu Maya masih terduduk di sofa dengan tubuh gemetar. Rasa malu, bersalah, dan takut bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa tindakannya yang sedikit terbuai oleh godaan Bagas tadi malam akan berbuntut kehancuran sebesar ini.

​Bu Maya mencoba merangkak mendekati meja kerja suaminya, berusaha menyentuh tangan Pak Kusuma dengan raut wajah memelas.

​"Papi... maafkan Mami," bisik Bu Maya dengan air mata yang mulai menetes. "Mami sungguh tidak tahu kalau Bagas itu berniat jahat... Mami cuma terbuai sedikit, Papi. Mami mohon maafkan Mami..."

​Pak Kusuma berdiri dari kursi kerjanya. Pria itu menatap wanita yang telah mendampinginya bertahun-tahun tersebut. Tidak ada amarah meledak-ledak di matanya, hanya ada rasa kecewa yang luar biasa dalam dan kekecewaan yang sudah bulat.

​Pak Kusuma merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan selembar kertas putih berstempel hukum yang sudah ia siapkan sejak pagi hari. Pria itu meletakkannya dengan pelan di atas meja, tepat di hadapan Bu Maya.

​Mata Bu Maya membelalak membaca judul di bagian atas kertas tersebut: SURAT PERNYATAAN TALAK PERNIKAHAN.

​"Papi...?! Apa maksudnya ini, Papi?!" jerit Bu Maya histeris, air matanya pecah seketika. "Papi mau menceraikan Mami?!"

​Pak Kusuma menatap Bu Maya dengan mata yang dingin dan tajam, tanpa ada sisa keraguan sedikit pun.

​"Seorang wanita yang dengan mudahnya memberikan hatinya, senyumannya, dan harga dirinya kepada pria murahan hanya karena disanjung sedikit... tidak layak lagi menjadi pendamping hidup seorang Kusuma," tutur Pak Kusuma dengan suara yang sangat berat dan penuh martabat.

​Pak Kusuma membusungkan dadanya, menatap lurus ke arah Bu Maya yang menangis sesenggukan di bawah.

​"Hari ini, di hadapan saksi dan Allah Swt, saya menjatuhkan TALAK TIGA sekaligus kepadamu, Maya!" tegas Pak Kusuma tanpa ampun. "Hubungan pernikahan kita resmi berakhir detik ini juga. Seluruh fasilitas rumah, mobil, dan kartu kredit atas nama perusahaan akan ditarik hari ini. Kemasi barang-barang pribadimu dan tinggalkan rumah saya sebelum matahari terbenam."

​"Papi! Jangan Papi! Mami mohon! Mami tidak punya siapa-siapa lagi!" jerit Bu Maya histeris, menangis memohon di lantai ruangan.

​Namun Pak Kusuma tidak berpaling sedikit pun. Pria itu berbalik membelakangi Bu Maya, menatap ke luar jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota.

​Hukuman telah jatuh. Kesombongan Bagas, kecurangan Rendy, dan pengkhianatan Bu Maya terbayar tuntas dalam satu hari yang sama. Kehancuran total telah melalap mereka tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.

1
ros
sukses konon,rumah pun x ada
Rina Arie
good
JasmineA
dimas anak kecil?bukan nya udah smp ya?umurnya di awal 14 tahun....masa 14 tahun masih anak kecil sih
blcak areng: bab berapa kak🙏
total 1 replies
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
falea sezi
kok tamat pdhl nunggu keajaiban siapa tau dinda bisa hamil. lagi
blcak areng: maaf ya kak Karna memang harus tamat
total 1 replies
Elina thea
tamat~~~padahal masih seru~~~
blcak areng: maaf ya Kak karena memang harus tamat
total 1 replies
Elina thea
loh...bukannya adinda masih punya kakak yg bernama Danu yah...harusnya izin dulu kali sebelum menentukan tempat dan tanggal jadinya...
stela aza
duda punya masalalu cerai hidup ,,, Nnti giliran udh nikah sama adinda si mantan pada datang ganggu hubungan mereka 🤭
Elina thea
terima aja herdi adinda... perceraian yg terjadi dgn ayahnya Dimas itu kan masalalu...begitu juga dgn herdi yg memiliki masalalu,jadikan masalalumu sebagai pelajaran hidup...dan jadikan herdi sebagai masa depanmu juga Dimas.
Heni Setiyaningsih
semoga Herdi jodoh terbaik untuk Adinda 😍
Elina thea
kayaknya mau ada yang di lamar nich...🤭
Elina thea
gak masuk di akal dech...aku ngerti kalo karyawan bermasalah di blacklist dari sesama perusahaan karna ada istilah partner kerja,teman atau karna berkuasa soal jabatan dan juga uang,tapi masa sampe toko kecil,toko bangunan,di pasar aja sampe di larang/blacklist...apa hubungannya coba,kan yg suruh blacklist itu pengusaha bukan presiden... presiden aja gak segitunya juga kali,dia bekerja juga harus hati-hati...tapi ini pengusaha serasa pemilik dunia,gak masuk di akal....
Heni Setiyaningsih
mungkin kamu akan dilamar mas Herdi🤭🤭
Agunk Setyawan
kualat Sama mantan mantunya
falea sezi
😒 mampus lu
falea sezi
🤣🤣sudah kere
Zhafran Althaf
menyala saldonya Dinda setelah ketuk palu
apakabar bagassss enak kedinginan diluar sanaaa🤣🤣🤣
Zhafran Althaf
pakek tanya salah saya apa nohhhh tanya sama author 😄😄😄
Zhafran Althaf: aku pas ngetik aja ngakak kak apa lagi kakak waktu ngetik narasi ceritanya otomatis lebih ngakak lagi😄😄😄
total 2 replies
Anonim
GAK USAH BAWA BAWA NAMA TUHAN LO
Arieee
mantapppppp👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!