Danisha putri, gadis berusia 25 tahun yang harus bekerja seumur hidupnya untuk membayar hutang pada Boss nya atas apa yang dia lakukan, belum lagi dia adalah seorang single parent untuk seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang dulu tiba-tiba dia temukan didepan kost nya waktu anak itu masih bayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Author POV
Pagi harinya
Dika bangun dengan mata panda, semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan Danish dan anak itu.
'sialan, gara-gara cewek aneh itu gue jadi enggak bisa tidur' umpat nya.
"Pagi mommy"
"Pagi sayang, kok kamu kayak kurang sehat gitu nak?"
"Enggak apa-apa mommy, aku cuman kurang tidur aja, banyak banget yang dipikirin" jawab Dika berbohong.
"Daddy mana mom?" Tanya Dika lagi.
"Daddy berangkat pagi-pagi sekali sayang, soalnya tadi ada sedikit masalah di perusahaan kakak sulung mu, jadi dia membantu kesana" jelas Ratna pada putranya.
"Oh gitu, kenapa perusahaan kak Danu mom?" Tanya ku penasaran, soalnya ini kali pertama perusahaan kakak tertua ku mengalami masalah.
"Enggak ada yang serius, hanya ada seorang yang korupsi dan orang itu adalah sahabat Daddy dulu"
"Ck... Masih ada aja orang kaya gitu di jaman gini"
"Kamu ini, entah jaman apapun orang jahat tetap akan ada sayang" Jawab Ratna sembari menepuk pundak anaknya.
"Oma...."
Suara seseorang membuat keduanya menoleh kearah sumber suara.
"Ray, sini sayang" pinta Ratna pada cucu dari putra sulungnya.
"Iya Oma"
Ray berjalan mendekati Oma nya dan Dika yang sedang berada di ruang makan dan menyalami mereka bergantian
"Oma, ini Ray nganterin obat dari mommy buat Opa, emang Opa sakit apa Oma?" Tanya Ray saat sudah duduk di sebelah Omanya.
"Biasa sayang, sakitnya orang tua, opa kamu kan sering kambuh asam urat nya"
"Oh gitu" jawab Ray dibarengi anggukan kepalanya.
"Om Dika, Ray nebeng ya, tadi Ray naik ojek kesini, motor Ray tiba-tiba mogok tadi, jadi Ray tinggal di bengkel"
"Oke, ya udah Ray sarapan dulu" jawab Dika.
"Ray, udah sarapan om, ya udah Ray tunggu di depan ya om"
Ray beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu.
-----
Sebuah mobil Lamborghini Veneno berhenti di depan SMA BHINA DARMA, Semua mata menatapnya tanpa berkedip.
Ray keluar dari mobil tersebut, semua murid wanita terdengar histeris, Bagaimana tidak, wajah Ray yang begitu tampan dan juga anak dari seorang pengusaha dan juga memiliki ibu seorang dokter, siapa yang tidak akan mengejarnya, belum lagi dia turun dari mobil semewah dan semahal itu, siapa yang tidak akan histeris, namun Ray tak menanggapinya, Ray menundukkan kepalanya di depan pintu mobil Dika.
"Makasih ya om"
"Sama-sama Ray, itu fans kamu banyak banget" goda Dika pada keponakannya
"Apaan sih om, mereka itu berisik dan mengganggu"
"Hahah... Bisa aja Ray"
"Ya udah Ray masuk sekolah dulu ya, om Dika hati-hati ya"
"Iya Ray sama-sama"
Ray menutup pintu mobil dan Dika pun segera melajukan mobilnya ke kantornya.
Dika hari ini harus menjadi direktur baru di kantor cabang perusahaan milik keluarganya, awalnya Dika tidak mau, dia lebih suka bekerja di perusahaan kakak ke duanya di 'DW tech corporation' , namu mengingat Daddy nya yang sudah tidak muda lagi, dan sering kambuh penyakit asam uratnya, jadi Dika harus yang mengambil alih semuanya.
Mobil Dika berhenti di depan gedung kantor nya kemudian keluar dari mobilnya, memberikan kunci mobilnya pada security yang bertugas, dia segera melenggang masuk penuh kharisma, wajahnya yang putih dan tampan menambah nilai plus untuknya.
Semua staf dan karyawan membungkuk memberi nya salam.
Dika terus melaju dengan wajah dingin dan datarnya segera menuju ke ruangan nya.
Saat itu juga Danish baru saja sampai dan akan segera masuk ke dalam lift karyawan, namun lengannya di tahan oleh seseorang.
"Ikut saya" perintahnya, siapa lagi kalau bukan Dika, Danish hanya bisa pasrah mengikutinya.
"Mulai sekarang pakai lift khusus ini, tidak perlu antri di lift karyawan lagi" jelasnya.
"Baik" jawab Danish singkat
"Kamu masih marah dengan kontrak kerja kita?" Tanyanya lagi.
"Tidak" Jawab Danish singkat, masih sama seperti tadi.
Mendengar jawaban Danish yang terlalu singkat, Dika merasa diabaikan.
"Kamu mengacuhkan saya?" Tanya Dika mulai geram.
"Enggak"
Dika benar-benar marah dengan sikap Danish yang seperti itu.
"Sepertinya mulutmu bermasalah, kamu harus segera memeriksakannya" ucap Dika.
"Hah?!"
Dika mendekatkan wajahnya pada wajah Danish dan mengecup bibir Danish dengan lembut, Danish terkejut dengan apa yang Dika lakukan.
'apa yang dia lakukan' batin Danish.
Danish berusaha mendorong tubuh Dika namun, Dika telah mengunci pergerakan tubuhnya, Dika terus melumat bibir Danish dengan lembut dan lama kelamaan menjadi kasar, Danish meronta dari dekapan Dika, hingga Dika melepaskan ciumannya, nafas mereka terengah-engah, wajah nya merah padam.
"Jangan berani mengacuhkan ku lagi, atau aku akan menghukum mu lagi, mengerti?" Ucap Dika di depan wajah Danish yang masih merona, Danish hanya mengangguk tanpa berkata apapun, bibirnya sedikit bengkak, lipstik nya berantakan bahkan menempel juga dibibir Dika.
"Lipstik" ucap Danish pada Dika, tangannya mulai membersihkan lipstik yang berantakan di sekitar bibir Dika, Dika menggenggam tangan Danish saat tangan danish menyentuh bibirnya.
"Jangan pakai tangan mu" ucapnya.
"Hah?" Danish tak mengerti apa yang Dika maksudkan.
"Biar ku beri tahu"
Dika lagi-lagi mencium bibir Danish, melumatnya dengan lembut.
'rasanya manis, aku merasa tidak ingin menghentikan nya' batin Dika.
Kali ini Danish hanya bisa pasrah dan membiarkan Dika menciumnya.
'ting'
Pintu lift terbuka, Danish segera mendorong tubuh Dika dan berlari menuju ke ruangannya, dia tidak berani menatap siapapun, dia sangat malu, walaupun tidak ada yang melihatnya
Dika tersenyum puas pada Danish, rasanya hari ini ada suntikan semangat yang tiba-tiba masuk ke dalam dirinya.