NovelToon NovelToon
Menjadi Penguasa Dengan Sistem Misterius

Menjadi Penguasa Dengan Sistem Misterius

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Tamat
Popularitas:575.7k
Nilai: 4.4
Nama Author: Ikki Kurunia

[Jangan dibaca, novel berisi adegan++. Harap bijak dalam membaca. MC bisa bikin darah tinggi!]

[3-25 : Plot MC hidup sendiri bersama sistem, mungkin agak membosankan dan bertele-tele]

[26 keatas: Plot berubah. MC menjadi konglomerat, banyak pelayan, pengawal setia, banyak musuh, pengkhianatan, penyesalan. serta kemunculan tokoh-tokoh lainnya]

Pemuda yang baik hati, tiba-tiba dituduh lalu di usir dari rumah keluarga angkatnya, sampai berniat bunuh diri.

Ia akhirnya mendapatkan sebuah sistem, setelah menolong nenek-nenek misterius, yang dimana sistem itu akan membantunya menjadi seorang penguasa tertinggi.

Kepribadiannya yang naif dan bertele-tele, perlahan berubah, menjadi kejam tanpa ampun dalam melenyapkan musuhnya. Simak terus kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikki Kurunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Sistem Tak Pernah Berdusta!

Zevan berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya, demi menghindari perhatian dari Joshua, yang juga satu sekolah dengannya. Meski begitu, ia tetap pasang badan dan bersiap menghadapi segala konflik, yang akan ditimbulkan oleh saudara angkatnya tersebut.

Setelah terduduk diatas kursinya, Zevan mendapati seorang siswi memasuki kelas, dan berjalan menghampirinya dengan terburu-buru.

"Zevan!" himbau siswi tersebut, saat menghentikan langkahnya tepat didepan meja Zevan. "Apa kau tak punya malu?! Setelah mencuri cek berharga milik ayah Joshua, kau masih berani datang ke sekolah ini?!" tukasnya sambil menunjuk kearah Zevan.

Kehebohan gadis itu, mampu merebut perhatian seluruh murid, yang membuat pandangan mereka seketika tertuju pada Zevan.

"Ha? Mencuri? Apa Clarissa baru saja bilang kalau Zevan telah mencuri?" ucap salah seorang siswi, dengan penuh rasa ketidakpercayaannya terhadap Zevan.

"Ya! Seluruh grup kelas dua di sosmed menjadi heboh, karena kelakuan anak itu!" sambung salah seorang siswi lainnya, yang menatap penuh sinis ke arah Zevan.

[Tuan, siapa gadis ini?]

Zevan tetap bergeming, dan berusaha untuk tetap tenang. Ia telah menduga bila gadis berambut panjang serta berwarna pirang itu, akan segera menemuinya dan membuat keributan di dalam kelas.

"Clarissa Ayudia, Ketua OSIS yang juga merupakan teman sekelas Joshua. Gadis ini selalu menganggap rendah diriku, karena telah termakan hasutan Joshua," ujar Zevan dalam hatinya, tanpa sedikitpun menoleh kearah wajah Clarissa.

Kedekatan Clarissa dengan Joshua, menjadi alasan dirinya melabrak Zevan, hingga membuat malu anak tersebut, didepan seluruh teman sekelasnya. "Semuanya! Berhati-hatilah dengan orang ini! Dia sebenarnya adalah pencuri!" hina Clarissa, yang semakin membuat seluruh murid dalam kelas itu, berasumsi buruk tentang Zevan.

[Tuan, dia sudah melewati batas. Apa perlu diberi pelajaran?]

Zevan berusaha menahan batas kesabarannya, dan mulai menatap tajam ke arah wajah ketua OSIS tersebut. "Jangan! Biarkan dia menggonggong sepuasnya! Hal itu merupakan suatu kewajaran baginya, yang mudah terhasut omongan seseorang," ucap Zevan dalam hatinya.

Clarissa semakin menampakkan wajah sinisnya dihadapan Zevan. Ia lalu berbalik dan berjalan menuju pintu kelas, dengan penuh keangkuhan.

[Tuan, apa kau yakin membiarkannya begitu saja? Aku bisa saja mencincang-cincang dagingnya, jika Tuan mau]

"Jangan! Lupakan soal gadis itu. Yang terpenting adalah bagaimana cara membuat seluruh orang, melupakan apa yang telah dituduhkannya padaku!" pikir Zevan dalam hatinya, seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

[Baiklah Tuan. Itu hal yang sangat mudah]

[Sistem! Pemurnian ingatan: diaktifkan!]

Keheningan pun terjadi. Seluruh murid yang sedari tadi membicarakan hal buruk tentang Zevan pun sontak terdiam, seiring dengan menghilangnya opini buruk tentang anak itu.

Zevan menghela nafasnya secara perlahan, dan merasa lega karena sistemnya telah melakukan sesuatu, yang dapat membuatnya terbebas dari pusat perhatian di kelas. "Sistem, apa kau juga telah menghilangkan ingatan gadis tadi?" tanya Zevan dalam hatinya.

[Tidak Tuan! Sesuai keinginan anda, aku akan terus membiarkannya terlihat seperti anjing yang sedang menggonggong. Dan, bila tiba saatnya bagi Tuan untuk menghukumnya, maka kematian adalah hal yang pantas untuk gadis itu!]

"Bagus sistem! Jangan terlalu sering bertindak gegabah! Aku akan semakin bangga padamu, jika kau menuruti segala perkataanku," pikir Zevan, yang semakin mengencangkan kepalan tangannya dengan erat.

[Terima kasih atas pujianmu Tuan]

"Tapi ingat! Jangan sampai membunuhnya! Aku sangat melarang hal itu!" batin Zevan dengan menunduk, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mencoba untuk tetap tenang, dan kembali pasang badan, seolah-olah memperkokoh mentalnya, dalam menghadapi konflik yang akan datang selanjutnya.

[Baik Tuan, dimengerti]

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bel istirahat sontak berbunyi, yang membuat seluruh murid mulai berbondong-bondong keluar menuju kelas.

Zevan yang masih belum beranjak dari kursi, seketika memusatkan perhatiannya pada seorang siswi teman sekelasnya. Ia lalu mendapati siswi tersebut berdiri dari kursi, dan berjalan menghampirinya.

"Zevan, apa kau bisa membantuku?" tanya sang gadis sambil memutar arah kursi, agar bisa terduduk dan menghadap ke arah Zevan. "Akhir-akhir ini, aku kesulitan dalam belajar. Apa kau mau menuliskan ulang, seluruh materi yang tertinggal di bukuku?" pintanya seraya. menyodorkan buku tulis.

Reina Melati, merupakan siswi cantik berambut hitam panjang, yang menjuntai hingga punggungnya. Raut wajah cantiknya itulah yang telah merebut perhatian Zevan, hingga membuat Zevan jatuh cinta padanya.

Namun, Reina akhirnya menyerahkb menyadari perasaan Zevan, dan mulai mendekatkan dirinya dengan anak itu, agar bisa memanfaatkan kejeniusannya dalam belajar. Reina menyalahgunakan perasaan Zevan, dan selalu memperalat anak itu, persis seperti apa yang tengah dilakukannnya sekarang.

"Zevan? Apa ... kau keberatan?" tanya Reina, seraya menampakkan raut wajah murungnya.

Zevan akhirnya meraih buku itu. "T-t-tentu saja tidak! Kau jangan khawatir, serahkan semuanya padaku!" ucapnya dengan senyuman polos, dan penuh kepercayaan diri.

Reina pun turut tersenyum, setelah Zevan mau menuruti permintaannya. "Terimakasih Zevan." Ia sontak berdiri dari kursinya, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu kelas.

Namun, Zevan mencoba untuk menghalanginya. "Reina!" himbaunya dengan suara tinggi, yang membuat gadis itu seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah anak tersebut.

Zevan beranjak dari kursinya, dan berjalan menghampiri Reina, demi memastikan kelancaran hubungan mereka. "Ada yang ingin ku sampaikan padamu. Bisakah kau menemuiku, sepulang sekolah nanti?" pinta Zevan, yang sedikit beringsut maju mendekati Reina.

"Emm ... bisa saja," jawab Reina sambii memalingkan wajah. Hatinya menjadi risih, karena merasa terganggu dengan tindakan Zevan.

Reina sontak berbalik dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu kelas. "Aku izin keluar dulu yah, soalnya ada urusan yang mendesak dengan eskul-ku," ucapnya seraya melambaikan tangan dengan penuh senyuman, lalu pergi meninggalkan ruang kelas.

Zevan tak dapat menahan rasa senangnya, setelah mendengar jawaban Reina. Ia kemudian berjalan menuju kursinya, dan melanjutkan apa yang telah diminta oleh gadis itu.

Zevan dengan segera menduduki kursi seraya meraih pulpennya, lalu membuka buku tulis milik Reina, yang masih terlihat kosong dibagian tengah halaman bukunya.

[Tuan, aku mendeteksi kebohongan]

Belum sempat Zevan mendaratkan ujung pulpennya, ia harus dikejutkan dengan perkataan sistem, yang membuatnya menunda kegiatan menulisnya. "Apa maksud dari perkataanmu itu? Apa kau mengira Reina telah berbohong?" tanya Zevan dalam hatinya, seraya menatap pada halaman kosong dalam buku tersebut.

[Aku berkata sesuai fakta, Tuan!]

Zevan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak tidak tidak! Tidak mungkin Reina akan melakukan hal seperti itu padaku!" batin Zevan, yang mencoba untuk tidak percaya sepenuhnya dengan perkataan sistem. Ia lalu memfokuskan diri, dan mulai mendaratkan ujung pulpennya, pada kertas buku tulis Reina.

[Tuan, lihatlah]

Sistem memunculkan layar proyeksi tembus pandang, yang menampakkan Reina tengah berjalan menaiki anak tangga.

Zevana akhirnya menunda kegiatan menulisnya, dan mengalihkan pandangan ke arah layar proyeksi. "Reina? Mau kemana dia?" tanya Zevan dalam hatinya.

[Tuan, perhatikan terus! Anda akan mengetahui yang sebenarnya!]

Layar proyeksi tembus pandang itu, memperlihatkan Reina yang tengah membuka pintu akses menuju puncak gedung sekolah. Gadis itu kemudian berjalan menghampiri seseorang, yang membuat emosi Zevan seketika memuncak.

(Crtak!)

Zevan dengan sengaja mematahkan pulpen yang berada dalam genggamannya, karena tak menyangka dengan apa yang telah dilihatnya dari layar proyeksi. Matanya membelalak dengan lebar, saat mengetahui seseorang yang ditemui Reina, rupanya Joshua.

"Joshua? Untuk apa Reina menemuinya?!" pikir Zevan dengan raut wajah kesal, seraya menggigit kuat bibir bawahnya.

[Tuan, sebentar lagi anda akan menyaksikan, seperti apa sifat gadis itu sebenarnya]

Sesuai perkataan sistem, yang berpusat dipikirannya. Zevan menyaksikan Reina tiba-tiba memeluk Joshua dengan erat, yang membuat aliran darah dalam otaknya seketika mendidih.

Belum cukup sampai disitu. Joshua bahkan melepaskan pelukan Reina dan berniat untuk menciuminya. "Cukup sistem! Aku sudah muak dengan semua ini," batin Zevan seraya menutup kedua matanya, karena sudah tak tahan lagi dengan apa yang dilihatnya dari layar proyeksi.

[Baiklah Tuan!]

Sistem menghilangkan sorot layar proyeksinya, setelah mendapat perintah dari Zevan. Dengan menutup kedua mata, anak itu menghembuskan nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan.

"Sistem, apakah aku ini terlihat seperti badut? Dan apa yang sedang kulakukan ini?!" keluh Zevan dalam hatinya, seiring dengan kedua tangan yang bergetar-getar, karena imbas dari perasaan kecewanya terhadap gadis tersebut.

[*Tuan, anda tak perlu repot-repot mengerjakan tugas si gadis ja*ang itu*!]

[Sistem! Menulis ulang semua materi secara otomatis: diaktifkan!]

Halaman kosong dalam buku tulis Reina, seketika terisi dengan banyak macam tulisan materi pelajaran. Sistem berhasil membuat Zevan menyadari, bila dirinya telah dimanfaatkan oleh gadis itu.

Zevan sontak menutup buku Reina, dan berdiri dari kursinya. Ia lalu berjalan sambil menenteng buku tersebut, dan meletakkannya tepat diatas meja pemiliknya. "Sistem, tolong masukkan gadis itu, kedalam daftar hitamku," batin Zevan seraya berjalan menuju pintu kelas.

[Baik Tuan!]

[•••••Data Musuh•••••]

[Nama: Reina Melati]

[Umur: 16 Tahun]

[Pekerjaan: Pelajar]

[Kesehatan: 98%]

[Keuangan: Buruk]

[Kemampuan: menari, menyanyi, dan memasak ]

[Tingkat IQ: 80]

[Tingkat Sekolah: SMA]

[Nama Instansi Sekolah: SMA Harapan Kita]

[Kelas: 2C]

[Informasi: diketahui menjalin hubungan dengan seseorang]

[Sistem! Mengunci target, Reina Melati: diaktifkan!]

[Tuan, apa kau ingin memanipulasi datanya?]

Zevan mendengarkan secara seksama seluruh data, yang diucapkan oleh sistem dalam pusat pikirannya. "Belum. Tunggu sampai aku menyaksikannya, dengan mata kepalaku sendiri," jawab Zevan dalam hatinya, dan mulai berjalan menuju anak tangga, yang menghubungkan setiap lantai gedung sekolah.

Namun, setelah tiba di lantai lorong kelas tiga, dan berniat menapaki anak tangga menuju puncak gedung, seorang siswa menghimbaunya dari kejauhan. "Zevan!" Siswa tersebut lalu berlari menghampiri Zevan.

"Bang Kevin? Ada apa?" tanya Zevan, seraya berdiri tepat didepan anak tangga.

Kevin Setiawan, merupakan siswa kelas tiga yang menjadi teman akrab Zevan, didalam maupun luar sekolah. "Aku dengar, kau telah diusir dari rumahmu. Apa benar?" tanya Kevin, dengan sedikit nafas yang tersengal-sengal.

"Ya, betul," Jawab Zevan dengan singkat, seraya menutup kedua matanya.

Kevin seketika menggenggam erat kedua pundak Zevan. "Aku sungguh prihatin dengan hal itu. Apa kau sudah punya tempat tinggal? Kalau belum, kau boleh tinggal dirumahku," Kevin telah menganggap Zevan seperti adiknya sendiri.

Zevan sontak tersenyum, setelah mendengar tawaran yang sangat baik dari Kevin. "Terima kasih atas tawaranmu bang. Tapi aku sudah menemukan tempat tinggalku sendiri," tolak Zevan dengan penuh kerendahan hatinya.

Tanpa disadari Zevan, Kevin malah membawanya berjalan turun menuju lantai satu, seraya asik berbincang-bincang dengannya. "Ahh kau ini! Mana mungkin Italia kalah dari Prancis!" ucapnya, yang terus berjalan menuju kantin sekolah.

"Benar bang! Prancis itu memiliki pemain-pemain muda yang sangat berbakat!" ujar Zevan, seraya berjalan disamping Kevin.

Setelah tiba di depan pintu ruangan kantin, Zevan tak sengaja menatap ke arah Clarissa, yang tengah terduduk bersama teman-teman sekelasnya, sambil mengisi kekosongan perut mereka.

Zevan akhirnya memiliki sebuah ide, yang dapat memberikannya dua keuntungan. "Sistem, apa kau sudah mengerti dengan ide yang ada dalam pikiranku?" tanya Zevan dalam hatinya, seraya berdiri dari balik pintu ruangan kantin.

[Oh! Tentu saja Tuan!]

[Sistem! Mendoktrin pikiran target: Clarissa Ayudia, diaktifkan!]

[Sistem! Mengendalikan pikiran target: Clarissa Ayudia, diaktifkan!]

Clarissa yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya pun sempat terdiam, dan mulai bangkit dari kursinya. Ia seperti menyadari sesuatu, yang membuat tubuhnya bergerak dengan sendirinya.

"Clarissa, kamu mau kemana?" tanya salah seorang teman Clarissa, yang merasa heran saat mendapati gadis itu berjalan meninggalkan mereka.

Namun, Clarissa tetap membisu dan terus berjalan menuju pintu kantin. Dan, tanpa disadari olehnya, gadis itu berjalan melewati Zevan, yang tengah menunduk seraya menutup kedua matanya.

"Cara terbaik untuk melumpuhkan seekor macan betina, adalah dengan mempertemukannya dengan macan betina yang lain!" pikir Zevan sambil tersenyum, dan mulai berjalan menghampiri Kevin, yang telah menantinya dari depan meja etalase kantin.

...****TBC****...

1
oppoA18 Siapat
apa author mau buat adegan lucu?
tapi aku merasa koq nggak lucu sama sekali setiap MC bertengkar dg sistem nya sendiri?
oppoA18 Siapat
MC gegabah dan boros, sebaiknya buat amal saja menyumbang ke panti asuhan misalnya
Tahir Note
MC setan, sd punya sistem masih aja bego.
Tahir Note
host yg tolol bego..
Dewa Koplak
mc nya TOLOL
Xtramz
naif parahhh jinkkk
Xtramz
naif banget sattt
Ali
😄😄😄😄😄
Ali
broo bukan host nya yg diancuk tapi si othor yg bikin alur cerita ini yg gelo
Sang M
Tahi....... cerita sampah
Sang M
Gak suka Host ini. terlalu otak bocil gak dewasa sama sekali payah. fuckkk.
Sang M
Perbaiki karakter Host, Thor. .!!!!!!!!! system nya bagus tapi Host nya tahi sampah. dancokkkkk
Sang M
Host payah dancokkkk lu...
EmDeen
authornya keliatan banget urat miskinnya .
sampe bikin tokoh utama yang ga jelas.

maaf.. saya stop baca. aliran cerita terhambat dan terantuk2 sepanjang jalan karena pemaksaan karakter tsb
Lapega Dari Tbs
mc-nya naif bin goblok....
Pendekar Rajawali
Bingung dgn novel ini jalan ceritanya, seperti nya Novel ga jelas
Hary
CERITA PALING JELEK....!!!
Hary
PENULIS KACANG...BUKU TERJEMAHAN....
NGAKU2 TULISAN SENDIRI
Hary
SULAP... PERBAIKI MANSION DG CARA SULAP...
Hary
SOK PAHLAWAN...
SEHARUSNYA DATANG BERSAMA POLISI,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!