NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilangnya Ressa

Grey kembali ke tempat sebelumnya dengan langkah cepat. Hatinya berdebar tidak menentu, matanya menyapu setiap sudut ruangan tempat ia meninggalkan Ressa. Namun, yang ia temukan hanyalah kursi kosong dan udara yang sunyi.

Ressa tidak ada di sana.

Grey berdiri mematung, alisnya berkerut. Dadanya terasa sesak, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya—ketakutan.

"Di mana dia?" pikirnya, matanya bergerak cepat mencari. "Aku hanya pergi sebentar. Seharusnya dia menunggu di sini."

Ia berjalan berkeliling, memeriksa setiap sudut ruangan, tetapi tidak ada tanda-tanda Ressa.

"Grey?"

Suara Vega memecah kesunyian. Grey menoleh dan melihat Vega dan Barteil berjalan menghampirinya dengan santai.

"Seberharga apa Ressa hingga kau mencarinya dengan khawatir?" tanya Vega, senyum mengejek di bibirnya. "Dia hanya pelayan pribadimu saja. Kau bisa mencari pelayan lain dengan mudah."

Grey menatap Vega dengan tatapan tajam. Matanya yang biasanya tenang kini menyala-nyala.

"Itu bukan masalahmu," jawabnya dingin. "Lagipula, aku tidak merebut istri orang. Jadi apa salahnya memedulikan pelayanku sendiri?"

Vega terdiam mendengarnya. Kata-kata Grey menusuk tepat di titik lemahnya.

"Kenapa Grey seperti menyinggungku?" pikir Vega, tetapi ia memilih berdiam diri. Tidak ada gunanya berdebat dengan Grey saat ia sedang dalam keadaan seperti ini.

"Sudahlah," ucap Grey, mengabaikan mereka. "Aku tidak punya waktu berdebat denganmu. Aku harus mencari Ressa sebelum terjadi sesuatu padanya."

Tanpa menunggu jawaban, Grey berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Langkahnya cepat, tatapannya tajam, dan di matanya ada kilatan yang tidak pernah Vega lihat sebelumnya.

Barteil menatap kepergian Grey, lalu menoleh ke Vega. "Vega, kurasa Tuan Muda Grey sangat ahli menyembunyikan emosi."

Vega hanya mendengus.

"Buktinya dia tidak marah saat kau mengejeknya," lanjut Barteil. "Sebaliknya, dia balik menyinggungmu. Dia tahu tepat kata-kata apa yang bisa melukaimu."

Vega mendorong Barteil hingga hampir jatuh. "Berisik! Lupakan saja tentang Grey. Kita saat ini fokus pada teater dulu, baru kita lihat hasil dari semua rencana kita."

Barteil mengatur keseimbangannya, tetapi tidak berani membantah.

Vega menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Grey. Matanya menyipit.

"Nyonya Belinda," pikirnya, senyum kecil di bibirnya. "Anda begitu cantik dan anggun—tapi sayangnya, Anda berlawanan dengan orang yang salah."

Ia mengingat pertemuan-pertemuan sembunyi-sembunyi beberapa waktu lalu. Bagaimana ia terus meyakinkan Belinda agar menuruti semua keinginannya, bagaimana wanita dingin itu perlahan-lahan jatuh ke dalam jebakannya.

"Aku membuatnya percaya bahwa Kenta adalah musuhnya," renungnya.

Namun, pikirannya kembali pada Grey.

"Kurasa aku harus berhati-hati kepada Grey," sadar Vega. "Dia adalah orang yang berbahaya."

Meskipun Grey saat ini seolah tidak punya masalah dengan keluarga Sienta, Vega tahu lebih baik. Banyak rencana berjalan dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Dan Grey adalah dalang dari semuanya.

"Vega? Kau melamun?" tanya Barteil.

Vega menggeleng, mengusir pikirannya. "Tidak. Ayo kita kembali ke panggung. Kita masih punya latihan yang harus diselesaikan."

Namun, di dalam hatinya, Vega bertanya-tanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Ressa? Dan apa hubungannya dengan Grey?"

---

Di lorong belakang gedung teater, Grey terus berjalan dengan langkah cepat. Hatinya berdebar kencang, pikirannya dipenuhi oleh satu nama.

"Ressa..."

Ia berhenti di sudut lorong, menutup matanya sejenak.

"Aku tidak boleh kehilangan ketenanganku," pikirnya. "Aku harus menemukannya."

Saat ia membuka matanya, ia melihat sesuatu di ujung lorong—sebuah jepit rambut kecil yang dikenalnya.

Jepit rambut Ressa.

Grey mengambilnya, menggenggamnya erat.

"Aku akan menemukanmu, Ressa. Aku berjanji."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!