"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 13, Pria Familiar
Angin siang menerpa wajahnya begitu keluar dari lobi apartemen. Langkah Anna semakin cepat, ia bahkan tidak menyadari kemana kakinya bergerak. Yang ada di dalam kepalanya hanya ada satu tujuan, yakni rumah sakit dan bertemu dengan dokter Raina.
Ia harus bertemu seseorang yang mampu menghentikan badai di dalam dirinya.
Trotoar Jakarta di penuhi pejalan kaki. Suara kendaraan bersahut-sahutan seperti ombak yang tak pernah mengenal kata lelah.
Anna terus berjalan. Semakin jauh dan semakin cepat meninggalkan apartemen, pikirannya semakin di penuhi kemungkinan-kemungkinan yang membuat dirinya merasa cemas.
"Apa mereka sudah saling lama mengenal?"
"Apa dia bosan hidup denganku?"
"Aku memang bukan istri yang baik..."
"Aku tidak bisa memberinya anak..."
"Aku juga sakit..."
"Kalau benar begitu...apa aku pantas untuk dipertahankan?"
Pandangannya mulai mengabur, setiap wajah yang berpapasan seolah berubah menjadi bayangan tanpa bentuk.
Hingga ia tiba di persimpangan besar, lampu penyebrangan berubah merah. Orang-orang mulai melangkah dan Anna ikut maju.
Namun beberapa langkah, perutnya terasa melilit hebat. Rasa nyeri menjalar seperti salur berduri yang merambat dari lambung menuju dada.
Ia berhenti dan tangannya spontan memegangi bagian atas perut.
"Sakit..." bisiknya.
Keringat dingin terlihat mulai menyembul dan perlahan membasahi, napasnya semakin tidak teratur lalu ia mengangkat wajahnya namun pandangan di depan Anna bergoyang tidak jelas, bahkan suara-suara kendaraan terdengar seperti bergema dari dasar sumur.
Lampu penyebrangan mulai berkedip. Orang-orang di sekelilingnya sudah hampir mencapai trotoar seberang.
Sementara Anna, wanita itu masih terpaku di tengah jalan dengan tubuh gemetar, kakinya seolah kehilangan tenaga untuk melanjutkan langkah.
"Ya ampun, dia kenapa?"
"Nona, ayo jalan!"
"Ada apa dengannya?!"
Beberapa orang berteriak agar Anna cepat menyebrang, namun Anna benar-benar tidak mampu untuk berdiri lagi.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa ingin merobek rongga dada.
Air mata mengalir tanpa sadar.
"A...aku..."
BRAK!
Lututnya kehilangan kekuatan, tubuhnya ambruk ke atas aspal. Tangannya masih mencengkram perut yang terasa seperti di remas dari dalam.
Pada saat bersamaan...dari arah berlawanan, sebuah truk boks ekspedisi ukuran besar melaju tepat setelah lalu lintas berganti hijau. Sopir yang melihat sosok perempuan terjatuh di jalurnya langsung membunyikan klakson panjang.
TIIIIIIIIINNNN!!!!
Suara nyaring itu membelah udara.
"Woi!"
"Berhenti!"
"Ada orang!"
"Nona, cepat jalan!"
"Astaga...ada apa dengannya?"
"Tidak! Awas!"
"Tolong, ada yang bantu dia!"
"Ya Tuhan!"
"Apa dia mau bunuh diri?!"
Beberapa pejalan kaki berteriak panik, dengung-dengung orang di sekeliling jalan itu terheran-heran kenapa wanita itu tetap diam di tempatnya.
Seorang pria refleks berlari ke tengah jalan, instingnya mengatakan kalau dirinya harus menyelamatkan wanita muda itu apa pun caranya.
Beberapa ibu dan wanita lain menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Lampu hijau itu masih menyala terang, truk terus melaju hingga jaraknya semakin dekat, dan tepat ketika bayangan kendaraan besar itu hampir menelan tubuh Anna yang tak lagi sanggup bangkit...
Brak!
Tubuh Anna terkapar di pelukan seorang pria yang mengenakan pakaian stelan kantor. Pria itu memeluk tepat dimana suara rem berdecit memekakan telinga.
Ban truk boks bergesekan keras dengan aspal, meninggalkan jejak hitam memanjang seperti goresan luka di atas jalan raya. Moncong kendaraan itu berhenti hanya beberapa jengkal dari punggung pria yang kini memeluk Anna yang tak sadarkan diri.
Hening sesaat, dunia seakan kehilangan suaranya.
Baru setelah beberapa detik, napas orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu kembali mengalir dan berlarian mengerubung.
"Ya Tuhan...hampir saja!"
"Untung sopirnya sempat ngerem!"
"Wah, pria itu benar-benar menyelamatkan wanita itu!"
"Kira-kira dia kenapa?"
"Apa ada yang luka?"
"Anna! Dengar aku! Anna!" panggil pria itu sambil menggoyangkan tubuh Anna.
Tidak ada respon dari Anna, wanita muda itu benar-benar tak sadarkan diri.
Laki-laki paruh baya yang mengemudikan truk turun dengan wajah pucat pasi. Kedua tangannya masih gemetar hebat karena kejadian yang tak terduga sebelumnya.
"Astaghfirullah...saya nggak nabrak, kan? Saya enggak kena, kan?" ucapnya terbata-bata, menoleh ke segala arah mencari kepastian.
Beberapa saksi segera menggeleng.
"Enggak, Pak."
"Berhentinya pas banget."
"Untung aja bapaknya langsung ngerem."
Sopir itu memejamkan mata sejenak. Dadanya naik turun, seolah baru saja lolos dari jurang yang nyaris merenggut hidupnya sendiri.
Di tengah kerumunan yang mulai membesar, seorang perempuan bergaun kuning lemon keluar dari sebuah minimarket di sudut jalan sambil membawa kantong belanja.
Awalnya ia hanya menoleh sekilas karena mendengar keributan.
Namun, langkahnya mendadak berhenti. Kantong plastik yang digenggamnya perlahan lepas dari jemarinya. Bahkan botol minum di dalamnya menggelinding begitu saja ke trotoar.
Matanya membelalak. "Anna....?"
Suara itu nyaris tak terdengar.
Perempuan itu membeku beberapa detik, seolah otaknya menolak menerima apa yang dia lihat.
Tubuh yang ada dalam pelukan seorang pria, rambut panjang yang sedikit berantakan, tas selempang berwarna krem. Tak mungkin ia salah mengenali sahabatnya sendiri.
"ANNA!"
Sherly berlari secepat yang ia mampu.
Orang-orang spontan memberi jalan ketika perempuan itu menerobos kerumunan tanpa memedulikan kendaraan yang masih melintas perlahan.
Ia langsung berlutut di depan Anna dan pria itu.
"Na!"
Tangannya gemetar menyentuh pipi sahabatnya.
Kulit itu terasa dingin, wajah Anna pucat bagai selembar kertas yang kehilangan seluruh warnanya.
"Anna....bangun..."
Sherly menepuk pelan pipinya.
"Kamu tolong panggil ambulan!" titah pria itu dengan suara tenang namun sebenarnya panik.
Sherly mengangkat wajahnya perlahan, menatap pria di hadapannya. Pria itu cukup ia kenal namun dimana? Wajahnya sangat familiar.
"Ngapain bengong?! Buruan panggil ambulan." Titahnya lagi.
Sherly menghapus air mata di pipinya, lalu ia merogoh tas kecilnya dan langsung menghubungi 119.
"Tolong jangan di rekam!" ucap pria itu berat kepada orang-orang yang berkerumun.
Setelah memanggil 119, Sherly kembali fokus kepada Anna.
"Na bangun Na, kamu jangan becanda! Anna!" tangisnya lagi.
Tangannya terus menggenggam jemari dingin Anna. "Na, kamu janji loh sama aku katanya mau traktir aku kalau aku nikah nanti."
"Kenapa kamu sendiri? Kemana Irene?" lanjutnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, dan dari kejauhan terdengar suara sirine ambulance.
Sherly mengembuskan napas panjang, seolah secercah harapan baru saja menyala di tengah langit yang nyaris runtuh.
Mobil ambulan berhenti dan keluar dua orang petugas. Pria yang sedari tadi memeluk Anna memangkunya dan langsung masuk ke dalam mobil ambulan. Di ikuti oleh Sherly yang duduk di sebelah pria itu setelah Anna di baringkan di bad.
Setelah ambulance kembali berjalan, Sherly tetap menggenggam jemari sahabatnya dengan penuh ke khawatiran. Sesekali ia melirik pria di sisinya yang juga tengah menatap Anna dengan sama-sama penuh khawatir.
"Siapa dia? Apa dia kenal sama Anna?"
Batin Sherly.
...💞💞💞...
Kira-kira siapa ya pria ini???
Ikuti terus kisah Anna di novel ini.
Jangan loncat-loncat bab, mohon bantuannya dengan komen, like, vote, subscribe. Oh iya, jangan lupa follow akun Yehppee 🫶
...BERSAMBUNG...