Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
...Sinar matahari hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden ruang VVIP....
...Devandra menjadi orang pertama yang membuka mata....
...Mengingat jam tidurnya yang sangat singkat, tubuhnya sebenarnya masih lelah, namun disiplin dirinya sebagai seorang pemimpin tidak pernah luntur....
...Ia menoleh ke samping dan mendapati Ratri masih tertidur sangat pulas....
...Gurat kedamaian terpancar jelas di wajah wanita itu, membuat Devandra mengurungkan niat untuk mengusiknya....
...Ia memutuskan untuk membiarkan Ratri beristirahat lebih lama demi memulihkan tenaganya....
...Dengan gerakan perlahan, Devandra turun dari ranjang penjaga agar tidak menimbulkan suara....
...Begitu ia membalikkan badan ke arah ranjang pasien, ia mendapati Sandra ternyata sudah terbangun....
...Gadis itu sedang bersandar pada bantal yang agak ditegakkan, menatap Devandra dengan sebuah senyuman tipis yang tulus....
..."Om..." bisik Sandra lirih, takut suaranya membangunkan sang mama....
...Devandra melangkah mendekat dengan langkah tegap namun tenang....
...Ia menatap lekat wajah Sandra yang kini sudah mulai kembali merona, tidak sepucat kemarin malam....
..."Sudah baikan?" tanya Devandra dengan suara baritonnya yang direndahkan....
...Sandra menganggukkan kepalanya pelan. "Sudah jauh lebih baik, Om. Terima kasih."...
..."Kenapa aku tidak ditanya juga?"...
...Sebuah suara serak dan ketus tiba-tiba memotong percakapan mereka dari sudut ruangan....
...Devandra dan Sandra spontan menoleh ke arah sofa panjang....
...Di sana, Rizal rupanya sudah terbangun dari pingsannya....
...Pemuda itu sedang berusaha mendudukkan tubuhnya yang ringkih dengan satu tangan memegang kepalanya yang masih terasa sangat pusing dan berdenyut hebat....
...Matanya menyipit, mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang terang, sambil menatap Devandra dengan sisa-sisa sifat ketusnya yang khas....
...Devandra melipat kedua tangannya di dada, menatap Rizal dengan tatapan dingin namun menyimpan sedikit binar geli di matanya....
..."Bagaimana dengan kamu?" tanya Devandra balik, mengulang pertanyaan pemuda itu dengan nada datar....
...Rizal mendengus pelan, memijat pelipisnya yang masih terasa berputar sebelum menatap Devandra dan Sandra bergantian dengan tawa hambar....
..."Aku? Sepertinya aku sedang bermimpi mempunyai ibu. Dan mimpi ini rasanya terlalu nyata sampai kepalaku mau pecah."...
...Devandra tidak membalas candaan sinis itu dengan senyuman....
...Ia justru melangkah setapak mendekati ranjang Sandra, lalu mengarahkan pandangannya lurus ke mata Rizal dengan sorot yang teramat serius....
..."Sandra, dia kakak kembarmu," ucap Devan dengan nada suara yang berat dan penuh penekanan, mengenalkan Rizal secara resmi kepada putrinya....
...Mendengar kalimat itu meluncur langsung dari mulut pria berwibawa di hadapannya, Rizal langsung terdiam....
...Kamar rawat VVIP itu mendadak hening, menyisakan Sandra dan Rizal yang kini saling melempar pandang dalam bisu, mencoba mencerna takdir gila yang mempertemukan darah daging mereka yang sempat terpisah belasan tahun....
..."Kalian sudah bangun? Kenapa tidak membangunkan aku?"...
...Ratri membuka matanya dengan susah payah. Kesadaran yang perlahan kembali membawa rasa pening di kepala, namun rasa cemas langsung menyapu bersih sisa kantuknya....
...Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sosok Devandra yang duduk setia di samping brankar tempatnya menyandarkan diri....
..."Aku ingin kamu istirahat dulu," ucap Devan lembut....
...Suaranya yang tenang sedikit banyak memberikan kedamaian di hati Ratri yang berkecamuk....
...Sebelum Ratri sempat membalas, pintu ruang rawat terbuka....
...Seorang perawat masuk dengan senyum ramah, melangkah mendekati ranjang sebelah tempat Sandra terbaring....
...Dengan cekatan, perawat itu memeriksa tanda-tanda vital dan mengganti botol infus yang hampir habis....
..."Bagaimana, Sus?" tanya Ratri, suaranya agak serak dengan tatapannya tak lepas dari wajah pucat putrinya....
...Perawat itu menoleh dan tersenyum menenangkan....
..."Semuanya sudah normal, Bu. Perkembangannya sangat bagus. Mungkin nanti sore dokter sudah memperbolehkan pasien pulang."...
...Ratri menghela napas panjang. Beban berat yang menggelayuti dadanya selama beberapa jam terakhir seolah terangkat sebagian....
..."Alhamdulillah, terima kasih, Sus."...
...Setelah perawat pamit keluar, keheningan kembali menguasai ruangan....
...Namun, keheningan itu terasa intens. Di sudut ruangan, Rizal berdiri mematung....
...Tatapannya lurus, mengunci wajah Ratri dengan campuran rasa tidak percaya, luka, dan kerinduan yang tertahan....
...Rizal melirik ke arah Ratri, menata hatinya sebelum melontarkan pertanyaan yang menyumbat tenggorokannya sejak tadi....
..."Nyonya... anda benar mamaku?"...
...Ratri merasakan matanya memanas. Tanpa ragu, ia menganggukkan kepalanya dengan pasti. Butiran bening lolos membasahi pipinya....
..."Lalu kenapa kamu membuang kita?" Suara Rizal bergetar, menuntut keadilan atas tahun-tahun sepi yang mereka lalui tanpa pelukan seorang ibu....
..."Bukan aku yang membuangmu, Rizal... tapi papa kamu," bisik Ratri pilu. Rasa bersalah dan amarah bercampur aduk di dalam dadanya....
...Mendengar hal itu, kening Rizal berkerut. Pandangannya langsung beralih tajam....
..."Dia?" Tunjuk Rizal ke arah Devan yang berada di dekat Ratri....
..."Pria ini?"...
..."Bukan dia. Dia bukan papa kamu," potong Ratri cepat, melindungi Devan dari kesalahpahaman....
..."Lalu siapa?" tuntut Rizal lagi....
...Ratri menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya....
...Mengabaikan rasa sakit di hatinya, ia mulai menceritakan semuanya kepada kedua anaknya....
...Tentang pengkhianatan masa lalu, tentang bagaimana ia dipisahkan secara paksa dari darah dagingnya sendiri, dan skenario kejam yang membuat mereka hidup menderita....
...Rizal mencengkeram erat tangannya hingga buku-buku jarinya memutih....
...Amarah membakar dadanya mendengar kenyataan yang begitu pahit....
..."Ini gila sekali... seperti sinetron!" desisnya dengan napas memburu....
..."Aku akan membantumu, Nyonya—eh, Mama... untuk membalas dendam pada manusia biadab itu!"...
...Ratri segera menggenggam tangan Rizal yang gemetar, meredam gelombang amarah putranya....
..."Jangan, Rizal. Biar hukum yang melakukannya. Tangan kita jangan sampai kotor oleh kejahatan mereka."...
...Dari atas brankar, sebuah suara lemah namun terdengar tegas ikut menyahut....
..."Iya, Kak..." ucap Sandra yang rupanya sudah terjaga sejak tadi, menatap sang kakak dengan pandangan memohon....
..."Jangan pakai cara kotor."...
..."Apa kamu ingin masuk penjara lagi?" ucap Devan dengan nada suara yang mendadak dingin dan penuh penekanan....
...Sorot matanya yang tajam mengunci pergerakan Rizal, seketika membungkam amarah meledak-ledak dari pemuda itu....
...Rizal tertegun, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan rahang yang mengeras....
...Sisa ketakutan saat tangannya diborgol besi dingin di klub malam itu mendadak melintas kembali di benaknya....
...Mendengar kata yang sensitif itu, jantung Ratri mencelos....
...Ia langsung menatap Devandra dengan tatapan cemas dan menuntut penjelasan....
..."Penjara? Kapan, Dev? Apa yang terjadi dengan Rizal?"...
...Melihat situasi yang tidak bisa ditutupi lagi, Devandra menghela napas panjang....
...Akhirnya, Devandra menceritakan kejadian kemarin malam secara detail....
...Ia menjabarkan bagaimana Rizal dijebak oleh oknum di klub malam, paket narkoba yang diselundupkan ke dalam tasnya, penggerebekan polisi, hingga aksi penyelamatan darurat yang dilakukannya bersama tim hukum di Jakarta pada jam tiga pagi tadi....
...Ratri mendengarkan setiap kalimat Devandra dengan tangan yang membekap mulutnya sendiri....
...Air matanya kembali menetes, membayangkan bahaya besar yang nyaris saja menghancurkan masa depan putra kandungnya jika Devandra tidak bertindak cepat....
...Setelah cerita berakhir, Ratri menatap Devandra dengan tatapan haru sekaligus bersalah....
..."Jadi... kamu kemarin kembali ke Jakarta demi menyelamatkan Rizal? Bukan karena urusan bisnis maskapai?"...
...Devandra menganggukkan kepalanya dengan tenang, membalas tatapan Ratri dengan sorot mata yang menyiratkan bahwa ia akan melakukan apa saja demi wanita itu dan anak-anaknya....
..."Aku tidak bisa membiarkan putra kandungmu membusuk di sel atas kesalahan yang tidak dia lakukan, Ratri."...
...Kemudian Devandra menatap wajah Rizal dengan sorot mata tegas yang tak tertolak....
..."Lekas mandi dan setelah itu ikut aku ke kampus adikmu, Sandra."...
...Kening Rizal berkerut bingung. "Kampus?"...
..."Iya, kampus di mana adikmu di-bully sama teman-temannya," jawab Devandra dingin. Ada gurat amarah yang tertahan di balik nada suaranya....
...Mendengar hal itu, naluri perlindungan Ratri langsung membumbung tinggi....
..."Aku ikut ya," ucap Ratri sigap. Ia tidak ingin tinggal diam saat tahu putri kecilnya pernah disakiti....
...Namun, Sandra yang bersandar di atas kasur rawat menatap ibunya dengan lembut....
..."Kalau Mama ikut, Sandra sama siapa?" tanya Sandra polos....
...Ratri tertegun sejenak. Ia menyadari Sandra masih butuh pendampingan di rumah sakit....
...Dengan mengalah, Ratri menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendekat dan memeluk tubuh putrinya erat-erat....
...Tanpa membantah lagi, Rizal segera bergerak menuju kamar mandi VVIP....
...Usai membersihkan diri, ia mengganti pakaiannya dengan baju kasual rapi yang sudah disiapkan dan ditata oleh Ratri di sofa....
...Saat Rizal keluar dari kamar mandi, Ratri mendekat sambil tersenyum lembut....
...Tangannya terulur ke arah telinga kiri Rizal. "Ini dilepas ya," ucap Ratri perlahan, melepaskan anting-anting yang menempel di telinga putranya agar terlihat lebih rapi dan sopan....
...Melihat adegan itu, Sandra yang memperhatikan dari atas ranjang tidak bisa menahan tawa gigilnya....
..."Kak Rizal seperti perempuan pakai anting-anting," ucap Sandra sambil tertawa kecil, membuat suasana ruangan yang tadinya tegang mendadak cair dan hangat....
...Rizal hanya mendengus sambil mengusap telinganya, namun sudut bibirnya terangkat tipis melihat adiknya bisa tertawa selepas itu....
...Tak lama kemudian, Devan juga selesai mandi dan bersiap-siap di kamar mandi sebelah....
...Pria itu keluar dengan kemeja rapi yang dipadukan dengan jas gelap yang sangat berwibawa. Aura kepemimpinannya terpancar kuat....
...Devan merapikan jam tangannya, lalu menatap Rizal....
..."Ayo kita berangkat sekarang, Rizal."...
..."Ayo, Om," jawab Rizal mantap, siap memasang badan untuk adik kembarnya....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒