NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 BLUE FLAME: AEGIS

Perisai biru bergetar.

Serangan Garret mental balik ke dinding. Batu retak.

Garret menyipit. "AEGIS... Mustahil. Api biru tidak bisa bertahan... hanya menyerang."

Aku berdiri. MPA 0. Tapi dadaku anget.

"Ayah bilang," kataku pelan. "Api untuk melindungi."

Ayah di belakangku batuk. "Bagus... Kael..."

Luna masih diikat. Matanya berkaca. "Kael..."

"Garret," kataku. "Lepaskan dia."

"Berani kau!" Garret meraung. Kalung mata merahnya pecah retak.

Dia hantam tanah.

[DING!]

[PROFESOR GARRET MENGGUNAKAN: [RED EYE: DOMINATION]]

Seluruh lantai 10 bergetar. Bayangan hitam keluar dari lantai. Menyerang kami.

Aku angkat tangan.

"[BLUE FLAME: AEGIS]"

Perisai membesar. Melindungi kami bertiga.

Bayangan2 itu hancur kena api biru.

Grom menggeram. "Tuan, aku maju!"

"Tunggu," bisik Ayah. "Dia mengincar Kael. Karena Kael... pewaris asli."

Garret tertawa gila. "Pewaris? 20 tahun aku mengabdi! Aku yang bangun Menara ini! Tapi semua puji keluarga Von Ignis!"

Dia tunjuk Ayah. "Kau! Kau bilang aku murid terbaik! Tapi kau kasih semua ke anakmu!"

Ayah menggeleng. "Karena kau serakah Garret. Kau mau pakai api biru untuk perang."

"Dan salah?" Garret meludah. "Dunia ini butuh ditaklukkan!"

Luna tiba2 berteriak. "Kael... di belakangnya..."

Aku menoleh. Di belakang Garret ada altar. Di atasnya... 6 fragmen lagi. Lengkap 10.

"Itu!" kata Ayah. "Catatan keluarga kita! Kalau dia gabungin, dia bisa buka gerbang..."

"Gerbang neraka," lanjut Garret sambil senyum. "Dan aku akan jadi rajanya."

[DING!]

[MISI BARU: REBUT 6 FRAGMEN]

Garret angkat tangan. 6 fragmen melayang ke arahnya.

Aku gak bisa gerak. MPA habis.

"Kael," bisik Ayah di telingaku. "Ingat... api bukan dari MPA. Api dari hati."

_DUG_

Jantungku berdetak kencang.

MPA 0. Tapi hangat di dada gak hilang.

Aku liat Luna. Diikat. Nangis.

Aku liat Ayah. Luka. Tapi tetap berdiri buat lindungin aku.

Aku liat Grom. Siap mati buat aku.

Ini keluarga.

"Bukan MPA..." bisikku.

Api biru di tanganku nyala lagi. Kecil. Tapi nyata.

Garret kaget. "Bagaimana bisa?!"

"Karena aku bukan kamu," kataku.

Aku lari. Bukan pake sihir. Pake kaki.

Garret kaget. Dia tembak sihir merah.

Aku tangkis pake tangan kosong. Api biru keluar dari kulitku. Ngebakar sihirnya.

_BRAK_

Aku tabrak Garret. Kami jatuh ke altar.

Fragmen2 berhamburan.

"Kembalikan!" teriak Garret.

Aku pungut 1 fragmen. [FRAGMEN 5]

[DING! FRAGMEN 5/10 TERKUMPUL]

"Jangan!" Garret cakar wajahku.

Darah. Sakit.

Tapi aku ketawa. "Sakit ya? Ini rasanya 20 tahun Ayah dipenjara!"

Pertarungan jadi brutal. Tanpa sihir. Pake tangan.

Aku dan Garret guling2an.

Aku dapet [FRAGMEN 6] dan.

Garret dapet dan.[7][8][9]

Sisa 1. [FRAGMEN 10] melayang di tengah.

"Yang dapet ini menang!" teriak Garret.

Kami berdua loncat bersamaan.

Tapi...

_SWISSS_

Sebuah pedang cahaya nembus dari belakang.

Nembus dada Garret.

Garret melot. "Kh...kh..."

Di belakangnya... Ayah. Pegang pedang api biru. Tangan gemetar.

"Aku... sudah cukup membiarkanmu..." kata Ayah.

Garret jatuh. Kalungnya pecah.

[DING!]

[PROFESOR GARRET LV.15 - KALAH]

Sunyi.

Aku lari ke Ayah. "Ayah!"

Ayah tersenyum. Darah keluar dari mulutnya. "Kael... ambil... fragmen terakhir..."

Fragmen 10 jatuh ke tanganku. Lengkap 10/10.

Tapi Ayah...

"Ayah kenapa?!"

"Pedang itu... menghisap nyawaku juga..." Ayah batuk darah. "Tapi tidak apa2... Aku sudah... bertemu anakku..."

Luna nangis. "Pak..."

Ayah pegang wajahku. "Kael... janji... lindungi... orang2 dengan apimu..."

"JANJI AYAH!" teriakku.

Ayah senyum terakhir. Lalu... memudar jadi cahaya biru.

[DING!]

[MISI: BALAS DENDAM UNTUK KELUARGA - SELESAI]

[MISI BARU: MEWARISI API BIRU]

[PERINGATAN: MENARA AKAN RUNTUH 10 MENIT]

Lantai bergetar.

"KAEL!" teriak Luna. "Kita harus pergi!"

Aku genggam 10 fragmen. Di tangan... ada bekas cahaya Ayah.

"Tidak..." bisikku.

Gerbang di belakang kebuka. Menara runtuh.

_GELAP_

[DING!]

[TO BE CONTINUED]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!