Berawal dari sebuah pertemuan secara kebetulan dalam sebuah insiden, ternyata mereka telah dijodohkan oleh kakeknya sejak mereka masih belia. Dan sebuah insiden semalamlah yang menjadi awal pertemuan mereka.
Saling mengenal tetapi tidak sadar jika mereka yang telah dijodohkan. Dari sebuah keterpaksaan perjodohan hingga muncul benih cinta yang tak mereka sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna LA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Setelah obrolan bersama kawan lamanya, kakek merasa lega, karena apa yang jadi keputusan kakek juga didukung oleh kawannya. Tinggal bagaimana kakek mengutarakan keputusan itu kepada Ara cucu kesayangannya itu.
Malam pun tiba dan mereka semua sudah berkumpul di ruang makan, kakek, mama dan Ara. Mereka siap untuk makan malam. Sedari datang sampai saat makan, Ara memperhatikan ekspresi wajah kakek yang berubah-ubah, antara bahagia dan bingung banyak pikiran. Selesai bersantap, mereka belum beranjak dari meja makan dan Ara memulai obrolan disana.
“Kakek, apa kakek baik-baik saja hari ini?”
“Kakek baik-baik saja kok, ada apa memangnya sayang?”
“Kakek seperti ada yang dipikirkan dan itu terlalu berat kek.”
“Ahh ada-ada saja kamu ini Ra, justru kakek sedang bahagia hari ini, karena apa? Karena kawan lama kakek datang berkunjung seharian tadi.”
“Kawan lama kakek? Siapa kek?” tanya Ara penasaran sebab jarang sekali ada kawan kakek yang datang berkunjung ke rumah.
“Iya pa, kawan papa yang mana ini, tumben sekali pa.” Imbuh Mama bertanya.
“Kalian pikir cuma kalian yang memiliki kawan, kakek juga punya.”
“Ara atau mama kenal atau tahukah siapa kawan kakek?” tanya Ara lagi.
“Mungkin bila itu kamu pasti tidak tau atau lupa sayang, tapi mamamu pasti ingat dan mengenalnya.”
“Siapa kek? Siapa pa?” tanya ibu dan anak itu bersamaan.
“Astaga kompak sekali kalian.”
“Iiishh kakek, sudahlah Ara ke kamar dulu, Ara capek.” Sambil berdiri dan akan meninggalkan meja makan.
“Laah cucu kesayangan kakek merajuk.”
“Habisnya kakek muter-muter jawabnya.” Ucap Ara yang tengah cemberut.
“Dia kakek Sanders, apa kalian ingat??”
“Ooohh tuan Sanders pa. Ada apa kemari pa?” tanya mama.
“Entah kek, Ara juga belum tau kawan kakek yang mana itu. Ara pamit ke kamar ya kek, ma, selamat malam.”
“Iya sayang!!” ucap kakek dan mama juga bersamaan.
“Selamat beristirahat kesayangan kakek.” Imbuh kakek.
Ara melanjutkan langkahnya menuju anak tangga yang mengarah ke kamarnya. Kakek dan mama melanjutkan obrolan mereka di ruang santai, karena meja makan juga harus segera dibersihkan bi Inah.
“Hari ini tuan Sanders kemari ada apa pa?” tanya mama yang penasaran.
“Tadi pagi sebenarnya papa yang menelefon dia dulu, dan berencana untuk bertemu dan ingin membahas masalah perjodohan yang dahulu May, eehh malah dia yang mengatakan mau berkunjung kemari, ya sudah papa tunggu di rumah.”
“Ooohh begitu, lalu apakah papa sudah menyampaikan maksud papa menghubungi tuan Sanders?”
“Yaa, papa sudah mengatakannya dan dia sangat setuju. Nanti kita atur saja agar Ara dan Devan bisa bertemu.”
“Syukurlah pa, Mayra yakin Devan sangat cocok untuk Ara kita pa.”
“Semoga saja mereka memang berjodoh May.”
Ayah dan menantu itu masih mengobrol santai, sedangkan Ara di kamarnya sibuk berpikir.
“Tuan Sanders, sepertinya aku pernah mendengar atau tau nama ini tapi dimana dan siapa yaa?” monolog lirih Ara sambil bersiap dengan ritual sebelum tidurnya.
“Seperti pernah tau, tapi siapa?? Aahh ini otak saat diajak mengingat hal seperti ini kenapa nggak mau jalan siih.” Sambil mengetuk pelan pelipisnya sendiri.
“Entahlah, mending sekarang tarik selimut buka HP sebentar, scroll-scroll siapa tau ketemu cogan (cowok ganteng) impian. Xixixi :D” Ara terkikik sambil menatap layar HP nya.
Di tempat lain, yaitu di kediaman Sanders kakek dan cucunya juga tengah makan malam. Mereka hanya makan berdua di meja yang besar itu. Setelah selesai dengan makanan mereka, kakek memulai percakapannya dengan Devan.
“Kapan ya nak meja makan ini terasa hangat tak seperti sekarang selalu kita berdua yang duduk disini?”
“Kita minta saja bibi nur dan keluarganya makan bersama kita disini kek, jadi terlihat ramai dan bukan hanya kita berdua.”
“Devan Devan kakek tahu kamu ingin mengalihkan ucapan kakek.” Jawab kakek sambil beranjak menuju ruang tengah yang kemudian di ikuti Devan.
“Habisnya kakek selalu berkata demikian.”
“Kakek hanya menginginkan satu itu Nak.”
“Kakek tunggu saja, semoga akan segera hadir bidadari untuk menemani Devan dan menjaga kakek di rumah ini.” Jawab Devan enteng.
“Tapi....” belum sempat kakek melanjutkan ucapannya handphone Devan berdering.
“Devan angkat telepon dulu kek, permisi selamat malam kakek.”
“Selamat malam, jangan begadang terlalu malam nak.”
“Siap kek.”
Devan segera berjalan menuju kamarnya untuk menerima telepon dari asistennya, Rudi.
Devan: “Jadi bagaimana Rud, berhasil menemukannya belum?”
Rudi: “Maaf tuan, nihil, semua nama gadis di kota ini dengan nama Ara tidak ada yang sesuai dengan wajah gadis itu tuan.”
Devan: “Masa iya Rud, atau nama Ara itu hanya nama samaran saja?”
Rudi: “Bisa jadi tuan, saya akan berusaha mencari lagi tuan.”
Devan: “Ya, besok saja lagi, sekarang istirahat saja dulu.”
Rudi: “Baik tuan, selamat malam, maaf sudah mengganggu.”
Devan: “Tak apa Rud, karena itu juga kabar yang aku tunggu.”
Devan menutup sambungan teleponnya, dan merebahkan diri di atas kasur.
“Susah sekali menemukan gadis itu.” Devan bermonolog kemudian teringat wajah dan tulisan Ara serta lembaran uang yang dulu ditinggalkan Ara.
“Aaahhhh Siaaal!!! Mengapa aku teringat lagi dengan gadis itu. Harus segera tidur ini agar cepat hilang ingatan sial itu.”
Devan meletakkan handphone dan mematikan lampu kamarnya, kemudian menarik selimutnya tinggi-tinggi agar dia segera terlelap.
jangan sampai emosi mu menghancurkan hati Ara ingat baru bertunsngsn loh bisa bubar apa kg yg udah nikah aja aja yg cerai
jangan sampai ego merusak segala2 y Devan🤭
Semoga berhasil dan lancar acaranya