Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Menjadi Sopir
.
"Anya, apa kamu sudah sampai rumah?" Satu pesan dikirim oleh Riko.
Tak ada balasan hingga beberapa saat membuat Riko sedikit mengumpat dalam hati. Keadaan sedang genting, tapi malah Anya tidak segera membalas. Namun, kemudian ia berpikir, mungkin Anya masih dalam perjalanan atau hp nya dalam mode silent. Bisa saja dia langsung pergi ke kediaman Tanuwijaya, tapi itu hanya akan membongkar identitasnya, dan pihak musuh akan meningkatkan kewaspadaan. Akhirnya, Riko pun memutuskan mengambil sepeda motornya dan pulang.
Sesampainya di apartemen, Riko segera membuka laptopnnya untuk memantau keberadaan Anya. Mobil yang kendarai Anya terdeteksi sudah berada kediaman mewah keluarga Tanuwijaya.
Riko mengetuk-ngetuk dagunya sesaat, berpikir sebelum kemudian membuka room chat dengan profesor Rahmat dan mengirim pesan.
"Bahaya mengancam secara terang-terangan. Atur supaya saya bisa jadi sopir pribadi untuk Anya."
Tidak menunggu lama, balasan dari profesor Rahmat masuk. “Akan saya sampaikan pada Tuan Bastian.”
Sementara itu, di rumah Anya, gadis itu baru saja masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan tas ransel dan laptopnya di atas meja belajar, gadis itu menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang king size nya.
“Hufrt… lelah sekali, Ya Allah,” gumamnya sambil memejamkan mata memeluk guling.
Tring!
Notif pesan masuk memaksanya kembali membuka mata. Tangannya meraih tas untuk mengambil ponsel.
“Riko? Ada apa ya?" gumamnya saat membaca sekilas pengirim pesan yang terpampang di layar. Gadis itu pun segera membuka room chat dengan Riko. Beberapa pesan masuk.
"Anya, apa kamu sudah sampai rumah?”
"Ada yang lupa aku bicarakan tadi.”
"Aku sedang butuh pekerjaan yang jam kerjanya fleksibel, supaya tetap bisa kuliah. Bisakah kamu memberi aku pekerjaan?”
"Biaya kuliahku memang ditanggung negara, tapi aku tetap butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku tidak mau membebani ibuku yang sudah tua.”
Anya mengetuk-ngetuk dagunya. Dia memahami apa yang dimaksud oleh Riko. "Pekerjaan apa ya, yang sekiranya cocok untuk Riko?" pikirnya.
“Riko, aku baru sampai rumah. Untuk pekerjaan, aku belum bisa putuskan. Aku akan bicarakan pada papaku setelah ini, ya?" Pesanan balasan dikirim oleh Anya.
Di apartemennya, Riko menatap layar ponselnya, membaca pesan dari Anya, merenung sejenak sebelum mengetik balasan: "Aku tunggu, ya. Aku bisa kerja apa saja. Jadi sopir, bersihin rumah, atau apapun juga bisa."
Tidak lama, balasan datang lagi: "Wah, kamu serba bisa ya, rupanya? Baiklah akan ku sampaikan pada papaku.”
"Ok. Aku tunggu. Makasih ya?”
Riko kembali ke room chat bersama profesor Rahmat. Membahas beberapa kemungkinan. Adanya konflik bisnis dengan kelompok konglomerat lain. Ada dugaan mereka ingin mengambil alih saham perusahaan milik keluarga Tanuwijaya. Bisa jadi Anya adalah target yang diincar untuk memaksa Tuan Bastian takluk.
*
Di perusahaan milik Tanuwijaya, setelah membaca pesan dari profesor Rahmat, Tuan Bastian bergegas pulang.
"Papa sudah pulang?” tanya Nyonya Tanuwijaya yang heran melihat kedatangan suaminya. “Kok tumben, Pa? Tidak ada masalah, kan?”
“Haish… kamu ini, Ma? Papa pulang terlambat ngomel, merajuk. Papa pulang cepat dibilang tumben. Papa harus gimana coba?" Tuan Bastian langsung duduk di samping istrinya sambil berpura-pura kesal.
“Ih, Papa. Ya bukan gitu, Pa. Mama kan cuma heran aja, kok Papa jam segini sudah ada di rumah?” balas Nyonya Safina seraya menggelayut dan bersandar di lengan suaminya.
“Tidak ada apa-apa, Ma. Kebetulan tidak ada agenda penting lagi setelah ini. Dan Papa serahkan selanjutnya pada Asisten Genta," terang Tuan Bastian.. “Oh, iya. Anya sudah pulang? Kok Papa lihat mobilnya sudah ada di garasi?"
"Sudah, Pa. Setengah jam yang lalu, mungkin,” jawab Nyonya Safina.
“Ma, kok aku kepikiran akan lebih baik kalau Anya punya sopir sendiri, ya. Itu lebih aman buat dia.” Tuan Bastian mulai mengikuti skenario yang diatur oleh profesor Rahmat.
Nyonya Safina menjauhkan badannya dan menatap ke arah suaminya. "Papa ini kayak gak tahu saja. Anya itu kan dari dulu gak suka ke mana-mana diantar, Pa. Gak bebas katanya. Apalagi sopir laki-laki, mana dia mau?”
"Tapi kali ini harus mau, Ma.” Tuan Bastian memaksa. “Papa khawatir dengan keselamatan Anya. Papa tidak mau saingan bisnis Papa menggunakan putri kita sebagai alat untuk membuat Papa tunduk!”
"Ya sudah terserah Papa saja. Semoga kali ini Anya mengerti dan tidak membantah.”
Baru saja mereka selesai bicara, Anya terlihat menuruni tangga. Suara selop rumahannya membentur lantai marmer seirama dengan langkahnya yang berlari mendekat.
"Papa…” seru Anya langsung menghambur memeluk papanya.
"Hei, putri kesayangan Papa? Kamu sudah di rumah? Bagaimana kuliahmu hari ini?”
"Ish, kalo sama papanya saja sesayang itu. Mama dicuekin." Nyonya Safina melipat tangannya di depan dada lalu memalingkan wajah berpura-pura marah.
“Ih, Mama." Anya langsung beralih memeluk mamanya dan kini posisi gadis itu berada di tengah kedua orang tuanya. "Anya juga sayang.”
Hanya sesaat sampai kemudian Anya melepaskan pelukan dan duduk menyamping menghadap papanya.
"Pa, teman kampus aku ada yang lagi butuh kerjaan. Papa ada lowongan kerja, gak? Kasian dia, Pa. Dia itu orang gak punya. Kuliah aja dibiayai negara.”
Tuan Bastian menoleh ke arah putrinya berpura-pura tidak mengerti. "Kerjaan, ya? Memangnya temanmu itu bisa kerja apa? Lagian dia masih kuliah, kan? Pasti belum ada pengalaman kerja?”
"Dia bisa apa aja kok, Pa.” Anya kemudian menceritakan apa yang Riko ucapkan sebelumnya. “Lagian dia pinter loh, Pa. Tadi aja pas laptopku error, dia yang betulin."
“Jadi, temanmu sudah pernah jadi sopir?" tanya Tuan Bastian yang dijawab anggukan kepala oleh Anya.
"Katanya sih gitu, Pa.”
"Kalau begitu, dia akan jadi sopir pribadimu!”
"Apa, Pa?” Anya terkejut dengan putusan papanya. "Sopir pribadi Anya? Kok sopir Anya, sih, Pa? Anya kan lebih sukaa nyetir sendiri?”
"Papa tahu. Tapi akan lebih aman kalau kamu ada yang antar jemput. Papa juga lebih tenang. Lagipula di rumah ini juga sudah tidak membutuhkan tenaga kerja lagi. Semua posisi mulai dari satpam, tukang taman, tukang bersih-bersih, Papa dan Mama juga sudah punya sopir sendiri-sendiri." Tuan Bastian menatap putrinya tak memberi celah.
“Tidak mungkin, kan, Papa memecat salah satu diantara mereka hanya untuk memasukkan temanmu? Mau kerja di perusahaan? Anak kuliahan bisa kerja apa? Bukan Papa bermaksud merendahkan. Tapi perusahaan membutuhkan orang yang sudah siap kerja. Lagi pula, Kalian kan kuliah di kampus yang sama? Jadi, Papa rasa tak ada salahnya dia jadi sopir kamu.”
"Tapi…?"
“Ya, atau tidak?"