NovelToon NovelToon
Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris

Status: tamat
Genre:Single Mom / Chicklit / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: annin

Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.

Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.

Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.

Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.8 Gosip

Alle bingung harus bersikap apa. Mendadak ia menjadi gagu melihat penampakan Sosok cantik yang datang bagai hantu tersebut.

"Matilah kau, All!" rutuk Alle dalam hati. "Kini berakhir sudah riwayatmu di kantor ini."

Bagaimana ia bisa lupa jika wanita ini pulang hari ini. Dan, bagaimana juga ia bisa lupa untuk memberi tahu Aksa tentang kedatangan wanita ini. Apakah ini sebuah isyarat jika hari ini memanglah hari terakhirnya di kantor.

"Arghhh!" Alle ingin sekali berteriak merutuki kebodohannya. Tidak seharusnya ia melakukan kecerobohan sepanjang hari.

"Mbak ... Mbak Bianca?" desis Alle.

"Nona Bianca!" tegas wanita cantik tersebut.

"I ... iya, maksud saya Nona Bianca." Alle tergagap.

"Ya, kenapa?"

"Kok, nggak hubungi saya dulu?"

"Apa?" Wanita bernama Bianca itu menoleh pada pria di belakangnya. "Lo, belum hubungi dia?"

"Sudah, suruh saja dia lihat ponselnya. Tadi pagi aku udah kirim pesan untuk buat janji," jawab pria bergaya kemayu yang merupakan asisten Bianca.

Model itu langsung mendelik tajam pada Alle. Lewat sorot matanya ia seolah ingin memaki Alle yang ceroboh.

"Iya, Non, Mas Tata udah kirim pesan ke saya, tapi maaf, saya belum memberitahukan Pak Aksa mengenai kedatangan Nona Bianca."

"Gue nggak peduli, sekarang cepat kasih tahu Aksa kalau gue udah nunggu di sini!"

Alle mengangguk. Tak berpikir lama ia segera menghubungkan sambungan melalui interkom. Namun, tidak ada respon dari atasannya tersebut. Pasti Aksa masih marah dengan dirinya.

"Kenapa?" tanya Bianca karena Alle masih saja memegang gagang interkom dengan raut bingung.

"Maaf, Nona bianca, Bapak Aksa tidak menjawab panggilan saya."

Bianca menghentakkan kakinya kesal. Tanpa ijin pada Alle, wanita cantik itu langsung menerobos masuk ruangan kekasihnya. Alle dengan sigap mengikuti, berniat menghalangi.

"Nona, tung____" Alle tidak berhasil menghadang atau menghentikan wanita itu sebab sang model lebih dulu masuk.

"Sayang ...," panggil Bianca dengan suara melengking.

Aksa yang fokus bekerja langsung mendongak. Terkejut melihat kedatangan wanita yang merupakan kekasih pria itu. Raut murka langsung tergambar jelas di wajahnya. Bukan hanya pada bianca, tapi juga pada Alle yang berdiri tepat di belakang sang model.

"Pak, ma-maafkan ... saya," ujar Alle dengan menunduk.

Bianca tidak peduli dengan kesalahan yang Alle buat, ia terus saja melenggang menghampiri sang kekasih. "I miss you so, Honey," ujar Bianca dengan nada manja dibuat-buat.

Wanita itu langsung memeluk Aksa yang masih duduk bersandar pada kursi. Tanpa tau malu, ia mengecup pipi pria itu di hadapan sekretaris kekasihnya.

Aksa bergeming dengan sikap mesra yang ditunjukkan oleh Bianca. Tatapannya masih tajam terarah pada sekretarisnya yang ceroboh.

Sadar ke mana arah pandang Aksa, Bianca berseru, "Ngapain lo masih di situ? keluar!"

"Maaf, Nona." Alle membungkukkan badan untuk pamit. Menahan perasaan takut akan sikap Aksa nanti. Ia tau benar akan kesalahannya, dan pasti Aksa tidak akan melepaskannya begitu saja karena telah membuat sebuah kesalahan besar.

Alle kembali ke mejanya, menunggu dua insan yang sedang melepas rindu di dalam. Anehnya, tidak sampai lima menit, sang model sudah keluar dari ruangan bosnya.

"Ayo, kita pergi," ajak Bianca pada asistennya.

Alle hanya bisa heran. Melihat Bianca berjalan meninggalkan ruangan bosnya. Matanya masih fokus pada langkah Bianca yang mulai memasuki elevator saat dering interkom membuatnya tersentak.

Buru-buru Alle mengangkat panggilan tersebut. "Iya, Pak."

"Masuk, kamu!" ujar Aksa dari dalam ruangannya.

"Baik, Pak." Alle segera menutup panggilan dan bergegas masuk ke ruangan bosnya.

"Iya, Pak ... ada yang bisa saya bantu?"

"Duduk!" titah sang bos.

Alle hanya bisa menurut.

Aksa melempar banyak berkas ke hadapan Alle hingga membuat wanita itu sedikit terlonjak sembari memegangi dadanya.

"Apa, ini, Pak?" Alle bingung menatap banyaknya berkas di hadapannya.

"Kerjakan semua ini sebelum kamu pulang. Kalau tidak selesai, jangan harap bisa pulang!"

Nah, kan ... ini pasti hukuman yang harus ia terima karena kedatangan model tadi. Alle, jangan pernah buat kesalahan yang sama lagi atau kau tidak akan pulang ke rumah tapi tinggal di kantor ini sepanjang waktu untuk bekerja.

Tidak ada pilihan dan tidak bisa menolak juga. Lembur dengan segala berkas yang tersaji adalah satu-satunya jalan yang tak bisa terelakkan.

___________________

Keesokan harinya Alle harus berangkat kerja seperti biasa setelah semalam lembur mengerjakan hukumannya. Meski ia tak sendiri mengerjakannya tetap saja ia menyelesaikan semua tugas itu hingga larut malam.

Mbak Imas bahkan sampai khawatir karena Alle tak memberi kabar akan pulang terlambat. Fokusnya semalam adalah bagaimana caranya dengan cepat menyelesaikan tugas dan segera pulang hingga ia lupa mengirim pesan pada pengasuh Chilla tersebut.

"Lembur, lo, All?" tanya Wina ketika bertemu dalam elevator. Terlihat jelas kantung mata hitam Alle yang membuat Wina menanyakan hal tersebut.

"Iya," jawab Alle lesu.

"Sampai jam berapa?"

"Mungkin sekitar jam sepuluh. Pak Aksa maksa banget soalnya harus selesai malam itu juga. Mau gue bawa pulang aja nggak boleh."

Wina mengangguk paham.

Tak disangka di belakangnya banyak karyawan lain yang mendengar pembicaraan antara Alle dan Wina. Entah apa yang ada dalam otak mereka hingga membuat kesimpulan yang lain tentang kata lembur yang diperbincangkan Alle juga Wina.

Saat pintu elevator terbuka, banyak orang keluar yang menunjukkan tatapan aneh pada Alle. Meski Alle merasakan hal tersebut tapi Alle tepis dan tak ingin mengambil pusing.

"Gue duluan, ya?" pamit Wina karena ia sudah sampai di departemennya.

Kini tinggal Alle berdua dengan seorang pria bernama Rudi. Ia dari departemen pemasaran. Pria itu mendadak mendekatkan dirinya pada Alle.

"Hai, All," sapanya.

"Hai."

"Makan siang nanti lo sibuk, nggak?" todong Rudi.

Alle mengernyit. "Kenapa?"

"Kalau lo nggak sibuk, boleh nggak gue traktir lo makan siang?"

Di saat Alle akan menjawab, denting elevator berbunyi dan terbuka. Bersamaan dengan itu terbuka juga elevator khusus untuk para petinggi perusahaan. Di sana, Aksa baru saja keluar. Pandangannya langsung bersirobok dengan sekretarisnya.

Alle buru-buru keluar dan mengabaikan pertanyaan Rudi.

"Selamat pagi, Pak?" sapa Alle.

Namun, tak mendapat tanggapan dari bosnya yang langsung melenggang pergi. Alle pun mengikuti bosnya di belakang, meninggalkan Rudi yang masih terpaku menunggu jawaban.

Seharian, Alle berusaha bekerja dengan profesional meski tubuhnya terasa begitu lelah. Saat jam makan siang, ia bertemu lagi dengan Rudi, tapi sikap pria itu mendadak acuh dan tak peduli dengan Alle. Bahkan beberapa karyawan menatapnya sinis.

"Kenapa, mereka?" batin Alle.

Wanita itu terus membawa nampan makanannya ke meja kosong dan memilih mengabaikan sikap aneh teman-temannya. Ia butuh mengisi tubuhnya dengan asupan makanan agar bisa kembali bekerja maksimal. Ia harus fokus dan tak boleh lagi ceroboh.

"Enak nggak sih lembur ama bos ganteng?" ujar seorang karyawan yang duduk tak jauh dari meja Alle.

"Lembur apaan nih, kalau lemburnya dimanja ya enak-enak aja," sahut yang lain. Kemudian terdengar gelak tawa dari mereka.

Samar-samar Alle mendengar percakapan itu, tapi apa dan siapa yang mereka maksud.

"Woy!" Wina datang dan menggebrak meja Alle. "Ngapain bengong?"

"Eh ... enggak, kok." Alle kembali menyuap nasi ke mulutnya.

Wina pun ikut duduk bersama di meja Alle. Lagi, Alle mendengar percakapan dari orang-orang di meja sebelahnya.

"Win, lo tahu nggak sih ada gosip apa di kantor ini?" tanya Alle.

Seketika membuat Wina terbatuk. Alle pun memberikan minuman untuk temannya itu.

"Kenapa memangnya?" tanya Wina setelah meneguk es tehnya.

"Gue ngerasa sedang ada gosip yang heboh deh di kantor ini. Apa karena gue terlalu sibuk ya, sampai nggak tahu ada berita apa?"

"Oh ... itu. Iya ... memang sedang ada gosip panas tentang karyawan yang katanya deket banget sama atasnya."

"Di departemen mana?"

"Alah, entar lo bakalan tahu juga. Sekarang lo makan aja biar siap lembur lagi," goda Wina.

"Apaan, sih." Menuruti apa kata temannya itu, Alle tak mau memikirkan tentang gosip yang beredar. Toh itu bukan urusannya.

Disela makannya ponsel Alle berdering.

"Selamat siang," sapa Alle.

Mendadak wajah Alle pucat mendengar apa yang dikatakan orang di seberang telpon.

1
Yani Kustiti
Luar biasa
Muna Junaidi
💪🏻💪🏻💪🏻
scarlet
good 👍
annin: Tengkyu Kak, udah pindah ke sini. Masih ada 6 lagi lho novel tamatku, hehehehe
total 1 replies
mawar0509
Luar biasa
annin: Terima kasih Kak Mawar0509 atas supportnya. Sehat selalu untuk kakak dan keluarga.❤️

Lanjut baca karya baruku, Kak. judulnya DIABAIKAN SETELAH MALAM PERTAMA. Klik profil aku biar lebih mudah. Tengkyu, Kak mawar.
total 1 replies
Nur Fajrina Qisthina
love
Ran Aulia
Luar biasa
nyit nyit
bagus cerita nya
nyit nyit: aamiinn ya Rabb,,semangat berkarya thorrrr ...q yakin u bisa membuat karya yg buanyakkkk n bagus2
total 2 replies
Rat Miyati
Luar biasa
annin: Terima kasih supportnya kak Rat Miyati, sehat selalu buat kaka dan keluarga❤️❤️❤️🥰
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
padahal harta dan jabatan nggak selamanya digenggam an tangan.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.
Olive Ova Ambitan
keren jg ceritanya, tapi lbh keren kalau si fadil dibuat menderita dan mnyesal bgt
annin: Aku sengaja nggak memberi cerita lanjutan untuk kisahnya Fadil, takut dibilang kek sinetron Azab. Hehehe ....
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
awal ceritanya menyesakkan dada 🤧 tentang kisah hidupnya seorang istri yang dikhianati suami.
Herna Hidayat
Luar biasa
Mom's Smile
keren 👍👍👍
Sastri Dalila
👍👍👍
annin: Terima kasih kak Sastri Dalila atas supportnya, sehat selalu buat kaka dan keluarga❤️❤️❤️🥰
total 1 replies
Ymir
Fadil oh Fadil
annin: xixixi🤭
total 1 replies
Meita Margaretha
Luar biasa
annin: Terima kasih Kak Meita Margaretha untuk supportnya, sehat selalu buat kaka dan keluarga❤️❤️❤️🥰
total 1 replies
Meita Margaretha
Lumayan
Noorjamilah Sulaiman
not bad
annin: Terima kasih Kak Noorjamilah Sulaiman atas supportnya. Sehat selalu buat kaka dan keluarga❤️❤️❤️🥰
total 1 replies
Elsye Nurhayati
Luar biasa
annin: Terima kasih Kak Elsye Nurhayati atas supportnya, sehat selalu buat kaka dan keluarga❤️❤️❤️🥰
total 1 replies
made astiti
lanjut dong ceritanya 👍👍🙏🙇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!