"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan Bersama
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
Hari ini adalah hari minggu, dan Demir sudah memutuskan untuk pergi ke rumah Safira untuk menjenguknya kembali.
Diperjalanan, Demir membeli buah-buahan dan makanan untuk Safira. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Demir pun sampai di depan rumah Safira.
Demir menyunggingkan senyumannya saat melihat Safira sedang menjemur pakaian.
"Katty beda banget sama Safira, ke mana-mana harus ditemenin dengan alasan tidak tahu jalan padahal zaman sekarang teknologi sudah cangging lihat GPS juga langsung tahu, bandingkan dengan Fira yang tidak bisa melihat tapi mandiri sekali, semuanya dia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain," batin Demir.
Perlahan Demir pun menghampiri Safira dan berdiri di belakang Safira, Demir yakin kalau Safira akan mengetahui kedatangannya dari bau parfum yang di ciumnya.
Benar saja, Safira langsung menghentikan aktivitasnya dan mulai mengendus.
"Kok, kaya bau parfumnya Demir, tapi gak mungkin Demir ke sini, ini kan hari minggu," seru Safira.
Safira pun kembali menjemur pakaiannya, sedangkan Demir hanya tersenyum.
"Memangnya kenapa kalau hari minggu? Aku gak boleh ya, datang ke rumahmu?" seru Demir.
Safira terlonjak kaget sampai menjatuhkan ember yang dia pegang.
"Astaga, embernya jatuh."
"Demir, kok kamu ada di sini?" tanya Safira.
"Mau jengukin kamu."
"Aku sudah sembuh Mir, kamu tidak usah repot-repot datang ke sini."
"Gak apa-apa, kalau kamu sudah sembuh kita jalan-jalan saja."
"Hah, jalan-jalan? Maksud kamu?"
"Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan, kata Mama kamu, selama ini kamu tidak pernah keluar dari rumah karena kamu tidak mempunyai teman. Nah, sekarang karena aku sudah menjadi temanmu, aku mau ngajak kamu jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Safira.
"Kamu maunya ke mana?"
"Gak tahu, karena walaupun kamu ngajak aku jalan-jalan, aku kan gak bisa lihat jadi percuma kalau kamu ngajak jalan-jalan sama aku," sahut Safira.
Mama Safira yang mendengar obrolan keduanya tampak berkaca-kaca, sungguh Mama Safira ingin sekali membuat anaknya satu-satunya itu bisa melihat. Maka dari itu, tanpa sepengetahuan Safira, Mamanya suka menabung dan mengumpulkan uang supaya suatu saat nanti, Safira bisa melihat dan ada orang yang mau mendonorkan matanya untuk Safira.
"Kamu hanya tidak bisa melihat, tapi kamu masih bisa merasakan, jadi nanti aku akan perkenalkan kamu pada segala hal. Bagaimana, apa kamu mau jalan-jalan denganku?" tanya Demir.
"Tapi aku harus minta izin dulu sama Mama, takutnya Mama tidak mengizinkanku," seru Safira.
"Pergilah Fira, Mama percaya kepada Nak Demir kalau dia bisa menjaga dan melindungimu.
"Terima kasih tante, aku janji akan menjaga Fira."
Demir menyerahkan barang bawaannya kepada Mama Safira, sedangkan Demir menuntun tangan Safira untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tante, kami pergi dulu."
"Iya Nak, tolong jaga Safira ya."
"Pasti Tante."
Demir pun mulai melajukan mobilnya...
"Kita mau ke mana, Demir?" tanya Safira.
"Ke suatu tempat, tempatnya indah sekali dan aku sering pergi ke sana kalau aku lagi banyak pikiran."
Safira mengangguk-ngangguk, sebelumnya Safira tidak pernah percaya kepada siapa pun karena takut orabg itu akan berbuat jahat kepadanya tapi entah kenapa, Safira tidak merasa takut kepada Demir malah Safira merasa nyaman dan aman kalau berada di dekat Demir.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Demir sampai di sebuah taman dengan danau buatan.
"Kita sudah sampai, ayo turun."
Demir segera membukakan pintu mobil untuk Safira dan kembali menggenggam tangan Safira. Demir mengalungkan tangan Safira ke lengannya, membuat Safira merasa malu dan jantungnya berdetak tak karuan.
"Tetaplah pegang tanganku karena aku akan membawa kamu ke tempat indah," seru Demir dengan menatap wajah cantik Safira.
Safira menyunggingkan senyumannya, Demir membawa Safira ke pinggir danau dan duduk di atas rerumputan.
"Suasananya sejuk sekali," seru Safira.
"Saat ini kita sedang duduk di bawah pohon, dan di hadapan kita ada danau."
"Iyakah? Pasti sangat indah."
Demir menatap Safira dengan tatapan iba, Safira adalah wanita terhebat yang pernah dia temui. Safira terlahir tanpa bisa melihat dunia ini, dan Safira masih bisa tersenyum sedangkan dirinya belum tentu bisa menerima takdirnya seperti itu.
"Kamu wanita hebat, Fira."
"Jangan memuji seperti itu, justru aku adalah wanita yang banyak kekurangan. Aku sangat bersyukur kamu mau berteman denganku, karena selama ini tidak ada yang mau berteman dengan wanita buta sepertiku."
"Kamu wanita baik dan mandiri, aku sangat kagum kepadamu," seru Demir.
Safira menundukan kepalanya, wajahnya terasa panas dan pasti saat ini wajahnya sudah memerah.
"Kata kamu tadi, kamu sering ke sini? Apa kamu tidak bermain dengan teman-temanmu atau pacarmu?" tanya Safira.
"Aku tidak punya teman dan aku juga tidak punya pacar."
"Kenapa? Dari perasaanku, pasti kamu orangnya tampan dan kaya raya, dan pasti banyak juga wanita yang ingin menjadi pacarmu."
"Kata siapa aku tampan?"
"Itu hanya perasaanku saja, tapi aku yakin kalau tebakanku benar."
Demir tersenyum. "Apa kamu mau melihat wajahku?" seru Demir.
"Bagaimana caranya?"
Demir meraih tangan Safira, dan menyimpannya di wajahnya membuat Safira terkejut.
"Kamu bisa meraba wajahku, dan suatu saat kalau kamu bisa melihat, aku yakin kamu akan langsung mengenaliku."
Awalnya Safira ragu, tapi perlahan Safira mulai meraba wajah Demir. Dari kepala, kening, mata, hidung, dan terakhir bibir. Tangan Safira begitu lembut, dan Demir hanya bisa menatap wajah Safira.
"Hidung kamu mancung banget, sudah dipastikan kamu pasti pria tampan."
Lagi-lagi Demir hanya terkekeh, hati Demir menghangat, setelah sekian belas tahun hatinya membeku, sekarang Demir mulai merasakan hatinya menghangat dan itu semua karena Safira.
"Aku boleh tanya?" seru Demir.
"Kamu mau tanya apa?"
"Apa impian kamu untuk saat ini?"
"Aku hanya ingin melihat, aku ingin melihat bagaimana indahnya dunia ini, aku ingin melihat wajah Mama yang selama ini sudah menjagaku, dan aku juga ingin melihat wajahmu yang selama ini sudah menemaniku," sahut Safira dengan senyumannya.
Demir kembali tersenyum, sungguh impian Safira sangat simple tapi sangat sulit untuk terlaksana. Pasalnya pendonor mata sudah sangat jarang dan langka, secara diam-diam Demir memang mencari informasi mengenai pendonor mata, tapi sampai saat ini Demir belum bisa menemukannya.
"Terus, kalau impianmu apa?" tanya Safira yang membuat Demir tersentak dari lamunannya.
"Impianku, ingin memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia. Dari dulu aku ingin sekali memiliki keluarga yang di dalamnya penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang," sahut Demir dengan tatapan menerawang jauh ke depan.
"Memangnya kamu tidak mempunyai keluarga?" tanya Safira.
"Aku memang mempunyai keluarga, tapi kehidupan aku seperti tidak mempunyai keluarga, hati aku kosong dan kesepian tidak ada cinta di dalamnya."
Safira terdiam, Safira mengerti dengan apa yang sudah Demir katakan. Mungkin Demir selama ini tidak bahagia dengan keluarganya atau mungkin Demir mempunyai masalah dalam keluarganya.