NovelToon NovelToon
Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor

Status: tamat
Genre:Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:295.7k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Asviana

Pelakor, adalah kata yang mereka sematkan padaku. Karena aku hadir, sebagai wanita kedua, bagi pernikahan Mas Ivan dan Mba Evelyn— sepasang manusia yang saling mencintai.

Aku, Qeiza Hikaru. Kata mereka, aku pelakor!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaman?

Tepat pukul 10:00 WIB, Qeiza mengetuk pintu penghubung kamarnya dengan kamar Ivander. Mendengar Qeiza mengetuk pintu penghubung, Ivander Menghampiri cermin besar yang ada di kamar tersebut, dan menyaksikan kerapihan rambutnya terlebih dahulu, sebelum gegas menghampiri wanita yang ada di balik pintu penghubung itu.

“Sudah siap untuk meeting hari ini, Pak?”

“Iya. Tinggal berangkat saja. Yuk,” ajak Ivander. Pria itu kembali salah tingkah, saat Qeiza memerhatikan penampilan dirinya dengan lekat, dari kepala hingga kaki. Melihat dasi yang digunakan Ivander tidak rapi dan cenderung berantakan, Qeiza segera merapikannya.

Wanita dengan tinggi 155 cm itu sampai berjinjit, untuk menggapai dasi yang sudah tersemat di leher Ivander. Melihat Qeiza kesusahan, karena perbedaan tinggi mereka, Ivander pun sedikit berjongkok, hingga wanita itu bisa leluasa memasang dasi pada leher kokoh Ivander.

Berulangkali Ivander berusaha menelan salivanya yang mendadak kering. Untuk pertama kalinya, ada wanita lain yang memasangkan dasi padanya, selain ibu dan adik kandungnya.

“Wahai jantung yang tak tau diri, tolong berdetaklah dengan normal,” gumam Ivander pada dirinya sendiri.

Namun tampaknya hal itu sia-sia. Karena netra pria itu terus menatap Qeiza yang berdiri sangat dekat dengannya. Menatap mata bulat wanita itu yang tengah fokus pada dasi di hadapannya. Menatap bibir mungil Qeiza yang berwarna merah muda. Menatap jemari-jemari lentik yang sibuk menari di atas dasi.

Debaran jantung Ivander semakin bertalu. Terlebih dada Qeiza yang membusung itu, hanya berjarak 1 cm dari tubuhnya. Bau harum yang memancar dari tubuh wanita itu, semakin membuat Ivander sulit bernapas.

Pesona seorang Qeiza Hikaru, terlalu kuat untuk dapat ditolaknya. Perlakuan Qeiza padanya pagi ini, membuat hati Ivander seakan penuh. Pria itu merasakan kembali kasih sayang dan kelembutan seorang ibu, dari sosok wanita yang bahkan berusia 7 tahun lebih muda darinya.

Tiga bulan waktu yang diberikan Andreas kepada Ivander, agar putranya itu bisa membuka diri untuk mengenal sosok Qeiza. Namun, hanya dalam waktu satu bulan, Ivander sepenuhnya takluk pada pesona Qeiza. Ivander ingin, Qeiza terus berada di sisinya. Wanita di hadapannya ini, tak boleh menjadi sekretaris pribadi Ivona.

Qeiza Hikaru adalah miliknya.

Tapi, agaknya, sulit bagi Ivander untuk mengakui bahwa dirinya telah terjerumus pada pesona Qeiza. Karena sehari menjelang hari pensiun sang ayah. Ivander masih menolak untuk menikah lagi.

Ivona merasa heran dengan sikap kakak lelakinya. Pasalnya, adik kandung Ivander itu, sering menangkap basah sang kakak yang sedang mencuri pandang pada Qeiza.

“Yasudah kalau begitu, mulai besok, Qeiza akan dipindah tugaskan menjadi sekretaris pribadi Ivona, sebagai direktur utama!”

Mata Ivander seketika membulat. Putra sulung Andreas Bratajaya itu tak akan membiarkan hal ini terjadi. Dirinya masih menginginkan Qeiza untuk melayaninya.

“Tidak bisa begitu dong, Pi! Ivan masih membutuhkan Qei!”

Ivona dan Andreas saling lirik. Mereka sangat yakin, jika Ivander telah jatuh hati pada Qeiza. Namun, pria itu berusaha keras untuk menyangkalnya.

“Ivan juga membutuhkan sekretaris pribadi!”

“Kamu tenang saja, Van. Papi juga sudah menyarikan sekretaris pribadi untuk kamu.”

“Tidak bisa begitu dong Pi. Sekretaris pribadi yang baru itu, untuk Ivon saja. Qei tetap menjadi sekretaris pribadi Ivan!”

Ayah dan adiknya itu menatap Ivander dengan senyum tertahan, seolah tengah mengejek pria itu.

“Itu karena Ivan sudah terbiasa bekerja bersama Qei. Jadi rasanya malas untuk menyesuaikan diri lagi dengan orang lain! Alasan Ivan hanya itu, kok.”

Spontan Andreas dan Ivona terkekeh mendengarnya.

“Iya ... Iya ... Terserah kamu mau beralasan apa. Yang jelas kamu tidak mau kan, kalau jauh dari Qei. Karena kamu sudah merasa nyaman diurus Qeiza. Mengaku sajalah!”

Wajah Ivander seketika berubah merah. Anak sulung Andreas Bratajaya itu memalingkan wajahnya.

Nyaman?

Benar. Ivander merasa nyaman melewati hari-harinya bersama Qeiza tiga bulan belakangan. Bahkan, waktu yang dia habiskan bersama Qeiza, lebih banyak dibandingkan dengan istrinya sendiri.

“Memangnya Papi tidak memerhatikan, Mas Ivan setiap hari memakai dasi belakangan ini. Sudah pastilah dia merasa sangat nyaman, karena ada yang memakaikan dasi setiap hari!” ejek Ivona.

Bertambah meronalah wajah Ivander. Sementara Andreas dan Ivona terus terkekeh, menggoda calon CEO Bratajaya Corporation itu.

Dan, setelah Ivander resmi menyandang jabatan baru sebagai CEO Bratajaya Corporation, Qeiza pun resmi berganti atasan.

Untuk merayakannya, Andreas mengadakan jamuan makan siang untuk seluruh staff di perusahaannya. Siang itu, Evelyn turut hadir di sana. Untuk pertama kalinya, Evelyn bertemu dengan Qeiza. Wanita itu tersenyum lembut sekali, pada wanita yang akan menjadi sekretaris pribadi suaminya.

Sebenarnya Evelyn sudah pernah melihat Qeiza, saat perayaan ulang tahun Andreas, beberapa bulan lalu. Hanya saja mereka tak saling sapa, karena Evelyn hanya hadir sebentar lalu berpamitan karena ada janji temu dengan beberapa temannya.

Melihat Evelyn yang bersikap ramah pada Qeiza, Ivander tersenyum tipis. Bisakah Evelyn menerima Qeiza sebagai madunya?

Acara siang itu berjalan lancar. Siang itu, Qeiza bukan saja terlihat seperti sekretaris pribadi Ivander saja. Karena saat perayaan itu, tak hanya Ivander dan Andreas yang dilayaninya, Evelyn pun minta dilayani oleh Qeiza. Bahkan hanya sekadar untuk menuang air pada gelasnya yang sudah kosong, Evelyn meminta Qeiza untuk melakukannya.

Andreas dan Ivona terlihat kesal sekali dengan perangai Evelyn yang bersikap bak nyonya besar.

“Honey, kamu tidak seharusnya memperlakukan Qeiza seperti tadi. Qeiza itu sekretaris pribadi, bukan pelayan,” ucap Ivander, kala dirinya bersama sang istri tengah dalam perjalanan pulang.

“Loh, sekretaris pribadi itu kan sama saja seperti asisten. Dia harus melayani kamu sebagai CEO dan melayaniku sebagai istri CEO. Seperti asisten rumah tangga saja. Kan mereka harus melayani dan menuruti perintah kita!” ucap Evelyn tak mau kalah. Di mata Evelyn, Qeiza hanyalah pelayan bagi keluarganya.

“Tapi job desk dia bukan seperti itu, Ev!”

“Ah, sudahlah, bagiku sama saja,” jawab Evelyn. Ivander hanya bisa menghela napas panjang. Melihat Qeiza diperlakukan bak seorang pesuruh, membuat hati Ivander berdenyut.

Setelah tiba di kediaman mewah mereka, gegas Evelyn membersihkan tubuhnya, lalu bersiap-siap.

“Kamu mau ke mana lagi, Hon?”

“Biasalah Honey. Kamu seperti tidak tau jadwalku saja,” jawab Evelyn sembari memoles lipstik pada bibirnya yang penuh.

“Tidak bisakah kau menemaniku malam ini, Ev? Aku merindukanmu,” lirih Ivander.

Wanita itu menoleh pada suaminya dan tersenyum. “Kenapa kamu jadi manja seperti ini? Padahal aku sudah menemanimu sejak siang tadi. Duduklah,” perintah Evelyn, pada suaminya yang masih menggunakan bathrobe tanpa ada sehelai benangpun yang menempel pada tubuhnya.

Evelyn pun melaksanakan kewajibannya. Evelyn memang selihai itu dalam hal memberi kepuasan untuk suaminya. hanya dengan bibir dan jemari wanita itu, Ivander bisa merasa puas.

Ivander mengerang, saat bibirnya masih tertaut pada bibir sang istri.

Evelyn tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu kembali merapikan riasannya, lalu gegas meninggalkan Ivander yang masih terduduk di sofa.

“Hasratku memang terpenuhi. Tapi tidak dengan batin ini. Tidak bisakah kau mengabaikan teman-temanmu sehari saja, demi aku, Ev?” ucap Ivander, kala sang istri telah berlalu dari hadapannya.

“Salahkah aku jika memuaskan batinku dengan wanita lain? Bahkan hanya dengan membantuku menyematkan dasi, itu sudah membuatku merasa bahagia.”

1
Dewa Nara
ada puluhan kali anda mengulang kalimat janda beranak satu, Thor
Dewa Nara
udah Thor jangan diulang terus janda beranak satu
Dewa Nara
jangan keseringan ngulang "janda beranak satu" Thor, gak nyaman bacanya kalau selalu diulang
Dewa Nara
ternyata ada laki2 sebodoh Ivan 😃😃
Dewa Nara
siapa ya
Dewa Nara
cari tau apa yg dilakukan istrimu di luar rumah, Ivan...
Dewa Nara
proses sidang itu cukup lama loh Thor, masak hukumannya langsung jatuh
Dewa Nara
berat resiko menjanda
Dewa Nara
udah tua masih ngambek 😃😃
Dewa Nara
disini saya setuju dg pelakor 😃
Dewa Nara
jangan gitu qei...nanti jatuh cinta...
Dewa Nara
ada ya istri kayak Evelyn
Dewa Nara
berapa pastinya umur ivander Thor, 36 apa 37?
Dewa Nara
kasian ivander, terlalu cinta jadi oon
Dewa Nara
ceritanya bagus tapi kok sedikit yg baca
Dewa Nara
bahasanya rapi Thor
Dewa Nara
baru mulai baca, mudah2an bagus ceritanya
asya yussi
Luar biasa
Soraya
mampir thor
Lila
Seperti di film Bollywood Khabi Khusi Khabi Gham😀
Mamak_A: Film Bollywood favorite 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!