NovelToon NovelToon
Air Mata Di Ujung Penyesalan

Air Mata Di Ujung Penyesalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mabuok Hape

Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.

Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.

Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.

Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.

Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.

Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.

Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menatap Musuh Dari Dekat

Udara di dalam ruang kunjungan tahanan Polres Metro terasa begitu pengap, berbau keringat tua, pembersih lantai yang tajam, dan keputusasaan yang mengendap tebal. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, memancarkan cahaya kekuningan yang dingin di atas meja kayu kusam yang membatasi dua sisi ruangan. Di luar, suara batuk sesekali dan langkah sepatu lars petugas bergaung menembus dinding semen tebal.

Reza duduk membungkuk di atas bangku kayu kaku. Seragam tahanan berwarna oranye mencolok yang melekat di tubuhnya tampak terlampau besar, kontras dengan gambaran pria borjuis yang biasa dibalut kemeja sutra mahal. Rambutnya kusam, tumbuh tak teratur. Di pipinya, ada bekas goresan kecil—sisa percekcokan di dalam sel bersama tahanan lain. Matanya cekung, dipenuhi lingkaran hitam pekat dan pendar ketakutan yang belum juga padam sejak dua hari lalu.

Pintu besi berjeruji di sudut ruangan berdenyit nyaring.

Reza mengangkat kepalanya dengan refleks kebas. Namun, begitu matanya menangkap sosok yang melangkah masuk, seluruh tubuhnya membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Arga Pratama berdiri di sana.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja putih tanpa dasi, memancarkan dominasi yang begitu mutlak tanpa perlu mengucap sepatah kata pun. Arga melangkah tenang, tanpa dikawal petugas, seolah ruangan kumuh itu hanyalah salah satu sudut dari ruang rapat eksekutif miliknya. Arga tidak langsung duduk. Ia berdiri sejenak di tepi meja, menatap Reza dari ketinggian posisinya.

Menatap musuh dari dekat.

Tidak ada bilah pisau di tangan Arga, tidak ada nada suara yang meninggi, tetapi tatapan matanya yang sangat jernih dan dingin menembus tepat ke dalam pupil mata Reza—membedah setiap inci kehancuran sahabat yang telah menjelma menjadi musuh terbesar dalam hidupnya.

Arga menarik kursi kayu di seberangnya dengan gerakan perlahan, lalu duduk. Ia menyilangkan kakinya dengan sangat elegan, menopangkan jemarinya di atas meja.

Chemistry di antara kedua pria itu di dalam ruangan sempit tersebut begitu intens, sarat akan tekanan psikologis yang mencekik. Dulu, mereka adalah dua anak muda yang duduk berhadapan di warung kopi pinggir jalan, membagi sepiring mi instan sambil memetakan impian masa depan. Kini, garis takdir memisahkan mereka dalam dua dunia yang berseberangan: seorang penguasa yang berada di puncak kejayaan, dan seorang pesakitan yang meringkuk di balik jeruji besi.

"Kamu... mau memamerkan kemenanganmu, Ga?" suara Reza akhirnya memecah keheningan. Suaranya parau, kering, dan terdengar amat menyedihkan. Ia memaksakan sebuah senyuman miring di bibirnya yang pecah-pecah—sebuah sisa pertahanan ego yang malang. "Kamu puas sekarang? Melihat aku pakai baju oranye ini? Melihat Nabila menangis histeris di ruang periksa?"

Arga menatap bibir Reza yang bergetar. Ia tidak tersenyum, tidak pula menunjukkan riak kemenangan yang congkak. Wajah Arga tetap tenang bagaikan permukaan telaga di tengah malam.

"Puas?" Arga mengulang kata itu dengan nada suara yang sangat halus, begitu berat dan dalam. "Perasaan puas hanya dirasakan oleh orang yang bertaruh dalam sebuah permainan, Reza. Sedangkan aku... tidak sedang bermain-main denganmu."

Reza mengepalkan tangannya di atas meja, membenturkan buku-buku jarinya ke kayu kusam itu. "Jangan berlagak suci, Arga! Kamu itu iblis! Kamu tahu aku dan Nabila ada hubungan, tapi kamu diam saja! Kamu sengaja memberi kami uang 100 miliar itu! Kamu jebak kami supaya kami membusuk di penjara! Kamu sengaja menonton kami jatuh!"

Napas Reza memburu. Logika seorang pecundang kembali mencari kambing hitam atas kejatuhannya sendiri.

Arga memajukan tubuhnya sedikit ke depan. Jarak di antara wajah mereka kini hanya terpaut setengah meter. Di bawah remang cahaya lampu neon, Arga menatap lurus ke dalam iris mata Reza yang liar.

"Aku memberimu uang 100 miliar itu karena aku ingin melihat... seberapa jauh keserakahanmu bisa membunuh akal sehatmu, Reza," bisik Arga dengan kedalaman emosi yang begitu tajam hingga membuat Reza bungkam seketika. "Aku tidak pernah memaksamu mengalirkan uang itu ke rekening cangkangmu di Singapura. Aku tidak pernah memaksamu menyuruh Nabila menandatangani berkas Personal Guarantor. Kamu sendiri yang menarik pelatuk itu ke kepalamu sendiri."

"Tapi kamu mengumpani aku!" teriak Reza pelan dengan mata memerah, air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya. "Aku ini sahabatmu, Ga! Sepuluh tahun! Kita merintis perusahaan itu dari tidak punya apa-apa! Bagaimana bisa kamu setega ini membiarkan aku mendekam di penjara?!"

Arga mengamati raut wajah Reza. Di sana, ada keputusasaan yang murni, tetapi sama sekali tidak ada penyesalan atas pengkhianatannya. Reza hanya menyesali kenyataan bahwa ia tertangkap dan kalah.

Arga menyunggingkan senyum tipis—senyuman paling dingin yang pernah Reza lihat seumur hidupnya.

"Sahabat?" Arga mengalihkan pandangannya pada luka goresan di pipi Reza, lalu kembali menatap matanya. "Seorang sahabat tidak mencuri uang operasional dari perusahaan yang membesarkan namanya. Seorang sahabat tidak menyetubuhi istri dari pria yang menyambutnya di rumahnya sendiri."

Kata-kata Arga menghantam dada Reza bagai pukulan fisik yang amat telak. Reza tersentak mundur, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras.

"Aku membiarkanmu mendekat selama dua bulan terakhir, Reza..." lanjut Arga dengan nada yang datar, menguraikan logika pembalasan dendamnya dengan sangat tenang. "Bukan karena aku buta. Tapi karena aku ingin menatap musuhku dari dekat. Aku ingin memastikan bahwa saat aku memotong urat nadimu di dunia bisnis... aku melihat sendiri bagaimana rasa percaya dirimu hancur berkeping-keping."

Reza menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Keheningan merayap kembali, lebih berat dan membekukan dari sebelumnya. Pria yang dulu merasa sangat cerdik dan manipulatif itu kini menyadari sepenuhnya bahwa selama dua tahun ia menjalin hubungan gelap dengan Nabila dan merampok harta Arga, ia sebenarnya sedang menari di atas telapak tangan Arga.

"Berapa tahun...?" bisik Reza dengan suara bergetar yang hampir tak terdengar. "Berapa tahun tuntutan hukum dari tim pengacaramu?"

Arga berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat rapi. Ia mengancingkan kancing tengah jasnya, merapikan lengan kemejanya, lalu menatap Reza dari atas.

"Pasal berlapis. Penggelapan dalam jabatan, penipuan korporasi, dan tindak pidana pencucian uang," ujar Arga dingin. "Tim hukumku telah memastikan ancaman hukumannya tidak akan kurang dari lima belas tahun penjara."

Lima belas tahun.

Dua kata itu runtuh bagai gunung batu yang menimbun jiwa Reza. Wajah Reza kehilangan seluruh rona kehidupan. Tubuhnya meluncur lemas di atas kursi kayu, matanya menatap kosong ke arah meja kusam di depannya. Lima belas tahun berarti seluruh masa mudanya, kebanggaannya, dan masa depannya telah habis terbakar.

Arga melangkah menuju pintu keluar ruangan kunjungan. Namun sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, Arga menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit.

"Oh iya, Reza..." panggil Arga pelan.

Reza mendongak secara refleks dengan tatapan kosong yang hampa.

"Nabila sudah menandatangani berkas perceraian kami tadi pagi," kata Arga, senyum tipis terukir di bibirnya. "Dia menangis histeris, menyebut namamu sebagai iblis yang merusak hidupnya. Kamu tidak perlu khawatir... di penjara wanita nanti, dia juga sedang mempelajari bagaimana rasanya dibuang oleh orang yang paling ia percayai."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Arga mendorong pintu besi ruangan kunjungan hingga terbuka. Ia melangkah keluar menuju koridor yang terang, membiarkan pintu besi di belakangnya tertutup rapat dengan dentuman keras yang bergaung dingin.

Di dalam ruangan yang remang dan pengap, Reza menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya yang memutih kaku, menumpahkan tangisan histeris yang tak lagi didengar oleh siapa pun—menyadari bahwa tatapan dingin musuhnya sore ini adalah kenangan terakhir dari kebebasan yang tak akan pernah ia rasakan lagi.

1
Pinkan Aritra
sukurin
Pinkan Aritra
kapok
Idefdenko Channel
semogah Arga membalas perbuatan istri nya
Idefdenko Channel
mantap, mendebarkan ...
Idefdenko Channel
mantap
partini
konflik nya masih lama ya Thor
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt
Mabuok Hape: ya KK, maklum lah baru belajar buat novel .. he he he, kadang salah, kadang alur entah kemana perginya, jadi harap maklum 🙏
total 3 replies
partini
cari buktinya susah banget ya ga aihhhh
partini
ayo ga bikin kejutan buat mereka berdua yg sadis yah
partini
Arga kan terzolimi Thor istri selengkong ko ada kata suami kejam ?
partini: oh sperti itu ok ,tapi bukan kejam sih menurut ku harga yg harus di rasakan istri nya karena berani selengkong
jadi ga kejam 🤭
total 2 replies
partini
kumpulan bukti sebanyak"nya cari momen acara yg penting di hadiri kedua keluarga dan tamu play lah tuh bukti like boom
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus aku suka dan udah aku kasih like, yang semangat bikin novelnya 👍👍
Mabuok Hape: makacih😍
total 6 replies
partini
lain ini lelaki yg di selingkuhi,,aihhh jadi suami kejam Dong masa iya balik ke lobang yg sama plus terkontaminasi cairan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!