Menikah sama Mantan?! GILA!!
Dunia sudah gila rupanya. Bagaimana bisa seseorang dari masa lalu yang pernah memberikan luka mendalam di hati, datang begitu saja dan menjadi calon pendamping di masa depan?! Hal itu dirasakan langsung oleh Olivia Audina Rasti yang kerap disapa Yaya. Wanita berumur 26 tahun itu, terpaksa menikahi Sang mantan karena perjodohan konyol kedua orangtuanya. Hanya karena, Yaya nampak tak lagi berhubungan dengan cowok ketika putus dengan Sang mantan, dan ajaibnya Sang mantan itulah calon suaminya.
Mantan yang bikin Yaya magok makan.
Mantan yang bikin Yaya gagal move on.
Mantan yang bikin Yaya nangis sebulan.
Dan dengan gampangnya kembali mendatanginya yang lebih parahnya lagi dengan status CALON SUAMI! Hell, ini sebuah ujian hidup yang sebenarnya untuk Yaya.
Entah bagaimana nasibnya nanti? Akankah benar Sang mantan adalah jodohnya?
Original story by @Aralest81
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aralest81, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Berjodoh sama Mantan?!
...Kata siapa dunia gak adil? Sok tahu! Dunia itu emang gak adil cmiw. -Bocah Prik...
...•°•🦋🦋🦋•°•...
HARI yang cukup menyenangkan bagi Yaya. Dimana hari-harinya mulai terbiasa bersama Alvin. Sebetulnya Yaya masih bingung dengan perjodohan, karena kalau boleh jujur Yaya masih tak tahu perasaan apa untuk Alvin. Ditambah Alvin juga jarang sekali bercerita tentang masa lalu, seakan mereka tak pernah bertemu di masa lalu. Yaya sebenarnya sangat penasaran dengan Alvin, entah itu Alvin yang dulu ataupun Alvin yang sekarang karena kepribadian Alvin itu benar-benar susah sekali di tebak. Tapi balik lagi dengan nasibnya, apa benar pendampingnya adalah Alvin? Sungguh banyak sekali pertanyaan dibenak Yaya yang masih belum terjawab semuanya.
Sebulan sudah berjalan, waktu pernikahan Yaya dengan Alvin tinggal satu bulan lagi. Yaya berharap ia dengan Alvin memang betul ditakdirkan bersama. Tidak berharap juga sih, tapi karena sudah lelah melawan takdir jadi Yaya sudah tak perduli lagi. Gak papa lah yang jadi jodohnya itu Sang mantan, dari pada tak punya jodoh. Betul tidak? Jadi manusia harus perbanyak bersyukur. Sebab itu, Yaya mengikuti saja apa yang menjadi kehendak-Nya.
"Ciee yang nikah bulan depan." goda Tata sambil memakan cheesecake yang baru dipesannya tadi.
Yaya dan Tata memilih pergi hangout di sebuah Kafe yang baru saja buka. Hitung-hitung membantu memperlancar rezeki orang, pikir keduanya.
"Eh tapi gue masih gak nyangka njir. Masih takut, dan sebetulnya gue belum siap." ucap Yaya nadanya terdengar melemah.
Tata menyuap cheesecake dan mengunyah sebentar, "gak usah dipikirin, udah dijalani aja, ntar juga nyantai sendiri kayak gue."
Yaya mendesah kecil dan kembali menyeruput jus mangga yang ia pesan; jus kesukaannya. Tak lama Arsen datang bersama seorang wanita cantik nan anggun.
"Hello guys! Udah dari kemarin gak ketemu, kok kalian makin jelek aja sih?" tanya Arsen bernada mengejek.
Tata berdecak lidah kesal begitupun Yaya. Tata menatap Arsen dengan tatapan tanya akan wanita yang dibawanya.
"Oh ya, kenalin. Ini Gadis, tetangga baru gue. Dia dari desa di bandung." ucap Arsen mempersilahkan Gadis untuk memperkenalkan diri pada Yaya dan Tata.
"Hai semuanya. Nama saya Gadis, saya pindahan dari Bandung." Suaranya lembut nan halus begitu enak didengar. Belum lagi wajahnya sangat ayu sekali. Benar-benar definisi wanita anggun yang sesungguhnya.
"Gak usah canggung gitu atuh, gue Yaya. Cewek tercantik di perkumpulan kita bertiga, iya gak Ta?" tanya Yaya menyombongkan diri.
Tata memutar bola mata malas, dan tersenyum pada Gadis. "Gue Tata."
Gadis tersenyum manis, sangat manis. Matanya melengkung kebawah seperti bulan sabit, dan itu sangat manis untuk dilihat.
"Salam kenal, Teh Yaya, Teh Tata." ucapnya sopan.
"Gak usah panggil Teh. Kita masih muda kok," ujar Yaya cepat. Dirinya risih saja dipanggil dengan sebutan Teteh. Jujur saja ini mah. Gadis lebih terlihat dewasa dibanding Yaya yang memang badannya mungil seperti anak SMA ditambah wajahnya juga imut.
"Iya. Maaf. Yaya kelas berapa?" tanya Gadis berbasa-basi.
Seketika Arsen dan Tata tertawa renyah mendengar pertanyaan polos Gadis.
"Kenapa? Gadis teh salah ngomong?" tanya Gadis khawatir.
"Enggak kok. Yaya itu udah berumur 26 tahun, jadi lucu aja masih ada yang nanyain Yaya kelas berapa." jelas Arsen, sudut matanya mengeluarkan air sedikit karena tak tahan geli yang menjalar diperutnya.
"Maaf, Gadis gak tahu. Maaf yah Yaya." ucap Gadis tulus.
Yaya tersenyum menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa. Tapi matanya melotot kesal pada Arsen dan Tata.
"Pesan apa aja yang kamu mau, biar aku yang bayar." ucap Arsen pelan.
"Itu sebabnya jarang mau main, Ar. Karena ada gebetan baru." ucap Yaya menyindir keras.
Ets jangan salah paham dulu! Yaya ini bukannya tidak suka dengan Arsen ataupun cemburu, ih jangan sampe! Bahkan tak akan pernah ada di sejarah mana pun Yaya suka dengan Arsen. Hanya saja Yaya sudah sangat malas dengan wanita yang di bawa Arsen, pasti ujungnya jadi mantan dan selalu menganggu Yaya agar di dekatkan kembali menyebalkan bukan. Sangat! Memang Arsen ini sedikit tak berakhlak, tapi Yaya berharap sih untuk kali ini saja, jangan sampai menyakiti si polos Gadis.
"Gadis ngambil jurusan apa?"
"Gadis ngambil jurusan ekonomi, cita-cita Gadis teh mau jadi guru." jawab Gadis sambil tersenyum penuh.
Arsen langsung menyuruh Gadis duduk, karena Gadis ini tipe wanita yang benar-benar seperti peliharaan kalau udah dekat pasti bakal sangat menurut layaknya tadi, dia tidak akan duduk jika saja Arsen tak mempersilahkan. Tapi walaupun bukan Arsen yang memerintah pasti matanya akan melirik Arsen untuk memastikan boleh atau tidaknya. Sangat bagus untuk dijadikan peliharaan bukan? Beruntung sekali si brengsek Arsen mengenal orang sepolos Gadis. Ets jangan ditiru, hanya untuk pria brengsek saja yang akan memanfaatkan kepolosan Gadis, dan untungnya Arsen tak seberengsek orang brengsek.
"Sama tuh kayak gue, gue juga dulu cita-citanya pengen jadi guru cuman sekarang nggak tertarik lebih suka ngelukis dan bikin novel." ujar Yaya.
"Alah taik lo! Dulu lo bilang cita-citanya pengen godain Om-Om biar dapet uang jajan banyak ampe guru keselek liur denger cita-cita tak berakhlak lo," celetuk tak berakhlah Arsen.
Gadis yang memang jarang sekali mendengar kata kasar sedikit beristigfar mendengar Arsen, Tata hanya menahan tawanya sedangkan Yaya melotot kesal pada Arsen.
"Itu dulu! Dulu gue goblok, gak usah diomongin lagi," seru Yaya jengkel dengan sikap Arsen yang sangat tak berakhlak itu, ingin sekali Yaya menampar wajah sok tampannya itu.
"sekarang lo bego yah," ucap Arsen dengan candaan seperti biasa.
"Gue gigit lo Sen!" seru Yaya kesal.
Gadis tersenyum geli melihat interaksi keduanya, sedangkan Tata sibuk memainkan ponselnya.
"Eh, udah siang nih. Gue harus layanin suami gue dulu yah, bye!" Tata langsung beranjak dari duduknya untuk segera pergi tapi cekalan tangan Yaya membuatnya memberhentikan langkahnya.
"Masih pengen main! Em ayolah, bentar lagi anter gue ke Toko kosmetik dulu baru deh pulang, gue maasih pengen sama elo, Ta." rengek Yaya layaknya anak kecil yang tak ingin di tinggalkan.
Tata menghela nafas dalam, berusaha untuk tak terlihat jengkel dengan sikap Yaya yang sangat kekanakan itu. "Gue gak bisa Ya, nanti aja yah."
"Em maunya sekarang! Gimana dong?" tanya Yaya manja.
"Ayolah ngertiin posisi gue! Kasian suami gue, di rumah sendiri." ucap Tata frustasi, dia itu paling tidak bisa menolak kemauan Yaya, ditambah Yaya bersikap manja seperti itu.
"Bercanda, udah sana. Jangan sampe lo jadi durhaka," ucap Yaya dengan cengiran kuda yang sangat manis untuk di lihat.
"Taik lo! Gue pamit semuanya," pamitnya setelah menoyor pelan kepala Yaya. Sialan memang.
"Hati-hati Tata," ucap Gadis.
"Oh ya, kamu gak mau pesen? Biar aku yang bayar," ucap Arsen lebih tepatnya sebuah perintah untu Gadis, dan Gadis hanya mengangguk dengan senyum lembut.
Dan Arsen langsung saja memesan tanpa meminta saran pada Gadis.
"Sumpah aneh banget sih jadi gue, punya calon suami tapi kayak jomblo ngenes, lah si Gadis jomblo tapi berasa nggak jomblo," dumel Yaya.
"Itu sih nasib Ya, makanya jadi orang itu baik jangan galak." ejek Arsen.
"Sikap gue tergantung sama sikap orangnya ye, gue harus pergi ke Toko kosmetik nih. Gak papa kan gue tinggal?" tanya Yaya.
"Nyantai, gue baru aja mau ngusir lo." ucap Arsen sangat menyebalkan untuk di dengar oleh telinga Yaya.
"Yaudah lah terserah, gue balik dulu yah Gadis. Kapan-kapan kita main lagi." pamit Yaya dengan memeluk Gadis lalu pergi sambil melambaikan tangan.
Selang beberapa jam, Yaya memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parker khusus pembeli di Toko kosmetik. Ia berjalan sebentar untuk sampai pada pintu Toko. Saat membuka pintu Toko, Yaya dikejutkan dengan kehadiran Alvin.
Yaya memasuki Tokonya secara perlahan tanpa di sadari Alvin yang tengah serius menatap layar ponselnya. Langkah Yaya langsung terhenti ketika seorang wanita berjalan menghampiri Alvin dengan gelagat centilnya.
"Udah?" tanya Alvin seperti biasa nadanya akan terdengar sangat datar beraura dingin.
"Belom, aku pengen minta saran kamu," ujarnya. Alvin menghela nafas dalam dan langsung mengikuti kemauan Si wanita yang tak Yaya kenali.
Yaya masih bergeming di tempatnya, tidak maju ataupun mundur. Ia layaknya patung yang tengah menatap serius Alvin, dan saat itu juga Alvin melihat Yaya tapi wajahnya tak menampakkan raut terkejut ataupun merasa di pergoki oleh Yaya. Membuat Yaya kembali ragu akan perasaannya.
"Sebentar," pamit Alvin dan langkah kakinya mendekat ke arah Yaya, dan menatap tajamYaya. Seakan Yaya-lah yang sedang ke pergok jalan.
"Kamu sendiri ke sini?" tanya Alvin saat tubuhnya hanya beberapa centi saja dengan Yaya.
"Gak usah sok kenal," ucap Yaya acuh dan langsung melangkah pergi ke luar Toko.
Alvin mendesah pelan dan memberi black card miliknya pada wanita yang bersamanya tadi. Dan langsung pergi mengejar Yaya.
Brak!
Pintu mobil Yaya yang hendak terbuka di tutup paksa oleh Alvin, wajahnya nampak kelelahan akibat berlari namun ia masih bisa menetralkan pernapasannya.
"Maksud lo apa?! Pintu mobil gue rusak lo harus tanggung jawab ya!" seru Yaya kesal.
"Kamu gak boleh menyimpulkan hal yang belum tentu benar, kenapa gak tanya aku siapa cewek tadi? Iyakan? Itu yang membuat sebuah hubungan kita kandas dulu, kamu gak pernah mau dengar penjelasan aku." Yaya bungkam, karena jujur yang di bilang Alvin semuanya benar. Yaya selalu berfikir negative tanpa mau mencari kebenaran yang pasti.
"Dia rekan kerja aku, temen masa SMA sama kayak Arsen." ucap Alvin pelan.
"Terus? Buktinya mana kalau dia cuman teman?" tanya Yaya masih bernada ketus. Walau pun sudah tertampar dengan perkataan Alvin. Ternyata memang benar, wanita tidak pernah bersalah. Ralat tidak pernah merasa bersalah, pikir Alvin.
Alvin merogoh ponselnya yang ia taruh di saku celana jeans-nya. Membuka galeri dan memperlihatkan poto kelulusannya semasa SMA pada Yaya.
"Dia sama kayak Arsen kalau bagi kamu," ucap Alvin.
Karena Yaya tak ingin merasa bersalah, lantas dirinya berpura-pura ada yang mengchatnya. Setelah berpura-pura membaca pesan, Yaya mendongkak dan hendak pamit.
"Jangan bohong, aku lebih pintar dari kamu." Ucap Alvin tiba-tiba.
Yaya menekuk alis bingung dengan pernyataan Alvin.
"Nggak jelas," cibir Yaya lalu hendak membuka pintu mobilnya.
"Ayok jalan!" ajak Alvin mencegah tangan Yaya yang akan membuka pintu mobil.
Dan pikiran Yaya benar-benar blank seketika. Ia kira yang di maksud jalan oleh Alvin itu berjalan kaki karena Alvin mencegah Yaya masuk. Tapi mungkin saja perkiraannya benar, karena Alvin juga pria aneh yang hanya ada satu didunia. Alvin itu suka beda dari yang lain.
"Kita kencan, di hari minggu yang sepertinya cuaca hari ini bagus," ucap Alvin lagi.
Yaya tersenyum aneh merutuki pikiran bodohnya, dan ia mengangguk refleks. Alvin tersenyum geli dengan tingkah imut Yaya, yang memang sangat asli tanpa dibuat-buat.
"Kunci mobilnya mana?" tanya Alvin.
"Eh?" Yaya refleks sungguh! Ia masih belum menyadari dunia nyata.
Alvin lagi-lagi tersenyum dengan sangat tampannya, membuat Yaya semakin tak sadar dengan dunia nyata. Di tambah lubang cacat di pipinya ikut terlihat benar-benar definisi sempurna.
"Ayok! Astaga Yaya, kamu kenapa?" tanya Alvin mulai khawatir karena dari tadi Yaya hanya diam dengan wajah linglung yang benar-benar seperti orang bego.
"Eng-enggak hehe, yuk lah!" Yaya langsung membuka pintu mobilnya. Dan memberikan kunci mobilnya pada Alvin.
Setelah mobilnya melaju di jalanan luas, keadaan hening mulai meraja rela di antara keduanya.
"Kita mau kemana nih?" tanya Alvin memecah keheningan.
Yaya sempat berfikir dahulu.
"Jangan terserah please!" mohon Alvin.
Dan tawa Yaya langsung pecah karena sadar Alvin akan menjadi pendiam jika di jawab terserah oleh seseorang. Dulu waktu masih pacaran, Alvin sempat mendiamkan Yaya selama sehari karena menjawab pertanyaan Alvin dengan kata 'terserah' lucu bukan? Ya begitulah Alvin, laki-laki terunik untuk Yaya.
"Kita ke Taman kota aja, udah lama gak main permainan anak Tk hehe," ucap Yaya polos dan dengan cengiran yang sungguh menggemaskan untuk Alvin.
"Sip!"
Alvin langsung melajukan kecepatan mobilnya agar cepat sampai pada tujuan. Dan Yaya mengulum senyum karena malu mengutarakan rasa senangnya. Jujur saja, hati sangat senang entah karena apa.
...Digantung dulu yah! Maaf banget yah, pokoknya maaf! Di ceritaku ini masih banyak bnget kekurangannya, aku tahu itu kok. Tapi setidaknya ksih vote dong. Aku jadi terpuruk gitu kalau yng ngasih votenya dikit....