Banyak Adegan 21+
Yang Masih dibawah umur harap bijak dalam memilih bacaan.
"Mas Aku Hamil" Begitu kata seorang wanita cantik yang usia nya baru menginjak 20 tahun.
"Kamu gak bohong kan ?" tanya Seorang pria yang bekerja sebagai dokter kandungan.
Wanita yang bernama lengkap Alsafa Margareth itu mengangguk.
Dan mulai hari itu dirinya resmi menjadi istri simpanan dari seorang pria yang jarak umurnya terpaut sangat jauh. Namun cinta Safa begitu tulus ia begitu sabar walau statusnya tak pernah menemukan titik ujung. Entah karena suaminya takut meresmikan hubungan mereka atau memang tak ada cinta untuk dirinya ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Yang Sulit
Safa meninggalkan Febri baginya tak ada gunanya membalas ucapan laki-laki itu, kekesalan dan kekecewaan nya terhadap Febri masih bertakhta.
"Ya sudah Mas pamit... Assalamualaikum" ucap Febri.
"Waalaikumsalam" Balas Safa singkat.
Febri melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu, mata Safa menatap sekilas lalu kemudian berbalik dan masuk kedalam kamar lagi, tak lupa membawa ponsel yang Febri berikan.
Belum ada keinginan bagi Safa untuk membuka ponsel yang berlambang Buah Apel di gigit itu, dadanya masih terlalu sesak saat mengingat kejadian tragis semalam.
"Seandainya malam itu aku tak menerima pertolongan Mas Febri, mungkin semua ini tidak akan terjadi padaku" batin Safa.
--------
Jalanan sore ini tak terlalu padat, Febri menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga ponselnya menggelegar di jok samping tempatnya mengemudi.
Febri meraih ponsel itu, ia pikir itu Safa namun nyatanya itu adalah Desi.
"Iya Des, kenapa ?" tanya Febri setelah menjawab panggilan telepon. Sebelah tangan nya masih memegangi stir mobil sementara satunya memegangi ponsel yang ia letakkan di daun telinga.
"Kamu dimana Mas ? kenapa gak ada di rumah ? bukan nya kamu gak kerja hari ini ?". tanya Desi beruntun.
"Lagi di jalan mau pulang, bentar lagi sampai"
"Aku tunggu di rumah !"
Panggilan pun terputus, Febri menghela nafas sebentar ia yakin akan terjadi pertengkaran lagi dengan Desi malam ini.
"Bagaimana jika Desi sampai tau kalau aku telah melakukan kesalahan Fatal ? ?" gumam Febri bingung.
Tidak berapa lama Febri telah tiba di rumah nya, benar saja sang istri sudah berdiri di teras depan dengan kedua tangan ia letakkan di dada. Febri berusaha bersikap santai seolah dirinya tak melakukan apa-apa.
"Dari mana ?" itu adalah kalimat utama yang meluncur di mulut Desi. Tatapan mata yang tajam membuat Febri enggan membalas menatap sang istri.
"Dari luar, kamu kapan pulang ?"
"Iya dari mana Mas ? dari luar itu banyak, kan bisa di jelaskan"
"Harus ya aku katakan semuanya padamu aku dari mana dan bertemu siapa ?? kok sekarang aku ngerasa gak ada privasi lagi dalam hidupku, semuanya harus ku kasih tau kekamu"
"Harus dong Mas, lagian kita ini suami istri jadi jangan ada yang di tutup-tutupi. Aku berhak tau semuanya sama siapa dan kemana kamu pergi"
Febri menatap sekilas sang istri, kemudian berlalu begitu saja. Melihat kepergian sang suami membuat Desi kesal.
"Mas aku belum selesai bicara !" teriak Desi yang langsung menyusul suaminya.
"Aku mau mandi, capek !" balas Febri
Desi menghentakkan kedua kakinya kelantai, rasanya begitu kesal dengan sikap Febri.
"Aku cuman takut kamu menduakan aku Mas !" batin Desi.
Itulah yang selalu Desi takutkan, suaminya akan berpaling dan meninggalkan dirinya yang memiliki kekurangan.
----
Malam sudah larut, sementara itu Desi belum bisa memejamkan matanya. Berbedea dengan Febri yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
Terkadang ada rasa kasihan di diri Desi karena selalu marah-marah pada Febri, namun semua itu selalu tak bisa ia tahan saat mengetahui Febri keluar tanpa sepengatahuan dirinya.
Desi sadar kalau dirinya terlalu posesif, tapi ini semua Desi lakukan karena ia teramat mencintai sang suami.
"Maaf kan aku Mas !" gumam Desi sembari mengecup kening Febri sekilas. Kemudian berbaring dan ikut berkelana kedalam mimpi.
---
Pagi-pagi sekali Febri sudah bersiap dengan pakaian kerjanya, hari ini ia akan ke klinik untuk kembali menjalankan profesinya sebagai dokter spesialis kandungan. Begitupun dengan Desi yang akan berangkat bekerja.
"Jam berapa pulang nanti Mas ?" tanya Desi. Sekarang nada bicaranya sudah sangat pelan tak seperti kemaren yang marah-marah gak jelas.
"Pagi ini sampai jam 02 nanti aku ke klinik, terus jam 03 aku ke rumah sakit, entar habis maghrib aku kembali ke klinik karena ada jadwal lagi" jelas Febri.
"Oh" Desi tampak menganggukan kepalanya, ia berjalan ke arah meja nakas dan memeriksa peralatan medis yang selalu suaminya bawa kemana-mana.
"Tak perlu di cek selalu, aku tak pernah menyimpan hal-hal aneh disana. Bahkan tas itu aku buka saat ada pasien saja"
Dengan segera Desi menghentikan kegiatan nya, kemudian menoleh kearah Febri "aku cuman ngecek aja Mas, siapa tau ada yang ketinggalan"
----
Sementara itu di rumah Safa baru saja selesai memasak sarapan, hari ini ia akan keluar dan mencari pekerjaan. Kebetulan ia juga ingin pulang kerumah lamanya karena ada yang ingin Safa ambil.
Semalam Safa sudah memutuskan untuk mencari kerja, ia tidak ingin bergantung terus pada Febri, syukur-syukur di tempat kerja nanti ia akan langsung di berikan tempat tinggal jadi ia bisa keluar dari rumah ini.
Setiap melihat kamar itu, Safa akan selalu terbayang tentang kejadian malam itu, hingga semalam Safa memutuskan untuk tidur di ruang keluarga saja. Itu lebih baik bagi Safa dari pada harus tidur dengan bayangan menyakitkan itu.
Saat hendak mengambil piring, tiba-tiba ada suara seseorang yang berjalan kearahnya. Safa menghentikan langkahnya dan melihat siapa yang datang.
"Mas Febri" gumam Safa demi mendapati sosok Febri sudah berdiri tak jauh darinya.
"Kamu mau kemana Fa ? kenapa rapih sekali pagi ini ?" kening Febri mengkerut.
"Aku mau keluar sebentar, dan aku mau cari kerja Mas.. Aku tidak mungkin bergantung terus sama kamu"
Kening Febri semakin mengkerut, lipatan kecil begitu nampak disana. Namun Safa tak peduli ia justru melanjutkan kegiatan nya mengambil piring untuk sarapan.
"Aku tak mengizinkan kamu kerja !" ucap Febri tanpa aba-aba.
Mendengar itu Safa langsung tercengang, ia meletakkan piring keatas meja dan mendekati Febri.
"Kenapa ?? siapa kamu Mas yang tak mengizinkan aku kerja.? Kita ini hanya orang asing dan selama akan tetap seperti ini, di antara kita tak ada hubungan darah sedikitpun" balas Safa dengan nada kesal.
Febri terdiam, ia tau kalau antara dirinya dan Safa tak ada hubungan darah sama sekali. Namun entah kenapa ia tak tega melihat wanita berparas cantik itu harus bekerja.
"Mas mau kamu jadi kekasih ku !" balas Febri dan kembali membuat Safa tercengang.
"Kau gila ya Mas, kamu ini sudah punya istri dan aku tidak mau jadi duri dalam rumah tangga mu"
"Dengarkan Mas dulu Fa, kamu harus jadi kekasih Mas hanya sebulan saja, jika bulan depan kamu datang bulan maka kamu akan Mas biarkan pergi.. Kita gak pernah ada yang tau Fa apa kejadian malam itu tidak akan menjadi janin di rahim mu"
Benar memang yang Febri katakan. Bagaimana kalau kejadian malam itu akan menjadi janin di rahim nya. Namun harapan Safa jangan sampai,. selain ia belum sanggup menjadi ibu Safa juga gak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Febri.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...
HAI-HAI AKU BALIK LAGI NIH, TERIMA KASIH YANG MASIH SETIA MENUNGGU !! MULAI HARI INI INSYA ALLAH NOVEL INI AKAN UPDATE TIAP HARI..
Klo kejadian kaya Safa harusnya Febri jujur sama istrinya klo dia sudah niduri perempuan lain walau karena kecelakaan. Istrinya mo terima apa gak itu sudah jg resiko Febri dan tanggungjawab sudah merusak kehormatan perempuan lain. Ini malah berbohong dan bohong terus lebih baik Safa pergi deh tinggalin Febri daripada tersakiti , lebih baik hidup bahagia bersama anakmu. Soal rezeki dan jodoh kan dah ada yg atur. Upps lupa deh ini kan novel 😄😄😄 jelas yg atur author donk. Safa selamat berjuang aja ya.