Aileen Grizelle Azalea atau biasa disapa Aileen ini kabur dari rumahnya karena tak mau dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
Saat kabur dari rumah,entah kenapa ia selalu bertemu dengan cowok yang selalu membuat moodnya down.
Hingga pada suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan kedua orang tuanya dan orang tua cowok yang akan dijodohkannya dengannya.Dan mereka kaget karena Aileen kabur tapi malah ditemukan berdua dengan cowok yang akan dijodohkannya.
Setelah itu apakah yang akan terjadi?
Yukkk simak ceritanya...
p.s. Jangan terlalu dianggap serius ceritanya. Ini hanya sebuah fiksi. So, enjoy aja! but, cerita ini masih banyak kekurangan. Dan bagi yang gak suka pernikahan dini, gak usah baca daripada baca tapi berkomentar yang gak enak! Okay?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RiniAngraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hahhh?
Budayakan like sebelum baca...
Happy reading
.
.
.
"Mama?!" Kaget Aileen begitu melihat siapa yang memanggilnya.
"Anjirrr gue ketahuan!" Batin Aileen.
"Aileen kamu kemana aja Nak?" Tanya Vina, -mamanya Aileen- sambil memeluk Aileen yang hanya terpaku. Tak menyangka akan ditemukan secepat ini. Tidak sesuai rencananya yang sudah tersusun rapi di otaknya.
"Jawab Mama, Nak!" Ucap Vina melepaskan pelukannya kepada Aileen dan menatap putru semata wayangnya itu.
Sedangkan Aileen masih tidak mau mengeluarkan suaranya. Untuk apa mengeluarkan suara jika tak tau harus mengatakan apa? Cuman Aaaa eeee anuuu ituuu apaaaa. Ck! Pemborosan suara:v
Aileen melihat ke belakang mamanya yang terdapat sepasang suami istri yang duduk berdampingan. Mereka tampak seumuran dengan mamanya.
"Kamu pulang ke rumah ya?" Bujuk Vina sambil mengusap lengan Aileen sebagai usaha membujuk.
"Aileen gak mau pulang!" Ucap Aileen yang akhirnya membuka suara. Sedangkan Vano yang berada di sebelahnya hanya memandang Aileen lekat. Entah apa yang dipikirkan cowok itu.
"Kenapa? Kamu gak kasihan sama Mama dan Papa? Anak perempuan satu-satunya tiba-tiba menghilang. Entah apa yang terjadi. Entah kamu diculik atau diapakan di luar sana. Kamu makan apa. Kamu sehat atau tidak. Itu semua terus terpikirkan oleh kami."
"Aileen gak mau pulang. Ntar Mama sama Papa jodohin Aileen!"
"Jadi benar? Kamu sudah tau kalau kamu mau dijodohkan?" Tanya Vina.
"Iya," jawab Aileen.
"Kenapa kamu tidak mau? Ini buat kebaikan kamu juga. Supaya ada yang bisa menjagamu."
"Aileen gak bisa nikah sama orang yang Aileen gak cintai dan mencintai Aileen!" Jawab Aileen.
"Tapi..."
"Ma. Aileen gak bisa. Kalau aja Aileen suka, Aileen cinta sama orang yang bakal dijodohin sama Aileen, Aileen akan senang hati, Ma! Tidak perlu Mama memaksa dan membujuk Aileen seperti ini!" Potong Aileen.
"Tapi kalian bisa saling mencintai seiring berjalannya waktu. Kamu bisa belajar mencintainya," ujar Vina.
"Sudahlah Vina. Jangan dipaksakan," ucap seseorang yang tadi dilihat Aileen duduk di belakang mamanya. Aileen menebak bahwa suami istri di depannya kini adalah orang tua cowok yang bakal dijodohkan dengannya.
"Tapi Reva. Kita sudah sepakat," ucap Vina merasa tidak enak.
"Tidak usah dipaksakan. Lagipula tadi kamu bilang tidak bisa melanjutkan perjodohan anak kita karena anak kamu kabur," jelas Reva.
"Tapi itu tadi. Sekarang aku sudah menemukan anakku. Jadi kita akan menjodohkannya lagi," balas Vina.
"Ma. Sekali lagi Aileen gak bisa!" Ucap Aileen mulai kesal.
"Kenapa? Karena tidak cinta? Kamu bisa belajar mencintainya," balas Vina. Ia tetap dengan pendiriannya untuk menjodohkan anak mereka.
"Mama tega ya nyuruh Aileen mencintai orang lain di depan orang yang Aileen cintai," ucap Aileen yang membuat semuanya kaget.
"Ma. Kenalin. Ini Elvano. Pacar Aileen," lanjut Aileen memperkenalkan Elvano kepada mamanya sambil menggandeng lengan Elvano.
Elvano hanya pasrah menuruti permainan Aileen. Karena jika tidak, pasti ia akan disiksa cewek itu dengan omelannya. Atau ada alasan lain? Entahlah.
"Elvano, Tante." Salim Vano.
"Jadi ini pacar kamu?" Tanya Reva.
"Iya Tante," balas Aileen dengan senyumnya.
"Vano. Benar yang dikatakan Aileen?" Tanya Rendra suami Reva kepada Vano. Sedangkan Vano menatap Aileen lekat yang dibalas anggukan oleh Aileen dan remasan dilengannya yang digandeng cewek itu.
"Iya, Pa" jawab Vano yang membuat Vina kaget.
"Jadi ini anak kamu Rev?" Tanya Vina yang membuat Aileen membelalakkan matanya.
Hahhh?
xxx---
*Kini Aileen duduk di samping Mamanya yang sedang sibuk membahas perjodohannya.
Ya. Aileen tidak bisa menolak lagi.
"Jadi ini anak kamu Rev?" Tanya Vina yang membuat Aileen membelalakkan matanya.
"Iya ini anak aku. Elvano" jawab Reva senang.
Sedangkan Aileen syok mendengarnya. Dia kira Vano tadi mengatakan 'Pak' bukan 'Pa'.
"Vano. Bener?" Tanya Aileen memastikan.
"Iya," jawab Vano yang membuat Aileen down. Tadinya ia mengenalkan Vano sebagai pacarnya agar ia gagal dijodohkan, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Sekarang kamu tidak lagi menolak perjodohan ini kan? Kamu bakal menikah sama pacar kamu," ucap Vina memandang anaknya senang. Memang Vina belum tau seperti apa rupa anak Reva dan Rendra. Ia hanya mengetahui jika anak mereka lebih tua setahun dari Aileen. Selebihnya tidak. Dan soal tampang, ia yakin jika anaka mereka menawan seperti Reva dan Rendra.
Aileen pun tak ada pilihan lain selain mengangguk. Sudah kepalang tanggung. Lagi pula ia sudah kemakam omongannya sendiri. Aileen jadi merutuki dirinya sendiri kenapa ia mengatakan hal seperti itu tadi*?
"Huuuuffffttttt!" Aileen menghela napas dan memandang Vano di depannya. Tidak menyangka ia bakal menikah dengan cowok di depannya ini. Cowok yang membuatnya menabrak pohon, cowok yang selalu menolongnya, cowok yang merupakan bosnya, cowok yang sebentar lagi menjadi tunangannya.
"Jadi 3 hari lagi kalian akan tunangan!" Ucap Vina pada Vano dan Aileen.
"Dan 2 minggu lagi kalian akan menikah!" Timpal Reva.
"Tapi apa ini gak kecepetan Ma, Tan?" Tanya Aileen pelan.
"Lebih cepat lebih baik sayang. Tante udah gak sabar pengen kamu jadi menantu Tante," ucap Reva.
"Acaranya pertunangannya dimana Ma?" Tanya Vano.
"Di rumah calon tunangan kamu dong!" Jawab Reva.
Akhirnya pembicaraan tentang pertunangan pun telah selesai. Semuanya pun memutuskan untuk pulang.
"Aileen kamu pulang ke rumah kan?" Tanya Vina.
"Iya Ma. Tapi Aileen ambil barang-barang dulu sama Vano," jawab Aileen pelan karena moodnya belum baik.
"Baiklah. Mama duluan. Vano, jagain anak Tante ya."
"Iya, Tan."
Kini hanya tinggal Vano dan Aileen di meja itu.
"Maaf," ucap Aileen menundukkan kepalanya.
"Maaf? Kenapa minta maaf?" Tanya Vano heran.
"Ya karena gara-gara gue bilang kalau kita pacaran jadinya kita dijodohin. Tadinya gue pikir dengan begitu gue gak bakal dijodohin kalau gue punya pacar. Mungkin emang gak akan terjadi sihh seandainya yang dijodohin sama gue bukan lo," jelas Aileen.
"Jujur saya kaget tadi saat kamu bilang kalau kita pacaran. Tapi saya ngerti dan berniat nolong kamu. Tapi ternyata malah saya yang dijodohin sama kamu."
"Lo gak marah?" Tanya Aileen melihat respon Vano yang biasa-biasa saja.
"Kenapa saya harus marah?"
"Ya karena lo harus nikah di usia muda."
"Pertanyaan itu lebih tepat buat kamu. Kamu masih kelas 11. Sedangkan aku sudah mau lulus. Aku juga punya pengahasilan buat nafkahin istri saya nantinya walaupun tidak begitu banyak. Mungkin ini adalah takdir saya nikah di usia seperti ini."
"Gue. Gue nggak ada pilihan lain. Gue harus ikhlas nerima kan?"
"Ya. Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas pasti akan berakhir baik."
"Udah ah mewek-meweknya. Pulang yuk!" Ajak Aileen.
"Tidak mau belanja dulu? Tadi 'kan saya udah janji."
"Emmm yaudah dehhh. Yukkk!"
Mereka pun bergandengan keluar dari restoran itu.
-TBC-
di hp dulu x ya... 🤗🤗🤗
padahal disini dy yg paling nyebelin