Tahun 2008, ketika sistem pendidikan di Indonesia masih diwarnai kekerasan, aku seorang anak sederhana dari keluarga sederhana, bermimpi bahwa sebuah sebuah pendidikan dapat mengubah nasibku. Dengan pendidikan aku dapat menjadi apapun.
Aku ingin lulus Fakultas Kedokteran.
Aku ingin lulus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Aku ingin mewujudkan impian Ayah, karena Ayah adalah pahlawan separuh nyawaku. Tak ada lagi yang aku inginkan selain mewujudkan impiannya. Senyumnyalah yang pertama kali kulihat karena aku dilahirkan ke dunia. Senyuman harapan kepadaku, anak ajaib pemetik bintang harapannya. Kepadakulah semua harapan Ayah bertumpu. Selama sembilanbelas tahun Ayah menunggu akhirnya aku lulus Fakultas Kedokteran, menjadi calon dokter satu- satunya dalam generasi kami. Aku berhasil mewujudkan impian ayah.
Takdir berkata lain, aku divonis buta warna parsial. Akankah aku mencapai cita- citaku, berhasil memetikkan bintang untuk ayah, pahlawan separuh nyawaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulil jamil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Lautan Cahaya
Akhir Agustus 2005
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang ******
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
(Puisi Aku, Chairil Anwar- Maret 1943)
Tidak seperti tetes hujan yang pasti akan berhenti, waktu tak pernah habis. Waktu terus beranjak
meninggalkan lembaran- lembaran lama kehidupan. Kemudian memasuki lembaran takdir baru setiap hari. Tak pernah berhenti sampai kematian datang, untuk itu insan tidaklah boleh diam, mesti move on bersama waktu. Bahkan waktu memaksa langkah kaki untuk berlari.
Aku berlari meninggalkan semua kenangan. Seperti kata ayah, Sekolah di SMA kota berarti memulai hidup baru. Akan ada banyak hal yang berubah dalam hidupku. Berubah seperti berubahnya ukuran cakram
matahari yang selalu tampak lebih besar pada pagi hari kemudian mengecil menjelang siang. Matahari pagi yang tampak dalam oplet trayek dua kota kecil.
Oplet trayek dua kota kecil selalu melewati jalan lintas rumahku pada pagi- pagi sekali. Apabila
terlambat sebentar saja, maka aku pasti ketinggalan. Tidak ada lagi kendaraan setelah itu. Aku pasti terlambat. Untuk itu aku harus berdiri di tepi jalan,
memakai seragam putih abu- abu, menunggu ditemani embun yang menghambur oleh berkas sinar matahari pertama, agar tidak ketinggalan oplet trayek dua kota kecil itu.
Di dalam oplet trayek dua kota kecil itu, sering aku memperhatikan kehidupan. Ada seorang Bapak
penjual kerajinan tahu, gura aren dan segala macamnya. Ia selalu berharap apa yang dibawanya habis terjual di Kota Teluk Kuantan hari ini, demi anak- anaknya. Ada pula serombongan ibu- ibu penjual sayur yang senantiasa bercerita
akan tekanan ekonomi yang semakin menghimpit landasan pendapatan mereka. Ada juga seorang lelaki paruh baya yang setiap pagi meniupkan asap rokok. Asap itu menghambur ke jendela dimana aku duduk. Aku duduk di tepi, di dekat jalannya
udara sehingga asap rokok itu menyebar ke kepalaku, setengah jam lebih aku merasa diasapi. Tapi lelaki perokok itu hanya sesekali aku lihat di oplet. Aku
lebih suka tidak ada dia.
Di tengah alunan music Slow Rock, mobil melaju lembut. Selalu aku dengar ibu- ibu penjual sayur mengeluh atas kenaikan harga bahan pokok oleh
pemangkasan subsidi BBM. Salah satu diantara mereka menanyakan tentang masa jabatan Bapak Presiden yang baru, “ Seberapa lama lagi ?”
Seberapa lama lagi.
Ya. Seberapa lama lagi aku akan menyelesaikan SMA. Lepas dari semua kesulitan dan kesusahan, untuk menikmati hasil jerih payah selama ini. Ketika aku pergi ke sekolah, anak SMA di desaku baru akan mandi. Ketika aku pulang, sesampainya di depan pintu rumah, selalu anak SMA di desaku sudah hilir mudik pergi bermain. Mereka berkeluyuran
bermain menikmati masa remaja mereka. Sementara aku tidak mampu, aku istirahat memulihkan badan setelah sembilan jam di sekolah, menerima pelajaran dengan energi tambahan sepiring lontong. Apabila hari minggu anak SMA di desaku berlibur. Aku justru membantu bapak dan juga emak, kami mengumpulkan sadapan getah karet, untuk ongkos ke sekolah. Pada waktu lain, aku menyiapkan tugas-
tugas sekolah. Otomatis, aku hanya punya sedikit waktu untuk bermain, bersosialisasi dengan anak SMA di desaku. Benarlah kata ayah bahwa akan ada banyak hal yang berubah dalam hidupku.
Seberapa lama lagi aku akan kuliah, belajar hanya mempelajari pelajaran yang aku suka, biologi, juga ilmu fisika dan kimia, science. Belajar mengambil hikmah pada apa- apa yang Tuhan tunjukkan di alam, seperti cakram matahari yang aku lihat dari oplet trayek dua kota. Ketika oplet itu melintasi jalan di sisi
rawa- rawa yang membentang, di ujung rawa- rawa itu matahari pagi telah lahir sempurna. Lingkaran matahari telah tampak bulat utuh. Ukuran matahari pagi lebih besar dari pada matahari di siang hari. Namun sinar matahari pagi hangat penuh semangat sedangkan matahari tepat tengah hari lebih terik.
Aku tidak tahu mengapa cakram matahari jauh lebih besar pada pagi hari di bandingkan pada siang hari.
Sama seperti aku tidak tahu mengapa dalam jiwa manusia ada tersimpan satu kejahatan, menganiaya orang lain, tanpa pertimbangan kasih sayang.
Semasa kecil dulu, dari kakek. Aku pernah mendengar cerita tentang suatu lautan. Di dalam surga itu ada lautan yang sangat indah dari pada lautan apa pun dimuka bumi ini. Lautan itu bernama Arrahman, lautan kasih sayang, untuk melihat lautan itu kita mesti menjadi manusia yang baik.
***
Pelajaran olahraga dilaksanakan oleh beberapa kelas di lapangan sekolah. Hari ini ada tiga kelas
yang secara kebetulan memiliki jadwal pelajaran olahraga pada waktu yang sama. Lapangan sekolah tampak ramai oleh murid yang tengah berolahraga. Olahraga dimulai dengan pemanasan, yaitu senam peregangan yang dilanjutkan berlari- lari
mengelilingi lapangan. Setelah itu Bapak Guru memberikan materi Pembelajaran Penjaskesrek,
biasanya tentang atletik, ada permainan bola semacam Bola Volley, Bola Basket.
Apabila Bapak Guru telah selesai menyampaikan materi, anak- anak dapat bermain
vollly atau bermain basket di lapangan.
Bagi anak- anak yang tidak kebagian tempat untuk bermain dapat menonton, beristirahat, atau mengobrol di bawah pohon di sisi lapangan selama dalam pengawasan guru.
Aku mendengar obrolan anak kelas 3 di bawah pohon, yang kebetulan kami berada di bawah pohon yang sama. Aku dapat menyimpulkan mereka sedang membicarakan jalan hidup setelah tamat SMA, kuliah atau bekerja. Ada sesuatu yang menarik dari obrolan mereka, tentang sebuah hadiah dari perusahaan minyak di bumi Riau. Hadiah itu berupa
beasiswa yang diberikan kepada anak kelas tiga dengan nilai terbaik. Sebuah darmasiswa, pendidikan gratis dengan jaminan bekerja di perusahaan minyak
tersebut.
Aku tahu pasti tidak ada yang melihat bahwa sebuah lampu telah menyala benderang di sudut kepalaku.
Minyak itu mahal, kenaikan harga minyak sebesar dua ribu rupiah dapat menghebohkan pemberitaan di sebuah negara sekaya Indonesia. Kenaikan harga
minyak dapat menaikkan harga- harga lainnya. Tentu pastilah, bekerja di perusahaan minyak adalah kehidupan masa depan yang baik, memiliki jaminan untuk hidup bahagia, membahagiakan ibu dan bapak. Bekerja di perusahaan minyak akan
memiliki uang yang dapat mengganti semua jerih payah pengorbanan emak dalam mencari uang biaya sekolah. Oleh karena itu aku menghampiri sekelompok anak kelas tiga itu untuk bertanya.
“Maaf Bang, beasiswa dari perusahaan minyak?” Sapaku.
“Oh tak apa, Ya”
“Apa itu Bang ?” Tanyaku kembali.
“Sebuah beasiswa yang diberikan oleh perusahaan minyak terbesar di provinsi ini untuk anak dengan
nilai terbaik, kamu harus menjadi nomor satu”
“Bukan itu saja dik “ Tambah yang lainnya.
“Oh ya, apalagi Kak ?”
Tanyaku pada perempuan yang di sebelahnya.
“Untuk mengikuti seleksi, kamu harus menjadi juara umum pada akhir semester di kelas tiga, minimal juara tiga umum”
“Setelah itu dapat ?”
“Belum, akan di tes kembali menjadi satu orang perwakilan sekolah, yang terbaik diantara tiga orang itu”
“Setelah itu dapat ?”
“Belum lagi, setelah menjadi wakil sekolah kamu harus mengikuti tes lagi di tingkat kabupaten,
mengalahkan anak- anak dari SMA lainnya sekabupaten, paling rendah peringkat kelima.”
“Lima orang dari setiap kabupaten, mereka itulah yang akan mengikuti karantina oleh perusahaan minyak untuk menerima besaran beasiswanya”
“Sejauh itukah prosesnya Bang ?”
“Untuk sukses tidak semudah membalikkan telapak tangan bukan ?”
“Iya pasti “ Aku setuju.
“Jaminan pendidikan dan bekerja dari perusahaan minyak adalah sesuatu yang hebat. Kita akan sukses,
memiliki uang yang cukup bahkan lebih.” Kakak kelasku menjelaskan lebih.
“Untuk orang tua, dan seorang yang kita cintai …” Tambah kakak kelasku itu. Ketika dia menucapkan
kata cinta, suaranya terdengar dalam. Memang, kita mesti memiliki jaminan hidup, pekerjaan yang keren untuk mendapatkan uang, agar bisa memberikan kemudahan dan kebahagiaan untuk siapapun
yang kita cintai.
Kemudian bel istirahat berbunyi. Pembicaraan kami terhenti. Kakak kelasku itu pun pergi. Aku terdiam
berpikir. Dalam pikiranku, menjadi satu diantara tiga, lalu menjadi satu diantara lima, yang artinya menjadi tiga diantara dua ratus lebih kemudian menjadi lima diantara semua anak kelas tiga yang ada di Lembah Kuantan.
Nanti.
kenapa aku baru ketemu cerita sebagus ini..
sayangnya yg ngeLIKE sedikit sekali..
baru mampir,baru nemu,baru beberapa chapt udah byk edukasi yg didapat
Saya selalu kagum dengan cara penyampaian Anda.
buka bab awal langsung suka
karena di suguhin sama puisi..
lanjut baca... suka sama karyamu kak...
baru awal udah d gambarin gimana perjuangan seorang ayah buat anaknya...
bakal lanjut bca lagi... 😊
tetep semangat kak buat karya2nya.. 🤗
Mampir novel saya yg masih belajar nulis ya kak IT'S HARD TO LOVE YOU,, good luck
tapi tidak ada kata terlambat,tetap kisah ini membuat saya bersyukur sebagai penyandang buta warna parsial.
karena kekurangan yg d miliki seseorang bukanlah jeruji yg mengurung keterbatasan.
setidaknya dg segala kemauan pasti ada jalan.
terimakasih telah menyuguhkan cerita ini authoooooorr semoga sukses!!!