"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu serangan
Sigit pulang dalam keadaan gelisah, di rumah bahkan Sigit terus mondar-mandir karena dia khawatir pada Kenanga yang sepertinya akan jadi sasaran Radini berikutnya karena Kenanga sempat menggagalkan usaha Luca untuk mencelakai Dimas dan teman temannya.
"Jangan khawatir nak, Kenanga punya energi Putri di dalam tubuhnya, itu sebabnya dia seperti orang mati, kamu lupa kalau Kenanga juga sudah pernah di nyatakan mati" ucap Badaruddin
"Meninggal yah bukan mati" protes Sigit
"Sama saja" ucap Badaruddin
"Sigit khawatir karena Kaelan juga kan tidak di sini, dia di kampung Dara bersama neneknya mengurus lahan kami" ungkap Sigit
"Dia aman, Radini tidak akan bisa menyentuhnya karena kampung Dara adalah wilayah Gama dan Putri, di tambah, Wisnu juga mungkin akan kembali ke sana karena Dasih punya rumah sendiri di kampung itu" ucap Badaruddin
"Bapak akan kembali ke kampung Dara?" tanya Sigit
"Iya, Wisnu akan kembali karena dia tahu Kaelan butuh sosok orang tua di rumah besar itu, Putri dan Gama juga akan menjaganya" jawab Badaruddin membuat Sigit tenang.
"Khanza, Khanza juga bukan manusia biasa Sigit, dia keturunanmu dan Kenanga, kalian berdua punya darah para pemilik ilmu putih, Kenanga dari neneknya dan kamu dari buyut mu" ungkap Badaruddin
Brak.
"Innalillahi, ada gempa" ucap Sigit saat rumahnya tiba tiba saja bergetar.
Badaruddin waspada, dia berubah ke wujud aslinya karena itu bukan gempa, itu adalah sebuah serangan dari mahluk lain yang mencoba menghancurkan pagar gaib di rumah Sigit dan Kenanga.
"Mas, ada gempa mas, Khanza di luar untuk mengambil kerajinan tangan yang dia buat, tolong panggil dia supaya masuk" ucap Kenanga yang sedang menyiapkan makan malam.
"Iya" jawab Sigit yang tidak mau Kenanga khawatir
Sigit dan Badaruddin keluar rumah, di luar ternyata Khanza sedang melawan sosok sosok kecil berwarna merah dan kepalanya bertanduk, sosok itu punya jumlah yang banyak dan mereka semua terus meludahi Khanza yang terus menghindar dan sesekali menendang mahluk mahluk itu saat ada kesempatan.
"Khanza masuk nak biar ayah yang urus mereka" ucap Sigit segera membantu Khanza begitupun Badaruddin.
"Mahluk apa ini yah?" tanya Khanza
"Ayah juga tidak tahu nak" jawab Sigit
"Mereka para keturunan Luca, anak iblis" ucap Badaruddin yang melihat kemiripan mahkluk makhluk itu dengan sosok Luca yang di jelaskan Kenanga.
Khanza ingin masuk ke area dalam halaman rumah Sigit tapi jalannya kembali di halangi makhluk itu yang terus meludah ke arah Khanza.
"Senjatanya ludahnya, langsung kamu tebas saja mereka, lumayan mengurangi penjahat" ucap Badaruddin
"Baik ayah" jawab Sigit mengeluarkan kujang miliknya untuk menyerang para makhluk itu.
Khanza juga kembali melawan, dia tidak bisa masuk ke halaman rumah Sigit jadi dia memilih untuk menendang makhluk makhluk itu yang langsung terbakar setelah di tendang Khanza.
"Mau nantang keturunan Rajasa hah! kalian tidak takut kalau aku musnahkan kalian semua!" kesal Khanza terus menendang makhluk makhluk itu.
Sigit pun sama, dia menebas, menusuk bahkan melempar makhluk makhluk itu yang punya jumlah mungkin sampai ratusan, karena Badaruddin saja sudah mencakar banyak makhluk yang langsung terbakar setelah kalah itu.
Pyar. Pyar. Pyar.
Sleb.
"Nak, hati hati rambut kamu" ucap Sigit saat dia melihat sesosok makhluk yang berusaha menarik rambut Khanza tapi langsung dia lempar dengan kujang miliknya.
"Iya yah" jawab Khanza kembali melawan.
Setelah beberapa menit melawan, Khanza akhirnya bisa masuk ke halaman rumahnya karena jumlah makhluk itu sudah menyusut.
"Gggrrrr.... jangan ganggu cucuku!" bentak Badaruddin melempar lima makluk yang tersisa dan langsung terbakar jadi abu.
"Alhamdulillah" ungkap Sigit melihat sekeliling dan memastikan para makhluk itu benar benar sudah pergi dari sana.
Sigit terduduk, dia sedikit lelah bahkan sudah berkeringat karena api yang keluar dari tubuh para makhluk itu benar benar membuat mereka kepanasan.
"Yah masuk yah jangan sampai bunda curiga" ucap Khanza dan Sigit segera bangkit tapi terlambat.
Ceklek.
Kenanga keluar karena suami dan anaknya itu tak kunjung masuk setelah makanan siap dan getaran berhenti, bahkan saat membuka pintu rumahnya dia malah melihat suami dan anaknya itu mandi keringat dengan tubuh terlihat kelelahan.
"Astagfirullah, kalian kenapa? jangan bilang kalian latihan dengan ayah Badaruddin!" kaget Kenanga
"I.. iya Kenanga, kami latihan tadi untuk berjaga-jaga" jawab Sigit tersenyum manis.
"Cepat ganti pakai kalian dan bersih bersih, makanan sudah siap dan si bungsu sudah lapar" ucap Kenanga kembali masuk.
"Untung bunda tidak dengar keributan di sini" ucap Khanza lega
"Kakek yang meredam suaranya supaya ibu kamu tidak curiga, tapi, makhluk makhluk kecil itu sudah membuat kita kewalahan, Kakek yakin pemimpinya lebih dari itu jadi Khanza, kamu harus berhati hati" ungkap Badaruddin
"Iya kek, tadi itu Khanza mau ambil kerajinan tangan yang Khanza jemur tadi siang, Khanza lupa tapi pas mau kembali mereka tiba tiba muncul" jawab Khanza
"Hei kalian! kenapa lama!" teriak Kenanga
"I.. iya sayang" jawab Sigit berlari masuk
"Ayah penakut, sama bunda saja kalah" cibir Khanza
"Khanza!" teriak Kenanga
"I.. iya bunda!" jawab Khanza juga berlari masuk
"Ayah anak sama saja" cibir Badaruddin memilih untuk berkeliling mencari barang yang mungkin bisa membantunya mengalahkan Luca dan dia menemukan setitik darah makhluk itu yang ada di daun bunga mawar milik Kenanga.
"Semoga ini bisa membantu" gumam Badaruddin mengamankan darah itu.
••••••••••••••
Di rumah Bintang.
"Dimas, kenapa Sigit belum datang?" tanya Bintang karena acara tahlilan akan segera dimulai.
"Mereka di serang makhluk kerdil berwarna merah katanya pa" bisik Dimas
"Innalillahi, apa ada yang terluka?" tanya Bintang khawatir
"Tidak ada, tapi kata Sigit mungkin mereka mengincar Khanza tadi" jawab Dimas
"Khanza? apa dia terluka?" tanya Dirga
"Tidak, tapi katanya mereka jadi tidak bisa hadir" jawab Dimas
"Baiklah, yang penting mereka selamat, rumah Lingga juga sepertinya harus di bersihkan, ada banyak sisa mayat mayat itu di halaman belakang, baunya menyengat sekali" ucap Bintang
"Besok kita bersihkan pa, tapi kapan Tante Rania pulang? tidak mungkin kan akan terus di rumah Om Galuh? Kita juga pasti harus pindah dari sini" tanya Dirga
"Katanya nanti setelah rumah kita selesai di perbaiki" jawab Bintang
Tahlilan itu langsung di mulai karena keluarga Galuh juga sudah datang, suasana kembali khidmat karena do'a mulai di lantunkan oleh Bintang, Herman kembali menitikkan air mata tapi dia terus berusaha kuat untuk Harsa anaknya yang juga merasa terpuruk bahkan Harsa tak di ijinkan keluar rumah sama sekali setelah dia hampir mengakhiri hidupnya karena mengikuti sosok Sumi yang membawanya ke arah jembatan kampung Curug.