NovelToon NovelToon
Montir Ganteng

Montir Ganteng

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:427.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dareen

Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.

Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.

Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 7 (Dilema)

Setelah gue menjauh. Nila pun duduk di tepi ranjang, dia terdiam dan gue menunggu jawaban.

Hening sesaat.

Air mata yang keluar di pipi, ia usap. Gue belum berani mendekatinya sebelum ia menjelaskan apa yang terjadi. Gue hanya memandang dari sudut kamar hotel. Nila tertunduk dan mulai bercerita.

"Maafkan Aku, Dareen."

Gue terdiam dan masih memperhatikan.

"Aku sudah dinodai Bosku. Aku kini telah hamil dua bulan. Jujur, Aku ingin menjebakmu agar Kamu mau menikahiku," ucap Nila lirih.

"Kenapa, Lu lakuin itu sama Gue? Sedangkan Kita juga baru bertemu. Kenapa juga lu gak minta pertanggung jawaban Bos Lu?" tanya gue heran.

"Dia sudah mempunyai Istri. Aku hanya sebagai selingkuhannya di kantor."

"Kenapa Lu mau?"

"Terpaksa. Demi uang. Aku butuh banyak uang untuk membantu pengobatan Ibu yang tengah sakit. Maafkan Aku, Dareen. Tadinya Aku bermaksud melakukan hal itu, karena Aku berfikir Kamu itu masih lugu dan bisa terjebak dalam pelukanku. Ternyata, Aku salah menilaimu."

"Apa Ibu Lu gak akan kecewa, kalau tahu uang yang Lu kasih itu, hasil perselingkuhan Lu sama Bos Lu?"

Nila mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi dan menatap tajam kearah gue.

"Pasti itu akan sangat menyakitkan dan memalukan setelah Ibu Lu tahu keadaan Lu sekarang. Lu enggak berpikiran ke arah sana?"

"Cukup! Kamu bisa ngomong seperti itu. Tidak ada jalan lain, Aku ingin Ibuku sembuh!" ucap Nila.

"Lalu, apakah setelah mendapatkan uang dan berobat, apakah Ibu Lu sembuh?"

Nila menggelengkan kepala.

"Nila, ingat! Kalau pun Ibu Lu sembuh, sepertinya Ia akan kecewa kalau mendengar kelakuan Lu. Ibu Lu yang sedari dulu telah mendidik, memberikan kasih sayang tulus untukmu, namun setelah besar Lu dengan gampang menyerahkan kesucian Lu terhadap orang lain hanya demi uang. Terlebih, sekarang Lu hamil dan Lu enggak mau minta tanggung jawab terhadap orang yang telah menghamili. Apa Lu pikir perasaan Ibu Lu? Perasaan kecewa dan malu yang mendominasi," ucap gue panjang lebar.

Hening.

Nila terdiam, mungkin ia baru sadar akan imbas yang akan ia tuai.

"Ingat! akan ada dua orang sekaligus yang akan tersakiti!" Gue menandaskan.

Mata yang sudah sembab itu kini menatap gue dalam.

"1 Ibu lu yang kecewa, karena Ia telah merasa gagal memberikan pendidikan untuk anaknya. Yang ke 2 Istri dari Bos Lu yang merasa di khianati Suaminya. Apakah Lu tidak berpikir sejauh itu? Terlebih lu korban atas perbuatan Diri sendiri."

Ternyata Nila salah mengira Dareen. Karena ia telah menilai kalau Dareen itu masih polos dan dengan gampangnya Dareen dapat terjebak dalam pelukannya. Dengan disuguhkan pemandangan yang membuat kaum adam takluk kepada tubuh seksinya.

Ternyata, Dareen orang yang berbeda. Meski pun ia masih muda, ia mempunyai prinsip yang bagus dan tidak terjerebak oleh jebakan yang Nila umpan.

"Maafkan Aku, Dareen. Jujur, Aku tidak berpikir sejauh itu. Aku hanya ingin Ibu sembuh. Dareen, pulanglah."

Gue menatap tajam.

"Pulang, Dareen! Aku sudah sangat merasa malu terhadapmu."

Gue masih menatap.

"Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu, kalau diri ini sudah terlanjur banyak dosa."

"Lalu, apakah setelah Kau sadar akan kesalahan Lu, Lu akan memperbaikinya?" tanya gue spontan.

"Iya! Kini mata hatiku terbuka."

"Lalu, bagaimana dengan Anak yang ada dalam kandungan Lu?"

"Aku akan menggugurkannya."

Gue tersenyum masam.

"Itu berarti, Lu belum paham maksud Gue."

"Lah terus? Aku harus gimana?" tanya Nila.

"Memang, Ibumu tidak akan kecewa terhadapmu karena Ibumu tidak mengetahui kalau Lu pernah hamil di luar nikah. Tapi Allah? Allah akan lebih kecewa karena Lu telah melakukan dosa 2 kali.

1 dosa dari perselingkuhan sampai Lu hamil dan 2 menggugurkan janin yang tak berdosa. Maaf, bukan Gue sok suci tapi Lu pikir baik-baik deh."

"Terus, Aku harus gimana?"

"Lu bertaubat. Maaf, Gue bukan bermaksud mengajari Lu. Gue juga bukan ustadz, ini murni hanya pemikiran dalam hati, karena Gue juga bukan seorang ustadz yang mengerti agama. Gue juga hanya orang yang tak luput dari dosa."

Nila sudah jauh terlihat lebih tenang.

"Nil, maaf. Gue mesti pulang udah malem pasti Orang Tua Gue khawatir. Lu juga balik. Pasti Ibumu tengah gusar menunggu kepulangan anak gadisnya."

"Iya. Lu duluan aja. Gue masih ingin sendiri ingin menenangkan hati."

"Saran Gue, Lu sholat taubat, minta ampun sama Allah. Mintalah juga pendapat kepada orang yang bijak. Mungkin ustadzah agar dibantu menemukan jalan keluar yang terbaik."

Sedari tadi gue ngomong berjauhan dengan Nila. Gue enggak bisa mendekatinya karena gue sendiri takut terjebak dalam keadaan ini.

Bukan karena tidak care, tapi semata hanya ingin membentengi diri agar Nila tidak mengulangi khilafnya terhadap gue.

Nila tertunduk, sesekali mengusap air mata di pipinya. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin dia malah benci sama gue.

"Ya udah, Gue pamit. Saran Gue jangan terlalu lama menyendiri di sini. Ingat, Ibu Lu yang sudah cemas menunggu di rumah."

R25 melesat dengan kencang, karena waktu telah menunjukan jam 22.30 WIB. Angin malam tak gue hiraukan, pikiran gue kalut antara kasihan terhadap Nila dan bokap yang pasti sudah menunggu di rumah dengan banyak pertanyaan.

Motor segera gue masukan garasi rumah. Terdengar pintu depan rumah dibuka.

"Dareen!" Papa sudah berdiri di depan pintu rumah.

"Iya, Pa." Alamat kena damprat si papa ini mah, pasrah!

"Pulang dari kampus jam segini?" Papa sambil melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.

"Maaf, Pak. Tadi ada tugas kelompok buat besok, jadi Dareen menyelesaikan malam ini juga," jawab gue.

"Kenapa enggak hubungi Papa, Mama atau bang Aril?"

"Hp Dareen lowbatt, Pa." Gue beralasan.

"Ya udah sana masuk. Papa malas berdebat, udah malam."

"Iya."

Gue nyelonong masuk menaiki anak tangga rumah dan langsung masuk menuju kamar.

Tak dipungkiri, pikiran gue melayang memikirkan Nila.

Apakah Nila udah balik? tanya dalam hati.

Hati gue dilema dengan keadaan ini, apakah gue suka sama dia? Apakah hanya kasihan terhadap keadaannya saat ini? Entah.

Ingin menanyakan udah pulang atau belum. Tapi, rasanya gue terlalu takut untuk menghubunginya.

Biarlah dia menyelesaikannya sendiri, toh gue tidak terlibat masalah apa pun.

Namun, hati berkata lain, ada hati kecil gue yang care terhadapnya. Mungkin karena kasihan. Akhirnya gue coba telpon Nila.

Hand phonenya aktif, namun beberapa kali terhubung tak diangkat. Akhirnya gue memutuskan untuk tidur karena sudah terlalu larut malam.

Drettt ... Drettt ....

Hp di atas meja bergetar.

"Nila?" ucap gue.

Segera gue angkat gawai yang ada di tangan. Gue sentuh layar gawai dan terdengar suara dalam gawai.

'Hallo,' gue jawab.

'Maaf, Dareen. tadi Aku lagi di kamar mandi,' sahut Nila.

'Masih di hotel?' tanya gue.

'Enggak, Aku udah di rumah.'

Syukurlah sepertinya Nila sudah stabil emosinya.

'Ya udah, istirahat sana udah malam.' Suruh gue.

'Dareen, makasih ya.'

'Buat apa?' jawab gue yang mulai mengantuk.

'Karena, ucapanmu tadi telah membukakan mata hatiku. Aku baru tersadar kalau memang sampai terbongkar bukan hanya Aku yang terluka. Ada Ibu dan Istri Bosku yang akan tersakiti juga. Aku benar-benar mengucapkan banyak terimakasih, ya Dareen.' ujar Nila.

Tak ada jawaban.

Sunyi.

'Dareen?' Sahut Nila memanggil.

Hening. Hanya terdengar suara napas yang ada dalam gawai.

'Ya Tuhan, ini Anak sudah tidur ckckck ... Met malam Dareen, walau kau bukan siapa-siapaku, tapi Engkau yang telah berjasa, telah mengingatkan akan segala khilafku' Telpon terputus.

***

Alangkah kagetnya ketika suara alarm berbunyi tepat di bawah teling gue.

"Shit!" Sepontan gue ucapkan.

"Astagfirullah hal azim." Ketika gue tersadar.

Gue lupa semalam gue telponan mungkin ketiduran hingga gawai tertindih.

"Ya Allah udah mau adzan subuh aja," ucap gue yang masih ngantuk.

Gue ngeloyor ke kamar mandi, bergegas mandi untuk sholat berjama'ah di mesjid.

'Ya Allah, terima kasih. Engkau selalu menjagaku. Memang Aku bukan orang baik namun Aku juga tidak ingin membuat orang-orang di sekitar menjadi merugi. Bimbing Aku agar senantiasa berada pada ridhaMu ya Rabb, Aamiin ....'

ungkapan sekaligus do'a di pagi ini setelah membaca do'a untuk kedua orang tua.

Bergegas berangkat untuk kembali melakukan aktifitas gawe di bengkel.

"Makan dulu, Nak!" ujar Mama.

"Iya."

"Loh kok cuma roti?" tanya Mama.

"Keburu-buru, Mam!" jawab gue.

"Minum dulu susunya, Dareen!" Suruh Mama.

"Yaelah Ma, kek Adek bayi aja mesti nyusu?" jawab gue.

"Mesti dibiasain Dareen, biar enggak gampang sakit!" Ujar si Mama lagi.

Biar enggak banyak ngomong lagi, langsung gue minum tuh susu.

"Nak, sebenarnya apa yang kamu lakukan sih?" tanya Mama mulai curiga.

"UHUKKKK!" Gue terbatuk.

"Minum-minum." Mama menuangkan air di gelas.

Gue mulai panik. Bagaimana kalau Mama mulai curiga? Gue enggak mau kalau nanti Mama tahu pekerjaan gue sekarang ini. Pasti nyokap ngomel.

"Nak, kok enggak dijawab pertanyaan Mama?"

"Haduh Mam, Dareen buru-buru, ada pelajaran dosen Killer hari ini. Dareen berangkat ya?" Sampil mencium tangan Mama.

Selamat! ucap gue dalam hati.

Gue memang sengaja ingin belajar mandiri, berawal dari rasa sakit hati yang suka dibandingin bokap gue.

Mana ngebandinginnya sama abang sendiri lagi. Kalau sama orang lain masih masa bodo deh.

.

"Dareen. Rajin sekali, tiap pagi Lu udah nongkrong duluan di mari." Sapa Bang Andi.

Gue tersenyum masam.

"Kelihatannya, Lu masih ngantuk? Mata Lu enggak kelihatan." Bang Andi terkekeh.

"Yaelah Bang! Gue emang kurang tidur semalem."

"Kenapa?" jawabnya heran.

"Kemarin Gue ketemu sama Nila."

"Terus?"

"Dia bilang, kalau Dia tengah hamil, Bang."

"What?" Ekspresi wajah Bang Andi kaget.

1
Sulaiman Efendy
WADUHHH,, UDH TAMAT RUPANYA...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
MAMPUS LO RIL.. MKANYA JDI LAKI2, JGN GOBLOK,, MNTANG2 ISTRI BLM HAMIL, LLU SLINGKUH...
Sulaiman Efendy
PARAH TU NILA,,UDH JDI ISTRI BENI, MSH JUGA MAIN BLAKANG SAMA ARIL. DN ARIL MMG LKI2 BODOH..
Sulaiman Efendy
KN KALIAN BSA CEK KSUBURAN.. KNP SOLUSINYA HRS SELINGKUH. UDH ITU SELINGKUH DGN WANITA BKAS PAKAI..
Sulaiman Efendy
PSTI MANDA BLM HAMIL,, MKANYA SI ARIL SELINGKUH,, BSA JDI NI SI ARIL YG MNDUL..
Sulaiman Efendy
KLO BENGKEL UDH RAME PELANGGAN, KNP GK REKRUT PEKERJA BIAR GK KETETERAN..
Sulaiman Efendy
WAHHH SI ARIL SELINGKUH NI KYKNYA
Sulaiman Efendy
DINASEHATKN AWALNYA SJA SADAR, SKRG MLH MKIN PARAH..
Sulaiman Efendy
LBH BAGUS LO SELIDIKI, ATAU LO CHAT SI NILA..
Sulaiman Efendy
SEBESAR APA GAJI BENI DI PRUSAHAAN PAPA DAREEN, HINGGA BSA BLANJAIIN NILA BRG2 BRANDED, JGN2 KORUPSI TU SI BENI
Sulaiman Efendy
DI BLANJAIIN BENI, WAJAR BRANDED..
Sulaiman Efendy
BISA JDI MMG ANAK BENI, DN SI BENI SELINGKUH SAMA NILA..
Sulaiman Efendy
JGN2 YUMNA ANAK SI BENI...
Sulaiman Efendy
YA AMPUN NILA, UDH DI NASEHATI DAREEN. MSH AZA BRHUBUNGN DGN SI BENI..
Sulaiman Efendy
WAAHHH DARI TANTE2, MBAK2, SEBAYA, DN ABG, SUKA MA DAREEN..
Evi
thoor hubungan Aril sama nila bagai mana,. itu si nila hamil ank siapa bpk nya???
jd penasaran aq thoor
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Darren..
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪
Dareen: waalaikum salam, ..
terima kasih udh singgah di novel saya, Kak 🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
dapet brondong nih🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Katanya Nila ini seumuran dgn Ariel iya,berarti tua Nila iya sama Darren..😅😅
Dareen: iya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!