Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
Langit Jakarta sore itu seolah tiba-tiba runtuh. Hujan turun bukan lagi seperti butiran air, melainkan seperti disiram dari atas dengan ember raksasa, memukul aspal dengan bunyi gemuruh yang menutupi suara kendaraan lain. Angin kencang menyapu basahi apa saja yang lewat, membuat suhu udara yang biasanya panas menyengat seketika berubah dingin menusuk tulang.
Di trotoar yang mulai banjir setinggi mata kaki, Rima berlari tergesa-gesa. Satu tangannya menekan erat tas bahu kain yang warnanya sudah agak pudar, sementara tangan lainnya sibuk melindungi kantong kertas cokelat yang digenggam erat di dada. Itu adalah gorengan pesanan teman sekamarnya. Bakwan sayur dan pisang goreng yang baru saja ia beli di pinggir jalan sebelum hujan turun tiba-tiba.
"Jangan sampai basah, jangan sampai dingin, jangan sampai hancur..." gumamnya sendiri sambil terus berlari, matanya menyapu kiri dan kanan dengan panik. "Kalau sampai dingin, Dinda pasti ngambek seharian! Dia udah nunggu dari tadi!"
Rima sebenarnya berniat menunggu angkutan umum, tapi melihat hujan yang makin menjadi-jadi dan belum ada satu pun taksi yang lewat, ia mulai putus asa. Kakinya sudah basah kuyup sampai ke mata kaki, sepatu kets putihnya kini berubah warna menjadi cokelat lumpur. Ia menggigil kedinginan, dan rasanya setiap detik yang berlalu semakin menyiksa.
Saat itulah, sebuah mobil sedan hitam berkilauan melambat dan berhenti tepat di pinggir jalan, beberapa langkah di depannya. Bentuknya persis seperti mobil taksi eksekutif yang sering ia lihat di jalan. Bodi besar, warna gelap, dan berhenti persis di sampingnya. Rima tidak sempat lagi melirik pelat nomor, tidak sempat melihat logo di bagian depan, apalagi mengintip siapa yang ada di dalam. Yang ada di pikirannya cuma satu, dapat juga taksinya!
Tanpa berpikir panjang, ia mempercepat larinya, menarik gagang pintu belakang dengan gerakan cepat, lalu menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam kabin yang hangat dan berbau wangi segar. Pintu ditutup dengan bunyi ''duk" yang agak keras, memotong suara hujan yang gaduh di luar.
"Ah, lega!" serunya sambil menyeka air hujan dari wajah dengan punggung tangan. Ia belum menoleh ke depan, bahkan belum melihat siapa yang menyetir. "Pak, tolong cepetan ya nyetirnya! Hujannya deras banget, nanti gorengan ini dingin dan alot nih! Saya harus antar ke rumah teman sekarang!"
Rima menaruh tas bahunya di kursi sebelah, lalu membetulkan posisi duduknya. Kantong gorengan masih ia peluk erat di dada, seolah itu barang paling berharga di dunia. Karena tidak kunjung terdengar suara mesin menyala atau gerakan setir, ia baru mengangkat kepalanya menatap ke arah kursi pengemudi sambil tersenyum canggung.
"Eh, Pak? Kenapa belum jalan?"
Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Senyumnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi bingung yang makin lama makin besar.
Di kursi pengemudi tidak duduk sopir taksi dengan seragam rapi. Di sana duduk seorang pria muda yang terlihat sangat berkuasa. Jas hitam yang ia kenakan terlihat sangat mahal, kemeja putih di dalamnya bersih tanpa satu pun kerutan, dasi bergaris halus diikat dengan sempurna. Wajahnya tampan dan tegas, rahangnya menegang kaku, namun yang paling membuat Rima membeku adalah tatapan matanya lewat kaca spion tengah, dingin, tajam, dan seolah tidak percaya melihat keberadaan Rima di sana.
Pria itu adalah Andre. Direktur Utama perusahaan tempat Rima baru saja mulai magang tiga hari yang lalu. Orang yang hanya berani ia lihat sekilas dari jauh saat rapat pembukaan, orang yang semua karyawan sebut sebagai sosok yang tegas, perfeksionis, dan tidak suka keributan sama sekali.
Detik itu Rima merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia salah masuk mobil. Bukan taksi, melainkan mobil pribadi CEO-nya sendiri!
Otaknya mendadak kosong, tapi mulutnya malah bergerak sendiri tanpa perintah. Bahkan tangannya refleks menyodorkan kantong gorengan berminyak itu ke arah Andre.
"Eh... Bapak mau satu nggak?" tanyanya dengan suara gemetar, mata berkedip-kedip bingung. "Masih hangat kok, ini bakwan sayur. Enak lho, isinya banyak wortelnya..."
Andre hanya melirik sekilas ke arah kantong kertas yang sedikit lecek itu, lalu kembali menatap Rima dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Keluar."
Satu kata itu diucapkan dengan nada rendah dan tenang, tapi cukup membuat bulu kuduk Rima meremang seketika. Namun karena gugup yang melanda, ia malah menyandarkan punggung ke kursi kulit empuk itu sambil menggeleng pelan.
"Iya bentar Pak... hujannya gila banget di luar. Nanti saya basah kuyup, nanti kalau sakit saya nggak bisa masuk magang..."
"Saya bilang, keluar!" Kali ini nada suara Andre sedikit lebih tegas, matanya menatap tajam lewat pantulan kaca. "Ini bukan taksi."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Kesadaran penuh menghantam kepala Rima seketika. Wajahnya seketika memerah padam, dari ujung rambut sampai ke leher, rasanya ingin sekali menghilang ditelan bumi saat itu juga.
"Ma—maaf Pak Andre!" cicitnya buru-buru, tangan gemetar mencari pegangan pintu. "Saya kira ini taksi! Hujannya deras banget, saya nggak lihat pelat nomor, saya nggak sengaja masuk... Maaf banget Pak!"
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka pintu mobil secepat mungkin, melompat keluar tanpa menoleh lagi, bahkan lupa menutup pintu dengan rapi. Ia berlari kembali ke pinggir jalan sambil memeluk kantong gorengan erat-erat, menghilang di balik tirai air hujan yang tebal secepat kemunculannya tadi.
Di dalam mobil, suasana hening sejenak. Andre menatap pintu yang terbuka sedikit itu, lalu perlahan ia menunduk melihat apa yang tertinggal di kursi belakang. Tas bahu kain milik gadis itu tergeletak di sana, resletingnya terbuka lebar, dan isinya tumpah ruah menutupi permukaan kursi kulit yang bersih.
Andre menghela napas panjang, lalu membuka pintu dan menutupnya rapat sebelum berbalik menatap kekacauan itu.
Di sana terlihat dompet tipis berwarna merah muda yang jahitannya sudah mulai lepas, isinya terlihat hanya uang receh beberapa ribu rupiah dan kartu identitas magang. Di sebelahnya ada buku sketsa sampul karton yang sudah digambar coretan warna-warni, sebatang lipstik kemasan plastik murah berwarna merah terang, gantungan kunci boneka kucing yang bulunya sudah rontok di beberapa bagian, dan di paling atas tergeletak selembar kertas buram yang terlipat rapi.
Andre mengambil kertas itu dengan ujung jari seolah takut kotor, lalu membacanya sekilas. Itu adalah nota utang di warung depan kostnya: "Rima: 1 bungkus indomie rebus, 2 gelas es teh manis, total 12.000 rupiah. Belum bayar."
Pria itu menatap nota itu sebentar, lalu menaruhnya kembali di atas tumpukan barang dengan gerakan hati-hati. Ia menyandarkan punggung ke kursi pengemudi, menatap ke arah jalan yang penuh air, lalu perlahan menggelengkan kepala.
Sepanjang masa jabatannya sebagai direktur utama, belum pernah ada hal seaneh ini yang terjadi. Belum pernah ada orang yang berani masuk ke mobilnya sembarangan, menyuruhnya menyetir cepat, menawarkan gorengan berminyak, lalu pergi dengan meninggalkan bukti utang warung di kursi belakangnya.
Belum lagi tatapan bingung dan wajah memerah gadis itu tadi. Entah bagaimana, hal itu membuat suasana hatinya yang biasanya tenang dan teratur seolah sedikit berantakan, sama seperti isi tas yang tertinggal itu.
Andre mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor cepat. Hening sejenak sampai terdengar suara dari seberang.
"Halo Pak Andre?"
"Dino," ucap Andre datar sambil menatap tas kain di kursi belakang. "Siapkan kendaraan pengganti.
Dan... tolong cari tahu alamat lengkap Rima, anak magang baru di bagian desain. Dia meninggalkan tasnya di sini."
"Baik Pak. Kenapa bisa tas Rima ada di mobil bapak?" tanya Dino dengan nada penasaran yang tak bisa disembunyikan.
Andre terdiam sebentar, melirik nota utang yang tergeletak di atas buku sketsa.
"Tidak ada masalah serius," jawabnya pelan, ujung bibirnya bergerak sedikit membentuk garis tipis yang hampir tak terlihat. "Hanya ada sedikit kekacauan yang harus dirapikan."
Setelah mematikan sambungan telepon, ia kembali menatap keluar jendela. Hujan masih turun deras, seolah tak ada tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Dan entah kenapa, ia merasa hari ini bukan hari biasa sejak gadis ceroboh itu membuka pintu mobilnya tadi, segalanya terasa sedikit berbeda.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏