NovelToon NovelToon
Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billy Author

Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka

Gemuruh halus terdengar dari balik dinding mekanis di atas aula. Layar elektronik raksasa yang semula gelap gulita kini berkedip-kedip, memancarkan cahaya hijau fosfor yang memantul di permukaan lantai batu yang lembap. Nama-nama para peserta Ujian Chunin berputar dengan kecepatan tinggi, menciptakan siluet buram yang membuat jantung setiap Genin di dalam ruangan itu berdegup dua kali lebih cepat.

"Pertarungan satu lawan satu... langsung setelah hutan itu?" Sakura Haruno bergumam lirih, kedua tangannya meremas ujung rompi birunya dengan sangat erat. Wajahnya pucat pasi, matanya sesekali melirik ke arah Sasuke yang masih berdiri tegak dengan napas yang agak berat. "Ini gila. Kita bahkan belum sempat membersihkan luka atau mengeringkan pakaian kita."

Sasuke tidak merespons ucapan Sakura. Matanya yang tajam tetap terpaku pada layar elektronik, mengabaikan denyutan perih yang sesekali berdenyut di leher kirinya tempat segel gaib Orochimaru berada. "Diamlah, Sakura. Di medan perang yang sesungguhnya, musuh tidak akan pernah menunggumu menyelesaikan sarapan atau mengobati luka memarmu. Ini adalah seleksi alam yang sebenarnya."

Di barisan Tim Guy, Tenten tampak sibuk memeriksa kembali ikatan pelindung dahinya. "Neji, Lee, kalian berdua harus berjanji padaku. Siapa pun yang namanya keluar pertama kali, jangan tunjukkan semua kartu as kita di awal. Para Jounin dari desa lain sedang mengawasi dari balkon atas. Mereka mencatat setiap jepretan kawat dan setiap gaya pukulan kita."

Neji Hyuga mendengus kecil, melipat kedua tangannya di depan dada dengan keanggunan yang dingin. "Kamu terlalu khawatir, Tenten. Bagi mereka yang memiliki takdir untuk menang, tidak peduli berapa banyak informasi yang dikumpulkan musuh, hasilnya akan tetap sama. Celah antara yang berbakat dan yang tidak berbakat tidak bisa dijembatani hanya dengan catatan di atas kertas."

Lee tidak menanggapi perdebatan tersebut secara lisan. Sebagai Reymond, dia justru sedang memfokuskan perhatian fisiknya pada fluktuasi medan chakra di dalam ruangan. Tanpa bantuan sistem yang memberikan hadiah atau pengingat otomatis, dia harus mengandalkan insting murni yang telah dia asah selama berbulan-bulan di dalam tubuh Rock Lee. Saraf-saraf di kakinya terasa berdenyut, menuntut pelepasan energi kinetik yang sempat dia tahan selama perjalanan menuju menara.

Klik! Klik! Klik!

Suara putaran mesin di layar elektronik mendadak melambat. Huruf-huruf berukuran besar mulai berhenti satu demi satu, membentuk dua baris nama yang tertulis dalam karakter kanji yang tegas.

[ UCHIHA SASUKE vs AKADOU YOROI ]

"Ah! Nama Sasuke-kun keluar pertama!" Sakura memekik kecil, setengah terkejut setengah lega karena setidaknya namanya sendiri tidak muncul di urutan pembuka yang menegangkan ini.

Naruto Uzumaki langsung melompat maju satu langkah, menunjuk ke arah Sasuke dengan seringai lebar yang memamerkan giginya. "Hei, Sasuke! Jangan berani-berani kalah di babak pertama ini, ya! Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu tersingkir sebelum aku sempat menghajar wajah sombongmu itu di panggung utama!"

Sasuke melirik Naruto dari sudut matanya, sebuah senyuman tipis yang penuh keangkuhan muncul di wajahnya yang tampan. "Urusai, Naruto. Urus saja dirimu sendiri. Pastikan kamu tidak kencing di celana saat namamu muncul di layar itu nanti."

Dengan gerakan yang sangat tenang, Sasuke melangkah menuruni tangga kayu menuju ke tengah-tengah lapangan terbuka aula. Di seberangnya, Akadou Oroi—ninja medis senior dari Konoha yang mengenakan penutup kepala hitam dan kacamata bulat—sudah menunggu dengan aura yang aneh dan mencurigakan.

Hayate Gekko, sang Jounin pengawas yang tampak kurus dan sesekali terbatuk kecil, melangkah ke tengah lapangan. "Uhuk... baiklah. Peserta yang tidak bertanding... silakan naik ke balkon atas sekarang juga. Uhuk... Pertarungan akan segera dimulai."

"Mari kita naik, Lee, Neji," ajak Tenten sambil membalikkan badannya terlebih dahulu.

Lee berjalan di belakang Neji, melangkah menaiki tangga kayu yang berdecit pelan. Saat dia sampai di balkon atas, dia memilih posisi yang agak terpisah dari tim lain, menyandarkan kedua lengannya di atas pagar pembatas besi yang dingin. Dari posisi ini, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana aliran chakra Sasuke mulai bergerak tidak stabil karena pengaruh segel gaib di lehernya.

"Pertarungan yang tidak seimbang," Neji tiba-tiba bersuara, berdiri di samping Lee dengan pandangan yang mengarah ke bawah. "Uchiha itu sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Jika dia memaksakan diri menggunakan ninjutsu murni, aliran chakranya akan memicu racun di dalam tubuhnya sendiri. Dia berada di ambang kehancuran."

"Namun dia memiliki mata yang menolak untuk menyerah, Neji," sahut Lee pelan, matanya tidak berkedip memperhatikan setiap pergerakan kaki Sasuke. "Bagi seorang petarung, rasa sakit fisik terkadang hanyalah sebuah latar belakang suara yang bisa diabaikan ketika keinginan untuk menang sudah melampaui batas logis tubuh."

Neji melirik Lee dengan tatapan tajam, seolah-olah sedang mencari tahu apakah Lee sedang menyindir dirinya atau tidak. "Keinginan saja tidak cukup, Lee. Itu adalah delusi dari orang-orang lemah yang tidak mau menerima kenyataan batasan mereka."

Di bawah sana, pertarungan telah meletus dengan sengit. Yoroi melesat maju, tangan kanannya memancarkan aura chakra berwarna biru redup yang mampu menyerap energi spiritual lawan hanya dengan sentuhan fisik. Sasuke terdesak beberapa kali, tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya dari kelelahan hutan membuatnya terlambat menghindar. Setiap kali Yoroi berhasil menyentuh pundak atau lengannya, Sasuke mengerang kecil, merasakan tenaganya dikuras secara paksa.

"Haha! Ada apa, Uchiha?! Hanya segini kemampuan dari klan legendaris?!" Yoroi tertawa mengejek, menekan kepala Sasuke ke atas lantai batu dengan cengkeraman jarinya yang kuat. "Chakramu... sekarang menjadi milikku!"

Sasuke menggertakkan giginya hingga mengeluarkan darah dari sela-sela gusi. Pikirannya melayang kembali pada malam pembantaian klannya, pada sosok kakaknya yang berdiri di bawah sinar bulan darah, dan pada penghinaan yang dia terima dari Rock Lee beberapa hari lalu di koridor akademi.

Aku tidak boleh kalah di sini... tidak di depan orang-orang itu!

Dengan satu hentakan kaki yang memanfaatkan prinsip mekanika berat tubuh yang sempat dia tiru dari gerakan Lee, Sasuke memutar tubuhnya di udara secara ekstrem. Dia menendang dagu Yoroi dari posisi yang tidak terduga, melepaskan diri dari cengkeraman maut tersebut.

"Itu... gerakan yang sama dengan gerakanmu waktu itu, Lee!" Tenten berseru kecil dari balik punggung Lee, matanya terbelalak melihat replikasi teknik fisik tersebut.

Lee tersenyum tipis, tidak merasa keberatan sama sekali tekniknya ditiru. "Sharingan benar-benar mata yang luar biasa. Dia mampu memahami esensi dari distribusi berat tubuhku hanya dalam sekali lihat. Tapi... itu masih merupakan salinan yang kasar."

Di lapangan bawah, Sasuke menyelesaikan pertarungan dengan sebuah kombinasi tendangan berantai di udara yang dia sebut sebagai Shishi Rendan (Amukan Singa). Tubuh Yoroi menghantam lantai batu dengan sangat keras, langsung tidak sadarkan diri dengan mata mendelik ke atas.

"Uhuk... pemenang babak pertama... Uchiha Sasuke," Hayate mengumumkan sambil mengangkat tangan kirinya ke udara.

Sorakan riuh langsung pecah dari tempat Naruto berdiri, sementara petugas medis berpakaian putih bergegas masuk dengan tandu untuk mengangkut kedua petarung yang telah kehabisan tenaga tersebut. Babak pertama telah usai, namun atmosfer di aula justru semakin memanas, bersiap menyambut giliran monster berikutnya yang akan dipanggil oleh takdir.

1
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
The Music
lanjut lagi 🔥🔥🔥
Hadi Hadi
mantap 👍
Andi Akhasay: Mampir kak ke ceritaku.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
goof👍
waktunya comeback
menarik
Hadi Hadi
good 👍
The Music
semangat thor👍🔥🔥
Hadi Hadi
mantap 👍👍
Hadi Hadi
up up up 😍😍
Hadi Hadi
is good 👍👍
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
semangat
Hadi Hadi
good 👍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
mantap 💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
good 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!