• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Sekutu dalam Bayangan.
Ketukan jari Eca pada papan tik laptop Angkasa terdengar ritmis, menyatu dengan keheningan ruang OSIS yang kini terasa mencekam pasca-konfrontasi menegangkan tadi. Meskipun jemarinya bergerak lincah menyusun kembali baris demi baris angka laporan keuangan yayasan, fokus Eca benar-benar pecah berkeping-keping. Pikirannya terus berputar pada sensasi hangat sentuhan tangan Angkasa di dagunya, aroma maskulin yang mengurung inderanya, dan fakta bahwa topeng cupunya telah hancur sepenuhnya di hadapan cowok itu. Di sofa seberang, Angkasa masih tampak sibuk memandangi layar ponselnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Perubahan sikap cowok itu yang begitu cepat—dari sosok posesif yang intim menjadi ketua OSIS yang sedingin es—membuat Eca merinding sekaligus dongkol setengah mati. "Fokus, Alesya. Jangan dikurangi satu rupiah pun kalau lo nggak mau lembur lagi malam ini," tegur Angkasa tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, seolah memiliki mata di balik kepalanya. Eca mendengus samar, menekan tombol enter dengan sentakan yang sedikit lebih keras dari biasanya. "Udah selesai, Ketua," sahut Eca, sengaja menekankan kata terakhir dengan nada ketus yang tidak lagi disembunyikan. Dia menutup laptop perak itu dan mendorongnya perlahan ke tengah meja. Angkasa bangkit dari sofa, berjalan mendekat, lalu memeriksa hasil kerja Eca dengan teliti. Setelah beberapa saat yang menegangkan, dia mengangguk pelan. "Bagus. Lo boleh balik ke kelas sekarang. Tapi ingat, jam istirahat kedua nanti lo harus—" "Iya, tahu. Nggak usah diingetin terus, gue nggak pikun," potong Eca cepat. Dia buru-buru menyambar tas ranselnya, memakai kacamata bulat tebalnya dengan benar, dan melangkah lebar menuju pintu keluar sebelum Angkasa kembali mengeluarkan perintah aneh lainnya. Begitu pintu ruang OSIS tertutup di belakangnya, Eca langsung bersandar pada dinding koridor dan mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Jantungnya baru bisa berdegup dengan ritme yang lebih manusiawi. Namun, kelegaannya tidak bertahan lama. Saat dia berbalik untuk berjalan menuju tangga lantai dua, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari balik pilar beton di dekat mading sekolah, menghalangi jalannya. Eca tersentak mundur, tangannya refleks memeluk tas ranselnya erat-erat di depan dada. Dia mendongak dan langsung mengenakan kembali mode cewek cupu yang lugu saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Itu Reno Aliansyah. Wakil Ketua OSIS yang juga rival terberat Angkasa. "Hai, Alesya. Baru keluar dari sarang macan?" sapa Reno dengan senyuman ramah yang terukir di wajah tampannya. Suara baritonnya yang tenang terdengar sangat kontras dengan intimidasi pekat yang biasa dikeluarkan Angkasa. Eca memundurkan langkahnya satu tapak, membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Eh... Kak Reno. Iya, Kak. Saya habis mengantarkan tugas dari Kak Angkasa," jawab Eca, berusaha meniru suara cicitan gemetarnya yang biasa. Reno terkekeh pelan, melangkah satu kali untuk kembali mengikis jarak di antara mereka. Matanya yang tajam dan cerdas menatap lekat ke arah mata Eca di balik lensa tebal itu. "Lo nggak perlu akting di depan gue, Sa. Gue tahu kartu pelajar lama lo yang berwarna hitam itu ada di tangan Angkasa. Dan gue juga tahu... penampilan lo sekarang ini cuma sekadar topeng." Deg! Darah Eca rasanya mendadak membeku untuk yang kedua kalinya hari ini. Firasatnya sejak pertemuan pagi tadi terbukti benar. Reno bukan sekadar menebak, cowok ini benar-benar tahu sesuatu. Reno menundukkan tubuhnya sedikit, menyamakan tinggi mereka, lalu berbisik dengan volume suara yang sangat rendah agar tidak terdengar oleh murid lain yang mulai berlalu-lalang di koridor. "Gue tahu Angkasa pakai kartu itu buat mengancam dan menjadikan lo asisten pribadinya. Dia licik kalau sudah memegang kelemahan orang lain. Karena itu... gue mau menawarkan sebuah kerja sama yang menguntungkan buat kita berdua." Eca menelan ludah dengan susah payah, menatap Reno dengan pandangan menyelidik yang campur aduk antara bingung dan curiga. "M-maksud Kak Reno... kerja sama apa?" "Bantu gue cari tahu celah atau dokumen internal OSIS yang selama ini disembunyikan Angkasa, terutama soal draf final anggaran pentas seni yang mau dia ajukan ke donatur yayasan siang nanti," tutur Reno serius, matanya berkilat penuh ambisi. "Sebagai imbalannya... gue jamin kartu pelajar lama lo bakal balik ke tangan lo dengan aman, tanpa ada satu pun murid di sekolah ini yang tahu siapa sosok asli di balik nama Alesya Violetta Monica. Gimana? Penawaran yang adil, kan?" Eca mematung di tempatnya berdiri. Kepalanya mendadak pening karena sekarang dia benar-benar berada di tengah-tengah jepitan dua penguasa sekolah yang sedang saling mengibarkan bendera perang.