Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Nadia menatap sang suami yang menaiki mobil dan menjauh dari penginapan. Nadia menghela nafas dengan pelan dan langsung keluar dari dalam kamar penginapan. Ia duduk di kursi sambil menatap pemandangan pantai yang begitu indah. Nadia mengeluarkan ponsel miliknya, dan mengabadikan pemandangan indah yang ada di depan matanya.
Saat ia sedang memotret tiba tiba saja, Dimas muncul dengan kedua tangannya yang di masukkan ke saku celananya. Nadia terkejut bukan main, Karena tadi ia melihat Dimas sudah menjauh dari penginapan.
"Jalan yuk, gue bosen di sini. Gue mau susul temen temen gue, tapi tempatnya jauh banget. Gue janji enggak bakal bikin Lo sakit hati deh," ucap Dimas.
Nadia menatap sang suami dengan ekspresi terkejut. Dia tidak menyangka Dimas mengajaknya untuk pergi jalan jalan berdua. Tanpa aba aba dimas langsung memegang tangan Nadia dengan lembut.
"Buruan gue bosen," ucap dimas.
Akhirnya sepasang suami istri tersebut berjalan ke arah mobil yang berada di tempat parkir. Dimas membukakan pintu mobil untuk Nadia. Dan Nadia pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut dengan perasaan masih bingung dengan sikap sang suami. Dimas masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mobil menuju taman bermain.
Selamat di perjalanan mereka hanya diam dan setelah tiba di taman bermain, Dimas memarkirkan mobilnya. Nadia keluar dari dalam mobil dan menunggu sang suami.
"Kita ngapain di sini?," ucap Nadia.
"Ya kita bersenang senang lah, ayo masuk," ucap Dimas.
Untuk ke sekian kalinya Dimas menggenggam tangan Nadia dengan lembut. Nadia benar benar bahagia, namun sedetik kemudian Nadia langsung menggelengkan kepalanya.
'Enggak nad, paling mama yang menyuruh kak Dimas untuk mengajakmu ke taman bermain ini,' batin Nadia.
Mereka memasuki taman bermain dan terlihat dari raut wajah pria itu terlihat bahagia saat sudah memasuki taman bermain. "Kita main permainan apa dulu ya?," ucap Dimas.
Dimas menatap sang istri yang asa di sampingnya. Nadia membalas tatapan sang suami. "Aku mau boneka itu," ucap Nadia.
"Oke, kita main permainan itu ya. Gue bakal dapetin boneka itu buat lo, doain semoga gue bisa nembak kaleng lebih banyak," ucap Dimas.
Nadia menganggukkan kepalanya dengan antusias, dan kedua orang itu berjalan ke arah tempat permainan tersebut. Dimas membeli peluru untuk menjatuhkan banyak kaleng, agar bisa mendapatkan boneka yang di inginkan Nadia. Percobaan pertama, kedua dan ketiga, Dimas gagal. Dimas benar benar sangat kesal dan Nadia langsung memegang bahu Dimas.
"Sabar dan pelan pelan kak, fokus ke kaleng tersebut, setelah itu tembak. Kakak pasti berhasil," ucap Nadia.
Dimas menganggukkan kepalanya dan fokus pada kaleng yang ada di depannya. Pria itu langsung menembak kaleng tersebut dan satu kaleng berhasil ia jatuhkan. Dimas menatap sang istri yang sedang bertepuk tangan untuk keberhasilannya.
"Kakak berhasil!," ucap Nadia.
"Sembilan kaleng lagi," ucap Dimas.
Dimas langsung fokus untuk menembak ke 9 kaleng tersebut dan pria tampan itu berhasil menjatuhkan 10 kaleng dalam waktu 1 menit. Dimas langsung memeluk nadia Karena ia benar benar sangat bahagia, karena bisa menembak kesepuluh kaleng tersebut. Nadia ikut bahagia dan merasakan kehangatan pelukan sang suami. Petugas langsung memberikan boneka ke pada Dimas, dan pelukan suami istri itu pun terlepas.
"Terima kasih pak," ucap Dimas.
"Sama sama pak, anda benar benar hebat. Sudah ada beberapa pasangan datang ke sini, tapi mereka tidak pernah berhasil mendapatkan boneka ini. Kalian pasangan yang hebat," ucap petugas tersebut.
*************************************
Sepasang suami istri tersebut menaiki komedi putar dan duduk bersebelahan. Nadia benar Baner sangat bahagia menaiki komedi putar tersebut. Dimas yang melihat kebahagiaan sang istri pun ikut bahagia. Hal sekecil itu saja sudah membuat Nadia bahagia, ia sadar seharusnya dia membahagiakan sang istri. Walupun pernikahan mereka hanya pernikahan di atas kertas tanpa adannya cinta. Tapi, Naida saat ini adalah tanggung jawabnya, ia harus membahagiakan gadis yang sudah menjadi istrinya tersebut.
"Kak kita beli gulali yuk, aku mau makan gulali," ucap Nadia.
Nadia menatap ke arah sang suami dan gadis itu langsung terdiam. Rasanya ia sudah sangat lancang mengajak sang suami untuk membeli gulali.
"Ayo, kita beli gulali yang Lo inginkan itu," ucap Dimas.
Nadia menanggalkan kepalannya dengan antusias dan mereka turun dari komedi putar tersebut. Sepasang suami istri tersebut langsung berjalan ke arah penjual gulali. Dimas memesan 2 gulali, sambil menunggu gulali siap Dimas dan nadia duduk di bangku yang ada di samping gerobak penjual gulali.
"Makasih ya kak, ini adalah hari yang paling bahagia di hidupku," ucap Nadia.
Dimas menatap sang istri. "Iya kah? Emangnya enggak pernah dapat boneka, gulali dan bermain di taman bermain. Apakah mantan kekasih lo tidak pernah membelikan lo boneka?," ucap Dimas.
Nadia menatap sang suami. "Aku tidak memiliki mantan kekasih. Dan Kakak adalah laki laki pertama yang aku sukai, dan ternyata kita langsung menikah. Aku benar benar sangat bahagia, walupun kakak tidak mencintaiku. Tapi aku tetap bahagia karena bisa menikahi laki laki yang aku cintai. Aku egois banget kan kak?," ucap Nadia.
Dimas langsung terdiam saat mendengar perkataan dari Nadia. Penjual gulali memberikan 2 gulali pesanan Dimas. Nadia terlihat sangat bahagia mendapatkan gulali berbentuk bebek. Dimas membayar gulali tersebut dan menatap istrinya yang tengah memotret gulali yang berbentuk bebek tersebut.
"Gampang banget nyari kebahagiaan Lo. kasih boneka sama gulali aja udah bahagia banget," ucap Dimas.
Dimas duduk di samping sang istri. Nadia Tersenyum manis dan sangat tulus, Dimas terpaku melihat senyuman indah dari sang istri.
"Boneka ini adalah hasil dari keringat kamu loh kak, jadi aku bahagia banget bisa mendapatkan boneka hasil perjuangan kakak. Makasih ya kak atas bonekanya, aku akan menyimpan boneka ini dengan baik," ucap Nadia.
Dimas benar benar baru tau bahwa Nadia adalah gadis yang sederhana. Tidak seperti Jessica yang selalu meminta untuk membelikan tas branded, sepatu dan barang mahal lainnya. Saat dimas membelikan boneka saja, Jessica akan langsung membuangnya ke tempat sampah. Dimas merasa sangat nyaman dan merasa di hargai jika bersama dengan Nadia.
"Kita mau kemana lagi kak?," ucap Nadia.
Dimas langsung tersadar dari lamunannya dan menatap sang istri. "Kita pulang aja yuk, gue udah capek banget," ucap Dimas.
Nadia menganggukkan kepalanya dan langsung berdiri. "Ayo kak, udah keliatan banget jika kakak sudah capek. Makasih ya kak sudah mau ajak aku ke sini, walupun kakak terpaksa karena mama menyuruh kakak untuk mengajak aku ke sini," ucap Nadia.
Dimas mengerutkan dahinya. "Mama enggak nyuruh gue untuk membawa Lo kesini," ucap Dimas.
Nadia terkejut bukan main. "Jadi ini insiatif kakak sendiri?," ucap Nadia.
Dimas hanya diam dan berjalan keluar dari taman bermain. Nadia tersenyum bahagia dan menyusul suaminya.
"Kalau boleh tau, kenapa Lo bisa cinta sama gue? Padahal kita baru ketemu saat di rumah lo," ucap Dimas.
Nadia tersenyum tulus. "Suatu saat nanti pasti kakak akan tau jawabannya, kenapa aku bisa mencintai kakak," ucap Nadia.