Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Titik Balik lamunan
Melihat adiknya diperlakukan seperti barang jaminan yang hendak dihancurkan, sesuatu di dalam jiwa Lin Wanru meledak.
Kalkulasi bisnis damai yang selama ini ia upayakan resmi runtuh. Di mata sang CEO modern, Lin Dehai bukan lagi seorang musuh bisnis yang bisa diajak bernegosiasi lewat logika matematika. Pria di hadapannya ini adalah seekor parasit liar yang harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya.
Wanru perlahan menurunkan tangannya yang memegang kantong uang tembaga, dan memasukkannya kembali ke dalam lipatan bajunya.
Matanya menyipit tajam. Hawa dingin yang memancar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat preman kedua yang berdiri di samping Lin Dehai merasa bulu kuduknya berdiri.
"Paman Dehai..." suara Wanru turun satu oktav, menjadi sangat pelan namun terdengar seperti vonis mati dari neraka. "Kau menaikkan bunga menjadi lima tael perak, menganiaya adikku, dan mengancam menjual keluarga kami..."
"Kenapa? Kau mau marah, hah?!" cibir Lin Dehai sombong, sambil mengayunkan tongkat kayunya. "Gadis kurus seperti—"
Sebelum Lin Dehai sempat menyelesaikan kalimatnya, Wanru melancarkan serangannya.
Ia tidak menyerang dengan emosi buta. Menggunakan pengetahuan tentang anatomis tubuh manusia dan kecepatan refleks dari latihan pertahanan diri yang pernah ia ikuti di era modern, Wanru melangkah maju dengan gerakan meluncur yang sangat cepat.
Sret!
Sebelum siapapun menyadari apa yang terjadi, Wanru menyambar tongkat kayu di tangan Lin Dehai, memutarnya dengan teknik pengungkit fisika sederhana, dan, Brak! menghantamkan ujung keras tongkat itu tepat ke lutut kanan Lin Dehai!
"Kreeek!"
"ARGGGHHH!"
Jeritan melengking kesakitan keluar dari tenggorokan Lin Dehai. Pria gempal itu seketika kehilangan keseimbangan, lututnya berbunyi gemertak keras, dan ia jatuh berlutut tersungkur di atas tanah berbatu dengan wajah pucat pasi memegang lututnya yang remuk.
Kejadian yang berlangsung dalam kurun waktu kurang dari dua detik itu membuat dua preman bayaran dan seluruh penonton di pasar terperanjat shock!
"Sialan! Gadis ini gila! Hajar dia!" teriak preman pertama yang memegang Lin Bao.
Preman kedua yang memegang rantai besi langsung menerjang maju hendak mencengkeram leher Wanru. Namun, Wanru tidak sedikit pun gentar. Dengan gesit ia merendahkan badannya, dan mengayunkan tongkat kayu hasil rampasannya menyapu kaki preman tersebut.
Brak!
Preman kedua tersungkur mencium tanah. Sebelum pria itu sempat bangkit, Wanru menginjak punggung tangannya dengan tumit sepatunya yang keras, lalu menghantamkan pangkal kayu tepat ke tengkuk leher belakang preman itu hingga pria itu pingsan seketika dengan mata mendelik.
Penonton di pasar menjerit panik dan mundur beberapa meter! Mereka tidak pernah membayangkan seorang gadis remaja kurus kering yang tadinya tampak lemah lembut bisa melumpuhkan seorang pria dewasa bertubuh kekar hanya dalam dua gerakan mematikan!
Preman pertama yang memegang Lin Bao panik luar biasa. Melihat kawannya tumbang dalam sekejap, ia menyumpah serapah, sambil melepaskan cengkeramannya pada Lin Bao, dan mencabut sebilah pisau belati berkarat dari pinggangnya.
"Aku bunuh kau, gadis iblis!" teriak preman itu kalap, kemudian menerjang ke arah Wanru dengan belati teracung.
"Bao-er, lari ke Ibu!" teriak Wanru tanpa menoleh.
Lin Bao yang terlepas dari cengkeraman langsung berlari cepat menyeberangi lapangan pasar, masuk ke dalam pelukan Nyonya Lin yang menangis haru mendakap anaknya erat-erat.
Sementara itu, di hadapan belati yang mengancam nyawanya, Wanru tidak sedikit pun mundur. Ia memiringkan tubuhnya presisi beberapa senti menghindari sabetan belati yang menyambar udara kosong. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan sang preman, memutarnya ke belakang hingga tulang sendinya berbunyi tajam.
Klek!
"AAAGHH!" Belati itu terlepas dan jatuh ke tanah.
Dengan dingin, Wanru mendaratkan satu tendangan lurus menggunakan lututnya tepat ke perut preman tersebut, hingga membuat pria berbadan besar itu terlempar mundur dua meter dan muntah air asam sebelum tersungkur tak berkutik di tanah.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, dua preman bayaran yang paling ditakuti di Desa Hutan Batu telah tergeletak lumpuh di atas tanah berbatu Pasar Sungai Besi.
Suasana pasar mendadak menjadi hening. Ratusan pengunjung pasar, para pedagang, dan bahkan para pengawal pasar berdiri mematung dengan mulut menganga tak percaya.
Mereka menatap gadis remaja berpakaian usang itu seolah-olah sedang melihat sesosok jenderal perang yang menyamar dalam wujud rakyat jelata.
Lin Wanru sendiri, ia berdiri tegap di tengah lapangan pasar. Rambutnya yang dikuncir berantakan tertiup angin sore, dan tangannya masih memegang tongkat kayu yang kini berbercak noda debu tanah.
Ia melangkah perlahan mendekati Lin Dehai yang masih merangkak di tanah sambil merintih kesakitan memegangi lututnya yang patah.
Tuk... tuk... tuk... Suara langkah kaki Wanru mendekat bagaikan detakan jam kematian bagi sang paman.
Lin Dehai mendongak dengan wajah mandi keringat dingin, matanya dipenuhi teror dan ketakutan yang teramat sangat. Pria licik itu bergetar hebat, mencoba merangkak mundur menggunakan kedua tangannya.
"Wan... Wanru... Ampun, Wanru! Aku ini pamanmu! Kita ini memiliki darah yang sama!" jerit Lin Dehai serak, suaranya gemetar tanpa sisa keangkuhan yang tadinya meledak-ledak.
Wanru menghentikan langkahnya tepat di depan kepala Lin Dehai. Ia menunduk, dan menatap pamannya yang tersungkur di bawah kakinya dengan sorot mata dingin tanpa sedikit pun rasa iba.
Ia mengangkat ujung tongkat kayunya, dan menempelkannya tepat di bawah dagu Lin Dehai, hingga memaksakan kepala pria gempal itu mendongak menatapnya.
"Darah yang sama?" bisik Wanru dengan suara yang begitu tenang namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"Waktu kau menyewa preman untuk merusak gubuk kami... waktu kau menyandera Lin Bao yang baru berumur delapan tahun... apakah kau ingat bahwa kita memiliki darah yang sama, Paman Dehai?"
Lin Dehai menelan ludah dengan susah payah, mukanya pucat pasi bagaikan mayat. "Aku... aku salah, Wanru! Utang tiga tael perak itu lunas! Lunas! Kau tidak perlu membayar apa-apa lagi! Tolong jangan bunuh aku!"
Wanru menyunggingkan senyuman tipis, sebuah senyuman dingin yang memancarkan kejayaan seorang Ratu Baja yang baru saja memenangkan pertempuran pertamanya.
"Lunas?" kata Wanru pelan. "Tidak, Paman. Utang tiga tael perak itu memang lunas. Tapi utang rasa sakit hati ibu dan adikku... baru saja mulai dihitung."
Bersambung...