Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide gila
" Ck.. Mana sih tuh anak? Bilangnya mau ke kamar mandi kok kagak balik-balik. " Welly menggerutu lantaran kedalatan tugas mencari Rendi yang tahu-tahu hilang begitu saja saat berkeliling area panti.
Matanya menatap sekeliling, kakinya membawanya kembali ke kantor kepala panti dengan tujuan ingin melaporkan hilangnya Rendi.
Ada-ada aja ini anak bu Mi, masa iya Rendi ilang sih. Kan bisa aja ke kamar mandinya lama lantaran mules kebanyakan makan sambal pas sarapan tadi.
Makin nggak masuk akal deh...
" Lah.. Rame amat? Kebakaran apa ya? Kagak ada asap tapi... " kakinya tetap melangkah mendekati area depan panti asuhan, tepat di depan kantor Sekar, selalu ibu panti.
" Eh.. Eh tunggu!!! " berlari kecil, Welly menghentikan dua anak perempuan seusia anak SMP yang juga berjalan ke arah yang sama dengannya.
" Ada apa abang ganteng?? " tanya salah satu anak perempuan yang berubah jadi kemayu pas didekati Welly. Mana ada adegan taruh rambut di belakang telinga lagi. Dikira Welly bakalan tertarik kali ya..
" Heh.. Masih piyik juga. " gumamnya pelan.
" Si abang ganteng kagak kesurupan kan? Kok malah ngomong sendiri? " tanya si anak perempuan tadi.
" Kesurupan lo yang ada... "
" Nggak.. Gue cuma mau nanya itu rame-rama di sana ada apaan? " Welly menunjuk ke arah depan kantor Sekar.
" Oalah... Penasaran to bang? Apa penasaran banget? " si anak perempuan ini lama-lama menggerus kesabaran Welly.
" Nggak boleh gitu. " tegur si anak perempuan yang satunya, " Pada nyambut mbak Senja, mas.. Makanya pada kumpul. " jawabnya akan pertanyaan Welly tadi.
" Senja?? "
" Iya.. Yang putrinya yang bangun panti jadi sebagus ini, mas. " waktu mengatakannya, wajah kedua anak perempuan ini terlihat penuh syukur dan bahagia.
" Senja.... Senjana Tadi taksa? "
" Lah... Abang malah tahu nama lengkapnya.. Nah itu dia.. " kemudian dua anak perempuan itu langsung pergi begitu saja saat melihat Senjana turun dari mobil.
Keduanya berlari meninggalkan Welly dalam kebingungan hakiki. Sampai akhirnya dia melihat mamanya menyapa Senjana dengan sangat akrab. Welly jadi berpikir apakah keduanya sedekat itu karena setahunya, kedua orang itu hanya pernah bertemu beberapa kali.
" Eh tunggu... " nampak sekilas senyum licik menghiasi wajah Welly.
" Ck.. Akal-akalan mak gue nih. Pinternya gue kok baru nyadar.. " gumamnya terkekeh.
" Wellllll... "
Welly memutar kepalanya, lalu melihat Santana yang menyusulnya. Mungkin karena Welly lama tidak kembali. Lalu Welly kembali memutar kepalanya melihat ke arah Senjana yang kini mengobrol bersama mamanya. Suasana sudah cukup sepi karena anak-anak panti digiring masuk oleh Sekar.
" Ini dua manusia gengsi setinggi Everest kalau ketemu langsung jebret pasti yang cewek lari terbirit-birit kek dikejar setan. Trus si cowok cuma bisa masang wajah melas kek habis kemalingan... " komennya tepat sasaran. Sekenal itu Welly akan sifat kedua orang yang penting dalam hidupnya.
" Karena mama udah kasih jalan, berarti ini waktunya gue eksekusi... Hehehehe.. " senyum mirip iblis yang terlihat dari wajah Welly, membuat Santana bergidik ngeri.
Dilihatnya Welly bicara sendiri sampai tengok kanan kiri. Ditambah senyumnya barusab yang mirip senyum setan. Fix ini manusia kerasukan.
" Welll.. " Santana mencoba peruntungan, dengan memanggilnya Welly untuk membuktikan pikirannya benar nggak.
" Apa?? Lo tunggu disitu aja, gue ke sana. "
Saat mendekati Santana, tanpa sengaja Welly melihat tanah dudukan yang cukup dalam. Mungkin akan digunakan untuk tempat pembuangan atau entah apa. Yang jelas ukuran dan tinggi begitu pada untuk....
BRUGH...
" BANG*** WELLYYYYY... SAKIT INI!!! " maki Santana yang dalam hitungan detik kena tendang Welly sampai masuk ke dalam tanah dudukan tadi.
" Heh mulutnya!! " tegur Welly cengar-cengir.
" Sialan kamu ya.. Maksudnya apa coba? Bantuin!!! " Welly menjulurkan lidah sambil geleng kepala.
" Setelah ini gue yakin lo bakalan sembah sujud syukur ke gue... "
" HAH?? "
Lalu sedetik kemudian, " TOLONGGGGGG!!! TOLONG INI ADA ORANG KECEMPLUNG JURANG!!! TOLONG!!! "
*******
" Kami kok kurusan sih, Sen? " bu Mi menatap sedih ke arah Senjana yang berjalan di sampingnya.
" Lagi banyak pikiran, bu Mi.. " jawab Senjana sekenanya.
" Mikirin San? Mau sampai kapan kalian berdua saling jauh-jauhan begini.... " bu Mi nampak semakin sedih
" San kan udah tunangan sama..... "
" TOLONG... ADA ORANG KECEMPLUNG JURANG...!!! "
Sayup-sayup teriakan Welly akhirnya sampai di telinga Senjana dan bu Mi. Keduanya menoleh ke arah suara dan terkejut melihat Welly berteriak panik.
" Lho.. Lho.. Itu kan Welly. Kenapa tuh anak? " langkah kaki bu Mi langsung cepat menuju ke arah putranya.
" Welly? Anak bu Mi? " Senjana takjub melihat bentukan Welly yang sekarang.
" Beda banget dari pas SMA.. " gumamnya lirih.
" Welly kenapa itu bu? "
" Nggak tahu.. Tadi sama Santana.. Kok sekarang sendiri.. Lho.. Jangan-jangan.... " langkah cepat itu berubah menjadi lari.
Senjana yang sempat termenung sedetik saat mendengar nama Santana disebut ikut berlari menyusup bumi. Dalam otaknya sudah muncul adegan yang tidak-tidak telah terjadi pada Santana.
" San.. Tunggu!! Kamu nggak boleh kenapa-napa. "
*******
Mata bu Mitha terbuka lebar melotot ke arah putranya begitu sampai di tempat kejadian yang mana Santana tengah berdiri berusaha keluar dari lubang besar di tanah, sedangkan Welly cuma teriak-teriak tidak mau membantu.
" Welll.. Bantuin itu Santana!! Malah cengar cengir kamu. " sentak bu Mitha gemes campur males akan kelakuan putranya.
" Bu.. Tolong bu!! Saya nggak bisa naik. Itu si Welly nggak mau bantuin. " gerutu Santana kesal sekali. Lihat saja nanti pembalasannya.
" Welly!! Tolongin itu!!! "
" Santai, mam.. Itu si penolong datang. " dagu Welly menghentak ke arah belakang bu Mitha.
" Hah?? "
" Ya ampun, San... Kok bisa nyemplung ke situ sih? " Senjana panik luar biasa mencari ke segala arah alat apa yang sekiranya bisa dipakai membantu Welly.
" Gimana San? Lo seneng apa kagak gue cemplungin ke blumbang begitu? " alis Welly naik turun menggoda Santana yang langsung kicep ngomel-ngomel begitu melihat Senjana.
Santana senyum-senyum malu, " Senjana kan ya yang tadi? " Welly mengangguk.
" Dah.. Sekarang gua serahkan sisanya ke elo.!! "
Dahi Santana berkerut dalam, tidak paham maksud ucapan Welly. Tapi saat melihat Senjana muncul dengah seutas tali tambang yang entah didapat dari mana. Santana tersenyum tipis, paham dia apa maksud Welly barusan.
" San.. Pegang nih tali, ntar aku tarik!! " Senjana mengulurkan tali ke Santana.
" Nggak bisa, Jana.. Kaki aku sakit. " Santana memasang wajah kesakitan yang langsung dipercaya Senjana. Panik kan nih anak.
Welly membuat gerakan muntah saking gelinya melihat adegan barusan.
" Well.. Tolong dong!! Lo malah jadi patung pancoran di sono!! " sentak Senjana.
" Heh.. Kok jadi gue?? "
" Lha terus??? Disini cowoknya cuma elo sama yang lagi kecebur blumbangan. Mau gue pakein rok lo!! " sengak Senjana.
" Ck... "
Welly maju, lalu berdiri di belakang Senjana. Tangannya maju ke arah depan, tepat di belakang tangan Senjana. Keduanya siap menarik sampai suara Santana memecahkan konsentrasi mereka..
" AAARRGGHHHH!!!! "