NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. HUT TNI AU

Cahaya matahari bersinar dengan gagahnya hari ini, langit sangat cerah berwarna biru menampilkan beberapa awan. Seorang gadis memakai dress panjang dengan hijabnya berwarna navy dan heels cream membuatnya sedikit menjadi sorotan mata di lapangan saat ini, Mahika. Ia berjalan paling belakang barisan warga yang diundang untuk hadir di acara HUT TNI AU, Ia tampaknya sangat antusias ingin melihat sekelilingnya.

Suasana lapangan markas besar Angkatan Udara mendadak terasa berkali-kali lipat lebih hidup dari biasanya. Suara deru kendaraan taktis, gemuruh obrolan para tamu undangan, kibaran bendera merah putih di berbagai sudut, serta aroma khas rumput lapangan yang berpadu dengan udara pagi menciptakan atmosfer yang megah.

Mahika, yang seumur hidupnya lebih akrab dengan keheningan kamar sewaan, deru ombak pantai pelarian, atau layar monitor laptop, merasa dunianya hari ini ditarik secara paksa ke dalam sebuah panggung raksasa yang penuh warna.

Ia merapikan ujung pasmina navy-nya yang tertiup angin laut bercampur angin darat. Langkah kakinya sedikit tertahan di belakang rombongan warga desa pesisir yang diundang khusus atas inisiatif pihak pangkalan militer setempat. Bagi Mahika, keterlibatannya di sini murni karena rasa sungkan pada Bu Lasmi—tetangga ramah di desa yang memaksanya ikut serta. Namun, perlahan-lahan, rasa enggan itu mulai terkikis oleh rasa kagum yang diam-diam menyergap dadanya.

"Sudah sampai pak, Bu," ucap Mahija yang mengenakan seragam PDU lengkap dengan atributnya.

Suara bariton itu memecah lamunan Mahika. Dari jarak beberapa langkah di depannya, Mahija berdiri tegak dengan postur tubuh tegap sempurna. Pakaian Dinas Upacara (PDU) berwarna biru khas TNI AU membalut tubuh atletisnya dengan sangat pas. Atribut kehormatan, medali kecil di dada, pet perwira yang bertengger gagah di kepalanya, serta sepatu lars yang mengkilap membuat aura sang perwira mendadak berkali-kali lipat lebih mengintimidasi sekaligus mempesona.

"Masya Allah, ganteng sekali kamu, Nak. Pertama kali Ibu melihat kamu memakai seragam ini," ujar Bu Lasmi dengan mata berbinar-binar, mewakili ketakjuban seluruh warga desa yang hadir.

Mahija tersenyum ramah, sedikit menundukkan kepalanya menghormati para warga sepuh.

"Terima kasih, Bu. Selamat datang di markas kami. Silakan dinikmati acaranya, anggap saja rumah sendiri."

Di tengah kerumunan warga yang sibuk memuji penampilan sang perwira, Mahika berdiri terpaku beberapa langkah di belakang. Tanpa disadari oleh siapa pun terutama oleh Mahija sendiri, Mahika telah terpesona sesaat sejak detik pertama pria itu menyambut kedatangan rombongan mereka tadi. Jantung Mahika berdetak sedikit lebih cepat dari normal.

Selama ini, Ia melihat Mahija hanya sebagai tentara yang usil dan datang tanpa di undang. Namun melihat Mahija di tengah kesatuan militernya hari ini, mengenakan PDU lengkap dengan wibawa yang luar biasa, Mahika mendadak merasa pria di depannya berasal dari dunia yang berbeda. Dunia yang begitu teratur, terhormat, dan luar biasa gagah.

Mahija, yang merasa menjadi pusat perhatian, segera mengedarkan pandangannya untuk memastikan rombongan warga terlayani dengan baik. Tatapannya seketika jatuh pada sosok gadis berbalut dress navy di barisan paling belakang. Mahika tampak salah tingkah, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah barisan pesawat di kejauhan seolah-olah tiang bendera di sebelah kanannya jauh lebih menarik untuk diamati.

Mahija tersenyum tipis. Sebuah tarikan kecil terbentuk di sudut bibirnya. Di balik ketegasannya sebagai seorang perwira, selalu ada magnet tak kasat mata yang membuatnya langsung bisa mengenali keberadaan Mahika di mana pun gadis itu berada, bahkan di tengah kerumunan ratusan orang sekalipun.

"Mari Bapak, Ibu, kita mulai keliling melihat kawasan pangkalan. Di sebelah kanan sana ada beberapa lini alutsista kita hari ini," ajak Mahija sambil memimpin jalan, namun ia secara perlahan memperlambat langkahnya agar posisinya sejajar dengan bagian belakang rombongan.

Warga desa berbondong-bondong bergerak antusias. Mereka berjalan beriringan menuju area pameran alat utama sistem senjata (alutsista). Mahika ikut melangkah, menikmati pemandangan di sekitarnya. Matanya berbinar-binar menatap barisan kendaraan tempur, radar pertahanan udara, hingga deretan helikopter dan pesawat latih yang terparkir rapi di apron lapangan terbang.

Sisi introvert dalam dirinya sejenak tenggelam oleh kemegahan teknologi dirgantara yang belum pernah ia saksikan secara langsung seumur hidupnya.

"Bagaimana, Mahika? Pemandangan di sini tidak kalah bagus kan dari layar laptop kamu di rumah pantai?" suara bisikan itu tiba-tiba terdengar tepat di samping telinganya.

Mahika berjengkit pelan. Ia menoleh, mendapati Mahija sudah berjalan di sisinya cukup dekat, namun tetap menjaga jarak sopan seorang perwira yang sedang bertugas.

Mahika mendengus kecil, mencoba memasang ekspresi sedingin dan setegas mungkin untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

"Biasa saja. Ramai. Bising."ujar Mahika.

"Bising tapi senyum-senyum sedari tadi," balas Mahija dengan nada menggoda yang sengaja direndahkan, membuat manik mata Mahika melebar kaget.

Sebelum Mahika sempat membalas dengan kalimat pedas untuk membela diri, Mahija sudah kembali bersuara, mengalihkan topik dengan pembawaan yang santai namun penuh wibawa. Pria itu sibuk menjelaskan berbagai macam spesifikasi pesawat dan sistem pertahanan udara kepada para warga desa yang bertanya dengan antusias.

Mahija yang mengenakan seragam PDU nya hanya fokus mengajak Mahika berbincang di sela-sela penjelasannya kepada warga, sementara Mahika menatap wajah Mahija tanpa Mahija sadari. Gadis itu memperhatikan bagaimana garis rahang Mahija mengeras saat berbicara tegas, bagaimana sorot matanya memancarkan kebanggaan mendalam pada kesatuannya, serta bagaimana peluh tipis mulai menuruni pelipis sang perwira di bawah terik matahari. Ada pesona yang begitu mentah dan jujur pada diri Mahija yang membuat Mahika tanpa sadar terhipnotis untuk terus memperhatikannya tanpa kedip.

Tanpa sepengetahuan Mahija, interaksi mesra namun penuh gengsi di antara mereka tidak lepas dari pengamatan dua pasang mata di belakang. Hanya Jaka dan Hansen yang melihat interaksi mesra Mahija dan Mahika. Dua prajurit bawahan yang setia itu mengawal Mahija dari jarak 5 meter di belakang Mahija, berjalan dengan tegap namun sesekali saling melirik sambil menahan senyum geli.

"Lihat tuh, Komandan kita kalau udah berhadapan sama pawangnya langsung berubah drastis wibawanya," bisik Jaka pelan kepada Hansen, menyikut pelan lengan rekannya.

Hansen mengangguk-angguk kecil, menyembunyikan tawa di balik raut wajah kaku prajuritnya. "Iya, Jaka. Kemarin-kemarin sewaktu di posko pusing sendiri mikirin kenapa Mba Mahika judes banget. Sekarang pas acara resmi malah ditempel terus kayak prangko. Hebat juga ilmu pelet perwira kita."

"Ssst, jangan keras-keras. Nanti kita disuruh lari keliling lapangan seratus putaran kalau ketahuan ghibahin atasan," balas Jaka memperingatkan, meski senyum lebar masih menghiasi wajah keduanya.

Mereka berdua tetap siaga menjalankan tugas pengawalan dengan profesional, meski dalam hati menikmati drama percintaan komandan mereka yang berjalan lambat namun pasti.

Di sisi lain lapangan, acara berlanjut ke bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat yang hadir: atraksi udara (air show).

"Perhatian kepada seluruh tamu undangan dan masyarakat sekalian, sesaat lagi kita akan menyaksikan aksi mendebarkan dari flight pesawat tempur Sukhoi dan T-50i Golden Eagle di langit pangkalan kita!" suara pengeras suara menggema ke seluruh penjuru lapangan, disambut sorak-sorai riuh dari anak-anak dan warga desa.

Seketika, suara deru mesin jet tempur memecah udara dengan kekuatan dahsyat yang menggetarkan dada. Empat buah pesawat tempur melesat membelah langit biru cerah, meninggalkan garis asap putih di belakangnya. Mereka melakukan formasi delta loop, barrel roll, hingga terbang rendah melintasi atas kepala penonton dengan kecepatan supersonik yang luar biasa. Semua orang mendongak, takjub menatap langit. Mahika ikut terperangah. Ia membuka sedikit mulutnya, terkagum-kagum saat pesawat-pesawat itu berputar lincah di udara seolah gravitasi bumi tidak berlaku bagi mereka.

Angin kencang akibat lintasan udara berputar menerpa jilbab navy dan dress panjang Mahika, membuat kainnya berkibar dramatis.

Mahija, yang sejak tadi siaga memperhatikan reaksi Mahika di tengah keramaian, tersenyum hangat melihat binar kekaguman di mata gadis itu. Pemandangan itu jauh lebih indah dibandingkan atraksi pesawat tempur mana pun yang sedang berlangsung di atas sana.

Selesai atraksi udara yang meriah, matahari perlahan bergeser ke arah barat, membawa hawa hangat sore hari. Sesi ramah tamah dan makan siang bersama digelar di bawah deretan tenda besar yang telah didekorasi rapi. Berbagai hidangan nusantara disajikan di atas meja panjang secara prasmanan.

Mahija dengan sigap memastikan rombongan warga desa mendapatkan tempat duduk yang nyaman dan makanan yang layak. Namun, alih-alih duduk bersama para perwira tinggi di meja kehormatan utama, Mahija justru membawa piring makanannya dan melangkah mendekati meja sudut tempat Mahika duduk seorang diri sambil menikmati segelas es teh manis.

"Boleh saya duduk di sini, Mahika?" tanya Mahija sopan, meski ia tidak menunggu jawaban Mahika untuk menarik kursi kayu di hadapan gadis itu dan duduk begitu saja.

Mahika mengerjap, menatap piring di depan Mahija lalu beralih menatap wajah sang perwira yang kini tampak lebih santai setelah pet perwiranya dilepas di atas meja.

"Suka-suka kamu. Ini bukan tempat saya yang punya."

Mahija terkekeh pelan. Ia mulai menyantap makanannya dengan lahap namun tetap menjaga etika militer yang melekat pada dirinya. Suasana di antara mereka sempat diisi oleh keheningan sejenak, diiringi suara obrolan warga lain di meja sebelah. Hingga akhirnya, Mahija meletakkan sendoknya, menatap lurus ke dalam manik mata Mahika dengan serius.

"Mahika," panggil Mahija dengan suara lembut yang langsung membuat dada gadis itu bergemuruh.

Mahika mengangkat wajahnya, menaikkan sebelah alisnya defensif. "Apa lagi?"

"Habis makan siang ini, ikut saya sebentar," pinta Mahija.

Alis Mahika langsung menukik tajam. "Ikut kemana? Saya mau balik sama rombongan Bu Lasmi nanti sore."

"Gak lama. Cuma sebentar," bujuk Mahija dengan tatapan penuh harap yang sulit ditolak oleh siapapun.

"Saya mau ajak kamu ke hanggar pesawat di ujung sana. Ada beberapa hal yang ingin saya tunjukkan ke kamu secara khusus. Biar kamu tahu sedikit tentang duniaku... dunia yang mungkin selama ini keliatannya kaku dan asing buat kamu."

Mahika terdiam. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena ia menyadari satu hal: Mahija sedang berusaha melangkah lebih jauh untuk meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun rapat-rapat. Pria itu tidak sedang bermain-main; ia ingin Mahika mengenalnya lebih dalam, keluar dari cangkang persembunyiannya di rumah pantai.

Jarak lima meter di belakang meja mereka, Jaka dan Hansen kembali saling melirik, tersenyum penuh arti melihat sang komandan mulai melancarkan strategi pamungkasnya di siang hari yang cerah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!