Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Srrshhh.
Air dingin mengalir deras dari keran wastafel membasahi wajah Bima.
Dia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi rumah sakit.
Rasa lelah setelah ketegangan di ruang gawat darurat perlahan mulai memudar.
Tatapannya kini terlihat jauh lebih tajam dan penuh percaya diri.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan Direktur Wira melangkah masuk dengan senyum lebar.
"Saya mencari kamu ke mana-mana, Bima."
"Ternyata kamu sedang bersembunyi di sini."
Bima segera mengambil tisu dan mengelap wajahnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Direktur?"
Direktur Wira menepuk bahu Bima dengan akrab, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan pada dokter magang mana pun.
"Mulai hari ini, kamu bebas mengakses fasilitas ruang operasi tingkat dua."
"Saya juga sudah meminta bagian administrasi untuk menaikkan statusmu menjadi asisten bedah utama."
"Gajimu akan disesuaikan dengan dokter spesialis junior."
Bima sedikit terkejut mendengar keputusan itu.
Itu adalah lompatan karir yang seharusnya membutuhkan waktu lima tahun bagi seorang dokter magang.
"Terima kasih banyak, Direktur Wira."
"Tapi apakah Dokter Surya tidak akan memprotes hal ini?"
Direktur Wira tertawa pelan mendengar nama itu.
"Surya sedang sibuk mengurus laporan pertanggungjawabannya di ruang komite."
"Setelah kejadian hari ini, dia tidak punya wajah lagi untuk membantah keputusanku."
"Istirahatlah dulu, kamu pantas mendapatkannya."
Direktur Wira berjalan keluar meninggalkan Bima yang tersenyum puas.
Semuanya mulai berjalan sesuai dengan rencana.
Sistem Medis Super benar-benar telah mengubah nasibnya dalam semalam.
Krucuk krucuk.
Perut Bima tiba-tiba berbunyi nyaring.
Dia baru ingat bahwa dia belum makan apa pun sejak pagi tadi.
Bima melangkah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kafe di lobi rumah sakit.
Suasana lobi sangat ramai oleh keluarga pasien dan para staf.
Namun saat Bima melewati koridor, beberapa perawat yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala.
"Siang, Dokter Bima."
"Selamat siang, Dokter."
Sapaan hormat itu terdengar bertubi-tubi dari setiap staf yang melewatinya.
Berita tentang seorang dokter magang yang menyelamatkan nyawa Tuan Besar Pratama telah menyebar seperti api.
Bima hanya membalas sapaan mereka dengan anggukan kecil.
Dia memesan secangkir kopi hitam dan sebuah roti isi di meja kasir kafe.
Tepat saat dia berbalik untuk mencari tempat duduk, sebuah suara melengking memanggil namanya.
"Bima?"
Langkah Bima terhenti seketika.
Dia sangat mengenali suara yang menyebalkan itu.
Bima menoleh dan melihat Rina berdiri tidak jauh darinya.
Wanita itu mengenakan gaun merah mencolok dan menenteng tas desainer ternama.
Di sampingnya, Kevin berdiri dengan setelan jas rapi sambil memasukkan satu tangan ke dalam saku celananya.
"Ternyata benar itu kamu."
"Aku kira mataku yang salah lihat," ucap Rina sambil berjalan mendekati Bima.
Senyum meremehkan tercetak jelas di bibir wanita itu.
Bima menatap mantan kekasihnya itu dengan ekspresi datar.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Kevin mendengus pelan dan merangkul pinggang Rina dengan protektif.
"Kami sedang menunggu jadwal konsultasi VIP dengan Dokter Surya."
"Kudengar dia adalah dokter spesialis terbaik di rumah sakit kumuh ini."
"Aku ingin memastikan calon istriku dalam keadaan sehat sebelum pernikahan kami."
Bima hampir saja tertawa mendengarnya.
Mereka mencari Dokter Surya yang saat ini sedang diinterogasi oleh komite medis karena hampir membunuh pasien.
"Semoga berhasil dengan konsultasi kalian."
"Aku harus kembali bekerja," ucap Bima singkat dan berniat melangkah pergi.
Namun Rina tiba-tiba melangkah maju dan menghalangi jalan Bima.
"Tunggu dulu, Bima."
"Kenapa kamu buru-buru sekali?"
"Apakah kamu malu melihat kami?"
Rina mengangkat tangan kirinya dan memamerkan sebuah cincin berlian yang berkilau di jari manisnya.
"Lihat ini."
"Mas Kevin membelikan ini khusus dari luar negeri."
"Harganya lebih dari gajimu selama sepuluh tahun bekerja sebagai dokter magang rendahan."
Rina menatap Bima dari atas ke bawah dengan pandangan jijik.
"Lihat kemejamu yang lusuh itu."
"Bahkan tas belanjaanku lebih mahal dari harga dirimu."
"Aku benar-benar bersyukur telah membuangmu semalam."
Bima memandang cincin itu sekilas tanpa minat sedikit pun.
Di matanya, Rina sekarang hanyalah seorang wanita dangkal yang menyedihkan.
"Jika kamu sudah selesai pamer, tolong minggir."
"Pasienku lebih penting daripada omong kosongmu."
Kevin langsung maju dan mendorong bahu Bima dengan kasar.
"Jaga mulutmu, Magang!"
"Kamu pikir kamu siapa berani bicara seperti itu pada tunanganku?!"
"Kamu hanyalah kacung di rumah sakit ini!"
"Aku bisa saja menyuruh direkturmu untuk memecatmu hari ini juga!"
Keributan di depan kafe itu mulai menarik perhatian orang-orang di lobi.
Beberapa pasien dan staf rumah sakit mulai berkerumun melihat kejadian tersebut.
Bima tidak membalas dorongan Kevin, dia hanya menepis tangan pria itu dari bahunya.
"Silakan saja hubungi direktur rumah sakit."
"Aku ingin tahu apakah dia lebih mendengarkanmu atau mendengarkanku."
Kevin tertawa keras mendengar tantangan Bima.
"Kamu benar-benar sudah gila karena miskin ya?"
"Aku adalah direktur dari PT Gemilang Makmur."
"Perusahaanku adalah salah satu penyuplai alat kesehatan di rumah sakit ini!"
"Suster! Tolong panggilkan manajer rumah sakit ini sekarang juga!" teriak Kevin kepada seorang perawat yang lewat.
Perawat itu adalah Suster Nita, perawat senior dari ruang IGD VIP yang ikut menangani kakek Kiara tadi.
Suster Nita menatap Kevin dengan wajah kesal karena dibentak.
"Ada masalah apa, Pak?"
"Tolong jangan membuat keributan di lobi rumah sakit."
Kevin menunjuk wajah Bima dengan angkuh.
"Dokter magang ini telah berbuat tidak sopan kepada saya, pasien VIP kalian."
"Saya minta dia dipecat sekarang juga."
Suster Nita menoleh ke arah yang ditunjuk Kevin dan matanya langsung membelalak terkejut.
"Dokter Bima?"
Bukannya mendengarkan keluhan Kevin, Suster Nita malah menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Bima.
"Maafkan saya, Dokter Bima."
"Apakah pria ini mengganggu waktu istirahat Anda?"
Kevin dan Rina terdiam kaku melihat pemandangan itu.
Kenapa seorang perawat senior bersikap sangat hormat kepada dokter magang yang biasanya sering disuruh-suruh?
"Suster, apa-apaan ini?!"
"Saya menyuruhmu memanggil manajer untuk memecatnya, bukan malah membungkuk padanya!" protes Kevin dengan wajah merah padam.