NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

POV: Fariz

Penyamaran ada harganya: menyaksikan perempuan yang kamu cintai mengira dia meraih semuanya sendirian, tanpa pernah bisa mengatakan bahwa itu karena kamu. Harga yang kubayar dengan ikhlas.

Aku sedang di kantor satelit Aurora di Kemang ketika Bagas datang membawa dosier.

"Si Rena itu," katanya, melempar kertas-kertas ke meja. "Bukan dari produksi. Dia diselipkan lewat agensi yang pada ujungnya melapor ke Ratna Wiratama. Dia mata-mata. Dia di sana untuk mengumpulkan informasi soal Lia. Dia memotret Lia yang sedang tidak enak badan di lokasi."

Kuambil dosier itu. Tanganku mantap, dan justru saat tanganku mantap aku perlu berdoa.

"Apa yang sudah dia kumpulkan?"

"Melihat pucatnya Lia. Melihat mualnya. Mendengar gosip lokasi. Kalau dia menjumlahkan dua tambah dua, Bu Ratna akan tahu soal kehamilan itu sebelum kita memutuskan apa yang dilakukan."

"Kehamilannya sudah dicurigai Bu Ratna sejak konfrontasi wawancara itu." Kutaruh dosier di meja. "Yang tidak kuinginkan adalah Bu Ratna punya bukti. Bukti di tangan orang seperti itu jadi senjata. Singkirkan Rena dari lokasi. Tanpa ribut. Cari alasan profesional supaya produksi memecatnya. Jangan sampai ada yang memercik ke Lia."

"Beres." Bagas ragu, dan Bagas tidak pernah ragu. "Dan Lia? Mas akan bilang bahwa Mas melindunginya? Bahwa ada orang Mas yang mengawasi lokasi syutingnya, langkah-langkahnya?"

Itu bagian yang sulit. Karena seumur hidup aku melihat apa yang dilakukan keluargaku, dan dari dekat aku melihat apa yang dilakukan Arga, dan garis antara melindungi dan mengurung lebih tipis dari yang diakui siapa pun. Kamera bisa jadi perawatan atau penjara, tergantung siapa yang memegangnya.

Aku tak mau jadi Arga. Tak ada kamera di rumahnya, tak ada pelacak di ponselnya. Tapi aku juga tak akan membiarkan Bu Ratna mendekat.

"Jangan bilang," kataku. "Tapi kalau dia bertanya, aku tak akan berbohong. Melindungi dalam gelap tidak boleh berubah menjadi berbohong di depan mukanya. Hari dia bertanya langsung apakah aku menjaganya dari belakang, aku akan ceritakan semuanya. Sampai saat itu, aku menjaga dalam diam."

Bagas mengangguk dan keluar.

Aku sendirian, dan ponselku berbunyi. Notifikasi media sosial. Sebuah kolom menerbitkan foto Arga di pintu keluar Wiratama Tech, dan keterangannya memuat pernyataannya. "Aku akan merebut kembali istriku. Tempat kami berdampingan. Tak ada yang boleh memisahkan apa yang dipersatukan Tuhan."

Kuremas tasbih di sakuku. Kugeser butir-butirnya satu per satu sampai keinginan menaiki pesawat pertama ke Jakarta menghilang. Arga masih menyebut Lia istrinya. Masih bicara tentangnya sebagai milik, sebagai sesuatu yang Tuhan berikan padanya. Dan yang terburuk, sebagian dirinya yang sakit percaya itu cinta, sebagaimana keluargaku percaya kesetiaan membenarkan apa pun. Orang-orang berbahaya selalu punya doa di lengan baju.

Telepon berdering. Video. Bibi, dari Surabaya.

"Halo, Mas yang kaku." Wajahnya memenuhi layar. "Di mana? Mama tanya kenapa Mas tiap minggu menghilang ke Jakarta. Dia curiga."

"Kerja."

"Kerja." Dia menyipitkan mata. "Mas Fariz, aku kenal Mas sejak Mas masih pakai popok. Mas lagi jatuh cinta."

"Aku sibuk, Bi."

"Jatuh cinta. Sama aktris itu. Amelia." Dia tersenyum lebar, lalu senyumnya melunak. "Aduh, manis banget. Si suci jatuh cinta. Bawa dia ke Surabaya, biar aku kenal lebih dekat. Mama pasti mau menyelidik, Mas tahu sendiri, dan Eyang akan bikin drama soal 'pernikahan yang sepadan'." Dia mendadak serius, dengan cara langka itu. "Tapi hati-hati, ya? Mas tahu keluarga kita bukan cuma pesta, laut, dan lantai VIP. Ada hal yang tidak diucapkan keras-keras. Ada orang yang dihindari. Kalau Mas membawanya masuk, dia akan memasuki dunia yang punya aturan, punya wilayah, punya darah. Dia tahu dia menginjak apa?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, dan menggangguku karena itu persis pertanyaan yang menghantuiku.

"Akan kuurus," kataku. "Dah, Bi."

Kututup. Dan pertanyaannya tertinggal. Karena membawa Lia ke Surabaya berarti membawanya ke dekat keluargaku, dan keluargaku bukan seperti yang muncul di kolom gosip. Suatu hari aku harus mengatakan siapa aku sebenarnya, hanya saja bukan malam itu, dan bukan malam berikutnya.

Kuambil mobil dan menuju gedung tempat tinggalnya, bertekad menceritakan semuanya sekaligus. Sang pelindung, ikatan masa kecil, syal itu, tiga tahun menjaga dari jauh, bocah sembilan tahun di bawah kanopi toko. Lelah menyembunyikan, lelah mencintai dalam diam.

Aku sudah menaiki separuh tangga. Dan di lantai tempatnya tinggal, dari pintu yang terbuka sedikit, kudengar suara Lia. Dia tertawa. Bicara di telepon dengan neneknya, menceritakan syuting, buket tanpa kartu, tertawa lagi, tawa ringan tanpa takut, yang tak kudengar sejak aku mengenalnya dari dekat.

Aku berhenti di anak tangga.

Dia baru saja menemukan kembali suaranya sendiri. Baru keluar dari sangkar, selamat dari malam dingin yang nyaris merenggutnya. Dan aku akan mengetuk pintunya dan menumpahkan rahasia tiga tahun ke atas kedamaian yang baru lahir itu, hanya karena aku tak sanggup lagi menanggungnya sendiri.

Itu bukan untuknya. Itu untukku. Dan cinta yang melayani yang mencintai, bukan yang dicintai, punya nama lain.

Kusimpan tasbih, berbalik, dan turun.

Di lantai dasar, saat mendorong pintu gedung, aku bertabrakan dengan seseorang yang keluar tergesa. Seorang perempuan berjaket, kepala menunduk, map di bawah lengan. Dia mengangkat wajah sedetik, dan aku mengenalinya. Rena. Mata-mata Bu Ratna. Keluar dari gedung Lia, dini hari.

Mata kami bertemu. Dia mengenaliku juga, wajahnya memutih.

Sebelum sempat kutanya apa yang dia lakukan di dalam gedung Lia, jam segitu, dia mempercepat langkah dan lenyap di tikungan. Dan aku berdiri di trotoar, memahami bahwa Bu Ratna sudah tidak sekadar menyelidik. Dia sudah menaruh orang di dalam. Dan pengepungan yang ingin kuhindari sudah dimulai tanpa kulihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!