Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kuasa uang
Bayu duduk dengan posisi tegap, menjaga tata kramanya meskipun kini dia harus berhadapan langsung dengan sepiring lobster mewah di atas meja kayu restoran kelas menengah ini. Suasana canggung perlahan mencair saat wanita di hadapannya mulai membuka obrolan dengan nada santai.
"Sudah lama kamu di sini?" tanya wanita itu, sambil memotong bagian kecil daging lobster dengan garpu peraknya.
"Lumayan... sekitar enam bulan," kata Bayu berbohong sedikit untuk menyederhanakan cerita. Dia tidak perlu menceritakan bahwa enam bulan pertamanya dihabiskan di belakang bak cucian piring yang kotor dan pengap. Bagi Bayu, masa lalu setahun terakhir ini adalah rahasia yang terkunci rapat.
Namun, ketenangan di meja sudut itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan, sepasang mata tajam sejak tadi sudah mengawasi gerak-gerik mereka. Sang manajer restoran yang sedang berkeliling memeriksa area depan, mendapati salah satu pelayan barunya malah asyik duduk santai di meja VIP bersama pelanggan.
Dada sang manajer langsung bergemuruh, menahan geram. Dia menganggap Bayu sudah sangat keterlaluan dan tidak tahu diri. Tanpa membuang waktu, dengan langkah lebar dan raut wajah ketat, dia pun mendatangi meja Bayu.
"Maaf, Nona. Pelayan kami sedang bekerja dan tidak seharusnya mengganggu kenyamanan makan Anda," potong sang manajer dengan suara ditekan, mencoba terdengar tegas namun tetap sopan di depan pelanggan kaya.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Sambil mengunyah lobsternya dengan santai, dia hanya melirik sekilas ke arah manajer dengan tatapan dingin yang meremehkan.
Tentu saja, ekspresi wajah Bayu langsung berubah. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat melihat tatapan menusuk dari atasannya.
'Aduuhhh... masalah ini... bisa-bisa aku dipecat malam ini juga,' keluh Bayu dalam hati.
Kehilangan pekerjaan seratus ribu per hari ini adalah mimpi buruk bagi kondisi finansialnya saat ini.
"Anda siapa?" tanya wanita itu dengan nada datar setelah menelan makanannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh intimidasi sang manajer.
"Maaf, Nona. Saya manajer di restoran ini. Dan saya harus memastikan semua staf bekerja sesuai dengan aturan operasional kami," jawab sang manajer sambil membusungkan dada, merasa di atas angin. Dia kemudian melirik tajam ke arah Bayu, memberi isyarat agar anak muda itu segera berdiri dan pergi ke belakang.
"Owh..." Wanita modis itu manggut-manggut kecil, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.
Melihat respons yang santai, sang manajer kembali mengulangi kalimatnya dengan penekanan yang lebih jelas, "Jadi, maaf sekali lagi Nona, pelayan kami harus kembali bekerja."
Bukannya merasa bersalah karena telah melanggar aturan restoran, wanita itu justru mengibaskan tangannya dengan santai di udara, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.
"Kamu tinggal masukin saja waktu dia ke dalam tagihanku malam ini," kata wanita itu dengan suara tenang namun penuh penekanan yang mutlak. "Biar dia menemani aku makan dulu sampai selesai. Berapa tarif lembur atau denda yang harus aku bayar karena memakai pelayanmu? Tulis saja semuanya di nota."
Sang manajer pun sedikit agak bingung dengan permintaan tidak masuk akal dari wanita itu. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba memproses kalimat yang baru saja dia dengar. Memasukkan waktu pelayan ke dalam tagihan makan? Ini adalah hal pertama yang terjadi sepanjang kariernya mengelola restoran.
Namun... melihat pakaian bermerek, tas mewah yang tergeletak di kursi sebelah, dan aura kekuasaan yang memancar kuat dari wanita itu, mana berani dia membantah? Kalangan elit seperti ini bisa dengan mudah membeli seluruh aset restoran ini jika mereka mau, atau menghancurkan reputasi tempat usahanya hanya dengan satu ulasan buruk.Sang manajer akhirnya hanya bisa menelan ludah, memaksakan sebuah senyuman kaku di wajahnya.
"B-baik, Nona. Jika itu keinginan Anda. Silakan dilanjutkan," ucapnya gugup sembari membungkuk hormat, lalu melangkah mundur dengan terburu-buru.
Sembari berjalan menjauh dengan wajah masam, sang manajer hanya bisa menggerutu tanpa suara. 'Kaum elit seleranya kadang aneh-aneh saja! Mau makan saja harus ditemani pelayan restoran kecil,' kata sang manajer dalam hati, menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran.
Sementara itu di meja sudut, Bayu hanya bisa mengembus napas lega yang panjang. Dia menatap wanita di depannya dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa ingin tahu yang mendalam. Siapa sebenarnya wanita ini?
Dan apa tujuan sebenarnya di balik perhatian khususnya pada seorang pelayan biasa seperti dirinya?