Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Aurora
Rora menaikkan tudung sweternya ketika gadis itu berjalan melewati lorong kelas yang sebenarnya masih cukup sepi. Rora sengaja berangkat pagi-pagi buta untuk menjalankan misinya, yaitu: Berpura-pura tidak terlihat.
Ya karena ucapannya kemarin, gadis itu bahkan berpikir untuk membolos saja—sayang sekali Bundanya tidak mudah dibohongi. Berpura-pura sakit pun tidak akan berhasil.
Rora menundukkan kepalanya tatkala berpapasan dengan murid lainnya, sengaja menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Mencoba berjalan secepat mungkin, namun tiba-tiba...
BUG!
Rora mendesis kesal ketika merasakan kepalanya kepentok. "Aduh!" erangnya, lantas mengangkat wajahnya.
Kedua pupil gadis itu melebar melihat siapa yang berdiri di hadapannya—Kay Morgan!
Sial! Ngapain sih harus ketemu sama dia?
Langsung saja Rora memutar tubuhnya. Berniat berbalik arah untuk menghindar, namun tiba-tiba Kay menarik tasnya, membuat tubuh Rora terhuyung ke belakang. Sesaat kedua mata gadis itu mengerjap, tubuhnya menegang merasakan punggungnya menempel pada tubuh Kay Morgan.
"Habis nabrak gue, lo mau pergi gitu aja?" desis Kay tajam tepat di telinga Rora.
"Gue minta maaf." Langsung saja gadis itu menoleh, mencoba melepaskan tasnya dari cekalan cowok itu.
"Lepasin dong!" pinta gadis itu merasa kesal sendiri lantaran Kay tidak kunjung melepaskannya. Jadi lah Rora memaksa melepaskan diri.
Kedua mata Kay menyipit sesaat, tanpa aba-aba Kay melepaskan tas Rora. Membuat gadis itu terjatuh dengan posisi tengkurap. "Yah... jatuh!" decak Kay tanpa ekspresi.
"Aw! Sakit bego!" Rora meringis kesakitan. Tak lama gadis itu menahan napasnya ketika merasakan beberapa pasang mata menatapnya secara terang-terangan.
Malu banget woy!
Rora langsung berdiri dari tempatnya, melempar tatapan kesal ke arah Kay yang masih memasang wajah temboknya. Sosiopat nih cowok! umpatnya dalam hati.
"Heh! Lo sengaja kan?" Melihat wajah memerah Rora, Kay Morgan tersenyum mengejek.
Kay lantas memutar bola matanya. "Katanya suruh ngelepas," ucap Kay, yang emang bener.
Rora menoleh ke sekitar, jelas mereka menjadi bahan tontonan. Entah sejak kapan lorong sekolah menjadi lebih ramai. Sial! Misinya bisa gagal jika harus meladeni cowok di hadapannya itu.
"Untung aja gue nggak ada waktu buat ngeladenin lo!" pungkas Rora pelan.
Gadis itu berniat melangkahkan kakinya melewati Kay. Namun suara cowok itu tiba-tiba mengudara dengan kerasnya.
"Yakin nggak ada waktu buat ngeladenin pacar sendiri, hmm?"
Apa apaan—
Langkah Rora langsung terhenti. Gadis itu menoleh, terkejut menemukan wajah Kay yang tengah menyeringai ke arahnya. "Kok kaget gitu?"
Masa iya dia tahu tentang kejadian di lorong sekolah kemarin?
Mati! Mati! Mati!
Baru saja gadis itu berniat mendekat untuk memberi pembelaan untuk membalas, tiba-tiba Kay Morgan mendekat lebih dulu, cowok itu menarik tangannya.
"Eh Lepasin! Lo mau bawa gue kemana?!"
"Lepasin gue!" Kay tidak berniat menjawab, cowok itu terus menarik Rora ke tempat yang lebih sepi.
Rora memberontak, mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Kay—dan berhasil.
"Sekali lagi lo narik-narik gue kayak tadi, gue bocorin tentang—" Rora menghentikan ucapannya ketika tiba-tiba Kay berbalik ke arahnya, membuat keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Tentang apa?" tuntut Kay seraya menaikkan sebelah alisnya, seolah sengaja menguji sejauh mana gadis itu berani bersuara.
"Ng-Nggak jadi!" ketus Rora, langsung menggeleng.
Melihat Rora hanya menunduk, Kay menghela napasnya. Benar apa yang Mahendra katakan, gadis kayak Rora gini nggak bisa diancam pakai gertakan. Nyatanya Rora gadis yang ceroboh dan sembrono, mudah sekali mengatakan hal-hal tidak berguna.
Dan kejadian di lorong sekolah kemarin,membuktikan hal itu.
Kay Morgan merogoh saku seragamnya, mengeluarkan ponselnya. Rora masih terdiam ketika Kay mengalihkan fokus ke benda pipih itu.
"HEH! RUKA THE FIRST! LO DENGER GUE BAIK-BAIK." Rora membekap mulutnya dramatis. Terkejut dengan suaranya sendiri.
"KAY EMANG PACAR GUE! DIA PUNYA GUE! JADI LO NGGAK USAH KEGATELAN! DASAR CABE!"
Tubuhnya mendadak merinding, merasa jijik sendiri dengan ucapannya.
"Matiin nggak!" ancam Rora, gadis itu berusaha merebut ponsel milik Kay dengan wajah yang sudah semerah tomat.
Namun gagal, tentu saja—tubuh Kay terlalu tinggi dan gadis itu tidak sepadan.
"Ih nyebelin banget! Siniin HP lo, biar gue banting!" rengek Rora masih berjinjit, mencoba mengambil alih benda pipih itu.
"Percuma, ini video udah kesebar," ucap Kay santai yang membuat Rora terkejut setengah mampus.
Sialan! Siapa yang ngerekam coba? Kurang kerjaan banget itu orang.
"Ja-jangan kepedean, gue bilang gitu gara-gara lo juga. Ngapain sih ngaku-ngakuin gue sebagai pacar di depan tuh cewek cabe?"
Kay Morgan menaikkan bahunya. "Pengen aja," jawab Kay yang membuat Rora meradang.
Jadi gadis itu harus kehilangan rambutnya karena cowok itu lagi pengen aja?
Pengen apa maksudnya? Pengen jadi rakyat Vrindavan, terus jadi adiknya Krisna? Sumpah ini cowok ngeselin banget!
"Lo tau nggak, kalau gara-gara fans bar-bar lo rambut gue jadi korban?" tanya Rora menggebu-gebu.
Wajah galak itu membuat Kay melangkah mendekat ke arah Rora, cowok itu sengaja mengikis jarak keduanya.
Tubuh Rora mematung merasakan tangan besar milik Kay bergerak di atas kepalanya, cowok itu membuka tudung sweternya dengan sekali gerakan. Tak lama Kay terkekeh kecil menyadari rambut gadis itu yang memang terlihat lebih pendek dari sebelumnya.
"Sekarang posisi kita satu sama, impas." Rora mengernyit bingung. "Maksud lo?"
"Gue mau lo jaga rahasia gue, dan lo bakal dapet yang lo mau," tutur Kay Morgan dengan wajah super serius.
Rora memandang Kay remeh. "Emangnya apa yang bakal gue dapet?"
Kay terdiam sesaat, sebelum akhirnya membuka suara. "Gue. Lo dapet gue, Rora. Bukannya lo butuh gue buat buktiin ucapan lo ke Ruka?" Gadis itu terdiam, seolah mencoba mencerna ucapan Kay secara perlahan.
Tak lama kedua mata cantik Rora berkilat, menunjukkan ketertarikan. Tanpa sadar gadis itu menarik seulas senyum.
Sial! Itu penawaran yang menggiurkan, jujur sebelumnya Rora berniat mengancam Kay, agar harga dirinya tidak hancur di hadapan Ruka lantaran berbohong—namun tidak berani dan malu. Dan sekarang? Tawaran itu datang dengan sendirinya.
"Okay. Gue setuju." Mendengar itu Kay tersenyum kecil. Nyatanya sangat mudah membuat gadis itu menyetujui ucapannya.
"Bagus," bisiknya sebelum menarik diri dari hadapan Rora.
But wait!
Rora? Kok si Kay Morgan bisa tahu kalau panggilan dia Rora? Apa dia se-famous itu? Kayaknya nggak deh. Tapi... ah! Bodo amat, yang penting dirinya bisa tenang sekarang.
See? Menjadi pacar seorang Kay Morgan nyatanya sangat mudah—ya... walaupun hanya pura-pura.
🐼🐼🐼
Seperti biasa, keadaan kantin selalu ramai dengan murid-muridnya ketika Sheila, Aurora Grey, dan Rami berjalan beriringan mencari tempat yang masih kosong—tentu saja pandangan itu tak luput dari anak cowok, itung-itung cuci mata.
Ya gimana dong? Sheila itu kenal sebagai it girl-nya kelas 11, sedangkan Rami? Jangan ditanya, dari kelas satu sampai kelas tiga, orang-orang pada kenal kali sama Rami Delia—maklum, koneksi pertemanan dia di mana-mana.
Dan sekarang tambah Aurora Grey, murid baru yang tengah digosipkan berpacaran dengan Kay Morgan. Jangan lupakan fakta jika Aurora Grey tidak kalah cantik ketika bersanding dengan Sheila dan Rami, sudah jelas kedatangan mereka mengundang atensi berkala dari murid lainnya—khususnya anak cowok.
"Ini kok pada ngeliatin kita sih?" Rora berbisik risih.
Rami memutar bola matanya. "Gimana nggak diliatin, orang sebelah kita ada Sheila terus lo juga lagi jadi topik hangat di sekolah ini. Jadi nikmati aja."
Sheila yang berada di sebelahnya menggeleng kecil. "Biarin Rora, santai aja."
"Iya, santai aja." timpal Rami seraya mengambil tempat kosong.
"Mau pesan apa?" Seperti biasa, suara lembut milik Sheila menginterupsi.
"Gue Ayam geprek sama jus mangga," jawab Rami.
"Samain aja sama Rami, biar nggak ribet. Mau gue temenin Sheila?" tawar Aurora Grey yang membuat Sheila menggeleng.
"Nggak usah, lo di sini aja jagain tempat gue," kata Sheila berbaik hati. Selepas kepergian Sheila, Aurora Grey mengedarkan pandang ke sekitar, bertanya-tanya apa yang membuat keadaan kantin lebih ramai dari sebelumnya.
Mungkin karena tadi ada rapat guru, jadi banyak kelas yang kosong dan alhasil banyak murid yang cabut kelas.
Sesaat Rora mendengus melihat Kay Morgan dan teman-temannya duduk tak jauh dari mejanya. Lebih sialnya pandangan mereka bertabrakan,walau hanya beberapa detik.
"Rora, bagus nggak?" Sheila menyenggol lengan Aurora Grey, membuat fokus gadis itu terpecah.
"Lucu banget nggak sih?" bisik Sheila menyodorkan layar ponselnya, menunjukkan beberapa pilihan baju dari salah satu toko daring di Instagram.
"Iya, yang warna peach bagus," balas Aurora Grey menunjuk baju dengan potongan lengan pendek.
"Aurora Grey ya?" Tiba-tiba saja seorang cowok menarik kursi di hadapan Aurora Grey.
"I-iya?" jawabnya bingung.
Gadis itu sedikit cengo ketika sosok jangkung itu menyodorkan ponsel ke arahnya. "Boleh minta ID Line-nya?"
Langsung saja Aurora Grey menoleh ke arah Rami. Sorot mata gadis itu menunjukkan kebingungan, bukan karena dimintai ID Line—tentu saja gadis itu sudah biasa dengan hal itu, banyak teman-temannya yang secara terang-terangan meminta ID Line dan nomor WhatsApp-nya sepulang sekolah.
Beruntung gadis itu punya banyak alasan untuk menolak, mulai bilang ojeknya datang atau jemputannya sudah menunggu di depan gerbang. Tapi kali ini siapa yang akan menolongnya?
Sial! Mana dilihat dari lencana seragamnya dia anak kelas 12, gimana cara nolak nya?
"Maaf kak, gue nggak ada Line."
"Jangan bohong, masa nggak ada Line." Dia ketahuan. Lagian siapa sih yang mau kasih ID Line-nya ke sembarang orang?
"Nggak ada kak," katanya lagi. Gadis itu mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar lembut. Kali aja dia bentak kakak kelas.
Cowok itu tersenyum remeh. "Masa nggak ada?"
"Nggak ada kak,"
"Kalau WhatsApp?" Aurora Grey kebingungan menjawab, gadis itu kembali melirik Rami, sialnya gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan jahil seraya menahan senyum.
Kampret!
"Nggak usah jual mahal gitu," Rora memilin jemarinya ketika cowok di hadapannya kembali menyodorkan ponsel kepadanya.
Tatapannya mengisyaratkan sedikit paksaan—minta di tonjok ini orang.
"Anu Kak—" suara Rora terpotong ketika suara nyaring terdengar. Dentingan sendok dan garpu bergesekan keras dengan piring, membuat semua mata tertuju pada sosok Kay Morgan—sang pelaku.
Tapi tentu saja yang paling terkejut di antara yang lain adalah teman-teman Kay, bahkan Tristan yang biasanya diam seribu bahasa aja sempat berjengit kaget.
"Kalau nggak mau jangan dipaksa, deketin cewek kok ngemis banget!" Semua orang terdiam, suara Kay Morgan terdengar sangat jelas dan menusuk.
Aurora Grey terkejut ketika Damian—sosok kakak kelas yang duduk di hadapannya mendesis pelan. Cowok itu memiringkan tubuhnya ke arah Kay Morgan, menatap wajah cowok itu dengan tak kalah tajam.
"Sorry, apa gue ganggu lo bro?" Itu jelas bukan jenis permintaan maaf, lantaran nada dingin ucapan Damian mengudara dengan sangat jelasnya.
"Sangat. Lo bikin gue keusik," jawaban Kay Morgan sukses membuat suasana kantin semakin mencengkram. Bahkan Devandra yang sedang berebut bakwan dengan Digo menoleh terkejut.
Kay Morgan jelas bukan tipikal orang yang senang membuat masalah dengan orang lain. Sebaliknya, cowok itu tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain, sangat tenang dan cenderung cuek dengan kondisi sekitarnya. Melihat Kay Morgan terpancing amarah hanya karena Damian sedang mendekati adik kelas, jelas sangat aneh.
Atau mungkin tidak.
Aurora Grey yang hanya diam sejak tadi mendadak menjadi sorotan. Asumsi jika murid baru bernama Aurora Grey adalah pacar Kay Morgan semakin terlihat jelas. Namun rupanya berita itu tidak cukup menggiurkan, untuk Damian mengurungkan niat guna mendekati gadis bernama Aurora Grey itu.
"Terus lo mau apa?" pancing Damian, tanpa sadar membangkitkan emosi Kay Morgan.
Tentu saja tidak ada yang tahu itu, lantaran wajah Kay Morgan masih sangat tenang. Cowok itu pandai menyembunyikan emosinya.
"Gue mau lo jauh-jauh dari dia, nggak lihat dia keganggu sama lo?" Mendengar ejekan Kay Morgan, sosok Damian menggeram pelan.
Lantas atensinya beralih kepada Aurora Grey yang hanya bergeming di tempatnya. "Lo keganggu sama gue?" tanya Damian menatap Aurora Grey lamat-lamat.
Ingin rasanya Aurora Grey menghilang.
Tubuh gadis itu mendadak menegang, merasakan tatapan semua orang yang nyaris melubangi punggungnya. Tangan Aurora Grey mengepal di bawah meja, gadis itu gelisah sekarang. Begitu pun dengan Rami yang masih tidak paham dengan situasi itu.
Melihat Aurora Grey yang terdiam, amarah Damian terpancing dengan mudahnya. Sialan ini cewek! Pikirnya kesal.
"Oh! Jadi dia beneran cewek lo, Kay?" Pertanyaan Damian sukses membuat orang-orang semakin penasaran.
"Kalau iya, kenapa?" jawaban santai Kay Morgan itu membuat teman-temannya menoleh tidak percaya. Bahkan Mahendra menyempatkan diri untuk menendang kaki Kay Morgan dari bawah meja.
Menurutnya, kali ini Kay Morgan bertindak terlalu jauh.
Gimana kalau Aurora Grey bilang: Nggak! Gue pacarnya Shayen Morgan, kakaknya Kay Morgan.
Malu dong!
Namun melihat Aurora Grey hanya diam saja dan tidak membantah, jelas membuat Digo, Kael William, Mahendra, dan Devandra saling melempar tatapan bingung—kecuali Tristan, cowok itu satu-satunya orang yang tidak peduli ketika keadaan kantin berubah menjadi panggung pertunjukan.
"Gila! Ini gue lagi nonton drama korea apa gimana?" Ucap Devandra pelan sambil mengeluarkan ponselnya.
Lumayan, ada konten buat siaran langsung.
"Udah berani pacaran ternyata, hebat juga sekarang bisa ngelakuin sesuatu tanpa bantuan kakak lo." Suara Damian kembali menginterupsi.
Aurora Grey menelan salivanya ketika Damian menoleh kepadanya, melihatnya dengan tatapan menilai. "Selera lo kurang bagus."
Tak lama Kay Morgan berdiri dari tempatnya, menimbulkan suara gesekan kursi dan lantai dengan kerasnya. Cowok itu berjalan menghampiri Damian yang masih duduk di hadapan Aurora Grey, menarik kerah kemeja sekolah Damian, menatap mata cowok itu dengan sorot tajam.
"Kalau nggak tau apa-apa mending lo diem, sampah!" geram Kay Morgan mengeratkan pegangannya.
Melihat sosok Kay Morgan dengan mudah tersulut emosi hanya karena kalimat yang dirinya lontarkan, Damian tertawa remeh. "Kenapa lo nggak terima, gue cuma kasih pendapat gue tentang ini cewek," desisnya seraya menunjuk Aurora Grey secara terang-terangan.
"Dan bukannya emang lo bisa jadi ketua OSIS karena kakak lo?" Lanjut Damian masih tak ingin kalah.
Sosok bertubuh jangkung itu mendorong keras tubuh Kay Morgan, namun tak memberi pengaruh banyak. Tubuh kokoh milik Kay Morgan tak mundur se-inci pun dari hadapan Damian. "Bangga banget lo bisa jadi ketua organisasi di sini, hah?!"
"Sadar bangsat! Kalau bukan karena pengaruh Shayen Morgan di sekolah ini, lo itu bukan apa-apa!"
Syuuuhh…
Bughh…
Brug…
Kejadian setelahnya secepat angin. Sebuah pukulan mendarat sempurna di wajah Damian, membuat tubuh cowok itu tumbang di lantai.
Tentu saja, siapapun tidak akan memperkirakan gerakan tiba-tiba dari Kay Morgan. Semua orang terpaku di tempatnya, untuk pertama kalinya—ketua OSIS mereka memukul wajah orang lain, yang notabenenya adalah kakak kelas.
Sama halnya dengan Aurora Grey, gadis itu terpaku melihat kejadian di hadapannya.
Untuk kedua kalinya, Kay Morgan memukul seseorang di depan matanya.
Bagus! Sisi Kay Morgan sebagai ketua OSIS yang teladan telah lenyap entah kemana, tergantikan dengan sisi kasar dan menakutkan layaknya anggota The Revenants.
Ini bahaya!
Kael William menjadi orang pertama yang menyadarinya. Cowok itu mendekat untuk memisahkan keduanya, sebelum Kay Morgan kembali nekat menendang wajah Damian yang masih tersungkur di hadapannya.
"Udah! Lo bisa kena masalah." Kay Morgan yang ditahan Kael William nampaknya masih belum mau berhenti.
Cowok itu sedikit menundukkan tubuhnya,melayangkan tatapan tidak suka yang ketara ke arah Damian. "Sekali lagi lo bawa-bawa nama dia di hadapan gue, abis lo!"
Detik selanjutnya—tanpa melihat ke arah Aurora Grey sedikit pun, Kay Morgan berangsur menjauh dan keluar dari kawasan kantin.