Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Siapkan Popcornnya
Hari ini gantian Dania yang melewatkan sarapan pagi. Setelah mendengar pertanyaan atau lebih tepatnya permohonan ijin itu, rasanya Dania tidak akan kuat melihat wajah songong Jax. Lebih baik ia menghindari si pembuat masalah daripada merusak suasana paginya sebelum bertemu dengan para mahasiswa tercintanya.
Namun tenang saja, Dania masih menyempatkan untuk membuat sandwich isi sosis dan sayuran untuk dirinya dan.... Suami jahanamnya. Aktivitas yang sudah menjadi kebiasan dan keharusan itu perlahan menjelma menjadi kutukan.
Tak ingin larut dalam amarah yang menguras energinya, Dania memilih datang ke kelas lebih awal. Walaupun itu tidak lazim, tapi kedisiplinan mampu membuatnya lebih tenang dan bisa meningkatkan mood saat mengajar.
Setidaknya itu yang ia pikirkan sebelum seseorang memasuki ruangan.
Seolah takdir mengolok-ngoloknya, laki-laki yang ia hindari dari pagi malah melenggang penuh kemantapan dan menyunggingkan taring kecil di bibirnya, tersenyum penuh kepuasan.
"Hah! Apa saja yang kamu lakukan di kampus? Kenapa setiap mata kuliah dasar, ada muka kamu!"
"Mmm... Pacaran?" Jawab Jax singkat dengan senyum jahil seperti seekor rubah.
'Ya... Tuhan, berikan hamba-Mu ini ketabahan.'
"Duduk! Kelas akan dimulai."
"Siap Bu!"
Kini hancur sudah paginya. Perkuliahan yang seharusnya hanya memakan waktu satu jam setengah itu bagaikan neraka dengan kobaran api yang tidak bisa dipadamkan oleh berliter-liter air. Suasana presentasi yang seharusnya syarat dengan perdebatan dan pertukaran ilmu yang berarti, malah terdengar seperti kicauan burung yang berisik.
Ditambah lagi tatapan Jax yang tidak pernah putus padanya, membuat Dania terus mengeryitkan kening.
'Apa sebenarnya maunya?'
Dania membalas tatapan itu dengan lirikan tajam yang memancarkan luapan amarah.
Tapi Jax malah berlagak memegangi dadanya dengan kedua tangannya seolah sedang ditusuk pedang.
Brak!!!!
Dania kelepasan.
Gebrakan meja itu membuat seisi kelas terkejut. Mereka langsung menoleh kearah dosennya untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Mmm..... Ada lalat. Hehe.... Lanjutkan lanjutkan," jelaskan dengan mengibas-ngibaskan tangannya. Tawanya terdengar canggung dan malu-malu sampai membuat Jax tidak tahan untuk tertawa.
'Ssssialan!!!!!'
.
.
.
Kelas neraka itu akhirnya selesai. Bergegas Dania merapikan mejanya untuk pergi ke kelas selanjutnya. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang gadis yang bergelendotan di tangan Jax ketika jam berakhir.
'Apakah itu pacarnya?'
Dania memindai wajah dan tubuh gadis itu dengan mata yang menghakimi.
'Cantik sih, tapi masih cantikan aku,' ucapnya dalam hati.
Rambut panjang berkilau, tubuh langsing dengan kulit putih bersih, dan kaki jenjang. Baginya itu standar cewek pada ummnya, tidak ada yang spesial. Entah itu penilaian yang obyektif atau hanya bentuk kedengkiannya saja. Namun yang pasti terlihat sekarang adalah Dania telah memakai waktu bebenah mejanya terlalu lama.
"Jax, nanti kita jadi main kan?" Tanya cewek itu.
"Tentu donk, nanti mainnya di rumahku saja," jawabnya sambil melirik ke arah Dania yang sudah menyemburkan api dari telinganya.
"Beneran? Asyik!!!"
Kesabaran Dania sudah habis. Dia tidak terima Jax mengundang perempuan lain di rumahnya.
Dania masih tidak mempermasalahkan suaminya yang suka main cewek. Tapi kalau sampai membawanya ke rumah, maka tidak ada lagi toleransi.
Dengan langkah berat, Dania sudah bersiap menampar Jax. Tapi baru saja dia berjalan satu langkah, ada perempuan lagi yang datang melewatinya.
Kali ini Dania mengakui kalau perempuan itu lebih cantik dari gadis di sebelah Jax. Bahkan Dania mengagumi rambut merah bergelombang miliknya.
Plak!!!
Gadis berambut merah itu menampar gadis yang lain.
Tamparannya cukup keras hingga membuat Dania menutup mulutnya karena terkejut.
"Heh uler!!! Minggir nggak lu!! Nggak usah sok kegatelan deh jadi cewek."
Plakk!!!
Gadis yang berambut hitam tidak mau kalah. Dia membalas tamparannya dengan samberan yang lebih keras.
"Lu yang kegatelan!!! Garuk dulu itu punggung lu. Dasar ulat bulu!!!"
Wah, pertempuran yang sangat seru untuk ditonton. Andai saja ada penjual popcorn disana, Dania pasti sudah membeli 10 bungkus.
Perselisihan kini semakin sengit karena ajang menjambak sedang dimulai. Para gadis yang sudah dibutakan oleh cinta masa muda itu saling mencengkram tak mau lepas.
Sedangkan Jax malah duduk di tengah mereka, menyaksikan pergulatan abad kini dengan kaki bersilang.
Dania keheranan dengan sikap Jax. Bisa-bisanya dia malah duduk santai saat dua perempuan sedang memperebutkannya.
"Hei, sana!" Dania berbisik memberikan isyarat agar Jax melerai pacar-pacarnya. Tapi dia malah mengangkat bahunya tidak peduli.
Mau tidak mau, Dania harus turun tangan. Sebagai Dosen, dia merasa bertanggung jawab pada mahasiswanya meskipun kelasnya telah berakhir.
"Hei Girls... Udahan yuk bertengkarnya. Sebentar lagi kuliah selanjutnya dimulai." Ucap Dania lantang tapi sepertinya kedua gadis itu tidak mendengarkan. Mereka masih saling menjambak sampai salah satu terjatuh dan yang lainnya menimpanya.
"Anak-anak!!! Bubar bubar!!!"
Dania menghampiri keduanya tanpa memikirkan dampak dari kedekatannya.
Karena sengitnya pertempuran adu jambak itu, Dania yang mendekat malah kena imbasnya.
Bella, cewek berambut merah itu tidak sengaja mendorong Dania yang tengah berusaha menariknya dari posisinya yang menimpa cewek lain.
Bakk!!!
Dania tersungkur. Meskipun tidak terlalu keras namun tu cukup menyakiti pantatnya yang menghantam lantai.
Brakkk!!!
"HEI HENTIKAN!!!!! Jax mendadak membentak dan menggebrak meja sampai mahasiswa lain yang tengah menonton terkejut.
"PERGI SEKARANG JUGA!!! KALIAN BERDUA!!!"
"Tapi Jax?" Keluh Bella.
"Kalau kalian nggak mau pergi, biar aku yang pergi."
Jax berbalik untuk membantu Dania berdiri. Tapi Dania telah bangkit dengan sendirinya dan berjalan berlalu tanpa menengok ke arah Jax lagi. Sudah cukup baginya untuk merasakan naik turunnya emosi.
Dania sudah tak mau lagi berada dalam permainan anak kecil itu lagi.
.
.
.
"Keterlaluan!!!! Udah gede tapi sikapnya masih seperti anak kecil!!! Disuruh melerai malah enak-enakan ongkang kaki. Dasar!!!!"
Dania mengumpat sepanjang perjalanan menuju kelas lain di seberang gedung.
"Aw!!! sssss...aah..."
Amarahnya membuatnya lupa kalau sekarang pantatnya sakit karena jatuh.
Ia berhenti sebentar untuk sekedar mengaduh. Rintihannya terdengar sakit sekali. Memang umur tidak bisa berbohong. Pantatnya yang menua itu tidak bisa menahan rasa sakit meski benturannya tidak terlalu keras.
"Oke, udah lumayan."
Setelah berhenti sejenak, Dania meneruskan perjalanannya. Namun di tengah itu ada seorang mahasiswa yang berlari menghampirinya.
"Ini, Bu." Mahasiswa itu menyodorkan balsem dengan kemasan tube kepadanya dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Oh ... Terimakasih," Dania sangat senang ada muridnya yang perhatian. Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau Dania membutuhkan balsem? Ah benar, kejadian tadi sudah jadi tontonan orang banyak.
"Siapa namamu? Semester berapa?" Tanya Dania. Mungkin dia bisa memberikan nilai tambah untuk kebaikan hatinya.
"Saya Jason, mmmm semester 7. Permisi Bu..." Ia berpamitan dengan sangat sopan berbeda sekali dibandingkan seseorang yang ia kenal.
wkwkwk... jax minggir dulu yess...