Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Konyol?
Chester tidak melanjutkan perdebatan soal pakaian.
Dengan gerakan santai, ia memindahkan sudut pandangnya ke arah meja makan kayu tebal di sudut ruangan, lalu menunjuk ke sana menggunakan dagunya.
"Makan," ujar Chester pendek.
Di atas meja, sudah tersaji dua piring hidangan sederhana namun tampak masih hangat: porsi nasi, daging panggang tanpa bumbu berlebih, dan sayuran rebus.
Tak ada taplak meja renda, tak ada lilin aromaterapi, apalagi susunan alat makan perak khas jamuan makan malam elit keluarga Sanders. Segalanya disajikan dengan efisiensi khas militer.
Ayyana menatap makanan itu dengan alis berkerut, lalu melirik Chester curiga. "Kamu yang buat?"
"Tim logistik yang menyiapkan sebelum kita sampai," balas Chester sembari berjalan mengitari meja dan menarik salah satu kursi. "Saya tidak tahu makanan apa yang biasa dikonsumsi putri ahli waris Sanders Corp, tapi di rumah ini, tidak ada yang boleh menyisakan makanan."
Ayyana menghela napas berat.
Perutnya memang sudah terasa perih karena sejak pagi ia hampir tidak menyentuh makanan akibat kesibukan acara pernikahan gila ini.
Mengesampingkan gengsinya sejenak, ia mendekati meja dan duduk di kursi berseberangan dengan Chester, melipat lengan sweatshirt jumbo-nya yang kembali melorot menutupi jemarinya.
Saat Ayyana meraih sendok, Chester memperhatikan setiap gerakannya dengan saksama.
"Mulai besok pagi," buka Chester, suaranya memecah keheningan yang kaku, "jadwal hidupmu berubah. Jangan pernah keluar dari pagar depan tanpa pengawalan anggota Team Eclipse. Apalagi berbicara dengan media."
Ayyana menghentikan suapannya yang baru setengah jalan. Ia meletakkan sendoknya kembali ke atas piring dengan denting nyaring yang sengaja memotong kalimat Chester.
"Pengawalan? Atau pengawasan, Kapten?" sindir Ayyana tajam, menatap lurus ke dalam mata pria di hadapannya. "Kamu mau jadikan aku tahanan di rumahmu sendiri?"
"Saya sedang memastikan kamu tetap bernapas," balas Chester tanpa mengalihkan pandangan. Sikapnya begitu tenang hingga membuat amarah Ayyana terasa seperti menghantam tembok beton. "Harris punya mata-mata di setiap sudut distrik ini. Begitu kamu melakukan kesalahan kecil—entah itu menerima telepon dari orang luar atau mengeluh pada media—dia akan menggunakan itu untuk membongkar bahwa pernikahan ini cuma benteng pertahanan politik."
Chester memotong daging di piringnya dengan gerakan presisi, cepat, dan efisien.
"Team Eclipse bukan sipirmu, Ayyana. Flyn, Ocla, Zack, dan Rowan ada untuk menjagamu kalau-kalau ada pihak luar yang mencoba melenyapkanmu demi membungkam skandal ini," lanjut Chester, suaranya mendingin. "Jadi ikuti aturannya. Jangan keluar tanpa instruksi, jangan sentuh jaringan komunikasi yang tidak terenkripsi, dan pastikan kita terlihat seperti pasangan sah di depan siapa pun yang mengetuk pintu rumah ini."
Ayyana menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada hingga tenggelam dalam sweatshirt jumbo milik Chester.
"Termasuk di depan ibuku sendiri?" tanya Ayyana lirih, ada sisa kegetiran yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.
Chester terdiam sejenak. Manik matanya menatap Ayyana dengan intensitas yang sedikit melunak, meski rahangnya tetap mengeras kaku.
"Termasuk di depan ibumu," jawab Chester penuh penekanan. "Semakin sedikit yang Nyonya Ciara tahu, semakin aman posisinya dari cengkeraman Laksamana Muda Harris."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk merespons raut kegetiran di wajah Ayyana, tangan Chester terulur ke depan.
Dengan gerakan santai dan alami, ia menggeser piringnya sendiri yang berisi potongan daging yang sudah terpotong-potong rapi berukuran kecil ke hadapan Ayyana.
Di saat yang bersamaan, Chester menarik piring Ayyana yang dagingnya belum terpotong ke hadapannya.
Ayyana sempat membeku, menatap piring yang baru saja ditukar itu dengan alis terangkat. Namun, Chester sama sekali tak membahas tindakannya.
Chaster langsung melanjutkan suapannya seolah hal tersebut hanyalah rutinitas biasa, tanpa mengalihkan pembicaraan dari teknis kehidupan mereka.
"Mulai besok pukul 06.00 pagi, akses area rumah ini ditutup untuk pihak luar," lanjut Chester dengan nada teknis yang lugas dan tanpa emosi. "Kamar kerjaku di lantai satu terlarang untuk kamu masuki tanpa izin. Untuk urusan logistik dan kebutuhan pribadimu, Ocla yang akan mengurusnya secara berkala."
Chester mengunyah pelan sebelum menatap Ayyana kembali.
"Jika ada anggota Team Eclipse yang berada di dalam rumah, posisikan dirimu seperti biasa. Tapi jika ada tamu asing atau utusan dari markas besar, kamu harus berada di samping saya. Paham?"
Ayyana memiringkan kepalanya, matanya menyipit menatap potongan daging yang tertata rapi di piringnya.
Instruksi teknis dan rentetan aturan ketat yang baru saja diucapkan Chester melayang begitu saja di udara, kalah oleh rasa penasaran absurd yang mendadak melintas di benaknya.
"Berapa banyak wanita yang selalu kamu potongkan dagingnya, Kapten?" potong Ayyana tiba-tiba, suaranya sarat akan nada sarkastik.
Gerakan tangan Chester yang hendak menyuap makanan seketika terhenti di udara.
Pria itu perlahan mendongak, menatap Ayyana dengan pandangan datar tanpa ekspresi—seolah baru saja mendengar pertanyaan paling tidak masuk akal dalam karier militernya.
Keheningan dingin menyelimuti meja makan selama beberapa detik.
"Satu," jawab Chester singkat dan dingin.
Ayyana menaikkan satu alisnya, tidak begitu saja percaya. "Oya? Siapa? Mantan pacarmu?"
"Ibu saya," balas Chester tanpa berkedip.
Pria itu kemudian menurunkan sendoknya, menatap Ayyana lurus-lurus dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan untuk menundukkan prajurit pembangkang di markas.
"Daging itu dipotong kecil-kecil supaya kamu cepat makan, cepat selesai, dan cepat naik ke atas untuk tidur. Saya tidak punya waktu melayani pertanyaan konyol di luar teknis keamanan," tambah Chester dengan suara rendah yang tegas. "Makan makananmu, Ayyana."
Ayyana mendengus pelan, namun tak berani mendebat lagi.
Tatapan mata Chester malam ini terlalu pekat untuk diajak bercanda.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyambar garpu dan mulai mengunyah potongan daging itu satu peran.
Meskipun rasanya hambar—khas masakan rasional milik dapur militer—perutnya yang lapar tak bisa menolak.
Chester memerhatikan Ayyana sampai wanita itu benar-benar menghabiskan porsi makanannya.
Begitu Ayyana meletakkan garpunya, Chester langsung berdiri. Dengan gerakan sigap, ia membereskan piring kotor di atas meja, membawanya ke wastafel, dan mencucinya dalam waktu tak sampai dua menit.
Semuanya dilakukan dengan ketelitian eksekusi yang efisien dan tanpa suara ekstra.
"Pintu kamarmu dilengkapi smart-lock dari dalam," kata Chester seraya mengeringkan tangannya menggunakan lap bersih di samping wastafel. Ia berbalik, menatap Ayyana yang masih duduk bersedekap di kursinya. "Gunakan kode apa pun yang kamu mau. Saya tidak akan masuk tanpa izinmu."
Ayyana berdiri, menarik ujung sweatshirt kebesarannya yang menjuntai. "Dan kamu tidur di mana?"
"Kamar kerja lantai satu," jawab Chester pendek. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30 malam.
Ayyana mengangguk tipis, tidak menanggapi lebih jauh.
Kelelahan fisik dan mental sepanjang hari ini akhirnya merebut seluruh energinya. Ia melangkah menuju tangga, namun tepat di anak tangga pertama, langkahnya terhenti.
"Chester," panggil Ayyana pelan, tanpa berbalik.
Chester yang baru saja mematikan lampu area dapur menghentikan gerakannya. "Ya?"
"Terima kasih... untuk dagingnya," gumam Ayyana lirih, hampir tak terdengar, sebelum akhirnya melangkah cepat menaiki tangga dan menghilang di kegelapan lantai dua.
Chester mematungi sejenak di kegelapan ruang tengah.
Sudut bibirnya terangkat amat tipis—sebuah riak reaksi yang hampir tak terlihat—sebelum ia memutar badan dan melangkah masuk ke kamar kerjanya yang dingin.