Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Masuk Mobil
Waktu ujian semester akhirnya tiba.
Seluruh mahasiswa Universitas Hua Qing terlihat fokus mengerjakan soal-soal ujian mereka. Setiap kelas diawasi langsung oleh dosen masing-masing untuk memastikan tidak ada yang berbuat curang.
Vivian dan Vivi berada di kelas yang berbeda.
Di dalam ruangannya, Vivian tampak tenang. Satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya bergerak cepat menuliskan jawaban di lembar ujian.
Berbeda dengan mahasiswa lain yang masih membaca soal berulang kali sambil berpikir keras, Vivian bahkan tidak terlihat kesulitan.
Baginya, soal-soal tersebut terasa terlalu mudah.
Hanya dalam waktu sekitar tiga puluh menit, Vivian telah menyelesaikan seluruh jawabannya.
Ia memeriksa lembar ujian sekilas sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju meja dosen.
“Vivian, kamu sudah selesai?” tanya dosennya dengan heran.
“Sudah,” jawab Vivian sambil tersenyum.
Ia kemudian menyerahkan lembar jawabannya kepada dosen dan langsung meninggalkan ruangan.
Dosen itu menatap punggung Vivian yang semakin menjauh dengan wajah penasaran. Setelah itu, ia melihat lembar jawaban di tangannya.
Benarkah dia bisa menyelesaikan semua soal ini hanya dalam waktu setengah jam?
Sementara itu, di kantor Rektor Universitas Hua Qing, Delvin Yang duduk dengan tenang di sofa.
Di hadapannya, Rektor berdiri sambil memberikan laporan.
“Tuan, tahun ini ujian diawasi dengan sangat ketat. Beberapa tahun terakhir, hanya ada satu mahasiswa yang mampu mempertahankan peringkat teratas secara konsisten,” jelas Rektor
Delvin mengangkat alisnya.
“Siapa mahasiswa itu?”
“Dia adalah salah satu mahasiswa terbaik yang pernah dimiliki Universitas Hua Qing. Selama beberapa tahun terakhir, nilainya selalu berada di posisi pertama.”
“Tuan telah menetapkan bahwa mahasiswa yang berhasil menjadi peringkat pertama tahun ini akan mendapatkan beasiswa. Bahkan, ada kemungkinan dia direkrut menjadi karyawan tetap di perusahaan,” ujar Jo, asistennya. “Bagaimanapun, saat ini perusahaan sedang membutuhkan orang-orang berbakat yang bisa diandalkan.”
Rektor kemudian menyerahkan dokumen berisi data penilaian mahasiswa Universitas Hua Qing kepada Jo.
“Hua Qing memiliki beberapa mahasiswa yang sangat cerdas dan mampu mempertahankan nilai mereka selama bertahun-tahun. Saya rasa data ini bisa membantu Tuan untuk melakukan seleksi ulang,” jelas Rektor.
Jo menerima dokumen tersebut dan mulai membolak-balik setiap halaman. Matanya menyusuri nama-nama mahasiswa yang tercantum di sana.
“Di antara seluruh mahasiswa, hanya ada satu orang yang mampu mempertahankan peringkat pertama setiap tahunnya. Luar biasa,” ujar Jo.
“Siapa dia?” tanya Delvin.
“Vivian Wei, Tuan. Setiap tahun dia selalu berada di peringkat pertama. Hanya tahun lalu namanya tidak masuk daftar dan posisinya digantikan oleh Tuan Muda Mark,” jawab Jo.
Rektor mengangguk.
“Tuan Muda Mark juga merupakan mahasiswa yang sangat baik. Beliau selalu berada di peringkat kedua.”
Rektor berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Sedangkan Vivian Wei mengambil cuti sakit selama satu tahun dan baru kembali dua hari yang lalu.”
“Cuti sakit?” Delvin mengangkat alis.
“Benar. Keluarganya yang mengajukan cuti tersebut kepada pihak universitas. Kami mendapat informasi bahwa Vivian dikirim ke luar negeri untuk menjalani pengobatan,” jelas Rektor.
“Luar biasa.” Delvin menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan tatapan dingin. “Keluarganya benar-benar pintar merekayasa cerita.”
Jo dan Rektor terdiam.
“Dia menganggap Universitas Hua Qing sebagai taman hiburan?” lanjut Delvin dengan nada sinis.
Tatapannya kemudian beralih kepada Jo.
“Jo, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Vivian Wei selama satu tahun terakhir.”
“Segera saya lakukan, Tuan,” jawab Jo.
Jo kembali melihat dokumen di tangannya.
“Menariknya, nilai Vivian Wei dan saudara kembarnya, Vivi Wei, cukup jauh berbeda.
"Vivi Wei berada di peringkat kedelapan. Terkadang nilainya bahkan turun dan dia belum pernah masuk lima besar,” jawab Rektor.
Delvin menyipitkan matanya.
“Aku rasa pihak universitas harus lebih ketat dalam mengawasi seluruh mahasiswa,” ujar Delvin tegas. “Jangan sampai ada mahasiswa yang merasa Universitas Hua Qing adalah miliknya hanya karena memiliki keluarga yang berpengaruh.”
Rektor mengangguk.
“Terutama Vivi Wei dan dua temannya. Saya mendapat laporan bahwa mereka beberapa kali menindas teman sekelas mereka.”
Tatapan Jo menjadi serius saat menatap Rektor.
“Masalah seperti ini harus lebih diperhatikan. Jika mereka tidak mau berubah, jangan sungkan untuk mengeluarkan mereka dari Hua Qing.”
“Baik, Tuan,” jawab Rektor dengan hormat.
Beberapa saat kemudian
Vivian yang baru saja meninggalkan gedung universitas tiba-tiba menerima pesan dari Joline.
“Vivian, aku dan Justin menunggumu di dalam taksi.”
Vivian segera melihat ke arah jalan di depan universitas.
Di sana terdapat sebuah mobil hitam yang sedang terparkir. Tanpa berpikir panjang, Vivian langsung berlari menghampirinya.
Tanpa memeriksa lebih dulu, ia membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam.
“Vivian, kau salah masuk mobil lagi!” seru Joline dan Justin bersamaan.
Kepala mereka bahkan sampai menyembul dari jendela taksi di belakang mobil tersebut.
Namun, Vivian sama sekali belum menyadarinya.
Ia langsung menutup pintu mobil dan duduk dengan santai.
“Ayo kita jalan!” seru Vivian sambil menoleh ke arah pengemudi.
Namun, senyum di wajahnya seketika membeku.
Matanya terbelalak saat melihat seorang pria asing duduk di kursi pengemudi.
Vivian perlahan menoleh ke samping.
Di sana, seorang pria tampan dengan wajah dingin sedang menatapnya tanpa berkedip.
Delvin Yang.
Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening.
Vivian menatap Delvin beberapa detik.
Delvin juga tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya hanya tertuju pada wanita yang tiba-tiba masuk ke mobilnya tanpa izin.
Vivian akhirnya berkedip.