NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 PESONA YIN SHUANG

Yin Shuang masih memainkan kecapinya, sama sekali tidak menyadari bahwa di sekitar paviliun sudah berkumpul cukup banyak penonton. Beberapa peri burung yang cantik bertengger di dahan pohon, siluman-siluman kecil duduk bersembunyi di balik semak, bahkan beberapa peri bunga ikut muncul hanya untuk mendengarkan alunan kecapi yang merdu itu.

Namun yang paling menarik perhatian justru tiga orang yang berdiri tidak jauh dari paviliun. Feng Yao masih tertegun, belum pernah mendengar suara kecapi seindah itu. Mo Xuan hanya menghela napas panjang. Sementara itu Xiong Yan berdiri dengan wajah datar, kedua tangan terlipat di depan dada, matanya tak lepas dari Yin Shuang.

Dalam hati ia mulai mengumpat. *Kenapa serigala ini datang ke tempatku? Ini pasti ada kaitannya dengan Feng Yao.* Tatapannya semakin tajam. *Awas saja kalau dia juga ikut-ikutan merebut Feng Yao. Akan kuhajar dia sampai pincang.* Namun di luar, ia tetap memasang wajah tenang. Tak seorang pun tahu isi kepalanya kecuali mungkin Mo Xuan.

Siluman tua itu melirik Xiong Yan, lalu Yin Shuang, kemudian kembali ke Feng Yao yang masih terpaku mendengarkan kecapi. Ia menghela napas lagi. *Dasar siluman. Yang satu pemarah,* batinnya sambil melirik Xiong Yan, *yang satu penuh tipuan dan gila wanita,* lanjutnya sambil melirik Yin Shuang. Gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa dua siluman di belakangnya sedang saling mengawasi. Mo Xuan mengusap dahi. *Feng Yao dalam bahaya.*

Feng Yao akhirnya tersadar dari lamunannya. "Indah sekali..." gumamnya pelan.

Xiong Yan langsung menoleh. "Kau suka?"

Feng Yao mengangguk. "Iya."

Xiong Yan terdiam, tatapannya kembali mengarah ke Yin Shuang. Entah kenapa, suara kecapi yang tadi terdengar indah kini terasa sedikit mengganggunya. Mo Xuan hampir tertawa melihat ekspresinya, namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Feng Yao sudah melangkah maju.

"Siapa dia?" tanyanya.

"Serigala," jawab Xiong Yan datar.

"Serigala?"

"Iya."

"Klan Serigala Perak," Mo Xuan menambahkan santai.

Feng Yao mengangguk. "Oh," lalu kembali menatap ke arah paviliun.

Sementara itu, Yin Shuang masih memainkan kecapi tanpa menyadari bahwa seluruh lembah sedang memperhatikannya. Ia hanya merasa hari itu begitu tenang, padahal di belakangnya ada peri burung, siluman kecil, seorang gadis yang penasaran, seorang siluman tua yang sudah membaca situasi, dan seekor beruang yang mulai merasa wilayahnya sedang dimasuki pesaing.

Xiong Yan menarik napas dalam-dalam. *Tenang. Jangan cari masalah. Belum tentu dia datang karena Feng Yao.* Ia diam sebentar, lalu menambahkan dalam hati, *Tapi kalau benar... habis dia.*

Setelah beberapa saat, alunan kecapi akhirnya berhenti. Yin Shuang mengangkat tangan dari senar, dan suasana yang tadinya hening mendadak dipenuhi tepuk tangan. Para peri di antara pepohonan bertepuk tangan dengan antusias, beberapa peri burung bahkan mengepakkan sayap karena terlalu senang.

Yin Shuang baru menyadari sesuatu. Ia menatap sekeliling ternyata sejak tadi sudah banyak yang berkumpul: para peri burung, siluman-siluman kecil, beberapa siluman wanita yang diam-diam memperhatikannya sedari tadi. Ia terdiam sebentar, lalu memberikan senyum tipis.

"Terima kasih."

Senyuman sederhana itu langsung mengubah keadaan.

"AAAA! Dia tersenyum! Tampan sekali! Suara kecapinya juga indah!"

Beberapa siluman wanita mulai berbisik heboh, para peri burung ikut ribut. Yin Shuang hanya berkedip, tidak terbiasa mendapat sambutan seperti itu.

Di sisi lain, Feng Yao masih tercenung. *Wah... tampan juga.* Ia memperhatikan wajah Yin Shuang beberapa saat, namun pikirannya segera beralih. *Tapi tidak. Zhu Yin tetap paling tampan. Tidak ada yang bisa melebihi Zhu Yin.* Ia tersenyum kecil sendiri.

Mo Xuan yang berdiri tak jauh darinya langsung melirik, tatapannya kosong. *Zhu Yin... Zhu Yin... Sudah hampir lima ribu tahun dan tidak berubah.* Ia menatap Feng Yao yang masih tersenyum sendiri. *Untung Feng Yao belum tahu Zhu Yin bereinkarnasi di mana. Kalau sampai gadis ini tahu...* Ia sudah bisa membayangkan masalah yang akan muncul, lalu kembali menghela napas.

"Capek..."

Feng Yao menoleh. "Kenapa, Mo Xuan?"

"Tidak apa-apa." Mo Xuan menatap langit. "Umur panjang memang melelahkan."

Feng Yao semakin bingung.

Sementara itu, Xiong Yan masih berdiri dengan tangan terlipat, memperhatikan para siluman wanita yang mengerumuni Yin Shuang. Wajahnya tetap datar, namun dalam hati ia berpikir, *Bagus. Berarti dia sibuk dengan penggemarnya.* Tatapannya sedikit melunak. *Jangan sampai mendekati Feng Yao.*

Mo Xuan meliriknya. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Xiong Yan—siluman beruang itu ternyata benar-benar sedang cemburu.

Di atas paviliun, Yin Shuang akhirnya berdiri. Tatapannya jatuh pada tiga orang di kejauhan: Xiong Yan, Mo Xuan, dan seorang gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya Feng Yao. Untuk pertama kalinya, mata Yin Shuang berhenti sedikit lebih lama pada gadis itu.

*Jadi... ini Feng Yao.*

Ia menatap Feng Yao sekali lagi. *Oh... jadi ini wanita yang mengalahkan harimau, dikejar siluman tua Se Chang, dan diawasi beruang bodoh Xiong Yan. Benar-benar cantik.*

Yin Shuang berjalan perlahan menghampiri Mo Xuan dan Xiong Yan. Ia bukan siluman liar yang tidak tahu tata krama; ia berdiri dengan tenang di hadapan Xiong Yan, lalu tersenyum sopan.

"Maaf sudah masuk ke wilayahmu, Tuan Beruang. Aku datang karena mendengar banyak peri burung cantik tinggal di utara." Ia mengangkat bahu ringan. "Terlalu sayang untuk dilewatkan."

Mo Xuan hanya menghela napas sambil memandang sekeliling. **Alasan licik yang cukup cerdas. Memang peri burung di utara sangat cantik,* bisiknya dalam hati*.

Xiong Yan menatap Yin Shuang datar. "Tidak usah pura-pura, Serigala. Aku hafal sifatmu." Suaranya tegas. "Dan jangan pernah kau berharap aku tidak ikut campur."

Yin Shuang tersenyum tipis. *Wah... beruang bodoh ini galak juga. Padahal kami sudah saling kenal lima ratus tahun.*

"Jangan khawatir, Tuan Beruang. Aku tidak akan mengacaukan wilayahmu seperti kemarin." Tatapannya kemudian bergeser ke arah Feng Yao. "Aku serius sedang mencari wanita cantik."

Feng Yao yang sejak tadi berdiri di dekat Mo Xuan langsung merona. Mo Xuan meliriknya. *Oh, mulai lagi.*

Yin Shuang membuka kipasnya dengan santai. "Hari ini lumayan panas." Ia menoleh kepada Mo Xuan. "Mo Xuan, apa kau mau menemaniku minum teh?"

"Tidak," jawab Mo Xuan cepat. "Aku baru saja minum. Kalau minum lagi, perutku kembung."

Yin Shuang terdiam sesaat, lalu tersenyum. "Alasanmu semakin hari semakin aneh."

Mo Xuan mengangkat bahu. "Aku hanya menjaga kesehatan."

Xiong Yan mendengus. "Jangan mengajaknya. Dia sedang sibuk."

Mo Xuan menoleh. "Aku?"

"Ya."

"Aku sedang sibuk apa?"

Xiong Yan terdiam.

Feng Yao justru menatap mereka bertiga dengan bingung. "Kenapa kalian seperti sudah lama sekali saling mengenal?"

Yin Shuang tersenyum semakin lebar. "Karena memang sudah lama."

Xiong Yan langsung menyela. "Tidak perlu menjelaskan."

Feng Yao semakin bingung. *Siluman memang aneh. Baru bertemu sebentar saja sudah seperti teman lama.*

Yin Shuang menatap Feng Yao sekali lagi, kali ini dengan tatapan lebih tenang. *Jadi ini Feng Yao... menarik.* Melihat kebingungan gadis itu, ia pun tersenyum dan memperkenalkan diri.

"Nona cantik, aku Yin Shuang. Siluman Serigala Perak, sekaligus ketua Klan Serigala."

Feng Yao yang tiba-tiba mendapat perhatian langsung gugup. "E... eh, iya, Tuan Yin Shuang."

Yin Shuang tersenyum melihat reaksinya. *Polos juga.* Ia kemudian melirik ke arah Mo Xuan. "Mo Xuan, kau yakin tidak ingin menemaniku?"

Mo Xuan menggeleng. "Aku sudah bilang, aku baru saja minum teh."

Yin Shuang membuka kipasnya dan mengipaskannya pelan. "Sayang sekali." Ia berkata santai. "Aku dengar Nyonya Rubah akan pergi ke pasar manusia."

Tangan Mo Xuan yang tadi hendak memasukkan camilan ke mulut langsung berhenti.

Yin Shuang melanjutkan dengan senyum tipis. "Kita bisa sekalian mencari informasi."

Mo Xuan menatapnya. "Pasar manusia?"

"Ya."

"Dan Mei Ruyan ada di sana?"

"Begitu kabarnya."

Mo Xuan langsung berdiri. "Kalau begitu ayo."

Feng Yao berkedip. *Bukankah tadi katanya perutnya kembung?*

Xiong Yan juga menatap Mo Xuan dengan wajah datar. "Bukankah kau baru saja bilang perutmu kembung?"

Mo Xuan berdeham. "Itu tadi."

"Lalu sekarang?"

"Sudah sembuh."

Yin Shuang menahan senyum di balik kipas. *Memang mudah sekali dibujuk kalau menyangkut informasi tentang wanita.*

Xiong Yan menghela napas. "Dasar."

Feng Yao justru tersenyum polos. "Kalau begitu kalian pergi saja. Hati-hati di jalan."

Mo Xuan menatap Feng Yao. "Kau tidak ikut?"

Feng Yao menggeleng. "Aku mau kembali ke pondok."

Yin Shuang memandangnya sebentar, lalu tersenyum. "Kalau begitu sampai jumpa lagi, Nona Feng Yao."

Feng Yao mengangguk. "Sampai jumpa, Tuan Yin Shuang."

Xiong Yan langsung menatap Yin Shuang. "Jangan terlalu sering datang ke sini."

Yin Shuang hanya tertawa kecil. "Kita lihat nanti, Tuan Beruang."

Xiong Yan mengernyit. Sementara itu, Mo Xuan sudah berjalan lebih dulu. "Cepat, sebelum Nyonya Rubah pergi."

Yin Shuang mengibaskan kipasnya. "Lihat? Bahkan tanpa aku membujuk, kau sendiri yang terburu-buru."

"Diam."

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!