Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Inspeksi Mendadak Sang Kakek
Cahaya matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai penthouse, memantul di atas lantai marmer yang mengilap. Aura terbangun dengan rasa hangat yang tak biasa menjalar di bahu kanannya.
Saat kelopak matanya terbuka penuh, jantung Aura serasa melompat keluar dari dadanya.
Tubuh tegap Evan berada sangat dekat. Pria itu masih tertidur lelap dengan napas yang teratur. Yang membuat darah Aura berdesir hebat adalah posisi tangan kanan Evan yang melingkar posesif di pinggangnya, sementara kepala Aura sendiri tanpa sadar bersandar di dada bidang pria itu sepanjang malam. Batasan "garis tengah" kasur yang disepakati semalam telah runtuh total.
Aura menahan napas, berusaha menggeser tubuhnya secara perlahan agar tidak membangunkan sang CEO. Namun, baru saja ia menggerakkan kakinya, pelukan di pinggangnya justru makin mengetat.
"Jangan bergerak. Ini masih jam enam pagi," gumam Evan dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya masih terpejam, namun sudut bibirnya terangkat tipis menyadari kepanikan wanita di pelukannya.
Aura membeku, wajahnya memerah padam. "E-Evan... tanganmu."
Evan perlahan membuka matanya. Iris cokelat gelapnya yang biasanya dingin kini tampak tenang dan hangat. Ia menatap wajah Aura yang jaraknya hanya hitungan senti dari wajahnya, memperhatikan bulu mata lentik dan rona merah alami di pipi wanitanya. Untuk beberapa detik, tidak ada kata-kata yang terucap. Suasana di antara mereka mendadak sarat akan ketegangan emosional yang intens.
Ting-tong! Ting-tong!
Suara bel pintu penthouse yang bernada nyaring memecah momen tersebut secara brutal.
Evan menggeram pelan, menarik tangannya dari pinggang Aura lalu duduk di tepi ranjang seraya memijat pelipisnya. Aura ikut terduduk cepat, merapikan piyama dan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Aura cemas.
Evan melirik layar interkom yang terhubung ke meja kerjanya melalui aplikasi di ponsel. Seketika raut wajahnya berubah serius.
"Kakek," kata Evan singkat.
"Apa?!" Aura terbelalak. "Kakek Surya di bawah?"
"Bukan di bawah. Beliau sudah di depan pintu bersama dokter pribadinya dan Pak Bimo," ujar Evan seraya berdiri sigap. "Bimo pasti terpaksa membukakan akses lift bawah karena Kakek yang meminta."
Pria itu menoleh menatap Aura dengan pandangan tajam. Topeng kepura-puraan mereka harus dipasang kembali seketika. "Dengar. Kakek datang untuk memastikan kita benar-benar hidup sebagai suami istri. Rapikan tempat tidur ini seperti habis digunakan bersama. Jangan tampak canggung!"
Sebelum Aura sempat menjawab, pintu depan penthouse terdengar terbuka. Suara tongkat kayu Kakek Surya yang mengetuk lantai marmer menggema hingga ke lantai atas.
"Evan! Aura! Di mana kalian?" suara Kakek Surya terdengar serak namun penuh semangat dari arah ruang tamu.
Evan menyambar jubah tidurnya, sementara Aura bergegas merapikan rambutnya dan menyusul turun ke lantai satu. Saat mereka tiba di tangga utama, Kakek Surya tampak sedang didorong oleh dokter pribadinya, didampingi Bimo yang membawa beberapa kotak hadiah mewah.
"Kakek? Kenapa tidak memberi kabar kalau mau berkunjung?" tanyanya seraya melangkah turun mendampingi Aura.
Kakek Surya tertawa kecil, matanya melirik nakal ke arah penampilan Evan dan Aura yang tampak baru saja bangun tidur dari kamar yang sama.
"Kalau Kakek memberi kabar dulu, namanya bukan inspeksi mendadak, Evan!" sahut Kakek Surya gembira. Matanya lalu tertuju pada Aura. "Bagaimana keadaanmu, Nak Aura? Kakek dengar adikmu sudah membaik setelah operasi?"
Aura tersenyum tulus, melangkah mendekati sang Kakek dan menyambut tangannya penuh hormat. "Puji Tuhan, Kakek. Laras sudah dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Terima kasih banyak atas perhatian Kakek."
"Baguslah," Kakek Surya mengelus tangan Aura. Namun, tatapannya yang jeli kemudian beralih ke meja makan dan dapur yang tampak begitu bersih terlalu bersih untuk sebuah rumah yang dihuni pengantin baru.
"Kakek sengaja datang pagi-pagi begini karena ingin sarapan bersama kalian," ujar Kakek Surya tiba-tiba, menyandarkan punggungnya di kursi roda. "Kakek rindu masakan rumahan. Aura, apakah kau tidak keberatan memasakkan sesuatu untuk Kakek dan suamimu pagi ini?"
Deg.
Aura tertegun sejenak. Ia melirik Evan. Di kediaman mewah ini, tidak ada bahan makanan yang biasa ia olah, dan ia juga tidak tahu selera makan keluarga kaya raya seperti Adijaya.
Namun, sebelum rasa cemas Aura terlihat, Evan melangkah maju dan merangkul bahu Aura dengan gestur yang sangat alami.
"Tentu saja tidak, Kakek. Aura memang selalu menyeduh kopi dan menyiapkan sarapan untukku setiap pagi," kata Evan tenang, kebohongan meluncur begitu mulus dari bibirnya. Pria itu menunduk menatap Aura, mengusap pipi wanitanya dengan kelembutan yang membuat jantung Aura berdetak tak karuan. "Benar kan, Sayang?"
Aura menelan ludah, memaksakan senyum terbaiknya meski dadanya bergemuruh hebat dipanggil 'Sayang' oleh Evan. "I-iya, Kakek. Saya akan siapkan sarapan sederhana di dapur."
Aura segera melangkah ke area dapur bersih. Di dalam kulkas dua pintu yang besar itu, beruntung Bimo telah menyiapkan beberapa bahan makanan segar seperti telur organik, roti gandum, daging asap, serta sayuran.
Dengan terampil, Aura mulai memotong bahan-bahan tersebut. Ia memilih membuat omelet telur keju dengan salad segar dan roti panggang mentega masakan sederhana namun kaya rasa.
Dari meja makan, Kakek Surya memperhatikan setiap gerakan Aura di dapur dengan senyum puas. Sementara Evan berdiri di dekat meja dapur, berpura-pura menemani istrinya seraya mengambilkan bumbu atau piring jika diperlukan.
"Kau tampak sangat ahli," bisik Evan pelan tepat di samping Aura saat wanita itu sedang mengocok telur. Suara rendahnya hanya bisa didengar oleh Aura.
"Aku biasa memasak untuk adik dan ibuku sejak SMA," bisik Aura tanpa menoleh. "Tidak seperti seseorang yang tinggal terima jadi."
Evan terkekeh tipis sebuah tawa kecil yang tulus tanpa nada dingin. "Jangan sombong dulu. Kita lihat apakah Kakek menyukainya atau tidak."
Dua puluh menit kemudian, aroma harum roti panggang dan mentega memenuhi seluruh ruangan. Aura menyajikan tiga piring sarapan di atas meja makan lengkap dengan cangkir kopi hitam panas untuk Evan dan teh herbal untuk Kakek Surya.
Kakek Surya meraih garpunya, mencicipi sepotong omelet buatan Aura. Ruangan itu mendadak hening selama beberapa detik, menunggu reaksi sang mantan penguasa Adijaya Group tersebut.
"Bagaimana, Kakek?" tanya Evan berpura-pura tenang.
Kakek Surya mengunyah perlahan, lalu menutup matanya menikmati rasa makanan tersebut. Sebuah senyuman lebar mengembang di wajah tuanya.
"Luar biasa," puji Kakek Surya tulus. Ia menatap Evan. "Sudah lama sekali Kakek tidak merasakan masakan yang hangat seperti ini. Sejak ibumu meninggal, rumah Adijaya selalu menyajikan makanan koki bintang lima yang terasa dingin dan tanpa jiwa. Tapi masakan Aura... terasa seperti rumah."
Aura bernapas lega, dadanya dipenuhi rasa hangat. "Terima kasih, Kakek. Saya senang Kakek menyukainya."
"Evan," panggil Kakek Surya seraya menatap cucunya tegas. "Kau sangat beruntung mendapatkan wanita seperti Aura. Di luar sana banyak wanita kaya yang hanya mengincar hartamu, tapi Aura mengurusmu dengan tulus."
Evan menatap Aura yang sedang menunduk malu. Untuk pertama kalinya, ucapan Kakek Surya tidak terasa seperti tekanan bisnis baginya, melainkan sebuah kebenaran yang mulai meretas dinding pertahanannya.
"Aku tahu, Kakek," sahut Evan pelan, matanya menatap lurus pada Aura dengan binar yang tak lagi dingin. "Aku sangat beruntung memilikinya."
Mata mereka saling bertatapan di balik meja makan. Di tengah kepura-puraan dan kebohongan kontrak yang mereka bangun di hadapan Kakek Surya, batas antara akting dan perasaan yang sebenarnya mulai kabur tanpa mereka sadari.
_____
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...