NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Part 7

Keesokan harinya, Gendis sudah terjaga sebelum matahari sepenuhnya terbit, kepalanya terasa berdenyut sejak subuh. Tapi ia abaikan. Setelah shalat ia duduk di tepi kasur, memijat pelan pelipisnya, berharap rasa sakit nya sedikit berkurang.

Tapi denyutan itu tidak mau menurut. Dia masih setia disana.

Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Arya berdiri di ambang pintu dengan setelan jas abu-abu, rambutnya disisir rapi, wajahnya dingin seperti biasa.

"Kenapa belum siap?" tanyanya tanpa basa-basi.

Gendis menatapnya lelah. "Aku sakit kepala. Tidak bisa ikut."

"Semalam kamu sehat-sehat saja." Selidik Arya, memperhatikan Gendis dari ujung rambut sampai ujung kaki.

" Ya mana aku tahu kalau besoknya akan sakit. Jadi maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut dengan mu hari ini."

Arya melangkah masuk. Matanya kembali menyipit menilai Gendis dari atas hingga bawah. Dia berpikir kalau wanita di hadapannya ini berbohong.

"Kamu malas, kan?" Arya melipat tangan di dada. "Kamu pikir dengan pura-pura sakit, aku akan membatalkan acara ini? Ini hari pertama kamu kerja, Gendis."

"Aku tidak pura-pura, kepalaku memang sakit. Jangan memaksa!" jawab Gendis datar, meskipun suaranya sedikit serak. "Kepalaku benar-benar pusing."

Arya mendengus. "Semua orang bisa bilang begitu."

Ia berjalan ke lemari pakaian di sudut kamar, membukanya, lalu mengamati isinya dengan tatapan tidak sabar.

"Pakaianmu yang bagus mana?" tanyanya.

Gendis menghela napas. Ia benar-benar tidak punya tenaga untuk mendebat pria di hadapannya itu. Tapi kalau dilihat-lihat, Arya sebenarnya tidak sekasar itu, "Pakai saja yang di gantungan paling kanan."

Arya mengambil sebuah gamis panjang berwarna dusty rose dengan potongan sederhana namun elegan. Ia melemparkannya ke kasur, tepat di samping Gendis.

"Pakai ini. Rias wajahmu yang rapi. Jangan buat aku malu di depan klien."

"Arya, aku benar-benar—"

"Aku benci di tolak Gendis," potong Arya dingin. "Kamu sudah tanda tangan kontrak, ingat? Jangan buat aku muak sama sikap mu!"

Gendis terdiam. Ia menatap gamis itu, lalu menatap Arya. Laki-laki itu tidak akan pernah percaya apapun yang keluar dari mulutnya, pikir Gendis. Bahkan saat ia benar-benar sakit sekalipun.

"Baiklah," jawab Gendis akhirnya. "Tunggu di luar. Aku ganti baju."

Arya keluar tanpa menutup pintu dengan pelan. Gendis menggelengkan kepalanya perlahan, gerakan kecil yang langsung membuat denyut di pelipisnya semakin menjadi.

Ia memejamkan mata sebentar, mengatur napas.

"Semoga pusing nya nya segera hilang."

Gendis berdiri. Tubuhnya terasa berat, tapi ia paksakan. Gamis dusty rose itu ia kenakan perlahan. Lalu ia duduk di depan meja rias, memulaskan bedak tipis-tipis, cukup untuk menutupi pucat di wajahnya.

Lima belas menit kemudian, ia turun.

Arya yang sedang menunggu di ruang tamu hanya melirik sekilas.

"Lama sekali kamu ini."

"Maaf."

"Mobil sudah menunggu. Ayo."

Gendis mengangguk. Ia mengikuti Arya keluar rumah, menuju mobil hitam yang sudah terparkir di halaman.

Mobil melaju perlahan meninggalkan gerbang.

Gendis memejamkan mata di kursi penumpang. Tangannya diam-diam meremas ujung gamisnya.

Kepalanya masih berdenyut. Ia menahannya dengan memejamkan matanya sejenak.

-

Begitu mereka sampai, Gendis pamit sebentar ingin ke toilet karena dia ingin membetulkan hijab nya lebih dulu, meski Arya kesal tapi dia mengiyakan permintaan wanita itu.

Arya duduk di kursi utama ruang VIP, berhadapan dengan Pak Dharma, pengusaha properti senior yang menjadi target kerja sama program talk show properti terbaru. Meja marmer di depan mereka dihiasi bunga segar dan lilin, sementara pelayan berseragam hitam berdiri siaga di sudut ruangan.

"Jadi, Tuan Arya, saya dengar program unggulan Bapak selama ini dipegang oleh seorang produser wanita yang sangat kompeten. Sayang sekali beliau tidak hadir," ujar Pak Dharma sambil menyeduh teh hijau di cangkir keramiknya.

Arya tersenyum tipis. Penampilannya rapi sempurna dengan jas abu-abu dan dasi berwarna navy.

"Bu Nissa sedang cuti panjang karena alasan pribadi, Pak. Tapi saya jamin, proposal kerja sama ini sudah disusun langsung oleh beliau. Saya hanya membawanya malam ini."

Arya menyerahkan map tebal berisi proposal. Pak Dharma menerimanya dengan mata berbinar.

"Bu Nissa memang hebat. Saya sudah lama ingin bekerja sama dengannya. Sayang sekali baru kesampaian sekarang, dan beliau malah sedang berduka."

Arya mengangguk. Sejujurnya, ia tidak terlalu mengenal sosok produser bernama Nissa tersebut. Selama ini ia berada di luar negeri, mengurus ekspansi perusahaan ke mancanegara. Urusan kantor pusat masih dipegang oleh papanya. Arya baru resmi menjabat sebagai CEO satu bulan yang lalu, tepat di saat yang sama Nissa mulai cuti karena suaminya meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal.

Jadi wajar jika ia belum pernah bertemu langsung dengan produser andalan itu.

Namun, dari laporan yang ia baca, Nissa itu aset berharga. Pendapatan iklan dari program-programnya mencapai 40 persen total perusahaan.

"Proposalnya sudah saya baca sekilas, Pak. Saya yakin program ini akan sukses besar," kata Arya meyakinkan.

Krek.

Pintu ruang VIP terbuka. Arya menoleh dengan alis berkerut. Kesal karena Gendis telat untuk masuk kedalam.

Gendis berdiri di ambang pintu. Wajahnya sedikit pucat, bahkan terlihat lebih pucat dari biasanya, tapi ia memaksakan senyum profesional di bibirnya.

"Maaf terlambat," ucap Gendis pelan. "Saya ke toilet sebentar."

Pak Dharma melihatnya dengan senyum melengkung lebar, Arya mulai tak suka dengan sikap sok ramah pak Dharma.

"Pak Dharma, perkenalkan, beliau ini_" Arya mulai membuka mulut, hendak memperkenalkan Gendis pada Pak Dharma sebagai asistennya yang baru selain Tama.

Tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Pak Dharma sudah berdiri dari kursinya. Wajah tua itu berseri seperti baru bertemu saudara lama.

"Lho, Bu Nissa? Anda hadir juga?"

Bersambung...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!