Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Toko buku baru
Selesai menghabiskan makanan di kantin, Danu dan Rio memilih kembali lebih awal. Ruang kelas 10D masih tampak sepi lantaran jam istirahat belum sepenuhnya berakhir. Sebagian besar murid masih asyik nongkrong di luar atau sekadar mengobrol di koridor.
Rio yang duduk bersandar santai di kursinya tiba-tiba menoleh. "Eh, gue belum ngasih tahu lu, Dan."
"Ngasih tahu apa?" tanya Danu, mengalihkan pandangan dari meja.
"Ada toko baru yang buka di dekat stasiun."
"Toko baru?" Danu mengernyit tertarik. "Emang jualan apa aja?"
"Komik, manga, novel... pokoknya buku-buku cerita gitu deh," jelas Rio dengan nada bersemangat.
"Wih, serius?"
"Iya! Kan lumayan tuh, siapa tahu lu bisa dapet inspirasi buat lanjutin nulis cerita lu nanti," saran Rio sambil tersenyum lebar.
Danu mengangguk-angguk kecil, membayangkan deretan buku yang mungkin bisa memancing ide barunya. "Ide bagus."
Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, Zahra muncul dari ambang pintu dan langsung menghampiri meja mereka. "Hei, kalian lagi asyik ngobrolin apa nih?"
"Ini, gue sama Danu rencananya mau mampir ke toko buku baru di deket stasiun nanti sepulang sekolah," jawab Rio santai.
Mata Zahra seketika berbinar antusias. "Wih, serius?! Aku juga mau ikut dong!"
Rio menaikkan sebelah alisnya, menatap gadis itu dengan sedikit terkejut. "Wow, gak nyangka gue kalau lu suka yang begitu-begituan."
Zahra langsung berkacak pinggang, menatap Rio dengan gaya sewot andalannya. "Emangnya kenapa? Gak boleh?"
Melihat gelagat Zahra yang sudah pasang kuda-kuda untuk berdebat, Rio malah membuang napas pelan. "Mmm... ya boleh-boleh aja sih."
Zahra mengernyit heran, merasa kehilangan lawan. "Ohh, gitu doang debatnya?"
"Udah males gue, energi udah habis duluan," keluh Rio seraya menelungkupkan kepalanya di atas meja, mengundang tawa kecil dari mulut Danu.
Tak lama berselang, suasana kelas yang sepi perlahan mulai ramai oleh anak-anak yang kembali masuk. Obrolan ketiga sahabat itu pun terpotong oleh dentang bel tanda masuk yang berbunyi nyaring, disusul dengan langkah seorang guru perempuan yang berjalan ke meja depan.
"Selamat sore, anak-anak," sapa guru itu dengan suara tegas namun ramah.
"Sore, Bu!" seru para murid serempak.
"Ayo, semuanya kembali duduk ke tempat masing-masing. Hari ini ibu akan melanjutkan materi tentang..."
Pelajaran terakhir di sore itu pun dimulai. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak berubah serius. Sang guru meminta para murid untuk membaca teks di buku paket secara bergiliran. Setelah proses membaca selesai, para murid langsung diuji dengan pertanyaan-pertanyaan acak untuk memastikan mereka memahami materi yang baru saja dibahas. Sesekali terdengar helaan napas lega dari murid yang berhasil menjawab, bergantian dengan ringisan panik dari mereka yang kurang fokus.
Waktu terasa berjalan sedikit lebih lambat di jam-jam rawan mengantuk ini. Namun, setelah beberapa puluh menit yang terasa panjang, suara yang paling ditunggu-tunggu akhirnya menggema di seluruh penjuru sekolah.
Teng... teng... teng...
Bel tanda pulang berbunyi, bagaikan musik terindah di telinga para siswa. Suasana lesu seketika luruh, tergantikan oleh semangat yang kembali menyala. Para murid dengan sigap membereskan buku-buku mereka, menyambut sore hari yang begitu cerah dan melegakan.
Begitu guru mengucapkan salam dan keluar dari kelas, Danu, Rio, dan Zahra langsung menyandang tas mereka masing-masing. Tanpa perlu banyak berdiskusi lagi, ketiga sahabat itu berjalan beriringan meninggalkan area sekolah, siap menuju toko buku baru di dekat stasiun sebelum matahari benar-benar terbenam.
Begitu melangkah melewati pintu masuk, mereka bertiga serempak mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi rak-rak kayu berjejer rapi. Aroma khas kertas baru langsung menyambut penciuman mereka.
"Wih, banyak banget," gumam Danu takjub.
"Iya," sahut Zahra dengan mata berbinar.
"Wow, di sini ada seri barunya loh!" seru Rio penuh semangat. Ia berjalan cepat menghampiri salah satu rak, matanya langsung terkunci pada sampul komik yang sudah lama ia incar.
"Woy, jangan dibaca di sini! Ini toko buku, bukan perpustakaan!" tegur Zahra melihat Rio yang sudah asyik membuka segel plastik yang kebetulan terbuka dan mulai membaca.
"Hahaha, gak apa-apa, Nak. Bapak izinkan," kekeh seorang pria paruh baya dari arah meja kasir, tiba-tiba ikut nimbrung melihat tingkah mereka.
Mendengar itu, Danu menoleh heran. "Loh, Bapak yang jaga kasir?"
"Iya, Nak. Karyawan Bapak lagi libur, jadi mau gak mau Bapak yang turun tangan jaga toko sendiri," jelas pria ramah itu sambil tersenyum.
"Ohh, gitu ya, Pak..." angguk Danu paham.
"Ya sudah, silakan lihat-lihat dulu, Nak. Siapa tahu ada yang minat dibawa pulang," tawar sang pemilik toko.
"Siap, Pak!" jawab Danu dan Zahra serempak.
Danu mulai menyusuri setiap lorong rak dengan saksama. Kepalanya mendongak ke deretan paling atas, lalu menunduk memeriksa deretan paling bawah, membaca setiap judul cerita yang terpajang. Ia berharap bisa menemukan sedikit referensi atau pemantik ide untuk novel fantasi yang sedang ia tulis.
Di sisi lain, Zahra tampak sangat antusias berkeliling. Ia mencomot buku demi buku dari rak dan menumpuknya di keranjang tanpa ragu. Sementara Rio? Anak itu benar-benar memanfaatkan izin dari si pemilik toko dengan keasyikan membaca gratis di pojokan.
Setelah puas menghabiskan waktu berkeliling, mereka akhirnya berkumpul kembali di depan toko. Danu dan Rio terbelalak kaget begitu melihat Zahra keluar menenteng dua kantong plastik besar yang penuh sesak oleh buku.
"Buset, Zahra! Lu beli banyak banget, lu mau buka cabang toko buku di rumah kah?" ledek Rio dengan wajah tak percaya.
"Hahaha, ya gak gitu kali, Yo," balas Zahra tertawa. (Ia hampir saja salah sebut nama saking semangatnya). "Ini tuh buat stok bacaan di rumah, enak tau!"
"Daripada lu," cibir Zahra melirik sinis ke arah Rio. "Maunya gratisan doang! Bukannya dibeli, malah numpang baca sampai tamat."
"Ye... serah gue lah! Kan bapaknya yang ngizinin," balas Rio tak mau kalah sambil melipat tangan di dada.
"Udah, udah, guys, debatnya disetop dulu!" lerai Danu cepat sebelum adu mulut mereka semakin panjang. "Habis ini kita mau ngapain lagi nih?"
"Hmm... bener juga. Tapi gue udah mau pulang aja deh, Dan," jawab Rio sambil meregangkan otot lengannya yang pegal karena berdiri terlalu lama.
"Aku juga ikut pulang searah sama Rio deh!" sahut Zahra sambil memperbaiki pegangan pada kantong plastiknya.
"Ya sini, buruan!" panggil Rio yang ternyata sudah melangkah lebih dulu, perlahan menjauh dari posisi Danu dan Zahra.
Danu tersenyum tipis memandangi kedua temannya. "Haa... hari ini seru banget," gumamnya pada diri sendiri. Matanya sempat melirik kembali ke arah toko buku yang terang itu. "Hmm, nanti kapan-kapan aku beli deh bukunya, kalau udah ada duit. Hehe."
Dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan hati yang gembira, Danu mulai melangkahkan kakinya, berjalan santai menyusuri trotoar menuju rumah kosnya.
Setibanya di depan kamar kos, Danu segera melepas sepatunya dan memutar gagang pintu. Setelah masuk dan meletakkan tasnya, ia merebahkan tubuh sejenak sambil mengecek HP kentangnya.
Begitu membuka akun tempat ia biasa mengunggah karya cerita, mata Danu langsung membelalak kaget. Notifikasinya mendadak jebol. Kolom komentar yang biasanya sepi kini tiba-tiba ramai!
"What?! Kok tiba-tiba seramai ini?" pekik Danu tertahan, setengah tidak percaya.
Jemarinya buru-buru menggulir layar ke bawah. Matanya tertuju pada salah satu komentar teratas yang mendapat banyak tanda suka.
"Wah ceritanya bagus banget! Buatin season 2 dong, Thor!"
Danu menggigit bibir bawahnya, bingung bercampur senang. "Haaa... gue harus jawab apa, ya?" gumamnya pelan.
Setelah berpikir sejenak, wajahnya tiba-tiba cerah. "Aha!"
Dengan jemari yang sedikit bersemangat, ia mulai mengetikkan balasan:
"Terima kasih! Aku usahakan kalau ada waktu luang, ya."
Setelah menekan tombol kirim, Danu langsung merebahkan dirinya sepenuhnya di atas kasur. Ia menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya sambil tersenyum lebar.
"Waah... bener-bener gak nyangka bisa seramai ini. Ya... meski belum bisa ditarik jadi duit sih, tapi kalau algoritmanya naik terus kayak gini, suatu saat pasti bisa menghasilkan!" gumam Danu dengan mata berbinar. "Haha, jadi tambah semangat aja nih nulisnya!"
Malam itu, Danu benar-benar merasa bahagia. Dimulai dari tawa lepas bersama teman-temannya di toko buku, hingga kejutan manis berupa follower pertama dan rentetan pujian atas karya tulisnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Danu bisa memejamkan mata dengan perasaan damai. Ia sangat berharap, hari-hari yang penuh dengan secercah kebahagiaan seperti ini akan terus berlanjut menemaninya.