Tiga puluh dua panggilan tak terjawab. Satu kotak putih kecil yang dibuang seperti sampah. Dan seorang suami yang memilih menemani perempuan lain.
Dua tahun Maya Nugroho menjadi istri yang tak boleh dikenal siapa pun. Ketika mobilnya dilempar ke sungai dan ia kehilangan bayinya, Dimas Wiratama, pewaris Grup Wiratama yang dingin dan selalu merasa benar, bahkan tak sempat bertanya apa yang terjadi padanya.
Maya memilih pergi.
Yang tak diketahui keluarga itu: perempuan yang mereka remehkan sebagai "analis junior" adalah Aro, nama paling ditakuti di dunia teknologi, orang yang bisa menahan kontrak bernilai miliaran hanya dengan satu laporan penilaian. Dan ada satu rahasia lain yang Maya sembunyikan rapat-rapat dari Dimas.
Kini keluarga Wiratama menekan lewat perawatan ayahnya, musuh lama memasang jerat, dan sebuah kebohongan besar mulai retak dari dalam. Maya harus bertahan demi satu-satunya hal yang tak akan ia biarkan hilang lagi.
Ketika kebenaran akhirnya terbuka, Dimas hanya punya satu kata untuk dirinya sendiri: terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
capitulo-016
Bab 16 — Apa yang Mereka Lakukan pada Ayahku
Setelah pertemuan dengan Clarissa, kuminta Gilang membantuku mengumpulkan dokumen-dokumen lama perusahaan distribusi Ayah.
Aku tahu keluarga Hadiwijaya diuntungkan oleh kebangkrutan itu. Aku tak pernah paham sejauh mana keterlibatan mereka.
Perusahaan itu tutup tujuh tahun lalu. Ayah kehilangan kontrak-kontrak utamanya dan menghadapi rentetan tagihan yang tak sanggup dilunasinya. Stroke pertama datang tak lama kemudian.
Dia masih berusaha menyelamatkan sebagian usahanya. Hampir setahun lalu, ketika keluarga Hadiwijaya membeli gudang lama itu dalam lelang, dia terkena stroke kedua. Sejak itu dia dirawat di rumah sakit.
Selama bertahun-tahun, aku mencoba menyelesaikan satu keadaan darurat pada satu waktu. Aku menerima penjelasan Ayah ketika dia masih bisa bicara, lalu arahan orang-orang yang mengaku membantu. Sekarang aku harus memeriksa dokumen-dokumen itu sendiri.
Dengan arsip keluarga dan catatan yang diperoleh tim hukum, kami mulai merekonstruksi bisnis itu.
Tiga kontrak yang hilang itu berpindah ke perusahaan-perusahaan yang terhubung dengan satu holding yang sama. Menelusuri susunan kepemilikannya, kami sampai pada keluarga Hadiwijaya.
Dokumen lain menunjukkan mereka juga membiayai gugatan-gugatan terhadap perusahaan distribusi itu.
Kubuka halaman-halamannya berdampingan. Ini pertama kalinya aku melihat keterkaitan lengkapnya, dengan tanggal dan nama, bukan sekadar mendengar Ayah mengulang bahwa ada yang ingin menghancurkannya.
Setiap transaksi masih harus dianalisis. Tapi semuanya tak lagi tampak seperti serangkaian keputusan bisnis yang berdiri sendiri.
Gilang menyusun urutan tanggal di selembar kertas. Aku mengenali bulan-bulannya, bukan karena kontraknya: satu adalah bulan Ayah dioperasi; yang lain, bulan percakapan terakhir ketika Ayah masih bilang dia akan menemukan jalan keluar.
Sampai saat itu, kedua kisah itu hidup terpisah di kepalaku. Keluarga kami jatuh sakit. Perusahaan bangkrut. Melihat kertas-kertas itu bersama memaksaku menghadapi betapa satu hal memperparah yang lain.
"Aku tidak mau kamu menyimpulkan untukku," pintaku pada Gilang.
Dia menjauhkan lembaran itu.
"Kalau begitu ceritakan apa yang kamu lihat."
Kujelaskan perwakilan yang berulang, alamat-alamat yang sama, dekatnya waktu pembatalan kontrak. Dua kali aku kembali ke dokumen dan mengoreksi tanggal. Gilang menunggu.
Selesai bicara, aku marah pada diriku karena mampu melakukan itu untuk begitu banyak klien dan begitu lama baru melakukannya untuk keluargaku sendiri.
"Ayah menyembunyikan kertas-kertas ini kalau aku datang menjenguk," kataku. "Katanya aku harus mengurus kuliah."
"Kamu juga sedang berusaha memahami apa yang terjadi."
Aku masih muda, tapi bukan tak mampu. Pembedaan itu penting. Aku tak ingin mengubah penderitaan orangtuaku menjadi rasa bersalah yang hanya menghalangiku bertindak sekarang.
Kubuka kardus terakhir. Isinya kuitansi yang diikat karet gelang kering dan sebuah buku catatan bertulisan tangan Ayah. Dia mencatat telepon-telepon ke bekas klien, termasuk yang tak dijawab siapa pun.
Kupandangi nama-nama itu. Kubayangkan beliau duduk di meja itu, mengulang presentasi yang sama kepada orang-orang yang telah bertahun-tahun bekerja dengannya.
Gilang bertanya apakah aku mau berhenti.
"Hanya beberapa menit."
Aku mencuci muka. Kembali ke ruangan, kuminta kami memotret halaman-halaman itu sebelum memilah dokumen. Tulisan tangan Ayah akan terjaga, sekalipun tak satu catatan pun bisa membuktikan sendirian apa yang kucurigai.
Di antara kertas-kertas simpanan Ayah, kutemukan permohonan pinjaman kepada Grup Wiratama. Beliau mencari dana untuk mempertahankan usaha di tengah krisis.
Ada salinan balasannya: permohonan ditolak, disertai penilaian yang disahkan kantor Dimas.
Kubaca ulang tanda tangannya.
Itu sebelum pernikahan kami. Dimas belum mengenal keluargaku seperti kelak dia mengenalnya. Itu tidak sama dengan mengatur penipuan keluarga Hadiwijaya.
Meski begitu, membayangkan Ayah menunggu jawaban lalu menerima penolakan itu tetap menyakitkan. Orang yang bertahun-tahun kemudian kuminta tolong sudah pernah melihat nama Nugroho dalam sebuah permohonan bantuan.
Aku tak tahu apakah dia ingat. Aku ingin bertanya, tapi belum punya semua jawabannya.
Kukirim dokumen-dokumen itu ke Kirana dan memintanya memisahkan indikasi dari yang sudah bisa dibuktikan. Kutanya juga apakah ada kaitannya dengan perkara Bayu.
Dia menjadwalkan pertemuan untuk meninjau ulang tuduhan terhadap kakakku.
Baru setelah itu kututup laptop. Aku marah pada keluarga Hadiwijaya, pada Dimas, dan pada diriku sendiri karena begitu lama baru mencari. Aku harus berhati-hati agar kemarahan itu tidak berubah menjadi kesimpulan yang belum didukung kertas-kertas itu.
Keesokan harinya, aku ke rumah sakit.
Kugenggam tangan Ayah dan kuceritakan apa yang kami temukan.
"Ayah dulu bilang mereka sengaja melakukannya. Seharusnya aku mendengarkan lebih baik."
Kutunggu reaksi. Beliau tetap tak bergerak.
Aku teringat saat-saat aku memintanya berhenti membicarakan perusahaan dan beristirahat. Kukira terus mengungkit hanya membuatnya menderita. Mungkin itu satu-satunya cara beliau berusaha didengar.
Aku mulai menangis.
"Aku akan membawa dokumen-dokumen itu ke pengacara. Dan aku juga akan memeriksa perkara Bayu."
Ponselku bergetar. Gilang, mengonfirmasi penilaian eksternal untuk pemindahan.
Kutunjukkan pesan itu kepada Ayah, walau aku tahu beliau tak bisa membacanya.
"Kami sedang mencari tempat supaya Ayah bisa melanjutkan pengobatan. Aku tak akan membawa Ayah keluar dari sini sebelum semuanya siap."
Sebelum pergi, kuletakkan tangan di perut.
"Pemeriksaan sudah memastikan dia perempuan, Yah. Aku ingin Ayah mengenal cucu Ayah."
Aku pulang dengan dokumen di tas dan jadwal menjenguk Bayu yang sudah ditetapkan. Akhirnya aku punya pertanyaan-pertanyaan konkret untuk diajukan.