NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA YANG MANIS

Tubuh Bandung masih tersandar di pundak Luna. Meski darah masih menetes dari dahinya, Bandung justru tersenyum sambil menyeka darah yang mengalir di wajahnya.

“Maafkan saya, Bu Guru. Saya sebenarnya cuma ingin menjelaskan kepada tunangan Anda. Tapi justru malah memperparah keadaan.”

Luna masih menangis. Ia membersihkan darah di wajah Bandung menggunakan ujung bajunya.

“Saya yang seharusnya minta maaf. Gara-gara Topan, lo jadi berdarah-darah kayak gini.”

“Ah, ini cuma lecet doang, kok.”

Namun Luna justru menangis semakin keras.

Bandung yang panik segera berjongkok di hadapan Luna. Ia memperhatikan wajah perempuan itu yang terlihat memar kemerahan akibat tamparan Topan.

“Loh, wajah lo kayaknya parah banget. Kita ke dokter, ya.”

“Gue nggak apa-apa, Bandung. Kita pulang aja.”

“Enggak. Nggak apa-apa gimana? Wajah itu aset paling berharga buat seorang wanita. Pokoknya kita ke dokter.”

Tanpa menunggu jawaban, Bandung langsung membopong tubuh Luna.

Ia kemudian menoleh kepada Deden.

“Den, buruan ke dokter. Nggak pakai lama!”

Luna yang berada dalam gendongan Bandung merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.

Biasanya ia akan menolak jika diperlakukan seperti itu. Namun kali ini ia justru diam.

Darah dari luka di wajah Bandung bahkan masih menetes hingga mengenai bajunya.

Ternyata pria ini sangat perhatian.

Gue sampai nggak bisa nolak bantuannya.

Sesampainya di tempat praktik dokter langganan Bandung, dokter langsung panik melihat kondisi mereka.

“Dinar, tolong segera bersihkan wajah Bandung. Sepertinya ada luka robek di dahinya.”

Dinar, yang merupakan asisten dokter, segera bertindak.

“Dokter Riski, bukan saya yang mau berobat. Tolong periksa dulu teman saya.”

Bandung menoleh ke arah Luna yang masih belum menyadari kondisi wajahnya sendiri.

Dokter Riski menghela napas.

“Teman lo kayaknya nggak apa-apa. Cukup dikompres saja. Nanti gue bikinin resep penghilang nyeri.”

“Wah, Riski, lo nggak bisa gitu. Wajah perempuan itu sangat berharga. Lo harus segera tangani dia.”

“Pasti gue tangani. Tapi hentikan dulu pendarahan di wajah lo.”

“Aduh, Riski, udah gue bilang gue nggak apa-apa.”

Dokter Riski memandang Bandung dan Luna secara bergantian. Kemudian ia mengangguk dengan senyum tipis.

“Oke, gue paham. Gue tangani dulu calon nyonya Bandung. Tapi lo juga harus ditangani. Biar Dinar yang beresin wajah lo.”

“Ya udah. Buruan periksa Luna.”

Dokter Riski mulai mengobati Luna sambil tersenyum-senyum.

“Bandung berantem lagi, ya, Bu? Sampai bonyok begitu wajahnya.”

“Enggak, Dok. Tadi cuma ada salah paham sedikit di jalan.”

Dokter Riski menoleh ke arah Bandung dengan senyum penuh makna.

“Bandung itu nggak pernah punya ekspresi. Baru kali ini gue lihat dia panik gara-gara perempuan. Bahkan waktu Rosa kecelakaan saja dia cuma diam nungguin di luar.”

Mendengar cerita itu, Luna tersipu. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya.

“Oke, Bu. Siapa namanya?”

“Saya Luna, Dok.”

“Bu Luna, wajah Ibu masih aman, kok. Bengkaknya juga sudah mulai mereda. Nanti obatnya diminum supaya cepat sembuh.”

Luna mengangguk.

“Terima kasih, Dokter.”

Setelah itu Luna menoleh ke arah Bandung. Kemudian ia kembali menatap dokter.

“Kondisi Bandung gimana, Dok?”

Dokter Riski menjawab dengan wajah sengaja dibuat serius.

“Waduh, Bu. Kondisi Bandung ini parah sekali. Kalau nggak ada Ibu, mungkin sudah saya operasi.”

Bandung yang mendengar ucapan itu langsung menyela.

“Kalau operasi sekalian ganti kulit muka aja, Ris. Ganti pakai wajah siapa, ya? Artis yang dari Bandung itu.”

Deden langsung menyahut.

“Oh, Luna Maya, Bang?”

Bandung langsung mengernyitkan wajah.

“Kok Luna Maya? Ntar gue malah ngondek dong!”

Semua orang langsung tertawa.

Setelah selesai, Deden segera membayar biaya pengobatan mereka.

Bandung kemudian melangkah keluar, diikuti Luna.

Beberapa pasien yang sedang menunggu terdengar berbisik-bisik.

“Sepertinya itu KDRT, ya.”

“Gila, ya. Istri sekarang sadis-sadis. Lakinyanya sudah kerempeng begitu masih aja ditempeleng.”

Luna yang mendengar bisikan itu langsung mempercepat langkahnya mendahului Bandung.

Begitu sampai di halaman tempat praktik dokter, ponselnya berbunyi.

Luna melihat layar.

Nama Topan tertera di sana.

Ia langsung mematikan panggilan tersebut.

Bandung yang memperhatikan dari belakang segera menebak.

“Tunangan lo telepon, ya?”

Luna diam.

“Angkat aja. Gue juga mau jelasin masalahnya biar selesai.”

Luna mengangguk. Namun wajahnya masih menunjukkan rasa malu.

Beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering.

“Angkat aja. Kita selesaikan masalahnya. Jangan sampai hubungan kalian rusak cuma gara-gara salah paham.”

Luna akhirnya mengangkat telepon.

“Halo?”

“Luna, lo di mana?”

“Ngapain lo telepon lagi? Gue males dengar suara lo.”

“Maafin gue, dong. Gue terlalu cemburu sampai kebawa emosi.”

“Tapi sebelumnya gue sudah jelasin kalau dia itu wali murid. Untung dia nggak mengadu ke sekolah.”

“Ya udah. Gue mau ketemu sama teman lo itu. Gue mau minta maaf.”

“Ngapain lagi? Gue rasa sudah nggak perlu ada yang dibahas. Lo cuma bikin masalah makin runyam.”

“Gue janji mau minta maaf. Bapak-bapak itu masih di sana, kan? Boleh dong gue bicara sama dia.”

Bandung yang mendengar percakapan itu segera meraih ponsel Luna.

“Halo, Bang. Ini gue, Bandung.”

“Sorry, ya, Bang. Gue minta maaf. Gue nggak seharusnya main tangan.”

“Santai aja, Bang. Kita memang golongan orang kelas bawah kayak gini sudah biasa sama salah paham.”

“Iya, Bang. Sekali lagi gue minta maaf. Gue nggak bakal ngulanginya lagi.”

“Gue sih nggak masalah, Bang. Tapi kasihan Bu Luna. Lo harusnya sih—”

Bandung tidak melanjutkan kalimatnya.

“Udah, Bandung. Sini, gue mau ngomong sama Topan.”

“Oh, ya, Bang. Ini Bu Luna mau bicara sama lo.”

Bandung menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Luna.

“Udahlah, Topan. Lo nggak usah bikin masalah tambah parah lagi. Gue males. Lo terlalu kasar.”

“Please, Luna. Maafin gue.”

Luna menarik napas panjang, kemudian menganggukkan kepalanya meskipun Topan tidak bisa melihatnya.

“Ya udahlah. Tapi lain kali jangan main kekerasan lagi, ya.”

“Oke, oke. Kalau begitu nanti gue jemput lo. Sekalian kita beli kue ulang tahun. Nanti malam kan hari ulang tahun lo.”

“Nggak usah. Gue males ngerayain ulang tahun.”

“Jangan gitu dong. Ini kan ulang tahun pertama lo setelah kita tunangan.”

“Ya udah. Lo atur aja.”

“Oke. Kalau begitu nanti malam sekalian kita rayain di pantai.”

“Udah terserah lo. Gue lagi capek, lagi males mikir.”

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil Mercedes hitam menepi di depan tempat praktik Dokter Riski.

Topan segera keluar dari mobil.

Deden yang melihat kedatangannya langsung menggulung lengan bajunya dan hendak berjalan menghampiri.

Namun Bandung segera mencegahnya.

“Udah. Lu mau ngapain lagi? Masalahnya sudah kelar. Jangan dibikin parah.”

“Tapi, Bang! Dia sudah bikin muka lo bocor kayak gitu.”

“Pacar apaan sih? Cuma lecet kecil kayak gini. Lo ribut banget jadi cowok.”

“Tapi, Bang—”

“Udah. Mending lu keluarin mobilnya. Kita cabut.”

“Oke, Bang.”

Deden pun segera meninggalkan Bandung dan Luna.

Saat keluar dari gerbang, ia berpapasan dengan Topan.

Topan mengulurkan tangannya.

“Mau ngapain lagi, lu? Belum kapok gue kasih bogem mentah?”

“Bukan, Bang. Gue mau minta maaf. Gue sudah bikin masalahnya jadi kacau.”

“Bagus kalau lo sudah sadar. Lain kali tolong jagain Bu Guru. Kalau sudah kayak gini, semuanya jadi serba salah.”

“Iya, Bang. Sorry. Nggak bakal gue ulangi lagi.”

“Ya udah, sono. Jemput Bu Guru.”

“Terima kasih, Bang.”

Deden kemudian meninggalkan Topan.

Topan segera menghampiri Bandung dan Luna.

“Bang, maafin gue, ya. Gue tadi kebawa emosi.”

“Udah, bro. Kalem aja. Nih, gue balikin Bu Gurunya. Masih utuh.”

Luna menoleh ke arah Bandung, kemudian memukul pundaknya dengan lembut.

“Apaan sih, lu? Emangnya gue makanan lu? Dipinjam, pulangnya sudah berkurang?”

Melihat candaan Luna dan Bandung, Topan mengepalkan tangannya.

Namun ia segera menahan emosinya.

“Ya udah, Bu Guru. Gue pulang dulu, ya.”

“Oke, bro. Gue cabut. Titip Bu Guru. Tolong dijaga baik-baik.”

Topan tidak menjawab.

Ia segera meraih tangan Luna dan menggandengnya masuk ke mobil Mercedes hitam miliknya.

Sesaat kemudian, suara mobil Mercedes itu membelah malam.

Bandung berjalan menuju Ferrari merah yang dikendarai Deden.

“Kita mau ke mana, Bang? Langsung pulang atau ngapain?”

“Kita cari makanan dulu, Den. Lu belum makan, kan?”

“Wah, ini yang paling gue demen dari Abang. Kalau urusan makan mah nggak usah ditanya dulu. Gue pasti mau.”

Deden memperhatikan wajah Bandung melalui kaca spion.

“Yah, Bang. Wajah lu jadi ada codetnya nanti.”

“Yaelah, Den. Cuma luka lecet kayak gini lu besar-besarin.”

Deden tertawa kecil.

“Betul, Bang. Luka ini memang rasanya manis, ya, Bang?”

Bandung menoleh.

“Mana ada luka rasanya manis? Pare kali yang rasanya manis.”

Mereka pun tertawa bersama.

Deden menginjak pedal gas. Ferrari merah itu melesat membelah sunyinya malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!